
"He he he ini Rinda pacarku dulu" jawab Mas Arif
"Alhamdulillah betul, kalau tidak bisa jadi pulang dari sini kamu di tanyai sama istrimu, kamu kan tipe laki-laki yang tidak suka menceritakan masa lalumu pada orang lain" kata Mas Anton
"Memang ada perempuan selain aku mas waktu SMA dulu yang jalan sama mas Arif?" tanyaku
"Gimana nih Rif, diceritakan tidak?" tanya mas Anton
"Ya terserah kamu, mau cerita apa tidak" kata mas Arif cuek
"Dulu itu ada juga teman perempuan yang suka banget sama Arif, setiap hari dibawakan sarapan hehehe, kamu gak tau Rif kemana dia?" tanya mas Anton
"Gak tau aku" kata mas Arif sambil menggelengkan kepalanya
"Apa mas Arif menerima cinta perempuan itu?" tanyaku
"Ya enggak lah, Arif terus berjuang mendekati adik kelasnya itu, ya kamu itu, sampai di belain berkelahi sama Andi ya Rif waktu itu, di belakang sekolah" kata mas Anton, kami bertiga tertawa saja
"Cerita apa sih semua kok tertawa?" tanya Vano
"Cerita Bundamu dulu itu primadona disukai banyak laki-laki tapi tetap memilih ayah Arif" kata mas Arif
"Andi sampai sekarang juga masih tidak berhenti untuk mendapatkan Rinda" kata mas Arif
"Hah... yang bener saja?" tanya mas Anton
"Iya...serius, kapan hari pernah ngikuti Rinda sampai rumahku, dia kan tidak tau rumahku yang sekarang, tau ada aku sudah dia balik kanan hahaha, ini istriku takut aku berkelahi lagi" cerita mas Arif
"Eh Rif, kamu ini serius undangan pernikahan buat kamu?" tanya mas Anton
"Astaghfirullah, bener ton, aku yang menikah, baru seminggu aku menikah ini" jelas mas Arif
"Maksudmu ini anak Rinda dari pernikahan lamanya?" tanya Anton terkejut
"Iyess betul, aku baru menemukan Rinda sekitar tiga bulan ini, ya... sudah single parent, kan aku masih cinta dan aku yang ninggalin dia tanpa kepastian selama sepuluh tahunan, akhirnya aku nikahi dia, pumpung belum di dului Andi, hehehe" kata mas Arif kemudian tertawa
"Cintamu tak berubah bersama waktu yang berjalan Rif, sedangkan aku sampai hari ini belum juga menikah, orang yang betul-betul aku cintai meninggalkan aku, memilih dengan laki-laki lain yang lebih kaya lebih baik kehidupanya dari pada denganku" cerita mas Anton
__ADS_1
"Nanti pada saatnya pasti ada perempuan yang mau menerimamu dengan segala kondisimu Ton" hibur suamiku
"Iya Rif, oh iya ini minumnya, diminum" kata mas Anton
"Ton... aku pulang dulu, kalau mau main, mainlah ke rumah catat no whats up ku" kata mas Arif
"Oh iya, besok atau lusa aku ambil undanganya?" tanya mas Arif kemudian
"Besok jam segini ya?" kata mas Anton
"Berapa semuanya?" tanya mas Arif
"Gak usah anggap saja ini kado pernikahanmu, cuma sedikit saja, kalau ribuan pasti harus bayar hehehe" kata mas Anton
"Ngawur saja kamu ini, jangan gratiskan kalau mau kasih hadiah nanti saja, ini uangnya kalau kurang maaf ya" kata mas Arif sambil membuka isi dompetnya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas merah di berikan pada mas Anton
"Jangan Rif aku serius ini memberi" kata mas Anton menolak
"Sudah kamu terima saja, kalau gak terima aku besok gak akan kesini mengambil undanganku" kata mas Arif dan akhirnya mas Anton mau menerima uang dari mas Arif.
