
Satu minggu telah berlalu, hubungan Deni dan Nia semakin mesra saja, sedangkan Widya dan Yusuf cuti depan akan melangsungkan pernikahannya.
Minggu besok kami berencana untuk berlibur ke pantai bersama.
"Rin... kamu benar-benar kuat ikut ke pantai pasir putih?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, gak apa-apa, nanti aku duduk di tepi pantai saja," kataku.
"Rif, besok apa yang dibawa?" tanya Mas Deni.
"Den di atas ada tikar, kamu ambil bawa ke sini," jawab Mas Arif.
"Berangkat jam berapa besok?" tanyaku.
"Jam dua sore saja," jawab Mas Arif.
Kami sedang berbincang-bincang di ruang keluarga, Vano masih asyik. bermain legonya.
Mas Deni menuruni anak tangga dengan membawa tikar lipat dan bergabung lagi dengan kami.
"Den, besok Nia kamu jemput atau kita jemput?" tanya Mas Arif.
"Nia katanya mau ke sini pagi," jawab Mas Deni.
"Terus pulangnya? gak kamu antar?" tanya Mas Arif.
"Iya ya, enaknya bagaimana menurutmu Rif?" tanya Mas Deni.
"Mas, umpama Nia tidur di sini bagaimana?" usulku.
"Biar tidur di kamarnya Vano, terus Vano tidur bersama kita, kan besok senin Nia bekerja," usulku lagi.
"Bisa juga, tapi kamu jangan macam-macam Den," kata Mas Arif ke Mas Deni.
"Gak Rif, kamu itu negatif saja ke aku," kata Mas Deni.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih, Vano terlihat sudah mengantuk.
"Vano... ayo tidur," ajakku.
Vano berdiri dan berjalan ke kamarnya, naik ke atas ranjang, tak lama kemudian tertidur, aku berbaring di samping Vano juga ikut tertidur.
Beberapa saat kemudian...
"Rin... bangun, pindah tempat," bisik Mas Arif.
Aku menggeliat dan membuka mataku kemudian bangun dan duduk di tepi pembaringan.
"Sudah jam berapa Mas?" tanyaku.
"Jam satu dini hari," jawab Mas Arif.
"Mas dari tadi belum tidur?" tanyaku sambil berdiri dan berjalan menuju ke kamarku.
Merebahkan tubuhku dan tidur posisi miring.
"Rin, susah ya tidurnya?" tanya Mas Arif sambil membaringkan tubuhnya di sampingku..
"Iya Mas, gak nyaman sekali mau miring ke kanan capek pindah miring ke kiri, telentang juga gak nyaman," jawabku.
"Satu kali ini saja Rin kamu hamil, melihatmu kasihan sekali aku," kata Mas Arif.
"Mas... sebentar lagi Vera melahirkan, sedangkan aku mungkin saat Mas cuti lagi," kataku.
"Iya Rin, semoga Vera juga kamu selamat semuanya, aku ingin segera melihat wajah anak kita," kata Mas Arif.
"Iya Mas," kataku.
"Mas ayo tidur, Rinda mengantuk ini," pamitku.
"Iya Rin, posisi seperti apa yang membuatmu nyaman?" tanya Mas Arif.
Aku memiringkan tubuhku dan Mas Arif memelukku dari belakang tangannya menyentuh perutku yang membuncit.
__ADS_1
"Rin... anak kita bergerak-gerak, apa dia sedang lapar?" tanya Mas Arif.
"Bukan lapar Mas mungkin sedang bermain-main di dalam," jawabku.
"Ayo tidur Mas, aku mengantuk sekali," kataku kemudian.
"Iya sayang tidurlah," bisik Mas Arif lembut di telingaku.
Aku memejamkan mataku, tak lama kemudian terlelap tidur.
***
Suara adzan subuh membangunkan kami, posisi kami masih tetap seperti saat kami mulai tidur, Mas Arif memelukku dari belakang dan tangannya memegang perutku.
Kami bangun dari tidur dan duduk di pembaringan beberapa saat kemudian turun dari ranjang untuk mengambil wudhu dan sholat berjamaah.
Terlihat Mas Deni menuruni tangga bergabung dengan kami untuk sholat subuh berjamaah.
Selepas sholat subuh, Mas Arif dan Mas Deni berbincang di ruang tamu, aku masuk ke kamarnya
Vano untuk membangunkannya, mencium pipinya Vano dan menggoyang-goyang tubuhnya.
Saat ini sudah jam 5 pagi.
Vano mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka matanya, “Ayo bangun...,” bisikku.
“Masih mengantuk Bunda... nanti saja,” kata Vano pelan.
Aku meninggalkan kamar Vano menuju ke dapur untuk membuat teh hangat dan pisang goreng.
Setelah selesai aku hidangkan dan aku bawa ke ruang tamu untuk sarapan Mas Arif dan Mas Deni.
“Ayo... diincipi,” kataku sambil meletakkan dua gelas teh hangat dan sepiring pisang
goreng.
