
Kepalaku masih pusing, perasaanku juga masih sensitif, demikian juga dengan perutku yang tidak nyaman, sehari ini aku habiskan dengan marah-marah saja sama suamiku, biarin, biar dia mengerti juga seperti apa perempuan, tidak hanya ambil enaknya
saja batinku.
Malam menjelang, aku ambil hpku sudah jam 9 malam, rumah ini terasa sepi, demikian juga dengan kamar ini, mungkin Mas Arif menghindariku karena kemarahanku seharian kepadanya, aku keluar kamar, semua sepi. Lampu juga sudah di matikan demikian juga tv sudah di matikan, aku masuk ke kamarnya Vano, Vano sudah tidur dengan lelapnya, aku dekati Vano, aku cium pipinya dengan lembut, kemudian aku keluar kamarnya Vano, aku mencari di sekitar tidak ada bayangan Mas Arif, aku keluar rumah semua kendaraan juga masih ada di sana lengkap 2 sepeda motor dan 1 mobil, pintu pagar juga sudah tergembok, aku masuk dan mengunci pintu kamar, kemana Mas Arif?, batinku.
Aku langkahkan kakiku ke luar ke belakang rumah, pintu belum terkunci, terlihat seorang laki-laki sedang duduk di kursi ada asap rokok, sejak kapan Mas Arif merokok?, batinku. Malam ini suasana hatiku sudah lumayan tenang tidak seperti tadi siang, entahlah aku marah-marah tanpa alasan, awalnya karena Rista kemudian omongan Mas Arif yang menyinggungku apalagi sekaran ini perasaanku sangat sensitif.
Aku berjalan mendekati suamiku dan duduk di sampingnya memegang tangannya yang dan mengambil rokok dari jemarinya kemudian menghela nafas panjang.
“Sejak kapan Mas merokok?” tanyaku pelan.
Dia menoleh ke arahku dan tersenyum, senyum dingin.
“Untuk apa kamu menanyakan hal ini?” tanyanya kembali.
“Kamu tidurlah” katanya kemudian.
Aku diam tak menjawab pertanyaan suamiku, duduk di sebelahnya, mengambil rokok yang berada disamping suamiku, kemudian tanganku di pegangnya.
“Untuk apa?” tanya Mas Arif pelan.
“Untuk aku gunakan” jawabku singkat.
“Rin… tidurlah, biarkan aku di sini, nanti aku susul kamu” kata Mas Arif.
“Aku menemanimu” kataku.
Mas Arif mengambil bungkus rokok yang aku pegang.
“Jangan rusah tubuhmu dengan rokok” katanya pelan.
“Tidak biasanya Mas merokok, apa karenaku Mas seperti ini?” tanyaku ragu.
“Aku sudah lama merokok, tapi aku juga bukan pecandu rokok, jadi kalau aku tidak merokok sehari juga tidak berpengaruh padaku, Rin… maafkan aku” kata Mas Arif sambil memgang jemari tanganku.
Dia menghela nafas panjang dan mencium tanganku lembut.
“Maafkan aku belum bisa menjadi suamimu yang baik, walaupun materi sudah aku berikan tapi masih ada yang belum bisa aku berikan” katanya.
__ADS_1
“Kemarahanmu sehari membuatku banyak berfikir tentangmu” katanya lagi.
Aku mendengarkan setiap pembicaraannya.
“Rin… aku harus lebih memahamimu sebagai perempuan yang memang berbeda dengan laki-laki” katanya lagi.
“Dulu aku pernah meninggalkan seorang perempuan yang marah-marah tidak jelas, yang ternyata dia juga sedang pms” katanya.
“Mungkin seperti itu sebagian perempuan, betul katamu pms itu perempuan menjadi singa he he he” katanya sambil tertawa.
“Terima kasih sudah mengajariku untuk mengerti tentang sesuatu yang terjadi pada perempuan” katanya.
“Rin… apa yang kamu rasakan saat kamu pms?” tanya Mas Arif sambil memandangku dan tangannya masih terus memegangi tanganku dengan lembut .
“Aku minta maaf mas, ketika pms terjadi aku merasa sensitif dan ingin marah saja, ketika semua sudah terlampiaskan hatiku menjadi tenang kadang juga punya pemikiran bersalah pada orang yang menjadi pelampiasan
marahku” jawabku.
