Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Salah Paham


__ADS_3

Di ruang keluarga, aku duduk di sofa sambil melihat acara tv, sebenarnya sih hanya melihat saja tapi pikiranku ke omongan suamiku barusan tadi, dulu dia ingin sekali punya anak dariku kemudian aku hamil dan keguguran, tapi sekarang kok sepertinya tidak menginginkannya, padahal aku sendiri ingin segera punya anak dengannya, untuk apa setiap hari bercinta berkali-kali kalau tidak untuk mempunya anak? orang menikah kan tujuannya juga untuk berkembang biak, apa dia bercinta setiap hari hanya untuk bersenang-senang saja? entahlah.


Pertanyaan satu persatu terlintas dalam pikiranku.


Ketika Mas Arif datang menghampiriku dan duduk di sampingku.


“Rin, apa ada perkataanku yang menyinggungmu?” tanya Mas


Arif pelan.


“Enggak apa-apa Mas” jawabku.


“Jangan membohongiku Rin, aku mengenalmu sudah lama aku tau


watakmu, pasti ada sesuatu yang kamu pendam” tanya Mas Arif kembali.


“Gak kenapa-napa mas, ayo kita makan” kataku sambil tersenyum di hadapan Mas Arif berusaha mengalihkan pertanyaannya.


Mas Arif menatapku dengan tatapan kecewa dan berkata.


“Kalau kamu tidak mau bercerita terserah!” sambil berdiri menuju meja makan mengambil piring dan mengambil nasi juga lauk sendiri, padahal setiap saat aku yang mengambilkan, aku tau dia ingin aku berterus terang akan isi hatiku.


Kami makan tanpa suara atau percakapan sama sekali, Vano masih asyik bermain dan melihat acara tv.


Aku lihat Mas Arif sudah selesai makan, dia berdiri dari kursinya dan menuju wastafel untuk mencuci piringnya sendiri kemudian keluar rumah.


Melihat sikapnya yang begitu hatiku juga kecewa, aku gak tau dia mau kemana dia tidak pamit sama sekali, aku dengar suara sepeda motorku dan perlahan suara itu meninggalkan rumah ini, sekarang rumah ini terasa sepi.


Vano menghampiriku.


“Bunda tadi Ayah keluar kemana?” tanya Vano.


Aku diam menatap wajah Vano, sepertinya dia mengerti kalau kedua orang tuanya sedang bertengkar, kemudian aku menjawab pertanyaannya.


“Vano…Ayah keluar ada perlu, nanti juga pulang, kamu makan ya?”


“Iya Bunda, tapi Vano minta di suapi ya!” pinta Vano.


Aku berjalan ke arah rak piring dan mengambil piring kemudian nasi dan lauk yang diinginkan oleh Vano lalu aku mulai menyuapinya.


“Vano setelah ini ayo tidur ya, sudah jam delapan, Vano besok kan ikut lomba menggambar ya!” kataku mengingatkan Vano.


“Iya Bunda” jawab Vano.


Selesai menyuapi Vano, aku membersihkan meja makan dan membawa beberapa piring mangkok kotor dan mencucinya di wastafel.

__ADS_1


“Vano ayo tidur” ajakku saat menghampiri Vano, kemudian Vano mematikan tv dan berjalan menuju kamarnya.


Vano merebahkan tubuhnya dan merangkul guling, tak lama kemudian matanya sudah terpejam, aku selimuti tubuhnya dan aku cium keningnya, Vano, kamulah semangat hidupku, batinku.


Mas Arif belum pulang, aku mengambil wudhu dan sholat isya sendiri, ketidakterbukaanku menimbulkan pertengakaran awalku disaat pernikahanku yang baru lima bulan berjalan ini.


Ya Allah… aku harus bagaimana? andaikan aku berterus terang kepadanya apa juga akan menyelesaikan masalah? aku sangat ingin mendapatkan anak darinya, sedangkan dia tidak begitu menginginkan karena kasihan denganku repot merawat dua anak, apa dia mengira aku ini selemah itu? kata hatiku.


Tak terasa air mataku menetes, ya aku menangis sedih.


Aku lepas mukenahku dan merapikannya lalu meletakkan di tempatnya, aku berjalan menuju pintu depan untuk menutup pintu, dan aku merebahkan tubuhku di kursi tamu.


Aku menunggu suamiku pulang, aku mau menelponya tapi aku takut akan jawabannya yang pasti tidak enak di dengar.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam Mas Arif belum juga pulang, aku mulai merasa kantuk dan akhirnya aku tertidur di kursi tamu.


