Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Jujur Saja Susah


__ADS_3

Aku masih duduk di kursi taman belakang rumah, suamiku menghampiriku dan duduk di sampingku merangkul bahuku dan menyandarkan kepalaku di pundaknya, dan membelai lembut rambutku kemudian mengecup keningku.


"Rinda, ayo ke dalam, sudah lama kamu di sini, apa kamu masih marah?" tanya Mas Arif.


Aku tidak menjawabnya hanya tetesan air mata yang membasahi pipiku.


"Ayo ke dalam, Vano sudah tidur" kata Mas Arif lagi dengan suara pelan,


"Ayo!" bisiknya lagi, dan menghadap ke wajahku, dia memandangiku penuh arti, mengusap air mataku dan mencium kemudian memelukku erat.


"Jangan marah lagi, aku minta maaf, hanya kamu perempuan dalam hatiku saat ini, jangan punya pikiran yang negatif kepadaku" katanya sambil membelai lembut rambutku.


"Rinda, kamu masih mencintaiku?" tanya Mas Arif sambil berbisik di telingaku.


Aku tidak bisa menjawabnya aku semakin terisak.


"Rinda, jawablah, kamu masih mencintaiku? kamu masih mau denganku" bisiknya lagi.


"Jangan kamu jawab dengan tangisanmu, aku tidak tau arti tangisanmu Rin" kata Mas Arif.


Aku semakin terisak menangis dan memeluk suamiku dengan eratnya.


"Ayo masuk ke kamar!" ajak Mas Arif.


Mas Arif berdiri mengulurkan tanganya dan aku berdiri kemudian berjalan bersama Mas Arif yang merangkul bahuku.


Mas Arif menutup pintu belakang rumah, menggandeng pinggangku dan kami berjalan menuju ke kamar.


Aku naik ke pembaringan mengambil guling dan memeluknya menghadap ke dinding kamar.


Mas Arif merebahkan tubuhnya di sampingku kemudian memeluk tubuhku dan berbisik di telingaku.


"Menghadaplah ke sini Rin, aku merindukanmu, jangan marah lagi, aku sudah cukup tersiksa dengan kemarahanmu"


Aku diam tidak mengikuti perintahnya.


"Rinda" panggil Mas Arif sambil membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, aku menghadap ke arahnya dengan memeluk guling di tanganku.


Mas Arif memandangku begitu dalam, aku menutupi  wajahku dengan guling agar suamiku tidak bisa memandangku.


"Rin apa kamu ingin ceritaku tentang dia?" tanya Mas Arif.

__ADS_1


Mas Arif mengambil paksa guling yang menutupi wajahku.


"Daripada guling yang kamu peluk, ini ada suamimu yang butuh juga pelukanmu" kata Mas Arif.


Sebenarnya juga ingin tertawa mendengar perkataanya barusan tapi aku kan malu kalau ketahuan tertawa akhirnya aku tahan saja.


Masa Arif mendekatkan wajahnya ke wajahku, kemudian mencium wajahku dan bibirku, aku tidak berani membalasnya, aku masih diam menikmati ciumannya, kalau aku membalasnya enak di dia, batinku.


"Ternyata istriku betul-betul keras kepala ya" bisiknya.


Mas arif mencium bibirku kembali kemudian turun ke bawah, dan terus menciumi buah dadaku dengan lembut, aku sudah tidak bisa menahan rangsanganya.


"Jangan di teruskan, aku masih halangan" kataku.


"He he he akhirnya bersuara juga" kata Mas Arif sambil terus menciumiku dan menindih tubuhku.


"Berat tau badanmu ini" kataku.


Kemudian suamiku duduk di pembaringan menatapku dengan pandangan lembut.


"Rin, kamu mau memaafkanku?" katanya pelan, kemudian merebahkan tubuhnya di sampingku dan memelukku.


"Kamu mau tau yang sebenarnya?" tanya Mas Arif lagi.


"Kamu mau aku lanjutkan ceritanya?" tanya Mas Arif lagi.


Aku menganggukkan kepalaku dan menatap mata suamiku.


"Kalau aku bilang tidak cinta dia aku berarti membohongi diriku, ya, kami saling mencintaiku, maaf aku memang melupakanmu waktu itu" kata Mas Arif.


Mendengar perkataannya hatiku rasanya hancur, tapi aku harus terus mendengar ceritanya, aku harus bisa menahan emosi dan tangisanku.


