Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Merindukan Mbah Uti Dan Mbah Kung


__ADS_3

Pagi hari ketika kami sedang menikmati kebersaamaan di ruang keluarga.


"Bunda, Vano pingin ke rumah mbah uti, Vano kangen" bisiknya.


"Mas, pulang ke rumah orang tuaku ya? Vano mau ke sana" kataku.


"Sekarang?" tanya Mas Arif.


"Ya Iya Mas" jawabku.


"Ayo, kamu siap-siap saja" kata Mas Arif


Aku masuk ke kamar berganti baju setelah siap aku keluar kamar menemui Mas Arif dan Vano.


"Ayo, aku sudah siap" kataku.


Mas Arif berdiri dari duduknya kemudian keluar rumah, aku dan Vano mengikutinya.


Mengunci pintu rumah, Vano sudah berlari keluar pintu pagar di samping mobil yang sudah di keluarkan dari garasioleh suamiku.


Pintu belakang di buka oleh Mas Arif, Vano masuk ke dalam mobil dengan membawa mainannya.


Aku menutup pagar dan mengunci gemboknya.


Aku buka pintu depan mobil dan aku duduk di samping suamiku setelah pintu aku tutup dan memastikan pintu belakang juga sudah terkunci, aku memasang sabuk pengaman, menoleh ke arah suamiku dan


tersenyum.


"Ayo" kataku, Mas Arif tersenyum melihatku dan menyalakan mobil keluar dari komplek perumahan menuju


ke rumah kedua orang tuaku.


"Vano nanti menginap apa tidak?" tanyaku ke Vano yang sedang asyik bermain di belakangku.


"Iya nginap" jawabnya.


"Mau nginap sendiri disana, Ayah sama Bunda kembali ke sini besoknya menjemput Vano?" tanyaku.


"Iya gak apa-apa" jawab Vano.


Tumben ini anak mau ditinggal sendiri di rumah orang tuaku, apa karena kangennya sama embahnya ya, memang sudah hampir sebulan tidak kesana aku.


"Vano mau ditinggal disana Rin?" tanya Mas Arif sambil menyetir.


"Iya Mas" jawabku.


"Tumben banget" kata Mas Arif heran.


"Bisa jadi karena kangen sekali sama embahnya Mas, kan sudah lama tidak kesana, Mas pulang saja belum ke sana kan?" kataku.


"Iya ya, menantu kebangeten ya aku ini, sibuk bercinta denganmu sampai lupa tidak mengunjungi orang tuamu he he he" katanya dan tertawa.


Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku.


"Kita juga lama tidak ke rumah Embah ya?" tanyaku kembali.


"Iya ya, terakhir sebelum kita menikah itu ya" jawab Mas Arif sambil mengingat-ingatnya.


"Rin kita menikah itu sudah berapa lama sih?" tanya Mas Arif lagi.

__ADS_1


"Apa sih yang Mas ingat itu, semua lupa?" tanyaku lagi.


"Ya begitu laki-laki gak pernah mengingat tanggal pernikahan yang diingat hanya bercinta saja" kataku lagi.


"He he he, bercinta itu seperti makanan Rin, selalu ingin terus" katanya dan tertawa.


"Sudah berapa lama kita menikah?" tanya Mas Arif kembali.


"Satu abad" jawabku singkat.


"Hah? sudah tua dong kita" kata Mas Arif menggoda.


"Iya, sudah nikah dari jaman dahulu kala terus berenkarnasi bertemu kembali jadilah menikah lagi he he he" jawabku sekenanya.


"Ha ha ha, kamu bisa melucu juga ya Rin" kata Mas Arif.


"Sudah hampir setengah tahun ya Rin, kita menikah" kata Mas Arif.


"Nah itu ingat" kataku kesal.


"He he he" Mas Arif tertawa.


"Setengah tahun kamu sudah pinter ya menggodaku" kata Mas Arif sambil melihatku.


"Ya itu ajaranmu, kamu kan yang berpengalaman masalah itu" kataku.


"He he he, tapi kamu suka kan dan menikmatinya" goda suamiku.


Aku tersenyum malu.


"Gak usah malu-malu sama suamimu ini" godanya kembali.


"Ah Mas Arif" kataku tersipu malu.


