Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Bersama Keluarga


__ADS_3

Pagi hari di rumah orang tuaku.


"Rin... kamu gak sarapan? sudah siap sarapanya" kata Ibu menyuruhku untuk sarapan.


"Vano...?" panggilku.


"Apa Bunda?" tanya Vano.


"Ayo makan, Bunda suapi" kataku dan Vano menganggukkan kepalanya.


Aku menuju dapur mengambil piring kemudian nasi dan sayur serta ikan, Ibuku hari ini masak oseng-oseng kangkung, ikanya ada ikan asin, ayam goreng sama ceplok telur, makanan sederhana tapi sungguh mengunggah selera makan.


Aku mengambil ayam goreng dan ikan asin, lalu berjalan menuju Vano yang berada di ruang keluarga sambil lihat acara tv, sedikit demi sedikit Vano aku suapi dan akupun ikut makan he he he, tak terasa nasi sudah habis dan aku menambah nasi lagi.


"Rin... tumben makanmu banyak, sampai nambah lagi?" tanya Ibuku dengan pandangan heran.


"Lama tidak makan masakan ibu sih" jawabku sambil menikmati makanan masakan Ibu.


"Mbah uti memang enak ini ayam gorengnya, rasanya seperti di warung-warung ya Bunda" kata Vano sambil melihatku.


"Iya betul Vano" kataku, dan aku akhiri sarapan pagi ini, kemudian ke dapur untuk mencuci piring.


"Kenyang banget Bu" kataku sambil merebahkan tubuhku di karpet ruang keluarga.


"Habis kenyang kok ngantuk ya Bu" kataku lagi.


"Rinda...Rinda, kamu ini kok gak berubah sifatmu seperti ini dari dulu, apa di rumah mertuamu juga begini?" tanya Ibu.


"Ya enggaklah Bu, makanya pumpung Rinda di sini mau mengenakkan diri he he he" jawabku.


"Kamu rencana kemana Rin?" tanya Ibu


"Di rumah saja Bu, santai-santai begini" jawabku.


"Oh iya, Bapak kemana ya, tadi pagi masih lihat di depan, kok sekarang tidak ada?" tanyaku ke Ibu


"Kayakngak hafal saja aktifitas Bapakmu ini, kalau libur begini ya gowes Rin bersama teman-temanya" kata Ibu.


"Aku kapan hari dibelikan Mas Arif sepeda angin Bu, tapi sampai hari ini belum pernah aku pakai he he he" ceritaku ke Ibu dan tertawa.


Ibu menggelengkan kepalanya.


"Itu paling dibelikan karena kamu pingin punya sepeda untuk gowes" kata Ibu.


"Rinda gak minta loh Bu, saat pulang kerja sepeda sudah di rumah" kataku menjelaskan.


"Yang jelas Arif tau kamu pingin sepeda waktu kamu di sini dulu, kan bicara kamu mau beli sepeda kan?" tanya Ibu


"He he he, iya" kataku dan tertawa malu


"Rin... Arif ini begitu baik, begitu cinta sama kamu juga Vano, jangan kecewakan Arif, laki-laki seperti Arif di jaman sekarang langkah loh Rin" kata Ibu semangat.


"Mantu kesayangan makanya disanjung terus" kataku.


"Kenyataanya begitu loh Rin" kata Ibu.


Hpku berbunyi dari dalam kamar.


"Vano... tolong ambilkan hpnya Bunda di kamar, ayolah!" pintaku ke Vano.


Vano berlari menuju ke kamar.


"Horeee... Ayah Arif telpon Bunda" teriak Vano gembira dan memberikan hp tersebut kepadaku.


"Assalamualaikum" sapaku dengan senyum termanisku.


"Waalaikum salam" jawab Mas Arif.


"Mas, baru saja kita ngomongin Mas loh" kataku membuka obrolan.


"Ngomongi kenapa?" tanya Mas Arif dengan mimik wajah penasaran.

__ADS_1


Aku arahkan kamera hp ke Ibuku


"Mas Arif mantu kesayangan Ibu, kata Ibu tadi bilang kalau Mas Arif baik" kataku


"Bu... sini loh, ini bisa lihat menantumu" kataku sambil bergeser tempat duduk mendekati Ibu dan kamera aku rubah ke layar depan.


"Arif... sehat Rif di sana?" tanya Ibu.


Saat ini mas Arif duduk di teras mesnya.


"Alhamdulillah Ibu, Arif sehat sekali" jawab Mas Arif.


"Vano juga mau ngobrol sama Ayah" kata Vano tak mau kalah.


"Sini Vano!" kataku sambil melambaikan tanganku ke Vano agar mendekatiku.


"Ayah..." panggil Vano.


"Kenapa Vano?" tanya Mas Arif.


"Vano di rumah Mbah uti Ayah" jawab Vano.


"Vano gak jalan-jalan sama Bunda?" tanya Mas Arif.


"Bunda malas-malasan terus Ayah" jawab Vano.


"Malas-malasan bagaimana sih?" tanyaku ke Vano.


"Ayah... sudah dulu ya" pamit Vano kemudian berlari ke luar rumah.


