Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Susah Dan Senang


__ADS_3

Pagi telah tiba, setelah membuat sarapan aku bersiap-siap untuk berangkat bekerja, Mas Arif tidur kembali setelah sholat subuh tadi.


Tak lupa membawa bekal makanan kecil yang aku taruh di kotak makanan, setelah semua sudah siap, aku membangunkan suamiku, masih jam tujuh pagi.


“Mas… ayo bangun, mau mengantarku tidak?” tanyaku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


Mas Arif membuka matanya dan meregangkan tubuhnya.


“Sudah siap berangkat Rin?” tanya Mas Arif sambil menguap.


“Vano mana?” tanyanya kembali.


Mas arif bangun dari tidur berjalan ke kamar mandi dengan memakai celana pendek.


“Aku tunggu di depan Mas,” kataku dari dalam kamar.


“Iya,” jawab Mas Arif dari dalam kamar mandi, dan terdengar suara air gemericik dari kran shower yang dinyalakan.


Aku keluar kamar menghampiri Vano yang sudah siap untuk berangkat sekolah.


“Bunda, berangkat sendiri atau sama Ayah?” tanya Vano.


“Sama Ayah, Ayah masih mandi, kita tunggu di luar saja, kamu ambil tas troly mu di kamarmu ya.” pintaku dan aku berjalan keluar rumah, kemudian di susul Vano.


Menikmati udara pagi di teras rumah sambil menunggu Mas Arif siap.


Beberapa saat kemudian, Mas Arif menghampiri kami dan masuk ke garasi mengeluarkan mobil, aku mengunci pintu rumah kemudian mengunci pintu pagar dan masuk ke dalam mobil yang sudah berada di tepi jalan depan rumah.


Mas Arif menyalakan mobil dan perlahan meninggalkan rumah dengan tujuan pertama adalah Penitipan anak di mana sepanjang hari Vano menghabiskan waktunya di sana untuk belajar dan bermain dengan teman-temannya.


Sampai di Penitipan anak, setelah mengantar Vano masuk ke dalam, perjalanan di lanjutkan ke tempat kerjaku.


“Mas, aku tadi gak buat sarapan,” kataku sambil melihat Mas Arif yang sedang menyetir.


“Iya, gak apa-apa, kamu dan Vano sudah sarapan?” tanyanya kembali.


“Sudah Mas, Vano tadi sarapan kentang goreng sama jus jambu,” jawabku.


“Makan siangnya Vano bagaimana?” tanya Mas Arif dengan raut wajah khawatir.


“Jangan khawatir, hari ini ada acara masak jadi Vano dapat makan siang di sana,” jawabku.


Sampai di tempat kerja.


Bersalaman dengan Mas Arif dan mencium punggun tanganya kemudian pipinya.


“Mas aku kerja dulu ya.” Pamitku sambil tersenyum.


“Iya Rin, hati-hati, nanti jam empat di jemput?” tanya Mas Arif dengan memandangku.


“Iya,” jawabku dan membuka pintu mobil.


Aku berjalan menuju ke kantorku kemudian berbalik lagi melihat mobil Mas Arif dan melambaikan tanganya, terlihat wajah Mas Arif mengintip dari balik kaca yang terbuka dan tersenyum kepadaku.

__ADS_1


Nia berhenti di sampingku.


“Ayo naik.” Pintanya.


Aku tersenyum dan naik ke boncengan sepeda Nia.


Sampai di parkiran aku turun dan berjalan menuju ke tangga.


“Enak ya sudah bertemu dengan suami,” kata Nia.


“Minggu depan sudah balik Nia,” jawabku dengan expresi sedih.


“Aku malah belum bertemu dengan Mas Deni, Nia coba tanya sama suamimu, betulkah tiket sudah terlanjur menuju ke Merauke jadi gak bisa dirubah ke Surabaya?” tanya Nia.


“Betul Nia, kemarin Mas Arif cerita begitu, karena pengajuannya mendadak, jadi ya gak bisa ke sini,” jawabku.


Sampai di dalam kantor, terlihat Widya dengan raut wajah muram.


“Wid, kamu kenapa pagi-pagi sedih begitu?” tanyaku sambil berjalan mendekati Widya.


“Mas Yusuf bohong, bilang mau ke sini minggu ini tapi kenyataanya malah pulang ke Balikpapan,” kata Widya.


“Bukan bohong Wid, Mas Yusuf itu memang tidak bisa ke sini, karena pengajuan tiketnya terlambat,” kataku menjelaskan sambil duduk di kursi depan mejanya Widya, Nia juga mengambil kursi dan duduk di sebelahku.


“Mas Yusuf kan bisa juga ke sini naik pesawat sendiri dari Balikpapan, dasar pelit keluarkan duit untuk beli tiket, bilang cinta mau bertemu eh alasan tiket terlanjur ke Balikpapan.” Widya mulai menggerutu.


“Kalau Mas Deni sih masih bisa di maklumi, Merauke sini habis banyak tiket pesawat, lah Balikpapan ke  Juanda berapa? Memang tidak mau berjuang untuk cinta, rayuannya saja maut.” Gerutu Widay.


