
"Hati-hati Rin makanya" kata Mas Arif.
"Kalau aku gemuk begitu kira-kira Mas Arif masih kuat gendong aku?" tanyaku.
"Bunda aku sudah makanya" kata Vano disela-sela pembicaraan kami.
"Bunda ngantuk Vano" katanya lagi kemudian merebahkan tubuhnya di karpet lesehan.
"Lihat mas... cepet banget tidurnya" kataku.
"Iya persis kayak kamu, kalau lagi ngantuk berat" kata Mas Arif.
"He he he, ya iyalah nurun aku, aku kan Bundanya" jawabku dan tertawa.
"Rin" panggil Mas Arif.
"Ada apa Mas?" tanyaku.
"Kamu bahagia bersamaku?" tanyanya.
"He em" jawabku masih mengunyah makanan.
"Ngobrolnya di lanjut di rumah ya, segera dihabiskan makananya, sudah hampir jam sembilan" kata Mas Arif.
Aku segera menghabiskan makananku, kemudian Mas Arif membayar makanan kami lalu menggendong Vano menuju mobil, aku berjalan di samping Mas Arif dan membawa kantong belanjaan kami.
Tiba di mobil aku membuka pintu tengah mobil kemudian Mas Arif menidurkan Vano di bangku tengah dan aku duduk di kursi depan, mobil segera meninggalkan parkiran Malioboro menuju rumah Vera yang berada di jalan Letjen Suprapto.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah Vera, rumah masih tertutup sepertinya Vera belum pulang, Mas Arif turun dari mobil membuka pintu mobil dan mengangkat Vano, aku membuka kunci pintu kemudian kembali ke mobil untuk membawa barang belanjaan kami masuk ke dalam kamar.
"Mas... mobil dikunci, aku mau bersih-bersih dulu" kataku
Kemudian berlalu menuju kamar mandi, kembali ke kamar Mas Arif sudah di dalam kamar duduk di kursi memegang hpnya.
"Mas gak bersih-bersih dulu?" tanyaku.
"Oh iya Rin" katanya kemudian meninggalkanku, tak lama kemudian kembali lagi ke kamar.
"Mas... ayo tidur" kataku manja, kemudian Mas Arif berbaring di sebelahku, untungnya ukuran kasur ini luas 180x200 jadi tidak sempit untuk kami bertiga.
"Rin, kamu bener-bener bahagia bersamaku?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, aku merasa menemukan hidupku lagi" kataku pelan.
"Mas... setelah Mas pergi tanpa kabar, aku tidak bisa melupakan Mas, aku juga tidak bisa membina hubungan baik dengan laki-laki lain, aku merasa aku masih terikat denganmu" ceritaku.
"Maafkan aku waktu itu Rin, karenaku membuatmu seperti ini" katanya.
"Sudahlah Mas, ini sudah takdir Rinda, juga takdirmu menikah denganku dengan status single parent" kataku.
"Mas bener gak menyesal menikahiku yang sudah mempunyai anak dari laki-laki lain?" tanyaku kemudian.
"Rin... aku menikahimu yang single parent, aku juga harus menerima anakmu, tapi... aku tidak suka kalau kamu bertemu ataupun berhubungan dengan ayahnya Vano" kata Mas Arif.
"Kenapa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Apa Mas cemburu?" tanyaku kemudian.
"Rin... aku takut kamu diperkosa lagi" kata Mas Arif
Kemudian menghela nafas panjang dan menciumku mesra.
"Sepertinya tidak mungkin dia melakukanya lagi Mas, aku selama dengannya aku tidak pernah melakukanya, setiap dia meminta hak nya kembali aku ketakutan, tapi dia tidak pernah memaksaku, mungkin itu juga yang membuat dia memilih perempuan lain" jelasku.
"Bisa jadi Rin, tapi sekarang bagaimana kamu denganku, apa ada rasa ketakutan ketika aku meminta hak ku? tanya Mas Arif.
"Sudah tidak Mas, aku bisa menikmatinya, dan terus ingin menikmatinya denganmu" kataku malu-malu.
"He he he.. itu namanya ketagihan" goda Mas Arif.
"Ah... Mas Arif jadi malu Rinda" kataku dan membenamkan wajahku ke dadanya, mas Arif membelai rambutku dengan lembut dan mengecup keningku.