"Ini anak makin besar pinter ngomong ternyata" kataku ke Mas Arif.


"Ha ha ha, sebentar lagi pasti kamu semakin cerewet ya" kata Mas Arif dan tertawa.


"Ibu tadi kemana?" tanya Mas Arif.


"Sepertinya di luar Mas, Bapak lagi gowes" jawabku.


"He he he belum" jawabku dengan tertawa malu.


Mas Arif hanya menggelengkan kepala.


"Kamu sudah sarapan Rin?" Mas Arif.


"Sudah Mas sampai nambah-nambah" jawabku sambil tersenyum.


"Tumben sekali, Ibu masak apa?" tanya suamiku.


"Masak oseng kangkung, ikannya ikan asin, telur ceplok sama ayam goreng" jawabku


"Enak itu Rin, di sini gak ada, sudah dulu Rin aku mau sarapan dulu ya, love you my honey" kata Mas Arif.


"Love you too, muach" kataku, dan video call dimatikan.


Sore hari...


"Vano... ayo keluar jalan-jalan" ajakku ke Vano ketika Vano lagi asyik bermain di teras rumah.


"Mau kemana Bunda?" tanya Vano penasaran.


"Jalan-jalan saja" jawabku.


"Ah gak asik, di rumah saja kalau begitu" kata Vano.


"Terus Vano ingin kemana?" tanyaku lagi.


"Oh.. iya kalau besok renang gimana Vano mau?" tanyaku.


"Berenang bunda? Vano mau" jawab Vano dengan bersemangat.


"Kalau begitu besok kita berenang saja ya!" kataku.

__ADS_1


Aku tinggalkan Vano bermain di ruang keluarga, aku menuju ke teras rumah duduk di sana.


"Mbak Rinda kapan pulang?" sapa Bu Dyah tetangga depan rumah.


"Kemarin sore Bu" jawabku, orang ini pasti bicaranya selalu nyakiti hati, lihat setelah ini, gayanya menyapaku, batinku.


"Suaminya kemana? kok tidak ada mobil di rumahmu?" tanyanya dengan rasa ingin taunya tinggi.


"Kerja Bu" jawabku singkat.


"Memang kerja apa? dimana?" tanya Bu Dyah.


"Kerja di Papua di tambang emas Freeport" jawabku sambil menunggu apa komentarnya.


"Pasti gajinya besar ya, hati-hati banyak wanita penggoda loh" kata Bu Dyah yang bikin hati jengkel.


"Perempuan penggoda itu hanya mencari uang laki-laki Bu, uang suamiku itu aku bawa semuanya, jadi rugi wanita lain mendekatinya" jawabku.


Mendengar perkataanku Bu Dyah langsung berbalik sambil mencibir mulutnya dan masuk ke dalam rumahnya.


Orang kok usil banget, batinku.


"Rin... kenapa Bu Dyah tadi?" tanya Ibu.


"Ya begitulah Bu, dari dulu omonganya nyakiti hati terus" jawabku.


"Masuk ke dalam saja Bu, daripada nanti di lihat Bu Dyah dikira kita gosipin dia" kataku sambil masuk ke dalam rumah, dan duduk di kursi tamu, diikuti Ibu yang duduk di kursi di depanku.


"Tau Bu apa yang dikatakan tadi?" tanyaku serius


"Lah iya ngomong apa?" tanya Ibu kembali.


"Tadi itu kan tanya mas Arif kerja dimana? Rinda jawab di tambang emas, eh... dia bilang katanya hati-hati nanti banyak wanita penggoda yang mendekati" kataku dengan jengkel.


"Terus kamu jawab apa?" tanya Ibu.


"Ya Rinda jawab perempuan penggoda hanya cari uang laki-laki, tapi uang suamiku semua aku bawa, jadi gak bakalan ada yang mau mendekati, begitu Bu jawabanku" kataku.


"He he he, kamu sudah mulai pinter bicara menghadapi orang usil Rin, terus dia langsung masuk rumah begitu ya?" tanya Ibu.


"Iya Bu, he he he" jawabku dan kami tertawa bersama.


Malam harinya.


Aku menelpon Mas Arif.


"Assalamualaikum Mas" sapaku


"Waalaikum salam Ribda" jawabnya


"Mas... aku besok mau ke kolam renang sama Vano, boleh?" tanyaku.


"Iya gak apa-apa Rin, kamu sama siapa?" tanya Mas Arif.


"Sama Vano saja" jawabku.


"Hati-hati ya!" pesan Mas Arif.


"Rin.... aku kangen" kata Mas Arif.


"Sama Mas, Rinda juga kangen" kataku


"Mas... jangan cari perempuan di sana ya!" pesanku mengingatkan.


"Enggak Rin, untuk apa? cuma kamu dalam hidupku" jawab Mas Arif, yang membuatku tenang.


"Mas, Rinda ngantuk, Rinda tutup telponya ya?" tanyaku.


"Iya Rin, i love you" ucap Mas Arif.


"Love you too" balasku, dan telpon aku matikan kemudian aku tidur di samping Vano.

__ADS_1


__ADS_2