
"Bapak tidak bercerita apa-apa tentangmu tadi cuma ngobrol biasa tanya aktifitasku sekarang begitu saja" jelasnya.
"Oh..." dalam hati syukurlah.
Kami diam lagi terdiam lagi, entah apa yang ada dalam hatinya, aku juga bingung mau ngomong apa hampir 10 tahun aku tidak bertemu denganya, terus apa maksud dia kesini?.
"Rin... aku mohon maafkan aku Rin" katanya.
"Aku tau aku salah Rin, tanpa kabar pergi begitu saja meninggalkanmu tanpa kepastian" lanjutnya.
"Sudahlah mas jangan membahas masa lalu aku sudah melupakannya, kita juga tidak bisa seperti dulu" ungkapku.
"Aku juga sudah memaafkanmu sudah lama sejak dulu dan belajar melupakanmu dari hari kehari walaupun sakit walaupun rindu, tapi sudahlah" tak terasa air mataku berkaca-kaca.
"Maafkan aku Rin" ungkapnya dengan nada sesal.
"Iya Mas, oh ya sudah hampir jam 8, apa Mas gak pulang? gak enak disini lama-lama, anak istrimu pasti menunggu di rumah" kataku.
Sebenarnya sih ngusir halus.
"Gak ada yang nungguin aku Rin, aku masih sendiri" katanya.
"Kalau gak keberatan aku mau disini lebih lama, melihatmu disini" katanya.
Rayuanya mulai hmmm batinku.
"Pulanglah Mas, gak enak aku sama orang tuaku" pintaku.
"Apa ada lagi yang mau Mas bicarakan padaku?" tanyaku.
"Rin... kamu makin cantik memakai hijab" katanya.
Ya Allah ini orang hatinya terbuat dari apa? apa tidak mengerti aku mengusirnya? malah merayu... jengkel dongkol sekali hatiku.
"Maaf Mas aku mau istirahat lelah aku seharian kerja, Vano juga masih belum sembuh dari sakitnya, maaf ya Mas, lebih baik Mas segera pulang!" akhirnya kuberanikan bicara seperti itu.
"Maaf kalau begitu Rin, besok aku kesini lagi" katanya sambil menjulurkan tangan untuk bersalaman.
"Maaf mas bukan muhrim" tolakku.
"Bapak Ibuk, Mas Arif pamit pulang" panggilku ke Bapak dan Ibuku
Mereka keluar rumah bersalaman dengan mas Arif
"Hati-hati di jalan Rif" kata Bapak
__ADS_1
"Iya terimakasih Pak, assalamualaikum" kata Mas Arif sambil menjalankan mobilnya pergi meninggalkan rumah kedua orang tuaku.
"Rin, Arif kok tiba-tiba kesini ada apa?" tanya Bapak.
"Iya ya Pak, kok juga tau alamat rumah ini?, Rin, apa dia tau kamu sekarang sendiri? jangan-jangan dia tau kamu lagi sendiri dan mau mendekatimu lagi" kata Ibu.
"Gak tau aku, aku juga gak tau dia tau statusku sekarang apa tidak, tadi juga kaget, dia disini" jelasku sambil menggendong Vano masuk ke kamar untuk menidurkanya.
*****
Pagi hari, Vano belum sehat betul jadi di rumah sama Ibu, aku tetap masuk kerja seperti biasa, setelah siap semua aku keluar rumah untuk berangkat kerja sepeda sudah aku stater dan siap untuk berangkat tiba-tiba ada mobil berhenti.
"Masukkan lagi sepedamu, ayo aku antar kerja" kata Mas Arif
"Gak usah mas, aku bisa berangkat sendiri" tolakku.
"Ayolah..." pintanya sambil turun dari mobil mendekatiku dan mengambil kunci sepedaku, aku hanya bengong saja.
"Turun..." perintahnya aku hanya menuruti saja, sepedaku dimasukkan lagi ke dalam rumah, di dalam Mas Arif bertemu dengan Ibuku.
"Rinda bareng saya Bu berangkat kerja, nanti pulang saya antar lagi" pamit Mas Arif ke Ibu.
"Hati-hati ya!" kata Ibu.
"Rin...kamu kerja dimana?" tanyanya membuka obrolan.
"Oh ya eh... " jawabku kaget juga gugup karena sedari tadi aku melamun.
