
Satu minggu kemudian kami mengantar Ibu menuju ke stasiun
kereta api di kota kami, ya, Ibu mau ke Jogja ke adik iparku Vera.
“Bu berapa lama di sana?’ tanya Mas Arif.
“Dua mingguan Rif, urusan kantor sudah aku serahkan ke
asistenku” kata Ibu menjelaskan.
“Kamu balik ke Papua kapan?” tanya Ibu.
“Masih lama Bu 3 minggu lagi Arif berangkat” kata Mas Arif
sambil berjalan keluar rumah menuju ke mobil, dan mengeluarkan mobil dari dalam garasi.
Aku membawa tas bawaan Ibu berisi oleh-oleh yang di pesan
Vera karena Vera sedang ngidam makanan sini yang di sana tidak ada kemudian aku
masukkan ke dalam mobil.
“Vano ayo” kataku ketika kami sudah berada di luar pagar,
sedangkan Vano masih asyik membawa mainanya.
Vano berlari kecil menuju ke mobil dan masuk ke dalam mobil,
aku menutup pintu rumah dan juga pintu pagar kemudian masuk ke dalam mobil
bersebelahan dengan Mas Arif.
Mobil segera meninggalkan rumah Ibu mertua menuju ke stasiun kota.
Saat ini waktu menunjukkan sudah jam setengah tujuh sore. Sampai
di stasiun kota, kami turun mengantar Ibu sampai ke ruang tunggu sampai kereta api tiba.
Beberapa menit kemudian kereta api tiba.
“Ibu hati-hati, pesanku.
Dan kami bersalaman dan memeluk Ibu.
Ibu menganggukkan kepala dan berdiri antri cek data diri
untuk masuk ke dalam kereta. Ketika Ibu sudah masuk ke gerbok kereta api, kami
berjalan beriringan meninggalkan stasiun menuju ke parkiran mobil. Segera Mas
Arif menyalakan mobil dan meninggalkan stasiun menuju ke rumah.
“Di rumah masih ada makanan kan?’ tanya Mas Arif.
“Masih Mas” jawabku.
“Rin” panggil Mas Arif sambil menoleh ke arahku.
“Iya, ada apa?” tanyaku lagi.
“Kamu sudah selesai halangannya?” tanya Mas Arif kemudian.
“Sudah Mas” jawabku.
__ADS_1
Mas Arif tersenyum gembira.
“Nanti malam jatahku akhirnya terwujud juga” kata Mas Arif gembira.
Aku tersenyum melihat tingkah lucu suamiku ini.
“Vano segera kamu ajak tidur Rin, adikku sudah minta jatah ini” katanya.
“Mas, ini nahan dikit apa, Vano kan punya jam tidur sendiri,
gak bisa juga aku paksa” kataku lirih.
Sampai di rumah.
Aku turun dari mobil membuka pintu pagar dan pintu rumah
“Vano main sendiri dulu ya di ruang tamu” kataku.
“Iya Bunda” jawab Vano.
Kemudian aku masuk ke dalam kamar berniat untuk berganti baju santai.
Mas Arif masuk ke dalam kamar ketika aku membuka bajuku dan akan mengganti baju santai, segera dia mendekatiku memelukku dari belakang
menciumi tengkukku dan membuka kait bra, lalu meremas buah dadaku.
“Rin” bisiknya.
Aku terbuai oleh sentuhannya dan menikmatinya.
“Aku merindukan bercinta denganmu, layani aku malam ini” bisiknya kembali dan terus meraba menciumi tubuhku.
Tinggal celana dalam yang melekat di tubuhku.
“Mas, tahan sebentar, nanti Vano mencari kita” kataku.
“Ah Mas…” lenguhku ketika dia menciumi buah dadaku.
Aku di bopong menuju ke pembaringan, Mas Arif memandangku penuh dengan cinta kami saling berciuman bibir, saling meninkmati, semakin
kebawah suamiku meraba menciumi tubuhku dan pada akhirnya dia melepaskan celana dalamku, satu-satunya kain yang masih melekat di tubuhku, aku menggelinjang
menikmati sentuhan dan ciumannya, ingin berteriak tapi masih ada Vano yang belum tidur.
“Mas segera lakukan” rengekku
Mas Arif tersenyum puas memandangku, dan pada akhirnya kami menikmati setiap sentuhan demi sentuhan yang membuat terbuai melayang dalam kenikmatan.
