
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, kami sedang berkumpul di ruang keluarga setelah sarapan.
"Rif... kamu beneran gak jadi bawa mobil di supiri pak Dirman?" tanya ibu mertuaku.
"Kamu masih marah sama ibu?" tanya ibu mertua lagi.
"Ibu katanya mau keluar?" tanya Mas Arif kembali.
"Kan ibu urusan di dalam kota saja, jadi pakek sepeda motor" kata ibu menjelaskan.
"Ya, Ibu telpon pak Dirman saja nanti jam satu Arif berangkat, pesawat jam empat" kata Mas Arif.
"Ibu berangkat dulu" pamit ibu kepada kami dan kami bersalaman.
"Hati-hati bu" pesanku.
"Iya Rin" jawab ibu kemudian meninggalkan kami bertiga.
"Mas... sepertinya mas belum menyiapkan barang yang di bawa, tas kopermu yang biasa Mas pakai gak kelihatan" kataku.
"Aku gak bawa Rin, cuma bawa tas ransel saja" kata Mas Arif.
"Aku keluar sebentar beli oleh-oleh untuk teman-teman, kamu di rumah saja istiraht" kata Mas Arif.
Vano mendengar pembicaraan kami.
"Ayah, aku ikut" kata Vano sambil memegang tangan Mas Arif.
"Ayo" jawab Mas Arif.
"Jangan nakal Vano" pesanku.
Kedua lelakiku berjalan keluar rumah meninggalkanku sendiri di rumah.
Suara hp ku berbunyi, aku langkahkan kakiku menuju ke kamar tidur mengambil hp dan mengangkat telpon.
"Iya, ada apa?" kataku.
"Rin...aku ingin ketemu Vano, bisa?" tanya Mas Ardi.
"Untuk apa?" tanyaku kembali.
"Rin... aku ini ayahnya, kenapa kamu mempersulit aku bertemu dengan anakku" kata Mas Arif.
"Kamu bilang ayah? ayah biologis iya, kemana kamu selama ini? bukanya sibuk dengan wanitamu, sampai gak ingat anak" kataku dengan nada marah.
"Betulin dulu prilakumu baru bisa bertemu anakmu" kataku lagi dan telpon segera aku matikan.
Tak lama kemudian telpon berbunyi lagi.
"Rin... tolong beri kesempatan padaku untuk berubah" kata Mas Ardi dengan nada menghiba.
"Untuk apa? untuk mendapatkan Vano?" tanyaku.
"Rin... aku tau aku salah padamu, juga Vano" kata Mas Ardi.
"Baru sadar sekarang, aku masih sibuk, jangan ganggu aku lagi, kalau mau berubah silahkan, toh berubahmu juga ada maunya bukan ikhlas dari hati" kataku dengan jengkel dan aku matikan telpon.
Mungkin sudah tidak telpon lagi dia, orang maunya sendiri, mau berubah, berubah dari mana? kemana aja selama ini, anak dekat dengan laki-laki lain seperti kebakaran jenggot, batinku.
Aku melangkah menuju ruang keluarga duduk di sofa melihat acara tv.
"Bunda..." teriak Vano dari luar dan berlari ke arahku.
__ADS_1
Setelah sampai...
"Ayah mana?" tanyaku.
"Itu, di depan" kata Vano.
Terlihat mas Arif masuk ke dalam rumah membawa bungkusan plastik dan mendekatiku.
"Rin.. kamu mau jajan ini?" tanya Mas Arif sambil membuka isi plastik tersebut
"Aku ambil ini saja mas, sisanya bawa ke Papua" kataku sambil mengambil satu bungkus kue dan membuka plastiknya kemudian memakanya perlahan.
"Mas, beneran gak ada yang perlu Rinda siapkan untuk berangkat ke Papua?" tanyaku serius.
"He he he, yang perlu kamu siapkan itu ini" kata mas Arif menunjuk anggota badanku.
"Gak capek apa mas?" tanyaku pelan sambil tersenyum.
"Gak bosan?" tanyaku lagi.
"Untukmu tidak ada kata capek dan bosan" jawabnya.
"Dua bulan lagi saja, kan ada Vano, nanggung kalau Vano gedor-gedor pintu" bisikku.
Mas Arif tampak kecewa mendengar ucapanku.
"Dua bulan itu lama sekali Rin" jawab Mas Arif.
"Masak mas di sana mau cari perempuan lagi?" tanyaku dengan nada jengkel.
"Ya enggak lah" kata Mas Arif.
Adzan duhur berkumandang.
"Setelah itu kita kemas-kemas untuk berangkat ke Bandara" kataku lagi.
"Vano ayo sholat dhuhur berjamaah!" ajakku kepada Vano.