"Iya.. di jalan Mayjend Sungkono" jawabku.
"Rin...kamu masih marah ya atas kejadian 10 tahun yang lalu?" tanyanya.
"Sudah gak kok Mas" jawabku
"Tapi wajahmu masih kelihatan marah loh Rin, Hmmm Rin... maaf ya, sebenarnya aku sengaja menjemputmu pagi ini aku ingin menjelaskan semuanya ke kamu, mau ya kamu mendengarkanya?" ucapnya.
Aku menganggukkan kepala, padahal apa peduliku denganmu yang bagusan hantu datang tak diundang pulang minta antar lah ini datang tak di undang pulang juga huzzz lenyap ditiup angin tanpa bekas.
Kudengarkan dengan seksama penjelasan Mas Arif, ternyata ada kejadian yang memilukan setelah kelulusan SMA Mas Arif, waktu itu kedua orangtuanya bercerai dan Mas Arif ikut dengan bapaknya ke luar pulau tepatnya di Merauke, disana dia juga tidak nyaman karena hidup bersama dengan ibu tiri juga saudara tiri, apalagi bapaknya lebih peduli dengan anak tirinya daripada dengan mas Arif, akhirnya mas Arif pergi meninggalkan keluarganya membawa ijazahnya untuk mencari pekerjaan di Papua di tambang Freeport dia di terima jadi pekerja kasar karena ijazah SMA, Bos nya melihat kegigihan Mas Arif akhirnya berniat untuk menguliahkan Mas Arif dengan biaya perusahaan untuk kuliah di ibukota Jakarta selama 4 tahun disana dan lulus kuliah kemudian kembali di Freeport untuk bekerja di sana kembali, jadi dia tidak memikirkan untuk menghubungiku karena merasa menghubungiku karena tidak bisa membahagiakanku, jadi selama ini dia belum berkeluarga.
"Mas aku berhenti disitu ya" kataku.
"Kamu kerja di sini Rin" tanyanya.
"Iya mas" jawabku.
__ADS_1
"Mobil boleh masuk kan? tanyanya.
"Boleh Mas, tapi sampai situ saja" kataku sambil menunjuk arah.
"Kamu nanti pulang jam berapa? biar enak aku jemputnya" tanyanya.
"Sekitar jam 3 Mas" jawabku sambil membuka pintu mobil dan menutupnya kembali.
"Terima kasih sudah mengantarku" kataku sambil tersenyum.
"Terima kasih senyum manismu hari ini Rin, tunggu aku nanti sore ya? katanya dan meninggalkan tempatku kerja.
Aku pandangi mobil mas Arif sampai menghilang dari pandanganku, kulangkahkan kakiku menuju kantor tempatku bekerja.
"Hayooo... sapa tadi? cie cie" goda Nia.
"Kamu ini mengejutkanku Nia" kataku.
"Ayolah cerita cerita, siapa dia? pacar barumu ya?" tanya Nia.
"Bukan, dia pacar lamaku" jawabku.
"Ish ish ish CLBK ni ye..." goda Nia.
Ya begitulah Nia selalu saja menggoda juga menghiburku.
"Entahlah Nia, aku belum bisa membuka hatiku untuk laki-laki manapun, aku masih ingin sendiri menikmati hidupku saat ini, gak tau sampai kapan Nia" jelasku.
"Gak nyesel kamu Rin, menolaknya? sepertinya dia baik sekali" kata Nia.
Kami terus berbincang sampailah di dalam kantor dan duduk di meja masing-masing, mengerjakan tugas sesuai jobdesk masing-masing.
Waktu pulang telah tiba, hari ini serasa cepat sekali, apa karena banyak pekerjaan atau aku lagi seneng ya hehehe.
Berjalan menuju pintu gerbang tempatku bekerja, ternyata lumayan jauh ya, dari kantorku menuju pintu gerbang pikirku.
Tiba-tiba tin tin bunyi klakson mengagetkanku kuarahkan pandanganku mencari asal bunyi dari jauh terlihat mas Arif melambaikan tanganya, aku melangkah mendekat ke arah Mas Arif.
Masuk ke mobil Mas Arif "sudah lama menunggu?" tanyaku.
"Barusan saja kok" jawabnya.
"Makan dulu ya Rin" lanjutnya.
Aku mengangguk tanda menyetujuinya.
__ADS_1