
Setelah pulang dari Alun-alun hatiku masih jengkel dengan Rista, pikiranku juga tidak tenang.
Mas Arif pulang kemudian menghampiriku dan duduk di sofa di sebelahku.
“Rin, bagaimana Vano tadi?” tanya Mas Arif.
“Lancar-lancar saja Mas, Vano bersemangat sekali” jawabku.
“Gimana tadi sudah bertemu pemilik tanahnya?” tanyaku.
“Iya Rin, tapi uangnya kurang” jawab Mas Arif.
“Terus?” tanyaku.
“Belum aku dealkan Rin” jawab Mas Arif.
“Apa harus lunas Mas?” tanyaku.
“Iya, karena dia butuh uang juga, sebenarnya sih murah” jawab Mas Arif.
“Kalau jodoh kan jadi milik kita Rin” kata Mas Arif.
“Iya Mas” kataku.
“Ayo makan Rin, aku lapar” ajak Mas Arif.
“Ayo, Vano ayo makan” ajakku
Kami duduk di kursi meja makan menikmati makan siang kami, Vano dengan lahabnya makan sayur bayam.
Selesai makan dan mencuci piring gelas dan lain sebagainya serta merapikan meja makan aku masuk ke kamar berniat untuk istirahat.
Aku rebahkan tubuhku di atas kasur, tapi bayangan Rista masih saja menjadi pikiranku, ketakutanku Vano yang akan di ambil mantanku membayangi pikiranku selalu.
Pantas saja mantanku tidak telpon aku dan marah-marah, Rista sendiri tidak bisa meninggalkannya, batinku, tapi untuk apa Rista bersama terus dengan mantanku, apa yang akan dia peroleh darinya?, dia tadi bilang sedang menunggu ponakannya, apa betul itu
ponakannya atau anaknya dengan mantanku, secara logika saja, apa yang dicari Rista dari mantanku?. Pertanyaan-pertanyaan yang belum menemu jawabannya mengganggu pikiranku.
Mas Arif datang menghampiriku dan tidur di sebelahku.
“Rin, apa yang menjadi pikiranmu?, aku lihat kamu melamun saja?” tanya Mas Arif.
“Aku tadi bertemu Rista lagi Mas” jawabku pelan.
“Kenapa lagi dengan Rista?” tanya Mas Arif.
“Dia masih berhubungan dengan mantanku, sepertinya ada sesuatu yang membuat Rista terus ingin bersama mantanku, yang menjadi pemikiranku, Vano sepertinya tertarik sama
Rista, sedangkan Rista sendiri adalah perempuan yang begitu cepat bisa mendekati anak-anak” jawabku.
“Kamu takut Vano dekat dengan Rista dan mau ikut mantanmu?” tanya Mas Arif.
“Iya Mas, itu yang menjadi pemikiranku, aku juga curiga sama Rista, tadi Rista kan cerita kalau sedang menunggu ponakannya, aku
curiga itu anak Rista dengan mantanku, aku sendiri tidak bertemu dengan anak tersebut” kataku menjelaskan pada Mas Arif.
”Kok kamu punya kecurigaan seperti itu Rin?” tanya Mas Arif penasaran.
“Bagaimana aku tidak curiga Mas, Rista ini cantik, juga baik kenapa juga mau sama orang pengangguran yang kelakuannya banyak negatifnya dari pada positifnya, apa yang di cari Rista dari hubungannya dengan mantanku kalau bukan pengakuan tentang anak itu dan pertanggung jawaban mantanku?, mana mau perempuan sakit hati kalau tidak memperjuangkan sesuatu miliknya?” tanyaku kembali.
__ADS_1
“Ada benarnya juga Rin kecurigaanmu itu” jawab Mas Arif.
“Bagaimana aku bisa tenang kalau Rista masih terus dengan mantanku, sedangkan kemauan mantanku pada Rista, kalau Rista suruh mendekati Vano kalau mau dinikahi mantanku” kataku.
“Hmmm sungguh licik sekali dia, mau menikahi anak orang tapi ada syaratnya” kataku lagi sambil menghela nafas panjang.
“Jangan sampai Vano bertemu atau berhubungan dengan Rista” kata Mas Arif.
“Iya Mas, semoga saja Rista tidak ke sekolahnya Vano, aku khawatir juga Rista ke sekolahnya Vano mendekatinya dan membawanya kepada mantanku” kataku cemas.
“Hmmm aku juga tidak rela Vano di bawa mantanmu Rin” kata Mas Arif dan menghela nafas panjang.
Mas Arif mencium pipiku kemudian bibirku.
“Mas pingin?” tanyaku pelan.
Mas Arif menganggukkan kepalaku dan terus menciumiku, kancing bajuku di buka perlahan
kemudian menciumi dengan lembut bagian tubuhku aku menerima semua rangsanganya.
Aku tersenyum memandang suamiku, tapi… apakah aku halangan, seperti ada sesuatu yang hangat keluar dari bagian bawah.
Ketika Mas Arif membuka pakaianku bagian bawahku.
“Rin, kamu sedang halangan?” tanya Mas Arif dengan wajah kecewanya.