"Terkadang aku juga suka menangis tidak jelas" lanjut kataku.
"Tidak bisa kamu menahan marah, sensitifmu itu?" tanya Mas Arif.
Aku menggelengkan kepalaku.
Memang antara perempuan dan laki-laki beda komposisi hormon dalam tubuhnya.
Perubahan hormon pada wanita memang dapat memengaruhi suasana hati, jadi banyak wanita mudah tersinggung, sedih, bahkan marah-marah sebelum dan selama menstruasi.
"Rin, kamu seperti itu apa setiap bulan saat sedang datang bulan begitu?" tanya Mas Arif dan mengisap rokok di bibirnya dengan nyamannya.
"Enggak mesti, kadang aku mengalami hal itu, kadang tidak, mungkin saat aku mengalami hal tersebut, perubahan hormonku sangat tinggi" kataku menjelaskan.
"Di saat kamu seperti itu, dan saat aku berada di dekatmu, apa yang harus aku lakukan Rin?" tanya Mas Arif tenang.
"Mas diam saja, jangan memancing emosiku" jawabku.
"Walaupun kamu marah-marah tak jelas begitu aku harus diam begitu?" katanya.
"Iya, jangan memancing emosiku" jawabku.
__ADS_1
"Hmmm punya istri harus siap menghadapi kemarahanya, ya kemarahan karena sedang pms" kata Mas Arif dan mematikan rokoknya.
"Sudah malam, besok kamu kerja, ayo tidur" ajaknya.
Aku diam saja.
"Kamu sudah tidak marah denganku? hatimu sudah tenang?" tanya Mas Arif sambil berdiri menatapku yang sedang duduk di kursi taman.
Aku menganggukkan kepalaku dan ikut berdiri melangkahkan kakiku mengikuti langkah suamiku kemudian menutup pintu belakang.
Mas Arif berhenti dan duduk di sofa lampu sudah mati, temaran sinar cahaya dari sela-sela kamarku dan kamar Vano.
"Kamu tidurlah, aku tidak akan menganggumu, aku akan tidur dengan Vano" kata Mas Arif lagi.
"Rin, kalau aku tidur dekat denganmu aku selalu tegang, jadi lebih baik aku tidur dengan Vano, aku tidak apa-apa, aku tidak marah padamu, aku yang minta maaf" katanya lagi.
Aku duduk di sampingnya.
"Mas... siapa perempuan yang mas tinggalkan saat dia lagi pms?" tanyaku dengan penasaran.
"Sekarang aku jujur Rin, melihatmu tadi aku teringat padanya, kemarahannya sama dengan kemarahanmu, waktu itu aku juga ikut marah dan kami putus, aku sekarang tidak tau dimana dia berada, dia perempuan pertama yang tidur denganku" katanya pelan.
"Kalau kamu mau marah, marahlah sama aku, karena aku tidak bisa menjaga sucinya cintaku padamu, sehingga itu terjadi pada perempuan lainnya, beda denganmu yang bisa menjaga dirimu untukku walaupun kamu tidak mampu mempertahankannya karena pemerkosaan itu" kata Mas Arif.
Aku diam seribu bahasa, mencerna setiap perkataannya.
"Mas cinta pada perempuan itu?" tanyaku dengan kecemburuanku dan menunggu jawabanya.
"Setiap hubungan pasti dilandasi dengan cinta bukan keterpaksaan Rin" jawab Mas Arif dengan tenangnya.
"Tapi cinta hanya berlabuh pada satu hati seumur hidupku" kata suamiku lagi membuatku agak tenang.
"Maksudmu?" tanyaku.
"Setelah berpisah denganmu banyak cinta yang ada dalam kehidupanku, dan itu adalah masa lalu yang tak bisa aku hindari, tapi cintaku hanya untukmu istriku, bukan pada perempuan lainnya, apapun kamu aku akan menerimamu" katanya.
"Rin, setiap orang pasti punya kelemahan, tapi ketika kita mencari terus kesempurnaan pasangan, kita hanya mendapati sakit hati dari pasangan kita" katanya melanjutkan.
Aku terdiam.
__ADS_1
"Rin, kamu tidurlah" kata Mas Arif lagi.
Aku berdiri meninggalkan Mas Arif sendiri menuju ke kamar untuk tidur.