"Rin... i love you" bisiknya kemudian tersenyum dan mencium bibirku mesra kemudian melepaskanya.
"Aku pingin" bisiknya, dan aku tersenyum mencium bibirnya.
"Mas... lakukanlah" kataku pelan dan memeluk tubuhnya yang sudah berada di atasku.
"Terimakasih istriku" kata Mas Arif
Kemudian mencium pipiku memelukku dan keluar kamar menuju kamar mandi, aku mengikutinya tapi sebelumnya aku merapikan diriku khawatir ada Vera atau suaminya jadi gak enak sendiri.
sampai di kamar mandi.
"Mas... masih lama?" tanyaku.
Akhirnya aku masuk membersihkan diri kemudian keluar bersama menuju kamar tidur.
"Kenapa sih Mas memandangku begitu, malu aku" kataku
Ketika melihat mas Arif duduk di kursi dan memandangku terus.
"Aku suka melihatmu Rin" katanya kemudian memeluk tubuhku dari belakang jadi sekarang aku duduk dipangkuanya.
"Rin... kamu terakhir haid kapan?" tanyanya.
"Sepertinya seminggu sebelum kita nikah, ah lupa mas, selesainya sekitaran mas membuatku trauma dulu, kenapa Mas?" tanyaku.
"Gak apa-apa, berarti aku masih banyak waktu menikmati dirimu" bisiknya sambil mencium leherku.
"Mas... minta lagi?" bisikku.
"Maunya hehehe" bisiknya lalu tertawa.
"Ayo tidur Rin, sudah malam, besok malam kita pulang" kata Mas Arif, kemudian aku berdiri dari pangkuanya menuju kamar tidur dan merebahkan tubuhku, disusul Mas Arif.
"Mas... Vera kok belum pulang ya?" tanyaku.
"Iya Rin, malam ini tidak pulang Vera, tidur di rumah sakit katanya tadi di wa ku" jawab Mas Arif.
"Kasihan ya mas, sibuk sekali kerjanya, padahal pingin sekali Vera punya anak tapi beberapa kali keguguran, ya... semoga segera punya anak ya" kataku dan menghela nafas.
__ADS_1
"Rin... aku juga pingin punya anak" kata Mas Arif.
"Lah ini tiap saat kita sudah berusaha buat anak Mas, semoga Allah mengijabahnya ya" kataku.
"Aamiin..." kata Mas Arif.
"Mas... Mas ingin segera aku hamil?" tanyaku.
"ya iya ya tidak Rin" jawab Mas Arif.
"Maksud Mas?" tanyaku penasaran.
"Iya... ya pingin kamu hamil dan punya anak, ya tidak, karena aku ingin menikmatimu setiap saat, kalau hamil apa boleh ya?" kata Mas Arif seperti berfikir.
"Tanya Vera saja nanti Mas, ayo kita tidur" kata ku.
Kemudian mas Arif memeluk menciumku.
"Mau lagi?" tanyaku.
"He he he" Mas Arif tertawa.
"jangan berisik nanti Vano bangun" kataku
ya... suamiku minta jatah lagi he he he.
Mentari pagi bersinar di kota Jogjakarta.
"Pulang jam berapa Ver?" tanyaku ke Vera saat di dapur.
"Jam empat pagi Mbak" katanya.
"Apa seperti itu Ver jam pulangmu?" tanyaku.
"Gak mesti Mbak, kadang cepet kadang lama, semalam ada operasi pengangkatan kista juga caisar mbak, jadi aku nangani dulu baru pulang ke sini" jelas Vera.
"Dijaga kesehatanya Ver" kataku.
"Iya Mbak, Mbak mau masak apa?" tanya Vera.
"ini mau masak lodeh tahu tempe kesukaan Mas Arif" jawabku.
"Aku bantu Mbak" kata Vera.
"Terima kasih" jawabku.
Kemudian aku mulai memasak tak lama kemudian sudah jadi masakanku dan siap untuk di nikmati.
"Ver hari ini kamu masuk kerja?" tanyaku.
"Aku libur Mbak" jawabnya.
"Ayo Ver kita sarapan masakanku hehehe" pintaku.
Kemudian aku melangkah menuju ruang tamu menemui Mas Arif dan Vano untuk sarapan, Deddy suami Vera masih di rumah sakit kata Vera lagi jaga di IGD
__ADS_1