
Hari senin adalah hari yang aku nantikan, semangatku terus aku pompa untuk menuju ke tempat kerja baru, disini aku bukan lagi seorang staf tapi merupakan seorang atasan, walaupun di kantor kecil.
Nia, aku dan Vano keluar bersamaan setelah kami sarapan di rumah, Nia menuju tempat kerjanya, sedangkan aku mengantar Vano menuju ke sekolahnya kemudian aku menuju ke tempat kerja baruku.
Sepeda motor aku parkir di parkiran samping kantor kemudian berjalan perlahan dengan perut yang semakin membesar.
Disambut hangat oleh Pak Satpam yang membukakan pintu untukku.
"Selamat pagi Bu," kata Pak Satpam yang aku ketahui bernama Pak Budi dari tulisan terukir di seragam kerja berwarna putih.
"Pagi Pak Budi," jawabku.
Aku masuk ke dalam dan bertemu dengan Bu Riska, beberapa karyawan di sana menyapa dengan hormat kepadaku, dan akupun menebar senyum ramah kepada mereka.
"Menantu bu Linda cantik dan ramah juga ya." Terdengar bisik-bisik dari staf di sana.
"Iya ya, seperti mertuanya ramah, semoga semakin sejahtera ya," jawab lainnya.
Bu Riska mengantarkanku ke ruangan dimana ibu mertua biasa mengantor di sana, ruangan mungil tapi terlihat nyaman.
Aku duduk di sana memandangi sekelilingnya, tidak perlu di ganti atau di rubah sudah cocok denganku.
"Bu Riska, hari ini saya mau ada rapat dinas, Bu Riska bisa menyampaikan kepada staf di sini? ya intinya hanya perkenalan saja," ucapku.
"Disini ada berapa staf Bu Riska?" tanyaku lagi.
"Semuanya ada dua puluh orang Bu, termasuk bagian kebersihan," jawab Bu Riska.
"Oke, Bu Riska bisa tinggalkan saya di sini, saya akan mempelajari dokumen di meja saya ini, jangan lupa jam sepuluh siang ya, juga sediakan makan siang untuk staf," pesanku.
"Iya Bu Rinda, saya pamit melanjutkan pekerjaan saya," pamit Bu Riska dan pergi meninggalkan ruanganku ini.
Ketika bu Riska tak terlihat dari balik pintu, aku mulai membuka-buka buku dan dokumen yang berada di meja ibu mertuaku.
Mengambil ponsel dari dalam tasku dan menelpon ibu mertua.
“Assalamualaikum Bu,” sapaku ketika panggilan telpon diangkat oleh Ibu mertua.
“Waalaikum salam Rinda, kamu sekarang di mana?” tanya Ibu mertua.
“Sekarang Rinda sudah di kantor Ibu, ini sudah duduk di kursi yang biasa ibu pakai,” jawabku.
“Kantor itu sudah aku serahkan ke kamu Rin, sekarang kamulah yang menjadi pemimpin di sana,” ucap Ibu mertua.
“Rinda selalu minta bimbingan Ibu dalam memimpin di sini ya,”
ucapku.
“Pasti, apa agendamu hari ini Rin?” tanya Ibu mertua.
__ADS_1
“Rinda mengumpulkan karyawan di sini Bu nanti jam sepuluh siang sekalian memberi mereka makan siang sebagai tanda perkenalan, gak apa-apa kan mengeluarkan uang dari kas kantor untuk makan siang?” tanyaku.
“Ya gak apa-apa Rin, itu salah satu cara menyenangkan anak buah he he he,” jawab Ibu mertua dan tertawa bahagia.
“Bu.. untuk kasus mark up itu bagaimana?” tanyaku kembali.
“Kamu ada ide Rin?” tanya Ibu mertua.
“Sebenarnya besok selasa mau Rinda panggil untuk menjelaskannya Bu, Rinda pingin tau alasannya itu apa, sambil menunjukkan laporan bulanan,” jawabku.
“Bagus, kamu telusuri dulu, jika memang sudah tidak bisa di maafkan, kamu keluarkan saja,” kata Ibu.
“Iya Bu,” ucapku.
Terdengar suara bayi dari sana.
“Anak Vera nangis, sudah dulu ya Rin, nanti di sambung lagi,” kata Ibu mertua dan mematikan panggilan telpon dariku.
Aku meletakkan ponsel di atas meja, menyandarkan punggungku di kursi putar yang memang terasa sangat nyaman sekali.