Kemudian kami mengambil wudhu dan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.
Di dalam kamar.
Mas Arif memandangku dengan tatapan mata seperti tidak rela meninggalkanku.
Aku mendekatinya dan memeluk suamiku.
"Mas... berangkatlah, aku tunggu kembalimu di kota ini" kataku pelan dan menjinjitkan kakiku mencium bibir suamiku.
"Rin... tunggulah kembaliku ke sini dengan kesetiaan dan cintamu" kata Mas Arif pelan.
Kemudian aku membantu Mas Arif berkemas.
Tok...tok...tok...
Suara pintu di ketok dari luar.
"Assalamualaikum" ucapnya.
"Mas coba lihat siapa yang datang, Rinda pakai kerudung dulu" kataku.
Mas Arif keluar kamar.
"Rin... pak Dirman sudah datang" teriak Mas Arif.
__ADS_1
Aku segera keluar dari kamar tidur menemui mas Arif dan pak Dirman di ruang tamu dan duduk di sebelah suamiku.
"Ini istriku pak Dirman" kata mas Arif memperkenalkanku, aku mengangguk dan 🙏 sebagai tanda berjabat tangan.
"Mas Arif, tadi ibu Linda menelpon saya untuk mengantar mas Arif ke Bandara, jadi saya sopiri sekarang?" tanya Mas Arif.
"Oh iya pak, ini sudah siap" kata Mas Arif.
"Silahkan pak Dirman kue dan minumnya, kami tinggal sebentar" kataku dan kami meninggalkan pak Dirman di ruang tamu.
"Mas Rinda sudah siap, mas bagaimana? sudah gak ada yang tertinggal?" tanyaku.
"Sudah Rin, Vano bagaimana?" tanya Mas Arif.
"Iya setelah ini aku memgurus Vano, mas temui pak Dirman juga nyiapkan mobil" kataku kemudian aku menghampiri Vano.
"Vano... ayo segera ganti baju, kita mau ke Bandara" kataku dan segera mengganti baju Vano, membawa beberapa susu kotak dan cemilan.
"Rin..." panggil mas Arif, kemudian dia menghampiriku.
"Uang belanja aku taruh di laci seperti biasanya" bisik Mas Arif.
Aku tersenyum.
"Ayo mas kita berangkat biar tidak ketinggalan pesawat mas nanti, oh ya tasnya sudah mas bawa?" tanyaku mengingatkan.
"Sudah bidadariku" bisiknya.
kemudian aku mengunci kamar dan pintu rumah kemudian pintu pagar, mas Arif masuk ke mobil duduk di kursi depan berdampingan dengan pak Dirman yang mengemudi, sedangkan aku duduk di kursi tengah bersama dengan Vano.
Mobil berjalan meninggalkan kota ini memasuki pintu tol dan menuju Bandara Juanda, sekarang sudah jam setengah tiga.
Kami turun dari mobil.
"Pak Dirman tunggu anak istri saya di sini ya!" pinta Mas Arif.
"Iya mas Arif, ini no telpon saya" kata pak Dirman sambil memberikan kertas berisi no hpnya.
"Rin, ini kamu simpan" kata mas Arif dan memberikan kertas dari pak Dirman kepadaku.
"Pak saya tinggal dulu" kata Mas Arif.
Dan kami masuk ke dalam Bandara berjalan beriringan bergandeng tangan, Vano di gendong mas Arif, hatiku rasanya begitu berat berpisah dengan suami walaupun cuma dua bulan.
"Rin...aku mau boarding pas dulu" kata Mas Arif.
Aku dan Vano menunggu duduk di kursi sekitaran situ, tak lama kemudian mas Arif menghampiri kami, tatapan matanya juga seakan tidak rela meninggalkan kami, aku berdiri dan memeluknya erat.
"Mas... aku selalu merindukanmu" kataku pelan.
"Aku juga begitu bidadariku" bisiknya.
Beberapa saat kemudian suara dari pengeras suara Bandara memberitahu keberangkatan penumpang.
"Mas... berangkatlah, aku di sini setia menunggumu, setia dengan cintaku untukmu" kataku pelan dan memeluknya erat.
"Vano... salim pada ayah" aku menyuruh Vano, kemudian Vano mengulurkan tangannya, mas Arif duduk berjongkok mencium Vano.
"Ayah tinggal kerja dulu ya sayang, jangan nakal sama bunda ya?" pesan Mas Arif.
Vano menganggukkan kepalanya.
Kemudian mas Arif berbalik masuk ke dalam ke ruang tunggu penumpang, aku lihat dari jauh suamiku berjalan sampai tidak terlihat tubuhnya, aku berbalik berjalan menuju parkiran mobil.
__ADS_1