
Keluar dari rumah makan, dan aku akan menaiki sepeda, Mas Ardi menghampiriku.
“Rinda… maaf kalau tadi menyinggungmu” katanya.
“Tak perlu minta maaf, dari dulu kamu juga begitu, jangan hubungi aku lagi” kataku.
“Aku sudah sangat kecewa denganmu” kataku kemudian menyalakan sepeda motor meninggalkan Mas Ardi.
“Rinda, tolong maafkan aku” teriaknya, aku tidak menggubrisnya sama sekali.
Aku mengendarai sepeda motorku meninggalkannya menuju ke tempat kerjaku.
Dasar laki-laki tidak pernah berubah sikapnya, maaf, maaf apa? Hanya di mulutnya saja bukan dari hati, kata hatiku.
Sampai di parkiran tempat kerja aku segera menuju ke musholla untuk melaksanakan sholat dhuhur, selesai sholat aku berjalan ke atas ke ruanganku.
Masih dengan wajah cemberut aku membuka-buka file ku. Hmmm gara-gara dia jadi gak fokus bekerja aku.
Nia melihatku dan bertanya.
“Kamu kenapa Rinda, balik ke sini kusut begitu?”
“Kenapa sih hidupku selalu bertemu dengan laki-laki yang sudah jadi mantanku?” tanyaku.
“Kenapa lagi dengan ayahnya Vano?” tanya Nia.
“Jengkel sekali aku Nia, masak dia mau balikan sama aku, sudah jelas aku ini istri orang” kataku.
“Nyesel kali dia ninggalin kamu?” tanya Nia.
“Nia doakan ya aku segera hamil, aku mau tunjukkan sama dia kalau suamiku bisa buntingin aku” kataku masih dengan nada marah.
“Sabar….” Kata Nia.
Aku mengambil air dari botol air minum di depan mejaku dan menyandarkan punggungku di sandaran kursi.
Ya Allah… kenapa hidupku ini tidak pernah terlepas dari dia, dia yang sudah menghancurkan hidupku, kata hatiku.
“Rin, kenapa tadi kamu mau menemuinya?” tanya Nia.
Aku menghela nafas panjang “Nia, aku ini sebenarnya pingin sekali punya hubungan yang baik dengan mantanku, tapi ya setiap memulai selalu saja aku kecewa” kataku.
“Beberapa hari ini dia menelponku, menemui Vano di sekolahnya juga, dia ingin baikanlah, ingin punya hubungan baik, tapi kata-katanya tadi sungguh menyakitiku” kataku kembali.
Aku bangun dari sandaran kursi dan kembali meminum air di dalam botol di atas meja dan mengembalikannya di tempatnya tadi.
“Memang apa yang dia omongkan Rin?” tanya Nia.
“Mau tau apa yang dia omongkan?” tanyaku sambil berbisik.
Nia menganggukkan kepalanya.
“Dia ingin tidur denganku” bisikku.
“Hah” Seketika itu Nia terperangah.
“Ya jelas kamu marah Rin, sama saja dia merendahkanmu sebagai wanita baik-baik” kata Nia.
“Terus rencanamu bagaimana?” tanya Nia kemudian.
__ADS_1
“Aku tidak tau Nia” jawabku.
“Apa kamu berencana untuk menceritakan kepada suamimu?” tanya Nia.
“Belum berani aku Nia, aku takut menjadi tersinggung dan curiga kepadaku, kamu tau sendiri hubungan jarak jauh begini rentan kecurigaan Nia” jawabku.
“Tapi pasti suatu saat aku pasti akan bercerita kepadanya, aku tidak mungkin menyembunyikan ini darinya” kataku.
“Yang pasti aku sebagai istri yang di tinggal jauh harus selalu setia pada suamiku” kataku lagi.
“Iya Rin, harus itu, kesetiaan itu mahal” kata Nia.
“Ayo lanjut bekerja Nia, dua setengah jam lagi kita pulang” kataku.
“Iya Rin” jawab Nia.
Dan kami fokus kembali ke pekerjaan kami.
Aku berusaha untuk tidak memikirkan omongannya mantanku yang selalu membuatku emosi, tapi kok ya mak jleb di hatiku ini.
Ya Allah semoga bulan ini aku segera hamil, aku ingin menunjukkan kepadanya kalau aku bisa hamil juga, batinku.
Waktunya pulang kerja, aku merapikan mejaku yang penuh dokumen berserakan, setelah rapi aku matikan komputerku dan aku ambil tasku kemudian berjalan bersama Nia dan Widya menuruni anak tangga menuju ke parkiran sepeda.
Aku menyalakan sepeda menuju ke tempat Vano.