“Mas…” lenguhku menahan gejolak dalam tubuh yang ingin keluar.
“Iya keluarkanlah” bisiknya lembut sambil menciumi bibirku dan akhirnya aku pada puncaknya.
Suamiku masih terus menikmati setiap sentuhannya, menikmati proses bercinta, dan akhirnya kami sama-sama mencapai puncak dan terkulai lemas dengan senyum puas.
“Terima kasih istriku’ bisiknya ketika berada di sampingku
Aku memandangnya dan kembali menciumnya kemudian melepas ciumanku dan turun dari pembaringan berganti baju biasa, kemudian diikuti oleh suamiku.
Keluar dari kamar tidur.
Hmm pantas saja tenang lah di kasih hp, suamiku ini bisa saja membuat Vano tidak mengganggunya, batinku.
Aku dekati Vano ternyata sudah tertidur sambil memegang hp.
__ADS_1
“Mas, Vano angkat ke kamarnya” pintaku.
Aku mengambil hp dari tangan Vano kemudian mematikan you tube yang masih menyala di hp Mas Arif, dan Mas Arif menggendongnya masuk ke dalam kamarnya.
Tak lama kemudian Mas Arif kembali menghampiriku duduk di sampingku.
Memandangku dan mencium lembut bibirku, kami berciuman kembali di sofa ruang tamu, menikmati ciuman ini.
“Mas, ayo makan, aku lapar” bisikku.
Kemudian kami berjalan menuju meja makan dan kami makan bersama.
Selesai makan aku membereskan meja makan dan mencuci piring bekas kami makan tadi.
Mas Arif keluar ke halaman belakang, aku menghampirinya.
“Rin… pakai baju lingerie” bisiknya ketika aku berada di sampingnya, aku masuk ke dalam rumah dan memakai baju lingerie yang sangat pendek.
Berjalan menuju ke halaman belakang menghampiri suamiku dan memeluknya, kami saling berciuman.
“Istriku kamu sangat cantik sekali, tubuhmu sangat menggairahkanku” bisiknya.
Di halaman belakang di kursi taman suamiku lagi dan lagi menikmati tubuhku mencium dan menyentuh kulitku dengan tangan dan bibirnya.
“Mas, tidak nyaman di sini, kita masuk ke dalam saja” bisikku.
Aku mengikuti langkah suamiku berjalan naik ke atas, batinku mau kemana dia.
Dia berhenti di kursi sofa di lantai atas dan membuka lipatannya, wah jadi tempat tidur ternyata, batinku.
Disana kami melanjutkan permainan kami, bercinta, bercumbu saling merangsang.
“Rin… teruskan, hmmm enak sekali ah” kata suamiku pelan saat aku menciumi bagian adiknya.
“Aow, hmmm terus Rin” bisiknya kembali.
Kemudian dia duduk dan mencium bibirku dengan lembut dan terus ke bawah, aku semakin tak kuasa menahan nikmat ini.
“Disini tidak ada siapa-siapa berteriaklah sepuasmu” bisik suamiku.
Aku terus menggeliat menikmati semua sentuhan dari bibirnya.
“Mas… “ lenguh suaraku.
Suamiku tersenyum dan menciumi wajahku kemudian kami menikmati percintaan ini.
“Mas… terus, enak” cercahku.
“Sayang, love you” bisiknya lembut di telingaku.
“Love yout too” bisikku sambil menahan semua rasa yang sudah tidak bisa di ungkapakan hanya kata sangat nikmat sekali surga dunia ini.
Setelah sekian menit kami bergumul menikmati segala sentuhan yang menimbulkan kenikmatan hingga
pada puncaknya, suamiku memeluk erat tubuhku.
“I love you my wife” bisiknya lembut dan mencium pipiku.
Kami kelelahan dan tertidur dalam kondisi berpelukan.
Pagi menjelang aku terbangun dari tidurku, suamiku masih memeluk tubuhku.
“Mas… ayo pindah tempat” bisikku seraya membangunkannya.
__ADS_1
“Aku mau lagi” jawabnya.
Aku bangun dari sofa di lantai atas dan turun ke bawah, masih memakai baju lingerie warna merah hati, Mas Arif mengikutiku dari belakang ketika aku sampai di sofa ruang keluarga dia menarik tanganku, memeluk tubuhku dan kami kembali bercinta di sofa keluarga.