Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Berunding


__ADS_3

Setelah dari hotel kami langsung pulang pulang ke rumah, ketika kami masuk rumah terdengar dering telpon dari hp mas Arif, mas Arif masuk ke kamar mungkin mengangkat telpon, biarlah... pikirku, aku duduk di sofa ruang keluarga menemani Vano


Di dalam kamar Arif


"Iya Den, bagaimana? tanyaku


"Aku minta alamatmu yang disana Rif, ini sudah ke rumahmu aku dititipi sama bapakmu untuk mengurus pindah domisili adikmu" kata deni


"Alamatku aku wa saja ya Den" kataku


"Terus kapan selesainya?" tanyaku


"Minggu depan selesai Rif, kalau sudah selesai aku langsung kirim ke alamatmu" kata Deni


"Lama banget sih Rif masak semingguan, tanya temanmu bisa gak tiga hari?" kataku


"Nanti aku kabari lagi Rif, kamu ini sudah gak bisa nahan ya?" tanya Deny


"Iya lah Den, ini dia di rumahku dari kemarin, serumah tidak bisa ngapa-ngapain dia" kataku


"Ha ha ha ha, ini kamu dimana?" tanya Deni


"Di kamarku, dia di ruang keluarga nemani anaknya lihat tv, semalam aku pindah tidur ke kamarnya, ibuku kan ke jogja, dari pagi sampek sore dia marah terus, nyari kunci kamarnya tak bilang gak ada, padahal aku sembunyikan hahaha" ceritaku ke Deny


"Percuma juga kamu gak bisa bercinta" kata Deny


"Setidaknya bisa memeluknya waktu tidur" kataku


"Dari sore sampai malam marah gara-gara Risa telpon, eh paginya marah lagi gara-gara aku tidur di kamarnya, apa begitu ya perempuan kalau lagi berhalangan kayak singa betina kehilangan anaknya" kataku lagi


"Ya memang begitu bawaannya" kata deny


"Sudah dulu Rif, kalau jadi aku kabari" katanya dan menutup telpon


********


Lama sekali mas Arif di dalam kamar, apa telpon dari Risa batinku, pintu kamarnya terbuka dia keluar


"Siapa yang telpon mas? Risa?" tanyaku


"Ada yang sedang curiga ya" katanya menggodaku


"Kan aku nanya" kataku


"Nih... kamu lihat sapa uang telpon" katanya sambil memberi hp nya kepadaku


"Ada Risa enggak?" tanyanya


Aku menggelengkan kepala, ternyata yang telpon temanya Deny

__ADS_1


Mas Arif duduk di sebelahku memberikan brosur dari hotel tadi


"Kamu lihat Rin, yang bagus yang sesuai dengan kita yang mana?" tanya mas Arif


aku melihat paket-paket yang di tawarkan


"Mas... undangannya berapa kira-kira?" tanyaku


"Tiga ratus orang ada Rin di situ?" tanya nya


"Ada mas ini" kataku sambil menunjukkan harga


"Rin nanti kita pisah tempatnya Rin, ada yang khusus keluarga kita, ada yang teman kita ya, aku khawatir campur dan mereka tidak bisa menikmati acara pertemuan kan aku pinginnya kayak reuni keluarga begitu" kata mas Arif


"Bagus lah mas kalau begitu" jawabku


"Biaya aku yang nanggung Rin, jangan membebankan keluarga" kata mas Arif


"Mas Arif ada uang sebanyak ini?" tanyaku


"Insyaallah ada Rin" jawabnya


"Berarti kita pakek paket ini ya? terus untuk akhadnya dimana mas?" tanyaku


"Akhad disini bagaimana?" usulnya


Ketika kami terus berunding untuk acara pernikahan kami


"Bunda... Vano lapar" kata Vano


"He he he maaf ya Vano, bunda sampai lupa tidak mengajak Vano makan" kataku


"Masih ada ya mas makanan tadi siang?" tanyaku ke mas Arif


"Masih ada Rin" jawabnya


"Ayo kita makan mas" ajakku


Kami makan bertiga di meja makan menghabiskan sisa makanan tadi siang, seperti biasanya selesai makan aku langsung membersihkan meja makan dan mencuci piring dan lain sebagainya, setelah itu aku bergabung di ruang keluarga kembali bercanda bermain dengan Vano.