“Widya… Widya… jangan punya prasangka buruk dulu, siapa tau dia tidak mau ke sini dulu nunggu cuti berikutnya untuk membicarakan hubungan kalian dengan keluarganya yang di Balikpapan,” kataku berusaha menghibur Widya.


“Itu Wid, hpmu bunyi, siapa tau dari Mas Yusuf segera kamu angkat,” kata Nia.


“Ayo lanjut kerja,” kataku dan berdiri dari kursi kemudian berjalan menuju ke meja kerjaku. Duduk di kursi dan menyalakan komputer, sambil menunggu komputer siap aku mengambil kotak makanan dan aku taruh di atas meja


kerjaku.


Terlihat Widya keluar ruangan sambil menerima telpon, aku gak tau siapa yang menelponnya, sepertinya sih penting, pikirku.


Komputer sudah siap aku mulai menginput data sesekali menyadarkan punggungku di bantalan kursi dan juga mengambil cemilan yang aku bawa dari rumah.


Widya masuk ke dalam ruang kerja, dan berjalan menghampiri kami.


“Rin… ini lihat apa.” Widya menunjukkan isi whats up nya.


“Hei… itu kan tiket pesawat,” kata Nia ketika ikut-ikutan melihatnya.


“Apa kubilang jangan punya pikiran negatif dulu,” kataku.


Widya tersenyum memandangku.


“Iya Rin, aku sudah salah sangka, dia membelikanku tiket pulang pergi, dia ingin aku ke Balikpapan dulu untuk bertemu dengan keluarganya kalau di sana setuju rencana cuti depan dia mau ke sini untuk lamaran.” Widya


menjelaskannya.

__ADS_1


“Waw, secepat itu, terus aku kapan?” tanya Nia dengan wajah kecewanya.


“Kamu juga harus sabar, kalau cerita dari suamiku, Mas Yusuf dan Mas Deni ini orang baik,” kataku.


“Ayo lanjut lagi kerjanya!” Pintaku.


Nia membalikkan badannya menghadap ke mejanya kembali, sedangkan Widya berjalan ke arah mejanya dan duduk di kursinya, kulirik dia tersenyum-senyum bahagia, beda dengan Nia yang diam saja, mungkin ada rasa iri


di hati Nia, semoga ada berita bagus juga untuk Nia.


Waktu istirahat tiba, kami bertiga menuruni tangga menuju ke kantin Mbah Yah memesan makanan dan duduk di kursi kantin sambil mengobrol-ngobrol ringan.


“Wid, tiketnya kapan?” tanyaku.


“Jumat sore Rin, habis Maghrib,” jawab Widya.


Nia masih diam terlihat bersedih.


“Nia kamu ini kenapa, lihat Widya dapat tiket menemui Mas Yusuf kok sepertinya kamu tidak senang sih?” tanyaku.


“Gimana aku bisa senang, Widya bisa di perlakukan seperti itu sama Mas Yusuf sedangkan Mas Deni sampai hari ini belum juga membahas tentang lamaran apalagi pernikahan, jadi perawan tua beneran aku ini nanti


menunggu dia bilang ke aku Nia ayo kita menikah,” kata Nia.


“He he he, kamu kebanyakan lihat sinetron kalau gak gitu baca novel,” kataku dan tertawa.


“Nanti aku tanyakan ke Mas Arif tentang Mas Deni, yang aku tau Mas Arif dan Mas Deni ini lebih dekat, juga sama-sama tinggal di Merauke, besok aku kabari lagi,” kataku.


Nia menganggukkan kepalanya sambil meminum es teh dari sedotan plastic,


Kami menikmati makanan kantin Mbak Yah kemudian menuju ke musholla untuk sholat dhuhur.


Istirahat sejenak di mushola kemudian melanjutkan pekerjaan kantor.


Beberapa jam kemudian waktu pulang pun tiba, aku dibonceng Nia ke depan sampai di dekat mobil Mas Arif.


Mas Arif menyapa Nia,”Bagaimana dengan Deni, lancar saja ya?”


“Macet,” jawab Nia.


“Macet bagaimana?” tanya Mas Arif heran.


Aku tersenyum dan tertawa mendengar jawaban Nia.


“He he he, kamu pikir cinta itu seperti lalu lintas gitu Nia kamu bilang macet,”


“Iya macet gak berani bilang menikah, Cuma berani bilang cinta saja, anak kecil juga bisa,” Nia mulai mengeluarkan unek-uneknya.


“Tenang nanti aku sampaikan ke Deni,” kata Mas Arif.


“Sudah dulu, aku mau pulang, bilang sama Mas Deni ya, cintanya macet.” Pesan Nia sambil menghidupkan sepeda motornya.


Aku tersenyum dan tertawa melihat ulah Nia.

__ADS_1


“Ayo pulang Rin.” Pinta Mas Arif.


Kami memasuki mobil dan mobil berjalan perlahan meninggalkan parkir kantorku.


__ADS_2