“Rin... Nia nanti ke sini jam berapa katanya?” tanya Mas
Arif.
“Semalam sudah aku hubungi Mbak, mungkin siang jam sepuluhan begitu Nia ke sini,” kata Mas
Deni menjelaskan.
“Oh iya,” kataku.
Kami bercakap-cakap ringan di ruang keluarga, sampai waktu menunjukkan pukul delapan
pagi.
“Rinda ke dapur dulu mau masak,” pamitku.
“Rin, santai saja gak usah masak, setelah ini aku keluar sama Deni mau beli makanan,” ucap Mas Arif.
“Iya Mas, terima kasih,” ucapku.
Mas Arif dan Mas Deni berjalan keluar rumah mengendarai sepeda motor untuk membeli makanan,
sedangkan Vano sedang bersantai sambil minum susu kotak di ruang keluarga. Aku berjalan menghampiri Vano.
“Bunda nanti mau kemana?” tanya Vano.
“Mau ke Pantai yang dulu kita pernah ke sana,” jawabku.
“Yang ada kerangnya itu ya?” tanya Vano.
“iya,” jawabku.
“Asyiikkk... Vano nanti bawa pulang keongnya,” kata Vano penuh rasa gembira.
Tak berapa lama, Mas Arif dan Mas Deni datang, Mas Arif masuk membawa bungkusan plastik dan
diberikan kepadaku.
__ADS_1
Aku menyajikan makanan di meja makan, dan kami makan bersama.
Saat kami sedang makan, terdengan suara salam dari luar.
“Assalamualaikum,” suara tersebut.
“Waalaikum salam,” balasku.
“Sepertinya Nia yang datang,” kataku.
Aku berdiri dan berjalan perlahan menuju keluar rumah, Nia sudah berjalan sampai di ruang tamu.
“Kebetulan kami sedang makan pagi, ayo...,” ajakku.
Nia mengikutiku
dan duduk di samping Mas Deni.
Aku dan Mas Arif saling melirik melihat tingkah dua anak manusia di depan kami yang sedang di
mabuk cinta.
“Kalian lanjutkan dulu ya, aku tidak mengganggu kalian,” kata Mas Arif.
“Ayo Vano, di depan televisi saja,” ajakku ke Vano.
Kami bertiga sedang duduk di depan televisi, sedangkan Nia dan Mas Deni berada di meja
makan, terlilhat mereka saling menyuapi makanan, aku dan Mas Arif tersenyum melihatnya.
Nia membersihkan meja makan dan peralatan kotor yang kami pakai makan tadi, kemudian bergabung
bersama kami di ruang keluarga, aku dan Mas Arif menggoda Nia dan Mas Deni mereka hanya tersenyum malu, Nia yang biasanya bawel cenderung diam dan sesekali tersenyum malu.
Tak terasa sudah sore, kami berangkat ke Pantai dengan membawa mobil.
“Vano biar di bangku tengah ya, bukan niat mengganggu kalian tapi anggap saja sebagai
penyelamat kalian dari dosa,” kataku menggoda.
“Kamu ini apaan sih Rin, bikin malu saja,” kata Nia.
Mas Deni hanya tersenyum.
Mobi berjalan meninggalkan rumah mertua menuju ke Pantai Pasir Putih.
Setengah jam berlalu, kami sampai di sana, tikar yang di bawa dipasang oleh Mas Deni, Vano
menuju ke pinggir pantai mencari kerang, aku dan Mas Arif duduk di tikar tidak jauh dari Vano, sedangkan Nia dan Mas Deni mereka berjalan menjauhi kami, mereka ingin berdua saling mengenal satu sama lainnya.
Menjelang Maghrib kami segera meninggalkan Pantai Pasir Putih.
Kami mampir ke warung dulu untuk makan malam kemudian pulang.
Sampailah kami di rumah...
Kami mengobrol ringan sampai jam sembilan malam, Vano sudah tidur di kamarku.
“Nia nanti tidur di kamarnya Vano saja, kalau takut Mas Deni masuk, itu ada meja dan kursi bisa untuk menutupnya,” kataku.
Mas Arif tersenyum-senyum juga Mas Deni.
“Hei... kenapa kalian para lelaki tersenyum begitu?” tanyaku penasaran.
“Enggak apa-apa Rin,” jawab Mas Arif.
“Aku kan khawatir Mas Deni seperti ulahmu, itu sampai sekarang kunci kamar Mas taruh di mana?” tanyaku jengkel.
“Mbak itu kunci di sembunyikan oleh Arif,” jawab Mas Deni.
“Sudah aku duga kok,” kataku.
“Sudah jangan bertengkar masalah kunci kamar, aku sudah mengantuk mau tidur, nanti pintunya aku kasih meja saja,” kata Nia sambil berlalu menuju ke kamar tidur.
__ADS_1
Aku tersenyum memandang dua lelaki tersebut dan berjalan meninggalkan mereka menuju kamar tidurku.