"Mas...apa yang mas rasakan beberapa hari ini?" tanyaku


"Aku senang sekali Rin, bersamamu, melihatmu, walaupun kamu marah-marah terus" jawabnya


kulihat Vano sudah mulai mengantuk


"Vano...pindah ke kamar ya? bunda temani" kataku, Vano berdiri berjalan masuk ke kamar aku mengikutinya dari belakang, naik ke atas tempat tidur tak lama kemudian Vano tidur aku selimuti tubuhnya dan kunyalakan ac, kututup pintu dan keluar menemui mas Arif


"Vano sudah tidur Rin?" tanyanya

__ADS_1


"Sudah mas" jawabku


"Rin... kamu minta mahar apa?" tanya mas Arif


"Aku terserah sama mas memberi apa saja aku terima yang penting tidak memberatkan mas Arif" kataku


"Rin seandainya minggu depan kita menikah begitu bagaimana?" tanya mas Arif


"Mas bercandanya kelewatan deh, surat-surat mas saja belum mas urus kok minggu depan menikah, Rinda gak mau menikah secara agama" kataku


"Kok nikah agama, ya nikah resmi Rin, siap enggak kamunya?" tanyanya


aku diam bingung harus jawab apa karena sepertinya tidak mungkin


"Gak mungkinlah mas" kataku


"Kok gak mungkin sih, harus optimis gitu Rin" katanya bersemangat


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam


"Mas.. aku tidur dulu ya? besok aku kerja, aku berangkat sendiri ya?" kataku sambil berlalu meninggalkan mas Arif di ruang keluarga


"Oh ya...mas jangan lupa semua pintu di cek" kataku lagi


aku masuk ke kamar untuk tidur memeluk Vano


 


*******


Tengah malam Arif masih duduk di sofa ruang keluarga, kemudian berjalan mematikan beberapa lampu, membuka pintu kamar dan tidur memeluk Rinda seperti malam kemarin, dimarahi juga biar, kenapa sejak Rinda disini aku susah tidur, baru bisa tidur kalau memeluk Rinda batinku


Suara adzan subuh berkumandang terlihat tiga insan masih tertidur pulas, seperti kebanyakan keluarga kecil ada ibu, bapak dan anak yang masih kecil. Rinda menghadap Arif masuk ke dalam pelukanya, Vano kakinya berada di pinggang bundanya.


Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, Rinda bangun tidur didapati dirinya dalam pelukan Arif, tidur sini lagi ternyata batinku, aku keluar dari pelukan mas Arif turun dari kamar kumatikan ac dan membuka pintu menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan ke dapur untuk memasak sarapan pagi


buat omelet saja sama susu pikirku


kulihat Vano berjalan sambil meminum susu kotaknya menuju ruang keluarga untuk menyalakan tv


Selesai membuat omelet aku bawa ke Vano, Vano mengambil omelet untuk dimakanya sambil melihat tv, aku duduk di meja makan, memakan omelet sendiri dan minum susu, dan masih ada omelet lagi untuk mas Arif


Waktu menunjukkan pukul 7:15 setelah memandikan Vano dan memakai seragam sekolahnya aku juga berganti baju di kamar mas Arif, setelah semuanya siap aku berangkat kerja, kulihat mas Arif masih lelap tidur


Membuka pintu rumah, membawa sepeda motor keluar pagar dan menguncinya lagi aku berangkat kerja bersama Vano, Vano aku antar ke tempat penitipan anak dan aku menuju tempat kerjaku


Sampai di kantor masih sepi, aku nyalakan komputer, tak lama kemudian Nia dan Widya datang bersamaan


"Rin... cincinmu baru? seperti cincin tunangan?" tanya Nia

__ADS_1


__ADS_2