
Setelah bantal aku terima dari Vano, aku tidak tega memindahkan kepala mas Arif, akhirnya aku biarkan tidur di pangkuanku sampai terbangun, kupandangi wajahnya, ketampananya tidaklah berubah dari dulu, kubelai rambutnya dengan pelan, suamiku terimakasih atas semua perlakuan baikmu padaku selama ini, batinku
Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul empat lebih tiga puluh menit, mas Arif masih tidur dengan nyenyak di pangkuanku, Vano juga masih asyik bermain, mengetahui ayahnya sedang tidur dia tidak begitu berisik, tak berapa lama mas Arif mulai membuka mata dan memandangiku
"Rin... aku tidur di pangkuanmu dari tadi?" tanyanya,
"Iya mas, aku tidak mau mengganggu tidurmu, pasti mas Arif sangat lelah" kataku, kemudian mas Arif bangun dari pangkuanku
"Terima kasih sayang" katanya kemudian mencium kening dan pipiku dan berjalan menuju kamarnya, aku menghampiri Vano duduk di karpet
"Vano suka ya main puzzle begini?" tanyaku, Vano tidak menjawabnya hanya menganggukkan kepalanya, sepertinya asyik menikmati permainanya.
Pintu kamar mas Arif terbuka, mas Arif keluar dari kamar tidur berjalan menghampiri kami, dia kelihatan segar sekali karena habis mandi, duduk di sampingku aku memandangnya
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya mas Arif
"He he he, gak kenapa-napa" jawabku malu-malu
"Jatuh cinta ya sama aku" bisiknya menggoda, aku meliriknya
"Vano... ayo jalan-jalan" kataku mengalihkan pembicaraanku dengan mas Arif, "ayah... mau jalan-jalan?" tanya Vano kepada ayahnya
"Ayo..." jawab mas Arif
"Rin... apa ibu sering pulang sore atau malam?" tanya mas Arif
"Iya mas, kapan hari jam sembilan baru pulang" kataku
"Ibu memang sudah saatnya untuk beristirahat dan mempercayakan orang lain untuk mengurus biro psikologinya" kata mas Arif khawatir
"Iya mas, kemarin juga cerita begitu ke Rinda" kataku
"Ayo jalan-jalan sekarang, bawa sepedaku saja, kan mobil di bawa ibu" kataku menjelaskan.
Kemudian kami keluar rumah, aku menutup pintu rumah dan pintu pagar, mas Arif dan Vano sudah menungguku di tepi jalan di depan pagar, sepeda dihidupkan mas Arif, aku duduk di belakangnya sedangkan Vano berdiri di depan mas Arif, sepeda motor meninggalkan perumahan
"Mau ke mana ini?" tanya mas Arif
"Mas tadi bilang belum makan, ya beli makanan mas" jawabku
Tak lama kemudian sepeda berhenti di rumah makan yang dulu pernah aku datang ke situ saat masih pacaran, setelah sepeda berhenti di parkiran, kami berjalan masuk ke rumah makan tersebut, duduk lesehan sambil menikmati semilir angin dan matahari terbenam, semburat warna merah kekuningan menambah romantis suasana sore ini.
Pelayan datang menyodorkan buku pesanan kepada kami, kami memilih-milih menu yang akan kami makan nanti, setelah menu yang kami pilih aku tulis di buku pesanan, mas Arif memanggil pelayan dengan melambaikan tanganya seraya menyuruh pelayan tersebut mendekatinya
"Mbak ini ya!" kataku sambil menyodorkan buku pesanan tadi, menunggu lumayan lama, sampai adzan maghrib berkumandang di mushola sekitar situ
"Mas, gak sholat maghrib?" kataku mengingatkan mas Arif
__ADS_1
"Iya Rin, kamu tunggu di sini dulu" kata mas Arif kemudian berdiri dan akan berjalan meninggalkanku
"Ayah... aku ikut" kata Vano kemudian mengikuti langkah mas Arif, mas Arif menggandeng tangan mungil Vano menuju ke mushola rumah makan tersebut.
Mas Arif masih berada di musholla, tak lama kemudian pesanan kami datang, "terima kasih mbak" ucapku ke pelayan setelah selesai menaruh pesanan kami di atas meja, aku menunggu mas Arif dan Vano selesai sholat maghrib.
Terlihat mas Arif dan Vano berjalan ke arahku, Vano berlari mendahului mas Arif, akhirnya sampai dulu di tempatku duduk lesehan
"Bunda... Vano mau udang tepungnya" bisiknya
"Kalau mau ambillah Vano" kataku, kemudian Vano mengambil udang tepung tanpa kulit dan memakanya pelan-pelan
"Enak Vano?" tanyaku, dia mengangguk-angguk
"Ayo makan Rin" ajak mas Arif ketika tiba
"Iya mas" kataku kemudian mengambilkan nasi untuk mas Arif, kami menikmati kebersamaan ini
Saat makan aku melihat ada ibu hamil yang datang di temani suaminya, aku terdiam menunduk andaikan anakku masih bertahan di dalam kandungan mungkin saat ini aku lebih bahagia ditemani suamiku, berkaca-kaca mataku, dan langsung aku usap dengan tissue
"Rin... kenapa? tidak selera makan?" tanya mas Arif
"Oh enggak mas, setelah ini kita pulang ya?" pintaku
"Vano... setelah ini pulang ya? bunda sepertinya ingin istirahat" kata mas Arif
Setelah selesai makan, mas Arif menuju kasir membayar makanan yang kami makan serta yang kami bawa pulang, setelah itu kami berjalan bergandengan menuju sepeda motor
"Rin... ada yang membuatmu risau? nanti ceritalah kepadaku ya?" bisik mas Arif
Sepertinya dia mengetahui perasaanku, aku diam saja, setelah sampai di parkiran sepeda aku membayar parkir dan kami menaiki sepeda meninggalkan rumah makan tersebut langsung pulang ke rumah.
