
Sepeninggal Mas Arif ke Papua dalam satu minggu ini aku sering menghabiskan waktu bersama dengan Vano juga mengobrol-ngobrol dengan ibu mertuaku, minggu depan rencana mau mengunjungi Ibu dan Bapak, batinku.
Senin pagi aku berangkat bekerja, Ibu sudah duluan berangkat, tinggal aku dan Vano di sini, semalam Mas Arif juga menelpon menanyakan kabar kami, Alhamdulillah di sana sudah kondusif keadaannya, jadi aku di sini lumayan tenang.
Setelah mengantar Vano aku menuju ke tempat kerjaku.
“Nia, bagaimana? Sudah ada yang mendekatimu belum?” tanyaku menggoda Nia di sela-sela aktifitasku bekerja.
“He he he” Nia tersenyum dan tertawa.
“Doakan ya, ada laki-laki yang sepertinya serius mau menikahiku” jawabnya.
“Alhamdulillah kalau begitu” kataku.
“Bertemu di mana?” tanyaku penasaran.
“Dari dunia maya Rin” jawab Nia.
“Hati-hati banyak penipuan, itu banyak beritanya” kataku mewanti-wanti Nia.
“Ah jangan menakutiku Rin, dalam waktu dekat ini kami bertemu” kata Nia.
“Pokoknya kamu yang hati-hati, jangan termakan rayuan gombal laki-laki akhirnya yang susah juga perempuan sendiri” kataku menasehati Nia.
Beberapa saat kemudian, telpon di hp ku berdering.
“Assalamualaikum” sapaku saat mengangkat telpon.
“Waalaikum salam” jawabnya.
“Oh iya terima kasih kapan hari mengunjungi Vano memberikan seseuatu untuk Vano” kataku.
“Iya, Rin, kamu ada waktu hari ini, seperti kapan hari waktu aku telpon, aku mau bertemu denganmu” kata Mas Ardi.
“Oh iya, nanti jam 12 siang ya aku tunggu, aku wa tempatnya” kataku.
“Iya” jawabnya.
Aku menulis wa untuk mantanku menunjukkan tempat kami bertemu siang ini, ya... aku memilih rumah makan karena dia tidak mungkin macam-macam denganku, aku juga sudah siap bertemu dengan mantanku, duduk berdua dengan kepala dingin, aku sebenarnya ingin berdamai, lelah rasanya selalu bertengkar merebutkan anak, sampai dia mengirim Rista untuk mendekatiku, Rista sendiri wanita aneh bagiku.
Waktu istirahat tiba aku segera keluar ruangan.
“Nia aku keluar sebentar ada perlu” pamitku.
Sampai di parkiran sepeda motor aku segera melaju meninggalkan kantorku menuju tempat makan yang aku tuju, sebelumnya mantanku sudah aku beritahu kalau aku segera ke sana.
Sampai di sana belum terlihat mantanku, aku memesan makanan dan minuman untukku karena sudah lumayan lapar perutku.
Saat menunggu pesanan sampai, mantanku datang sendiri, lama tidak bertemu dengannya semenjak perebutan anak di sekolahnya Vano, membuatku agak kaku menghadapinya.
Dia duduk di depan meja berhadapan denganku.
__ADS_1
“Kamu pesan makan atau minum dulu, aku tadi sudah pesan untukku, aku tidak tau makanan apa yang kamu mau” kataku tanpa expresi.
Dia menuju ke pelayan memesan makanan minuman untuknya kemudian kembali duduk di depanku.
“Apa yang perlu kamu bicarakan denganku?” tanyaku.
“Rin, aku minta maaf atas semua yang aku lakukan selama ini” jawabnya.
“Rin, aku memang salah, tak seharusnya aku seperti itu kepadamu juga Vano, kehilangan anak sangat susah bagiku” katanya kembali.
“Kenapa kamu bilang begitu sekarang? Terus anak yang di bawa Rista itu anak siapa?” tanyaku penuh selidik
“Rinda, jangan mengungkit Rista, dia baik hanya di tampilannya saja, aku juga salah mengirimkan Rista untuk mendapatkan perhatianmu juga Vano, sekarang aku tau siapa Rista sebenarnya, dia hanya mengincar harta orang tuaku” jawabnya.
Aku terdiam tidak mau bersimpati pada ceritanya.
“Kamu mulai kenal Rista kapan?’ tanyaku.
“Sudah lama sebelum kita berpisah” jawabnya.
“Apa dia perempuan yang pernah menelponku dulu?’ tanyaku lagi.
“Iya” jawabnya.
“Oh... perempuan beracun pantas bersamamu’ jawabku ketus.
“Rinda... kedatanganku tidak ada hubunganya dengan Rista” katanya.