Tak terasa sudah hampir jam sepuluh, Bu Riska masuk ke ruanganku.
“Bu Rinda, sudah saya sampaikan kepada teman-teman hari ini ada rapat perkenalan Bu Rinda, mereka sudah menunggu di ruang rapat,” kata Bu Riska.
Aku berdiri dari kursiku dan berjalan mengikuti Bu Riska menuju ke ruang rapat, sebenarnya ruangan ini biasa di pakai untuk acara tes psikologi yang bisa menampung sekitar lima puluh orang.
Aku duduk di kursi meja paling depan menghadap ke pada karyawan kantor ini.
Rapat berisi tentang perkenalanku dan aku mempersilahkan karyawan untuk berdiri satu persatu memperkenalkan diri dan di sini bertugas sebagai apa, melihat wajah Bu Reta yang memperkenalkan diri sebagai staf keuangan dengan tatapan mata dalam.
Dalam benakku apa orang ini yang yang memark up laporan ataukah yang membelinya dan mengganti nota, aku harus menyelidikinya.
Rapat di tutup dengan tepuk tangan meriah dan di akhiri dengan makan bersama.
Adzan duhur berkumandang, aku menghampiri Bu Riska.
“Bu, ke ruangan saya sebentar ya,” kataku.
“Tapi Ibu selesaikan dulu makan siangnya,” kataku ketika Bu Riska akan mengakhiri makan siangnya.
Aku berjalan sendiri menuju ke ruang kerja.
Membuka pintu ruang kerjaku, di mejaku sudah ada makanan, mungkin Bu Riska yang menyiapkannya.
Duduk di kursi kerjaku, menyandarkan punggungku di kursi, terasa nyaman sekali, batinku.
Menatap langit-langit ruangan kerja ibu mertua yang sekarang aku tempati.
Beberapa menit kemudian pintu di ketuk dari luar dan aku mempersilahkan masuk.
__ADS_1
Bu Riska masuk ke ruanganku dan duduk di kursi di depanku.
"Ada apa Bu Rinda?" tanya Bu Riska.
"Bu Riska, di sini ada gak tempat untuk sholat?" tanyaku.
"Ada Bu, tapi kecil tempatnya," jawab Bu Riska.
"Saya bisa ditunjukkan tempatnya?" tanyaku.
"Bisa Bu, mari," kata Bu Riska sambil berdiri.
Aku mengikuti Bu Riska menuju musholla yang di maksud Bu Riska.
Ibu ternyata sudah menyiapkan musholla kecil tapi terlihat nyaman dan bersih.
Bu Riska menunjukkan tempat untuk wudhu, dan aku mengambil wudhu.
"Bu Riska mau sholat?" tanyaku.
"Enggak Bu, saya sedang halangan," jawab Bu Riska.
"Iya Bu, Bu Riska bisa meninggalkan saya, bisa kembali beraktifitas kembali," kataku.
Aku melaksanakan sholat duhur, kemudian berkeliling di dalam kantor saling menyapa dan menanyakan kesulitan yang mereka alami.
Kantor tutup jam tiga sore, aku pulang ke rumah.
***
Keesokan harinya...
"Bu Riska, bisa nanti memanggil Bu Reta ke ruangan saya," kataku ke Bu Riska saat aku sudah berada di kantorku.
"Iya, saya segera panggilkan," kata Bu Riska kemudian pergi meninggalkan ruanganku.
Beberapa menit kemudian Bu Riska masuk ke ruangan membawa Bu Reta.
"Bu Reta duduk dulu, Bu Riska tolong tinggalkan kami," ucapku.
Bu Riska meninggalkan ruanganku.
"Bu Reta sebelumnya saya minta maaf menganggu aktifitas Ibu, jadi begini... beberapa minggu yang lalu saya menerima laporan keuangan, Ibu bisa menjelaskan ini?" tanyaku sambil menyerahkan laporan-laporan yang aku curigai.
Aku lihat Bu Reta terkejut dan wajahnya terlihat pucat.
Bu Reta mengakui bahwa itu adalah kesalahannya dan berniat untuk mengembalikan kerugian yang ditimbulkan akibat kesalahannya.
Sampai saat ini belum ada tindakan pemecatan, tapi bu Reta aku pindah ke bagian lain yang tidak berhubungan dengan keuangan.
__ADS_1
Bagian keuangan aku meminta Bu Riska untuk menghendelnya.