“Iya mas, maaf” kataku pelan. Kemudian aku bangun dari tempat tidur mengancingkan kancing bajuku dan merapikannya lalu turun dari tempat tidur dan mengambil pembalut
serta celana dalam di almari selanjutnya berjalan ke kamar mandi untuk memakai
pembalut, setelah selesai aku keluar kamar mandi dan merebahkan tubuhku di
pembaringan di sisi Mas Arif.
“Gak jadi anak” kataku lagi.
“Iya Rin” kata Mas Arif kecewa.
Aku membelakangai Mas Arif dan tidur memeluk guling.
“Rin, berapa lama kamu halangan?” tanya Mas Arif di belakangku.
“Antara seminggu sampai 10 hari” jawabku.
“Apa tidak bisa dipersingkat 3 hari gitu?” tanya Mas Arif lagi.
Aku membalikkan tubuhku menghadap suamiku ini.
“Kamu mau gantikan aku halangan?” tanyaku dengan sewot sepertinya pms ku sedang kambuh, ya… perempuan kalau lagi mau halangan atau menjelang halangan sering emosi tidak terkendali.
“Mas… jangan mancing kemarahanku, aku sedang pms ini” kataku.
“Apa itu?” tanya Mas Arif.
“Perempuan menjadi singa” jawabku singkat.
“Ha ha ha, cantik-cantik begini mau jadi singa?” tanya Mas Arif dan tertawa.
“Ah… “ kataku marah dan aku membalikkan tubuhku memeluk guling membelakangi Mas Arif.
__ADS_1
“Gak lucu Mas omonganmu” kataku singkat.
“Ya sudah aku sama Vano saja, kalau kamu seperti ini” kata Mas Arif.
“Gak usah, disini saja” kataku masih dengan nada marah.
“Untuk apa coba aku di sini, bercinta juga tidak bisa” kata Mas Arif.
“Oh… begitu ya, kalau istri lagi gak bisa di pakai terus ditinggalkan” kataku semakin marah dan tersinggung.
“Terserah” kataku lagi dengan jengkel.
“Rin kenapa sih marah-marah begini, harusnya aku ini yang marah dan kecewa, sudah tegang gak bisa melanjutkan” kata Mas Arif.
“Pikir sendiri” kataku
“Hmmm, benar-benar jadi singa istriku ini, beri kesabaran ya Allah menghadapi istriku ini” kata Masa Arif.
“Rin, aku nemani Vano bermain ya?” tanya Mas Arif pelan.
“Gak boleh, temani aku saja di sini” kataku.
“Bener-bener kamu ini menyiksaku Rin, kamu lihat ini tegang lagi, kamu mau tanggung jawab mengeluarkannya?” tanya Mas Arif.
“Mas keluarkan sendiri itu kan punyamu bukan punyaku” kataku dengan nada jengkel.
"Rin, kenapa kamu menjadi marah tanpa alasan begini?" tanya Mas Arif pelan.
"Kan sudah aku bilang tadi, kenapa masih tanya?" tanyaku kembali.
"Hmmm, terserahlah RIn, memang kamu begini sampai kapan?" tanya Mas Arif kembali.
"Gak tau tergantung bagaimana suasana hatiku" jawabku sekenanya.
Mas Arif meninggalkanku keluar dari kamar tidur, biarin saja, emang enak gitu jadi perempuan, coba kalau dia mau nyalahkan aku datang bulan, bisa-bisa aku omelin sepanjang hari.
Dipikir enak gitu jadi perempuan, iya sana laki-laki hanya minta enaknya saja tanpa mikir bagaimana perasaan perempuan, batinku.
Aku sendiri di kamar dan tertidur.
Aku membuka mataku, dan turun dari tempat tidur berjalan keluar dari kamar tidur, kemana mereka kok sepi sekali, aku lirik jam di dinding menunjukkan jam 2 sore, aku masuk ke kamar Vano tidak ada mereka, aku keluar rumah mobil masih ada, tapi sepedaku tidak ada di sana, berarti mereka keluar.
Enak banget keluar berdua aku tidak di ajak, laki-laki maunya sendiri.
Tak lama kemudian, Mas Arif dan Vano pulang tampak sangat ceria anakku, tapi aku tetap tanpa senyuman untuk mereka, aku diam saja, gak tau perasaanku masih sangat sensitif juga jengkel.
"Enak banget, keluar-keluar gak ngajak aku" kataku pada Mas Arif ketika berada di kamar tidur.
"Lah kamu tidur" jawab Mas Arif.
"Ya... harusnya kamu bangunkan aku" kataku.
"Terserahlah Rin, aku capek kamu marahi terus, aku ini salah terus di matamu, kapan sih pms mu ini selesai?" tanya Mas Arif.
"Tahun gajah" jawabku.
"Nanti sore masak apa kamu Rin?" tanya Mas Arif.
"Malas masak, gak usah makan" jawabku ketus.
__ADS_1
"Sabarkanlah aku ya Allah menghadapi istriku ini" kata Mas Arif.
Aku pergi meninggalkannya sendiri di kamar menuju ke teras depan rumah, melihat hijaunya dedaunan tanaman Ibu mertua.