
"Rin...jangan punya pikiran meninggal, kamu harus semangat sayang, kamu gak ingin rumah kita rame dengan anak-anak, ada Vano dan adik-adiknya, sudah sayang... jangan menangis lagi, buang pikiran negatifmu kamu harus semangat, dua bulan lagi aku pulang" kata mas Arif
"Iya mas... maafin Rinda ya" kataku sedikit tenang
"Kamu libur hari ini?" tanya mas Arif
"Iya mas" jawabku
"Istirahat saja, kalau pingin apa-apa beli online, kemarin aku taruh uang di laci almari untukmu, biar kamu gak ke atm ambil uang, cukup untuk satu bulan Rin, bulan depan lagi aku transfer" kata mas Arif
"Loh... mas kok gak cerita kalau naruh uang di laci?" kataku
"Iya...gak sempat cerita aku karena lihat kondisimu kemarin seperti itu jadi lupa" kata mas Arif
"Makasih mas" jawabku
"Kamu istirahat, hatiku hanya untukmu untuk Vano dan anak kita, sudah dulu ya, nanti aku telpon lagi" kata mas Arif kemudian mematikan telpon.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Dua minggu kemudian, di sore hari setelah ashar, aku diantar ibu ke klinik dokter kandungan, Vano juga ikut, ibu mengendarai mobil, aku dan Vano duduk di kursi belakang, sampai di klinik kami turun aku mengambil nomer antrian, dan memgisi data kemudian duduk di kursi tunggu, dokter datang jam empat sore mungkin molor jam lima sorean, berarti nunggu sekitar dua jam an, aku dapat nomer antrian nomer lima
"Bu... masih lama dua jam lebih bagaimana?" tanyaku
"Gak apa-apa Rin, kita tunggu saja, semoga Vano tidak jenuh" kata ibu
"Terimakasih bu" jawabku
"Bu... dulu ibu mengandung mas Arif bagaimana rasanya?" tanyaku
"Aku dulu bawaanya males napa-napa Rin, suka marah dengan bapaknya Vano tanpa alasan" kata ibu menceritakan waktu hamil mas Arif
"Yang kamu rasakan apa Rin?" tanya ibu
"Pusing dan lemes bu badan ini, terus pikiranku ini sama mas Arif kok negatif terus ya? padahal mas Arif gak kenapa-napa disana" kataku menjelaskan kondisiku saat ini
"Rin...buang pikiran negatifmu itu, kalau tidak malah mengganggu kehamilanmu ini" kata ibu menasehatiku
"Gak ada keluhan lainya Rin?" tanya ibu
"Perut bawah ini bu sering sakit ya hilang muncul begitu" kataku
__ADS_1
"Semoga sehat saja Rin" kata ibu memberiku semangat
Beberapa jam kemudian dokter kandungan datang satu persatu nomer dipanggil oleh asisten dokter, tiba giliran nomerku
"Bu aku masuk dulu ya" pamitku ke ibu
"Iya Rin, aku mengawasi Vano" kata ibu
kemudian aku masuk ke ruangan dokter awalnya aku ditimbang beratku 47 kg, kemudian aku di tensi aku tanya tensiku normal 110/75
"Ibu sudah di tespek?" tanya bu dokter
"Kapan terakhir haid?" tanya dokter
"Tanggal 5 bulan kemarin dok" jawabku
"Sudah bu, dua minggu yang lalu" kataku
"Ada keluhan?" tanya dokter lagi sambil menulis di blangko
"Sering pusing, mual juga perutku bagian bawah sakit dok" kataku
"Bagus sesuai dengan usia bu, semoga sehat terus ya, selamat bu, itu sudah terlihat janinya walaupun kecil, ini kantong kehamilanya" kata dokter menjelaskan, kemudian aku turun dan duduk di kursi di depan dokter tersebut menunggu dokter tersebut membuat resep
"Satu bulan lagi kontrol ya bu" kata dokter
"Iya dok" jawabku
setelah resep aku terima aku kasir untuk membayar biaya periksa dan obat kemudian ke apotik yang bersebelahan dengan ruang pemeriksaan menyerahkan resep, tak lama kemudian namaku di panggil dan aku menuju ke apotik mengambil obat, pihak apotik menjelaskan kapan waktuku meminum obat dan obat saja yang aku terima, setelah itu aku meninggalkan apotik menuju ke ibu mertuaku
"Vano gak rewel bu?" tanyaku
"Nanyakan kamu tadi Rin" kata ibu
"Bunda... gak bilang kalau mau masuk, tadi Vano mencari bunda" kata Vano cemberut
"Maaf ya... lain waktu bunda akan bilang ke Vano, ayo pulang" ajakku.