"Aku tidak kuat imanku Rin, sehingga itu terjadi, dan berulang terjadi, sampai kejadian dia marah-marah tidak jelas ketika aku ketahui dia sedang akan berhalangan, aku sangat tersinggung dengan omonganya akhirnya aku meninggalkannya, kenapa aku kemarin begitu di belakang rumah, aku menahan emosiku Rin, dengan perkataanmu yang seperti tidak kamu pikirkan menyinggung orang ataupun tidak, aku tidak mau meninggalkanmu seperti aku meninggalkannya, bukan karena ada sesuatu yang spesial dari dirinya, kamulah perempuan spesial dalam hidupku" kata Mas Arif menjelaskan.


"Gombal terus" kataku.


"Aku ini serius cerita kamu pikir bercanda apa? kalau bukan karena aku cinta kamu ingin terus menjadi suamimu, aku tinggalin kamu sekarang atau aku ikuti kemauanmu untuk pulang, Rinda.... aku ini bener-bener cinta sama kamu, aku gak ingin kehilanganmu lagi" kata Mas Arif.


"Memang dia bicara apa sehingga menyinggungmu?" tanyaku.


"Sangat-sangat sensitif kalau itu ditujukan pada lelaki" jawabku.

__ADS_1


"Maksudmu?" tanyaku kembali.


"Dia tidak puas denganku" kata Mas Arif pelang seakan memendam kekecewaan mendalam.


Aku masih belum  paham maksudny perkataannya.


"Maksudmu tidak puas bagaimana?' tanyaku penasaran.


"Rinda ternyata kamu ini terlalu polos sekali ya, gemes aku jadinya" kata Mas Arif sambil memeluk dan menciumiku.


"Iya maksudnya apa, Rinda tidak tau" kataku di sela-sela serangan ciuman dari suamiku.


"Dia tidak puas bercinta denganku" bisik Mas Arif.


"Hah" aku terperangah, aku saja sudah menyerah kalau sedang bercinta dengan suamiku, terus perempuan itu? ah sudahlah, batinku.


"Mas tidak punya anak dengannya?" tanyaku kembali.


"Aku setiap mengenal perempuan memang selalu bercinta, hanya denganmu yang tidak bercinta sebelum halal, kamu memang perempuan spesial bagiku,  aku tidak pernah memiliki anak dengan wanita manapun, mereka juga tidak pernah hamil karena perbuatan kami" jelas Mas Arif.


"Dulu aku mendengarmu mengandung aku sangat amat bahagia, aku senang Rin, setidaknya aku bisa membuat wanita hamil karena adikku ini he he he" kata Mas Arif dan tertawa kemudian kembali menciumku dengan gemasnya.


"Kamu masih marah, masih jengkel, masih cemburu dengan perempuan itu?" tanya Mas Arif.


Aku menggelengkan kepalaku dan memeluk suamiku.


"Maafkan Rinda ya Mas, seandainya Mas cerita dari awal mungkin Rinda tidak seperti ini" kataku.


"Cerita bagaimana? setiap aku ngomong kamu jawabanya begitu terus" kata Mas Arif.


"Harusnya kan dulu Mas bilang begini, dulu waktu Mas cerita sudah pernah tidur dengan perempuan lain, memang laki-laki jujur saja susah, sukanya didiemi istrinya berhari-hari baru ngomong" kataku dan membalikkan tubuhku membelakangi suamiku.


Mas Arif di atas tubuhku yang tidur menyamping dan berbisik.


"Kamu pikir aku gak pusing kamu diemin begitu, kamu cuekin begitu"


"Kalau malam ini kamu tidak halangan sudah aku buat kamu menyerah" katanya lagi dan mencium pipiku.


"Oh begitu ya, karena Mas dibilang tidak bisa memuaskan dia, terus belajar memuaskan perempuan dan Mas praktekkan ke aku, begitu" sungutku.


"Walah... marah lagi, aku kira sudah tidak marah, ampun deh menghadai perempuan menjadi singa ini" kata Mas Arif yang membuatku tertawa dan aku bangun memukul badannya dengan guling.

__ADS_1


"Sudah... sudah Rinda, maaf" kata Mas Arif ketika aku pukuli dengan guling.


"Ayo tidur Rin sudah malam, besok kamu kerja, aku antar ya, jangan berangkat sendiri" kata suamiku kemudian memelukku dan kami tertidur.


__ADS_2