Sayup-sayup terdengar pintu pagar dibuka, mungkin suamiku pulang, tapi mataku berat sekali untuk aku buka.


Suamiku menggendong tubuhku ke kamar tidur.


“Rin” bisiknya pelan.


“Aku sudah pulang, bangunlah” bisiknya lagi.


Aku membalikkan tubuhku membelakangi suamiku dan memeluk guling, air mataku menetes.


“Rin bicaralah” kata Mas Arif sambil menggoyang tubuhku.


“Kamu menangis?” tanya Mas Arif lagi.


Aku hanya diam saja.


“Sayang ayo bicaralah, apa yang menjadi ganjalanmu, jangan diam dan menangis begini” kata Mas Arif sambil memeluk tubuhku dari belakang.


“Maafkan aku ya istriku, aku tadi keluar tidak kemana-mana cuma duduk-duduk di kafe pesan jus saja, daripada dirumah melihatmu seperti itu dan menjadikanku marah sama kamu” katanya menjelaskan.


Aku masih diam saja, batinku, iya di kafe sambil lihat perempuan-perempuan yang bajunya terbuka.


“Sayang bicaralah” kata Mas Arif lagi.


Aku semakin terisak menangis dan memeluk tubuh suamiku, Mas Arif menghapus air mataku dengan tangannya memandangku dengan tatapan lembut.


Aku mulai membuka bibirku dan berkata pelan.


“Aku menginginkan anak Mas”

__ADS_1


“Tapi Mas sepertinya tidak menginginkannya” lanjut perkataanku.


Mas Arif menghela nafas panjang dan memeluk tubuhku lebih erat kemudian mencium pipiku dan bibir mungilku ini.


“Rin” panggilnya pelan.


“Kamu salah paham dengan omonganku tadi” kata Mas Arif.


Aku masih saja diam tidak berkata-kata hanya menunggu perkataan Mas Arif selanjutnya.


“Rin, aku juga menginginkan anak darimu, menikah salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan keturunan” kata Mas  Arif.


“Kenapa kamu punya pikiran kalau aku tidak menginginkan anak darimu?” tanya Mas Arif.


“Tadi sore yang Mas bicarakan seperti itu, seakan Mas gak ingin aku hamil” kataku.


“Rin…aku begitu karena aku sayang sama kamu, kamu jangan salah paham” kata Mas Arif.


“Kamu tau yang aku pikirkan? kalau kamu punya anak, jelas kamu sangat sibuk sekali bahkan untuk merawat dirimu sendiri mungkin tidak ada waktu, sedangkan aku jauh darimu” kata Mas Arif.


“Rin… aku memang tidak menginginkan pembantu karena aku ingin yang mendidik anakku adalah istriku sendiri, aku tidak mau anakku dekat dengan orang lain bukan dengan istriku ataupun aku sebagai ayahnya” kata Mas Arif lagi.


“Aku tidak mau menyusahkanmu Rin, kalau kamu hamil dan melahirkan, aku ingin kamu keluar dari tempat kerjamu” kata Mas Arif.


“Kalau aku tidak boleh bekerja terus aku hanya mengurus anak? Mas pikir aku gak bosan di rumah terus tidak bertemu orang-orang” kataku dengan jengkel


“Rin, tadi aku lihat ada tanah yang dijual cukup luas juga untuk usaha, disana kamu bisa buka toko Rin atau kita buat tempat kost-kostan, atau nanti kalau anak-anak sudah besar kamu masuk ke tempatnya Ibu” kata Mas


“Ibu saja pulang kadang malam-malam begitu bagaimana dengan anak-anak” kataku.


“Ibu itu pulang malam karena sebagai psikiater, kalau di manajemennya kan seperti aktifitasmu sekarang, kamu bisa ambil asisten” kata Mas Arif memberikan ide.


Masuk juga sih ide suamiku ini, aku sudah salah paham dengannya.


“Mas… maafkan Rinda ya? karena sudah salah paham denganmu” kataku pelan.


"Iya istriku, aku juga minta maaf, tak seharusnya keluar rumah sebelum selesai masalah kita" kata Mas Arif sambil mencium keningku.


"Aku juga minta maaf mas, aku juga salah tidak menceritakan apa yang ada dalam hati Rinda" kataku juga.


"Lain kali kita harus lebih terbuka dan jujur" kata Mas Arif.


"Ayo tidur, besok kamu bisa ijin kerja, kamu antar Vano ke Alun-alun aku mau cari info tanah yang dijual itu" kata Mas Arif.


"Iya Mas" kataku sambil masuk kedalam pelukan suamiku dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2