Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Mantan Lagi


__ADS_3

Senin pagi aku berangkat bekerja dari rumah orang tuaku.


Padahal seminggu sebelumnya aku juga ke rumah orang tuaku menjemput Vano sama Mas Arif, tapi masih juga rindu sama kedua orang tuaku, apalagi minggu ini Faris pulang ke rumah jadi terasa hangat suasana di rumah.


Faris sudah kembali ke kostnya kemarin sore, minggu depan Faris berjanji memberi kabar kepada kedua orang tuaku masalah lamarannya.


Perlahan sepedaku meninggalkan rumah kedua orang tuaku menuju ke Penitipan anak tempat Vano berada selama aku tinggal bekerja.


Hampir dua tahun Vano di sana, sejak aku meninggalkan rumah mantanku dan aku mendapatkan pekerjaan sekarang ini.


Setelah mengantarkan Vano, kemudian aku menuju ke kantor tempat kerjaku.


Sampai di kantor aku segera naik ke atas menuju ruanganku sudah terlambat 5 menit.


"Rin, kamu berangkat dari rumah orabg tuamu?" tanya Nia.


"Iya Nia, ternyata kok lumayan capek ya" jawabku.


"Sudah terbiasa kamu di rumah mertuamu jarang berkendara jauh jadi merasa capek" kata Nia.


"Iya ya" jawabku sambil menyandarkan tubuhku di kursi.


"Jumat ini kamu pulang lagi ke rumah orang tuamu?" tanya Nia.


"Enggak tau Nia, pingin ke sana, rame, tapi capek ternyata" jawabku.


"Sudah tak terbiasa bersepeda jauh sih" kata Nia.


Aku tersenyum memandang Nia.


"Ayo Nia kita bekerja" ajakku.


"Iya Rin" jawab Nia dan memalingkan wajahnya membelakangiku.


Meja kerja Nia memang berada di depanku.


Jam istirahat tiba, aku turun ke bawah bersama Nia dan Widya menuju ke kantin mbak Yah.


Sampai di kantin kami memesan menu sesuai dengan selera kita, kemudian menikmatinya, dan membayarnya.


Berdiri dari kursi kantin menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat duhur.


Selesai sholat duhur aku merebahkan tubuhku di musholla.


"Badanku kok capek sekali begini ya?" tanyaku ke Nia dan Widya yang berada di sampingku.


"Pijat Rin" usul Widya.


"Iya ya, tapi disini di mana ya?" tanyaku.


"Coba tanya ibu mertuamu" jawab Nia.


"Nanti saja lah kalau pulang, aku tak istirahat sebentar ya" kataku, dan perlahan memejamkan mataku.


Tak berapa lama aku membuka mataku, sudah jam 13:05, Nia dan Widya sudah tidak ada di musholla, aku rapikan bajuku dan kembali ke ruang kerjaku.


"Sudah enak Rin?" tanya Nia.


"Lumayan Nia" jawabku.

__ADS_1


Aku lihat hp di mejaku, ada pesan wa dari mas Arif yang menanyakan kabarku dan keluarga, segera aku membalasnya kalau di sini baik-baik saja.


Sampai saat ini aku belum bercerita kepada suamiku tentang pertemuanku dengan mantanku, ayahnya Vano.


Sebenarnya sih mau cerita jujur tapi aku takut ada kesalah pahaman.


Waktu pulang tiba aku meninggalkan kantorku setelah merapikan meja kerjaku.


Menuju ke Penitipan anak untuk menjemput Vano.


Beberapa menit aku sudah sampai di sana.


Mimpi apa aku ini, kenapa Vano begitu akrab dengan Ayahnya.


Dapat jampi-jampi dari dukun mana orang itu bisa menaklukan Vano.


Aku dekati mereka berdua yang sedang berada di teras sedangkan Vano masih di dalam ruangan, mereka bertemu melalui jendela kayu yang terbuka.


"Vano, ayo segera kemasi barangmu kita pulang" kataku.


Vano menuruti perkataanku.


"Apa yang kamu mau lagi?" tanyaku.


"Rin, aku ini serius ingin kembali kepadamu, itu lihat Vano mau kan sama aku, kan lebih baik Vano dengan orang tua kandungnya" jawab Mas Ardi.


"Sudah terlambat" kataku.


Vano menghampiriku dengan menyeret tas trolinya dan aku jinjing tas tersebut sambil menggandeng tangan Vano menuju ke sepedaku.