Sampai di rumah, aku langsung menuju meja makan untuk meletakkan makanan yang dipesan mas Arif tadi, sepertinya ibu sudah datang karena sudah ada mobil di garasi
"Rin... kamu istirahat saja, sepertinya hatimu sedang tidak baik, aku akan menemui ibu di atas" kata mas Arif
Kemudian mas Arif naik ke atas, Vano seperti biasa bermain dan aku masuk ke kamar berganti baju dan merebahkan tubuhku di tempat tidur, pikiranku masih teringat wanita yang hamil tadi, air mataku mengalir kembali, betapa sulitnya untuk ikhlas itu ya Allah, batinku.
Mas Arif masuk ke kamar, aku memeluk guling menghadap ke tembok
"Rin... ceritalah" kata mas Arif pelan duduk di belakang punggungku dan memegang lengan tanganku, aku membalikkan tubuhku menghadap mas Arif
"Vano sudah tidur mas?" tanyaku
"Sudah tidur di karpet depan tv, nanti aku pindah ke kamar" jawab mas Arif
"Rin..." kata mas Arif pelan sambil mengusap air mataku
__ADS_1
"Ceritalah, cerita semuanya padaku, aku ini suamimu, aku tak bisa melihatmu seperti ini, murung, melamun" kata mas Arif kemudian merebahkan tubuhnya di sampingku dan memelukku lembut, membelai rambutku
"Mas... ternyata ikhlas itu susah ya?" tanyaku
"Kenapa? kamu masih belum bisa menerima meninggalnya anak kita?" tanya mas Arif, aku mengangguk pelan dan masuk ke dalam pelukanya, kembali terisak menangis
"Rin... kalau kamu seperti ini terus, kamu yang akan susah, kamu harus benar-benar ikhlas Rin" hibur suamiku
"Mas, setiap aku melihat anak bayi, setiap aku melihat ibu hamil, setiap aku melihat perlengkapan bayi yang lucu, aku kembali bersedih, kembali teringat..." ceritaku
"Rin... gak mungkin kan kamu berdiam diri di rumah saja? gak mungkin kan kamu melarang orang hamil, anak bayi atau penjual perlengkapan bayi untuk menjauh darimu?" tanya mas Arif, aku mengangguk
"Jadi... kamu harus ikhlas sayang, aku juga sudah ikhlas, aku tidak pernah menyalahkanmu, aku selalu mencintaimu Rin, walaupun nanti kamu tidak punya anak untukku, kamu tetap istriku, tetap satu wanita dalam hidupku yaitu kamu" kata mas Arif menghiburku, menjadikanku tenang
"Kamu gak tanya Vera? kapan bisa berhubungan?" tanya mas Arif
"Aku malu mas tanya seperti itu ke Vera, kemarin waktu aku kontrol kata dokternya tiga bulan lagi baru boleh" kataku pelan
"Kenapa?" tanya mas Arif
"Kata dokter dikhawatirkan akan terjadi kehamilan dan keguguran lagi" kataku menjelaskan
"Rin... aku puasa lagi" kata mas Arif dengan wajah sedihnya
"Iya mas, kenapa? mau cari perempuan lain?" kataku
"Ngomong apa sih Rin" kata mas Arif
"Ya sapa tau, istrimu tidak bisa menjalankan kewajibanya terus mas sama wanita lain, uangmu juga banyak" kataku dengan nada jengkel
"Atm ku kamu bawa saja, kalau kamu berfikir aku mau beli" kata mas Arif pelan tanpa nada emosi
"Rin... yang penting nanti kamu yang keluarkan ya?" bisiknya menggoda
"Enggak mau" kataku jengkel
"Loh... anggap saja itu kewajibanmu, ayolah" bujuk mas Arif
"Enggak mau mas, aku tidur di kamar depan saja sama Vano, pintunya mau aku halangi dengan meja dan lain sebagainya" kataku
Kemudian bangkit dari tidurku, tapi tubuhku ditarik dan dipeluk mas Arif
"Gak usah tidur di kamar depan, disini saja menemani aku, dua bulan aku tidak memelukmu" kata mas Arif
"Vano mas, tolong gendong ke mari" pintaku
"Vano kan sudah biasa tidur sendiri di kamar depan, ya biar dia tidur disana" kata mas Arif tegas
__ADS_1
"Terserah mas, aku mau tidur" kataku kemudian menarik selimut, mas Arif keluar kamar, beberapa menit kemudian kembali ke kamar memelukku dari belakang, aku sudah mulai mengantuk dan tidur.