Pelayan datang membawa pesanan kami.
“Makan dulu, nanti dilanjut lagi, aku tidak mau selera makanku hilang karena pembicaraan kita” kataku.
Kami segera menyantap makanan di depan kami, aku tidak berusaha untuk membuka pembicaraan di sela-sela makan, aku terus menikmati makanan dari rumah makan tersebut.
Ketika kami selesai makan, piring sisa makananku juga punyanya aku pinggirkan ke samping.
“Kita lanjutkan lagi” kataku.
“Apa yang kamu ingin kita bicarakan?” tanyaku lagi.
“Rin, aku ingin kembali kepadamu, aku ingin bersama Vano, kita bertiga” katanya pelan.
Aku menatapnya.
“Kamu gak salah ngomong? Kamu lagi mabuk ya?” tanyaku keheranan.
“Enggak Rin aku sudah sadar, aku salah, aku dari dulu suka sama kamu, karena sikapmu yang dingin aku mencari perempuan lainnya, aku sudah bekerja sekarang” jawabnya.
“Aku tidak bisa, aku sudah menjadi istri orang, aku juga tidak mau lagi kembali kepadamu” jawabku.
“Rinda tolong beri waktu untukku berubah untukmu juga untuk Vano’ katanya memohon.
__ADS_1
“Tidak Mas, aku tidak bisa, bersamamu hanya akan menyakiti hati masing-masing” kataku.
Aku mengambil nafas panjang kemudian meminum jus jambu di depanku.
“Kan aku tidak bisa melayanimu sebagai istri” kataku pelan.
“Aku tidak pernah bisa” kataku dengan menunduk teringat kembali kejadian demi kejadian bersama orang yang berada di depanku.
“Aku minta maaf sekali, aku yang membuatmu seperti itu, terus bagaimana hubungan kalian, kalau kamu sendiri tidak bisa melakukan hubungan suami istri? Sampai sekarang kamu juga belum hamil?" tanya Mas Ardi.
Begitu dalam perkataannya membuatku kembali teringat pada saat aku keguguran.
Menghela nafas kembali.
“Maaf aku belum bisa banyak cerita masalah itu, mungkin tabu bagiku untuk aku ceritakan kepadamu yang orang luar” kataku.
“Aku tau, pasti suamimu juga akan sepertiku mencari perempuan lain, karena kamu tidak bisa melayaninya, jadi aku mohon kita kembali lagi, aku tidak akan menyakitimu lagi, aku akan berusaha menghilangkan traumamu” katanya sambil memohon.
“Suamiku bukan sepertimu” kataku agak marah.
“Rinda... tidak ada laki-laki yang betah didiemin begitu” Kata Mas Ardi.
“Kamu tidak tau, aku pernah punya anak dengan suamiku sekarang” kataku agar dia tau kalau aku tidak seperti dulu.
“Bagaimana kamu bisa punya anak, sedangkan kamu tidak pernah melakukannya? kamu bohong, aku tidak percaya" kata Mas Ardi kembali tidak percaya dan memancing emosiku.
Aku berdiri berniat untuk pergi meninggalkannya.
“Mau kemana?” tanyanya kembali.
“Sudah waktunya aku kembali bekerja, untuk apa disini mendengar omonganmu yang tidak bermanfaat” jawabku.
“Kamu berbohong kan punya anak dengan suamimu?” tanyanya dengan penasaran.
“Mas... suamiku yang membuatku bisa menghilangkan traumaku karena perbuatanmu dulu, aku memang baru keguguran beberapa bulan yang lalu” kataku.
“Jadi tolong jangan punya pemikiran negatif tentang suamiku” kataku lagi.
“Rinda, benarkah yang kamu omongkan?” tanyanya kembali.
“Iya betul, aku baru bisa menikmatinya dengan suamiku” jawabku.
“Aku tidak percaya, aku mau bukti ayo bercinta denganku” katanya menantang.
Aku melihatnya menjadi sangat benci sekali, seketika itu tanganku melayang ke pipinya karena kemarahanku.
“Kamu pikir aku perempuan murahan seperti Rista? Tubuhku hanya untuk suamiku, paham!” aku berkata begitu dan segera meninggalkannya yang masih terpaku memegangi pipinya aku menuju ke kasir.
“Mbak maaf membuat keributan, semuanya berapa?” tanyaku masih dengan mimik wajah marah.
Kasir menotal biaya makan kami, segera aku membayarnya.
__ADS_1
“Kembaliannya untukmu saja Mbak” kataku, karena aku ingin segera meninggalkan tempat ini, meninggalkan dia, sudah muak bertemu dengan mantanku, enak saja dia bilang mau bercinta denganku.