Ayahnya Vano mengikutiku.


"Rin... beri kesempatan yang kedua" katanya.


"Maaf sudah tidak ada kesempatan untukmu, jangan halangi aku, aku mau pulang" kataku.


"Juga jangan banyak bicara yang tidak pantas, di dengar anak kecil tidak bagus" kataku lagi dan menyalakan sepeda motorku menjauh meninggalkan Penitipan anak.


Dalam perjalanan.


"Vano... tadi ayah lama di sana?" tanyaku.


"Enggak Bunda" jawab Vano.


"Ayah ngomong apa sama Vano?" tanyaku.


"Ayah bilang mau ngajak Vano dan Bunda jalan-jalan" jawab Vano polos.


"Terus Vano mau di ajak?" tanyaku serius.


"Vano bilang sama Bunda dulu" jawab Vano.


"Bagus anak ganteng" pujiku.


"Vano, langsung pulang apa kemana dulu?" tanyaku.


"Pulang saja Bunda" jawab Vano.


"Oke" kataku.

__ADS_1


Tak lama kemudian sampai di rumah mertua.


Masuk ke dalam rumah, Ibu mertua sedang membersihkan rumah.


"Assalamualaikum Bu" sapaku sembari bersalaman dengan Ibu.


"Waalaikum salam Rin" jawab Ibu.


"Rin, Ibu ada rencana ke Jogja lagi" kata Ibu sambil menyapu lantai.


"Kapan Bu?" tanyaku.


"Mungkin dua minggu lagi, lihat kondisi kantor dulu" jawab Ibu.


"Kondisi Vera bagaimana Bu?" tanyaku.


"Vera dan anaknya sehat-sehat saja Rin, ini sudah jalan 4 bulan" jawab Ibu.


"Iya Bu, salam untuk Vera, Rinda belum bisa ke sana" kataku.


"Kalau kamu mau ikut bisa Rin, kita berangkat sabtu sore terus pulangmu sabtu malam" usul Ibu.


"Bisa bu, Rinda minta ijin Mas Arif dulu" kataku.


"Iya Rin, kamu istirahat atau mandi dulu saja, ini biar Ibu selesaikan" kata Ibu.


"Iya Bu" jawabku kemudian aku menuju ke kamar.


Aku lepas jilbabku dan aku rebahkan tubuhku di atas kasur, pikiranku ke mantanku.


Dia bilang sudah kerja, tapi kerja apa? kalau kerja seharusnya juga tadi berpakaian kerja, tapi tadi dia pakai baju santai.


Kenapa pula dia minta balikan sama aku, aneh sekali orang ini.


Ah sudahlah untuk apa mikirin dia, batinku.


Aku bangun dan mengambil hp di tasku berniat untuk menelpon suamiku.


"Halo" sapa dari sebrang.


"Iya Mas, sedang apa sekarang?" tanyaku.


"Lagi santai saja Rin, sama Deni, mau makan aku" jawab Mas Arif.


"Mas, ibu tadi cerita mau ke Jogja lagi, terus menawarkan padaku untuk ikut, boleh tidak?" tanyaku.


"Iya gak apa-apa Rin, kamu ikut saja, cari hari jumat biar enak" usul Mas Arif.


"Iya Mas" kataku.


"Kamu baik-baik saja Rin?" tanya Mas Arif.


"Iya Mas, Rinda baik-baik saja" jawabku.


"Iya Rin, sudah dulu, nanti disambung lagi, aku mau makan" kata Mas Arif.


"Iya Mas" jawabku dan telpon dimatikannya.


Aku kembali merebahkan tubuhku di kasur.

__ADS_1


Untuk apa mikirin omongan ayahnya Vano yang minta balikan, lebih baik aku berumah tangga sama Mas Arif, sudah pasti dia lebih baik dari mantanku, juga sayang sama Vano, apalagi yang aku cari, kembali padanya, bukanya bahagia, sakit hati iya, batinku.


Aku bangun dari tempat tidur, badan kok rasanya sakit semua, aku masuk ke kamar untuk menyeka tubuhku dan keluar kembali untuk berganti baju, kemudian aku keluar kamar menuju ruang keluarga menemani Vano bermain, Ibu sudah tidak ada di bawah, mungkin sedang berada di kamarnya, batinku.


__ADS_2