Kemudian kami menuju mobil, aku membuka pintu belakang mobil aku masuk dengan Vano, ibu menyetir mobil, dalam perjalanan pulang kami ngobrol-ngobrol seputar kehamilanku
"Gimana hasilnya Rin?" tanya ibu sambil menyetir mobil
__ADS_1
"Bagus kok bu, sebulan lagi kontrol" kataku menjelaskan
"Setelah ini kamu kabari Arif, jalin hubungan yang baik Rin, aku tau karena kehamilanmu perasaanmu naik turun kadang suka tersinggung, kamu harus bisa mengelola emosi" nasehat ibu
"Iya bu, nanti setelah sampai rumah Rinda akan mengabarkan ini ke mas Arif" kataku
Tak lama kemudian kami sampai di rumah, waktu menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit, kami turun dari mobil, aku membuka pintu pagar kemudian mobil dimasukkan ke garasi oleh ibu, setelah itu aku menutup pintu pagar sekalian memguncinya, ibu membuka pintu rumah, Vano duduk di kursi teras sepertinya sudah mengantuk
"Vano... ayo ke kamar" kataku sambil menggandeng tangan Vano berjalan menuju kamar
"Rinda... kamu istirahat saja, pintu rumah aku kunci, aku langsung naik ke atas ya" kata ibu sambil mengunci pintu rumah
"Makasih bu sudah mengantarkan Rinda" kataku.
kemudian aku masuk ke dalam kamar mau menidurkan Vano.
"Vano... ayo tidur, bunda juga sudah capek" kataku sambil mengusap rambut Vano dan menciumnya
"Bunda, Vano kangen ayah" kata Vano dengan mimik wajah melas
"Sebentar ya, bunda video call ayah" kataku dan mengambil hp dari dalam tas ku, kemudian membuka aplikasi whats up dan menelpon mas Arif, kulihat di layar tulisan berdering bertanda aktif hp nya, akhirnya diangkat
"Assalamualaikum mas" ucapku dengan tersenyum manis
"Waalaikum salam bidadariku" balas mas Arif
"Mas ini Vano mau ngomong sama mas" kataku kemudian memberikan hp ke Vano, Vano melihat mas Arif sedang duduk di teras mes
"Ayah... kapan pulang? gak ada ayah gak pernah jalan-jalan, Vano berangkat pulang sekolah sudah di rumah, gak ke mbah uti juga" kata Vano curhat
"Bunda malas-malasan saja" cerita Vano
"Vano... sapa yang malas-malasan" kataku jengkel
"Bunda itu" kata Vano
"Vano... bunda begitu karena bunda lagi gak sehat karena ada adikmu dalam perut bundamu" kata mas Arif
"Apa adik nakal ya yah kok sampai bikin bunda sakit dan malas?" tanya Vano
"Ha ha ha, ya enggak lah Vano, memang begitu, sudah kamu tidur sekarang, kasihan bundamu nanti tidur malam nemani kamu, kasihan juga adikmu" kata mas Arif menasehati Vano, kemudian video call dimatikan Vano dan diberikan kepadaku, Vano merebahkan tubuhnya dan memeluk guling, kulihat matanya mulai dipejam-pejamkan, tak lama kemudian Vano tertidur, anak ini nurutnya sama mas Arif, batinku
__ADS_1