Pulang dari rumah mas Arif kami menuju tempat makan, sudah lapar aku
"Iya mas" jawabku
Mobil diparkirkan di pinggir jalan, kami menuju warung lesehan, mas Arif memesan makanan aku dan Vano duduk lesehan di bawah, kemudian mas Arif ikut bergabung dengan kami, tak lama kemudian makanan yang di pesan datang dan kami menikmati makan malam
"Pak... " panggil mas Arif ke Pak penjual
"Iya ada apa?" tanya Pak penjual
"Tolong bungkus ayam, dan lele nya tanpa nasi ya, masing-masing 2 porsi" kata mas Arif memesan makanan
Kemudian Pak penjual menyiapkan pesanan mas Arif, tak lama kemudian ketika makanan kami habis, pesanan yang di pesan mas Arif pun datang, mas Arif membayarnya dan kami meninggalkan tempat tersebut menuju rumah mas Arif
Sampai di rumah, Vano diangkat mas Arif ke kamar tamu, aku mengikutinya, dan aku menuju meja makan untuk meletakkan makanan yang dipesan mas Arif tadi, kemudian aku masuk ke kamar mas Arif untuk berganti baju, setelah itu aku mengambil wudhu dan sholat isya, mas Arif mengikutiku
"Mas... jamaah saja" pintaku, akhirnya kami sholat berjamaah diimami mas Arif.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, aku masuk ke kamarku, merebahkan tubuhku di kasur, tak lama kemudian mas Arif datang menghampiriku merebahkan tubuhnya di sampingku
"Mas... boleh aku tanya tentang perempuan yang selalu memberi mas sarapan dulu?" tanyaku
"Boleh Rin" kata mas Arif
"Apa mas Arif suka sama dia?" tanyaku
"Ya enggak lah Rin, dia teman beda kelas sama aku, kamu mau tau ceritanya?" tanya mas Arif
"Iya" kataku pelan
"Temanku itu namanya Rina, memang dia suka aku tapi aku gak suka, aku menghindar terus darinya, setiap pagi dia bawa makanan bungkusan gitu" cerita mas Arif
"Terus mas makan nasi bungkus itu?" tanyaku
"Kadang hehehe, kadang aku kasih ke Anton" katanya
"Mas pernah menolaknya?" tanyaku
"Maksudmu menolak cinta apa menolak nasi bungkusnya? tanya mas Arif
"Ya dua-duanya" tanyaku
"Kalau cintanya tanpa aku tolak dia sudah tau kalau aku tidak cinta sama Rina, juga dia sudah tau aku punya kamu, kalau nasinya sering di makan Anton, kata Anton mubazir di tolak" cerita mas Arif
"Selama kamu sekolah dulu, gak pernah ada perempuan yang menemuimu?" tanya mas Arif kemudian
"Sepertinya tidak ada mas" kataku
Malam semakin larut waktu menunjukkan pukul sepuluh malam
"Mas.. ayo tidur, Rinda ngantuk mas" kataku
"Kamu tidur dulu Rin, nanti kalau aku pingin, aku lakukan walaupun kamu tidur he he he" kata mas Arif dengan tertawa
Akhirnya aku pejamkan mataku dan tertidur, dalam tidur aku seperti mimpi ke suatu tempat bersama dengan mas Arif, bercinta di sana.
__ADS_1
Adzan subuh berkumandang membangunkanku dari tidurku, mau melaksanakan sholat subuh, tangan mas Arif masih memeluk tubuhku, tidak dengan kakinya jadi aku bisa melepaskan tangannya, ku tarik selimut, loh... kami tidak berpakaian, aku lihat masih ada bekas jejak suamiku, apa semalam aku tidak mimpi? apa benar-benar semalam aku bercinta dengan suamiku, ah sudahlan nanti aku tanyakan sendiri ke mas Arif, batinku, kemudian aku melangkah dengan bertelanjang memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamar untuk mandi keramas, dan keluar memakai handuk berganti baju, kemudian melaksanakan sholat subuh