Masih di sekitaran parkiran, hp ku berbunyi, semoga bukan sang mantan, batinku.
Sepeda motor aku matikan dan aku ambil hp dari dalam tasku.
Alhamdulillah suamiku tercinta he he he, seketika itu senyumku kembali merekah, segera aku angkat telpon darinya.
“Waalaikum salam istriku, eh kok semangat sekali?” tanya Mas Arif.
“Iya lah, kalau nerima telpon dari terkasih itu ya harus semangat” kataku kembali sambil tersenyum.
“Kamu di mana sekarang Rin?” tanya Mas Arif.
“Masih di parkiran kerjaku mau nyusul Vano” jawabku.
“Kalian baik-baik saja kan?” tanya Mas Arif.
“Alhamdulillah semua baik-baik saja Mas, oh iya jumat depan aku mau ke rumah orang tuaku Mas, sudah kangen” pamitku.
“Iya gak apa-apa, salam untuk Bapak Ibu, oh iya Ibu bagaimana? Sehat saja kan pulang dari Jogja kemarin?” tanya Mas Arif.
“Alhamdulillah sehat Mas, nitip pesan apa sama Ibumu?” tanyaku.
“Salam saja” jawab Mas Arif.
“Lanjut dulu saja Rin, kasihan Vano pasti menunggumu” kata Mas Arif
“Iya Mas, terima kasih ya, Assalamualaikum” kataku akan mengakhiri pembicaraan melalui telpon kami.
“Waalaikum salam, hati-hati ya sayang” pesan Mas Arif.
“iya, Mas juga” kataku kemudian telpon aku tutup.
Lalu aku menghidupkan sepeda motorku lagi perlahan meninggalkan tempat kerjaku menuju ke Penitipan anak tempat Vano berada.
__ADS_1
Ah… suamiku kamulah semangatku disaat aku sedang suntuk, batinku.
Ketika hampir sampai di Penitipan anak di mana Vano berada, telpon kembali bordering.
Aku berhenti di pinggir jalan, siapa lagi, batinku.
Aku ambil hp dalam tasku. Hmmm untuk apa dia menelponku kembali, aku angkat saja kemudian aku marahi sepuasku, batinku.
“Hallo” sapaku.
“Rinda, tolong maafkan aku” kata Mas Ardi memohon.
“Hei… tidak ada maaf bagimu, omonganmu tadi sangat menyinggungku, kamu pikir aku permpuan
apa? Kalau kamu mau mencari kehangatan carilah perempuan yang mau sama kamu, maaf aku dari dulu tidak tertarik denganmu” kataku dengan marah, dan telpon aku tutup demikian juga hpku.
Dalam hatiku berkata, untuk apa menggubris omongan dia, bikin emosi saja, mending mengingat suamiku saja yang selalu membuatku tersenyum.
Sampai;aj aku di Penitipan anak.
Vano melihatku dan berlari memelukku.
“Bunda kok lama jemputnya?” tanya Vano dengan wajah kecewa.
“Maaf sayang, bunda tadi banyak pekerjaan jadi agak lama menjemputmu” jawabku berbohong.
“Ayo segera ambil tasmu dan kita pulang!” ajakku.
Vano kembali ke dalam ruangan mengambil tas trolinya dan menyerek ke arahku.
“Vano sudah salim sama Bu Guru?” tanyaku.
“Sudah Bu” sahut Bu Via dari dalam ketika mendengar pembicaraan kami.
“Iya, Kami pamit dulu ya Bu” pamitku ke Bu Gurunya Vano.
Keluar dari dalam Penitipan anak menuju ke sepeda motorku.
Aku taruh tas troly di depan dan di pakai untuk tempat duduk Vano.
“Vano setelah ini mau kemana?” tanyaku.
“Bunda, Vano lapar, ayo beli makan apa gitu” pinta Vano.
“Kamu mau bakso?” tanyaku.
“Iya Mau Bunda” jawab Vano.
Kami perlahan meninggalkan Penitipan anak menuju ke warung bakso, sampai di sana aku memesan bakso dan teh hangat, tak lama kemudian bakso tersaji di depan kami, kami segera menikmatinya.
Selesai makan bakso dan membayarnya, aku segera pulang ke rumah Ibu mertuaku.
Sampai di rumah terlihat Ibu sedang menyirami bunga peliharaanya.
Aku dan Vano menghampiri Ibu dan menyalami beliau.
“Rinda kamu mandi dulu sana dan kita bisa bersantai setelah ini sambil menunggu adzan maghrib” kata Ibu.
“Iya Bu” jawabku.
__ADS_1
Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan segera mandi.