
Setelah melihat kondisi Ibu yang sudah membaik, aku, Mas Arif dan Vano menuju Alun-alun kota, di sana kalau hari minggu pasti ramai, banyak orang jualan makanan juga.
Waktu menunjukkan pukul delapan lebih seperempat.
Sampai di Alun-alun.
Seperti biasa Vano berlari kesana kemari menikmati berbagai permainan di sana, di Alun-alun ini memang banyak sekali permainan untuk anak-anak, ada bandulan, perosotan, jungkat jungkit dan lain sebagainya.
Aku dan Mas Arif mengikuti Vano dari belakang.
"Rin, seandainya punya anak lagi seperti apa ya?" tanya Mas Arif.
"Yang jelas semakin sibuk Mas, selama Vano masih seperti saat ini, belum bisa mengawasi adiknya" jawabku.
"Rin, apa ditunda saja kehamilanmu, kamu kb begitu" kata Mas Arif.
"Mas, aku gak mau kb, kalaupun ada anak lagi, pasti aku bisa merawatnya" kataku.
"Ya sudah Rin, bagaimana baiknya saja" jawab Mas Arif.
"Vano belum capek"
Aku tersenyum memandang suamiku, dan menggandeng tangan suamiku, kami berjalan bergandengan tangan mengikuti langkah Vano.
"Vano... masih belum capek?" tanyaku.
"Belum Bunda" jawab Vano.
"Bunda, Vano mau main ayunan" kata Vano.
Aku dan Mas Arif mengikuti Vano, Mas Arif mengayunkan ayunan, Vano tertawa gembira.
"Ayah... sudah" kata Vano, Mas Arif menghentikan laju ayunan dengan memegang tali ayunan.
"Vano mau kemana?" tanya Mas Arif.
"Pulang saja Ayah" jawab Vano.
"Ayo beli makanan di sana" kata Mas Arif.
"Rin, ayo kita ke sana ada banyak makanan di sana" ajak Mas Arif.
Aku menghiyakan, dan kami berjalan beriringan, Vano kadang jalan kadang di gendong Mas Arif.
Sampailah kami di tempat makan, di sana ada berbagai makanan yang dijual.
"Vano mau kue lekker?" tanyaku.
"Mau Bunda" jawab Vano.
"Rin, aku mau pesan empek-empek palembang, kamu mau?" tanya Mas Arif.
"Iya Mas, aku nitip Vano dulu, aku mau beli kue lekker di sana" pamitku.
Aku meninggalkan Vano bersama Mas Arif, aku menuju penjual lekker, lumayan antri sih.
__ADS_1
"Rinda, kebetulan sekali bertemu di sini, kok sendiri mana Vano" tanya Mas Ardi.
Aku lumayan kaget dia berada di sini yang sama-sama membeli kue leker, dia bersama dengan seorang perempuan, mungkin dia ini perempuannya mantanku yang di maksud Farida kemarin, aku berusaha untuk tenang.
"Iya sendiri" jawabku singkat, dalam hati semoga dia tidak menemukan Vano yang sedang bersama Mas Arif.
"Kenalkan ini Rista, calonku" kata Mas Ardi.
Kami bersalaman saling mengenalkan diri.
"Mbak, mantannya Mas Ardi?" tanya Rista.
"Oh iya itu dulu" jawabku.
"Maaf Mbak, aku tidak bermaksud merebutnya dari Mbak" katanya dengan sopan.
"Aku tidak apa-apa, aku malah senang bisa keluar dari kehidupannya, karena aku memang tidak cinta, aku terpaksa menikah denganya, bersama dengannya banyak sakitnya daripada bahagianya" kataku, pikirku biar dia tau sendiri seperti apa Mas Ardi.
"Mbak ini kue lekernya" kata Pak Penjual, aku membayar uang dan menerima kembalian kemudian aku berniat untuk meninggalkan mereka.
"Oh iya aku duluan" pamitku.
"Rinda sebentar" cegah Mas Ardi.
"Maksudmu apa kamu ngomong seperti itu kepada Rista?" tanya Mas Ardi.
"Kenapa? Mau tau? biar dia tau kalau kamu laki-laki licik" jawabku.
"Mbak Rinda, tolong beri aku penjelasan maksudmu apa?" tanya Rista.
"Kalau kamu mau tau seperti apa dia, banyak cari informasi ke banyak orang tentang kelakuannya itu, semoga dia masih menghargaimu dan belum menikmati tubuhmu" jawabku dan aku segera meninggalkan mereka.