"Mbah Uti, Vano kangen" kata Vano sambil memeluk Ibu.


"He he he, Vano tinggal di sini beberapa hari, sekolahmu kan libur" kata Ibu.


Vano menganggukkan kepalanya.


"Ayah Bunda bagaimana kalau kamu di sini lama? liburmu kan ada dua minggu?" tanyaku.


"Ya pulang ke rumah nenek" jawab Vano.


Kemudian di sambut gelak tawa dari kami.


Masuk ke ruang keluarga, kami bersantai di sana, ngobrol-ngobrol ringan.


"Faris gak pulang Bu?" tanyaku sambil nyemil jajan gorengan buatan Ibu.


"Ada sebulan ini gak pulang Rin, mungkin sedang sibuk" jawab Ibu.


"Rif, kamu kapan kembali ke Papua?" tanya Bapak.


"Masih lama Pak, tiga minggu lagi" jawab Mas Arif.


"Loh kok tumben lama cutinya?" tanya Bapak kembali.


"Iya Pak, di sana sedang ada kerusuhan, jadi yang cuti di luar daerah untuk menunggu sampai di sana reda

__ADS_1


kerusuhannya" jawab Mas Arif.


"Kamu hati-hati saja Rif" pesan Bapak.


"Iya Pak" jawab Mas Arif.


Tak terasa waktu sudah sore.


"Mas, kita menginap di sini atau pulang?" tanyaku kepada Mas Arif saat kami sedang duduk di teras depan rumah.


Bapak menghampiri kami.


"Rif, setelah ini mau ke Mbah uyut" kata Bapak.


"Arif antar saja ke sana" kata Mas Arif menawarkan diri.


"Oh boleh, rencana nginap di sana" jawab Bapak.


Kemudian Bapak masuk ke dalam rumah dan aku juga.


Mendapati Vano yang sedang bermain di ruang keluarga.


"Vano, Mbah uti sama Mbah kung mau ke Mbah uyut, Vano ikut?" tanyaku.


"Ikut Bunda, Vano mau nginap di sana saja" jawab Vano.


"Asyik... main sama kelinci" kata Vano dengan gembiranya.


Aku masuk ke dalam kamar membuka almari baju mengambil baju ganti untuk Vano dan aku masukkan ke tas kecil, membawanya ke luar kamar.


Di ruang keluarga bertemu dengan kedua orang tuaku.


"Kami mau nginap, Vano juga?, apa kamu sama Arif ikut nginap juga?" tanya Ibu.


"Sepertinya tidak Bu, aku sama Mas Arif pulang ke sini saja kan besok jemput Bapak, Ibu sama Vano ke sana lagi" kataku.


"Oh... ya sudah kalau begitu, ayo berangkat" ajak Ibu.


Kami keluar rumah, aku mengunci rumah, Mas Arif berjalan menuju mobil, kunci rumah aku masukkan ke dalam tasku dan aku melangkah menuju ke mobil.


Bapak, Ibu dan Vano sudah menunggu di dalam mobil.


Aku membuka pintu dan menutup kembali, di belakangku terlihat Vano sedang bermanja dengan Ibukku.


Mobil berjalan meninggalkan rumah kedua orang tuaku menuju ke rumah Embah.


"Bunda, nanti menginap juga di rumah mbah uyut?" tanya Vano.


"Enggak Vano, Ayah sama Bunda nanti tidur di rumah Mbah uti, besok dijemput lagi" kataku.


Tak terasa kami sudah sampai di rumah Embah, adzan maghrib terdengar dari masjid di desa tersebut.


Kami turun dari mobil berjalan bersama menuju ke dalam rumah embah.


"Kok gak ngabari mau ke sini? Vano... lama tidak kesini, kangen sama kamu" kata Bibi menyambut kami di


teras rumah, kami bersalaman dan masuk ke dalam rumah.


"Mau sholat maghrib dulu" kata Bibi.

__ADS_1


"Iya Bi, sekalian bareng ya" kataku sambil memandang suami dan kedua orang tuaku.


Kami menuji ke samping rumah ke sebuah mushola yang terbuat dari kayu untuk menunaikan sholat berjamaah, Bapak yang menjadi imamnya.


__ADS_2