"Rista, jangan percaya omonganya" teriak Mas Ardi.
"Kamu pulang saja, aku lebih percaya sama mantanmu daripada omonganmu" kata Rista dengan nada marah.
Rista terus mengikutiku, aku akhirnya berhenti dan duduk di sebuah tempat makan tak jauh dari suami dan anakku.
"Kamu mau pesan apa? pesanlah!" kataku.
Aku mengambil hp, aku wa Mas Arif.
"Mas, ini aku di depanmu membelakangimu, aku tadi bertemu dengan Ayahnya Vano, tolong titip Vano" pesanku.
"Iya aku tau, kamu di situ, siapa wanita yang di depanmu?" tanya Mas Arif.
"Itu perempuannya mantanku" jawabku.
"Sudah dulu nanti di lanjut ceritanya" kataku lagi.
"Rista... ayo pulang" kata Mas Ardi ketika sampai di tempat kami.
"Aku bisa pulang sendiri, jangan ganggu aku dengan Mbak Rinda" kata Rista.
Aku sudah tidak tenang berada di sini, khawatir mantanku bisa bertemu dengan Vano, semoga Mas Arif tau situasi saat ini, batinku.
__ADS_1
Aku melihat dua orang ini adu mulut.
"Maaf, aku pulang saja, percuma juga mendengarkan pertengkaran kalian" kataku.
"Rinda, ini juga karena omonganmu" kata Mas Ardi menyalahkanku.
"Mas bilang ini karena omonganku? gak salah dengar aku?" tanyaku.
"Kamu sudah lupa apa yang kamu lakukan padaku empat tahun yang lalu? kamu tau apa yang aku alami? kamu tau bagaimana aku bisa melewati masa itu?" jawabku dengan nada sangat marah.
Kemudian aku meninggalkan mereka, aku lihat Mas Arif dan Vano sudah tidak ada di tempat tadi.
Aku mengambil hpku, ada pesan dari Mas Arif.
"Rin, aku tunggu di mobil" pesan Mas Arif.
Aku berjalan meninggalkan tempat itu, aku toleh ke belakang mantanku masih bertengkar dengan Rista.
Sampai di tempat parkiran mobil, Mas Arif dan Vano berada di sekitaran mobil, aku menghampirinya.
"Ayo pulang Mas, ini kue lekermu Vano" kataku dan aku membuka pintu belakang mobil, Vano masuk ke dalam kemudian aku tutup, aku duduk di depan bersebelahan dengan Mas Arif.
"Ada apa tadi Rin?" tanya Mas Arif.
"Nanti saja Rinda ceritakan" jawabku.
"Oh ya, tadi bungkus empek-empek palembang?" tanyaku.
"Iya Rin, Ibu juga mau, tadi aku wa Ibu" kata Mas Arif.
Sampai kami di rumah, Mas Arif ke atas membawa empek-empek untuk Ibu.
Aku di bawa membuka bungkusan empek-empak dan melanjutkan menyiapkanya di piring untukku dan suamiku, kue leker juga aku taruh di piring dan aku kasihkan ke Vano.
Mas Arif turun ke bawah.
"Ayo Mas makan!" ajakku.
"Iya Rin" jawab Mas Arif kemudian duduk di kursi meja makan, Vano nyemil kue leker di depan tv.
"Rin, tadi bagaimana ceritanya?" tanya Mas Arif penasaran.
"Biasa, mantanku menyalahkan aku bicara begitu sama pacarnya" jawabku.
"Memang kamu bicara apa Rin?" tanya Mas Arif santai sambil makan empek-empek palembang.
"Tadi kan pacarnya itu bilang minta maaf karena merebut mantanku, lah kan lucu, aku saja gak tau tentang perempuan itu saat masih menikah denganku, kok dia bilang minta maaf karena merebut mantanku" ceritaku.
"Mungkin dia sudah berhubungan saat kamu masih dengan ayahnya Vano Rin" kata Mas Arif
"Oh iya betul juga ya" jawabku.
"Terus kamu jawab bagaimana?" tanya Mas Arif lagi.
"Aku bilang kalau aku lebih bahagia lepas dari kehidupannya, aku menikah denganya juga karena terpaksa" jawabku.
__ADS_1
"Mungkin ada sesuatu yang terjadi diantara mereka Rin, biarkan saja" kata Mas Arif sambil mengakhiri makanannya.
"Iya Mas" Kataku sambil membawa piring sisa makanan ke wastafel untuk dicuci.