
Setelah sholat maghrib berjamaah, kami duduk di ruang keluarga, sambil mengusap perutku aku bertanya kepada suamiku, “Mas… besok berangkat jam berapa?”
“Pagi Rin, jam enam, aku naik transportasi online saja,” jawab Mas Arif.
“Iya Mas,” jawabku.
Aku menoleh ke arah suamiku, “Mas apa Mas tidak menyiapkan untuk di bawa besok, biar Rinda bantu.”
“iya Rin,” kata Mas Arif kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Aku mengikutinya dari belakang.
Mas arif membuka almari, mengambil beberapa baju kemudian menaruh di atas kamar tidur, aku mengambil tas ranselnya dan memasukkan baju dan lain sebagainya ke dalam tas ransel Mas Arif.
“Obat-obatan Mas?” tanyaku.
“Sudah ada Rin, di saku depan,” jawab Mas Arif.
“Berarti sudah semuanya ya Mas?” tanyaku.
“Iya sayang,” jawab Mas Arif sambil menghampiriku yang sedang duduk di pinggir pembaringan, mencium perutku dan berkata, “Nak, baik-baik saja ya, Ayah besok berangkat bekerja, dua bulan lagi pulang.”
Aku tersenyum mendengar perkataan suamiku dan mengusap lembut rambutnya, setiap Mas Arif berangkat rasanya hatiku campur aduk, sedih sekali, kapan bisa selalu berkumpul tidak terpisah begini.
Mas Arif duduk di sampingku memeluk bahuku aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.
“Rin… kenapa hatiku terasa berat sekali kembali ke Papua?” tanya Mas Arif.
“Mas aku juga begitu, tapi ini hanya perpisahan sementara sayang, dua bulan lagi pasti bertemu lagi,” jawabku sambil mendongak ke atas memandang wajah suamiku dan tersenyum manis.
Mas Arif mengusap lembut rambutku.
Adzan isya berkumandang.
“Ayo sholat Rin,” ajak Mas Arif.
Kami berdiri dari tempat duduk kami dan mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat berjamaah.
Di musholla Vano sudah menunggu, aku tersenyum melihat anakku seperti itu, Ya… Allah terima kasih atas segala anugerah ini.
Kami sholat berjamaah di imami oleh Mas Arif, setelah selesai kami berkumpul kembali di ruang keluarga, Mas Arif menemani Vano
bermain.
Aku menuju ke dapur untuk memasak nasi goreng dan telur ceplok.
Setelah selesai aku menyajikan di atas meja makan, kemudian memanggil Vano dan Mas Arif, “Ayo makan siang sudah siap.”
Mas Arif dan Vano segera berjalan menuju ke meja makan dan duduk di sana.
Aku mengambil sendok dan aku berikan kepada anak dan suamiku.
__ADS_1
Selesai makan malam, aku membersihkan piring sendok dan lain sebagainya sedangkan suamiku melanjutkan menemani Vano.
Setelah selesai urusan dapur aku merasa tubuhku tidak nyaman, aku rebahkan di kursi sofa ruang keluarga sambil melihat mereka berdua sedang asyik bermain.
Mataku terasa mengantuk sekali dan aku terlelap dalam tidurku entah berapa lama aku tidur hingga ada suara yang membangunkanku.
“Rin… ayo bangun,” bisik Mas Arif.
Aku membuka mataku perlahan, kulihat suamiku duduk di dekatku, tersenyum melihatku.
“Kurang enak badan?” tanyanya.
“Enggak, hanya mengantuk saja tadi,” jawabku.
“Sudah jam 10 malam, ayo pindah ke kamar,” pinta Mas Arif.
“Apa Vano sudah tidur di kamarnya Mas?” tanyaku.
“Iya sudah dari tadi,” jawab Mas Arif.
Aku bangun dari tidur dan berjalan ke kamar di gandeng suamiku kemudian merebahkan diri di atas pembaringan, begitu juga dengan
suamiku, tidur di sebelahku.
Wajah kami saling mendekat, bibir kami bertemu, kami berciuman menikmati ciuman tersebut.
“Mas…,” panggilku sambil tersenyum.
Mas Arif pun tersenyum, aku tau maksudnya dia ingin meminta haknya malam ini.
Dua anak manusia sedang memadu kasih, menikmati kenikmatan dunia, saling peluk cium penuh dengan gairah.
“Rin… love you,” bisik Mas Arif.
“Love you too,” bisikku kembali.
“Hati-hati sayang, ada anak kita di perutku,” kataku ketika Mas Arif keras menindihku.
Dia tersenyum dan kami menikmati percintaan ini sampai pada titik puncaknya.
“Terima kasih sayang,” ucap Mas Arif dan mencium keningku.
Aku tersenyum memandang suamiku dan aku mencium bibirnya, kulepaskan dan kemudian aku memeluknya, karena sudah tidak nyaman dengan perutku akhirnya aku berbalik membelakangi Mas Arif, dan Mas Arif melingkarkan tangannya menyentuh perutku kemudian mengusapnya perlahan, sampai kami tertidur.
Pagi hari aku sengaja untuk membuat sarapan setelah sholat subuh, setelah selesai memasak, aku mengajak Mas Arif untuk sarapan.
Kami duduk berdampingan menikmati sarapan pagi hasil dari masakanku he he he.
“Rin… kamu sudah pesan transportasi online apa belum?’ tanya Mas Arif.
“Belum Mas, setelah sarapan saja,” jawabku.
__ADS_1
Segera kami selesaikan sarapan pagi ini, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam.
Mas Arif masuk ke kamarnya Vano aku mengikutinya dari belakang sambil memesan transportasi online lewat aplikasi.
“Vano, ayo bangun, Ayah mau berangkat,” bisik Mas Arif sambil menciumi Vano.
Vano menggerakkan badannya dan membuka matanya, melihat Ayahnya sudah rapi, Vano memeluk tubuh Mas Arif.
“Kok cepat sih Ayah berangkatnya,” katanya.
“Dua bulan lagi Ayah pulang, jaga Bunda dan adek ya,” pesan Mas Arif.
Mas Arif keluar kamar sambil menggendong Vano aku membawakan tas ransel Mas Arif kami menuju ke teras rumah, duduk di sana sambil menunggu transportasi online datang menjemput.
Vano masih bermanja di pangkuan Mas Arif, kami saling menciumi wajah Vano.
“Vano… Ayah berangkat jangan begitu, nanti Ayah bersedih loh,” nasehatku.
“Yah… pulang nanti belikan Vano mainan pesawat yang dari besi ya,” pinta Vano.
“Iya, Insyaallah,” jawab Mas Arif.
Tak berapa lama terlihat sepeda motor yang dinaiki seorang laki-laki dengan memakai jaket transportasi online berhenti di depan rumah.
“Mas sudah datang ojeknya,” kataku pelan.
“Iya Rin,” jawab Mas Arif.
Mas Arif berdiri menggendong Vano menciuminya dan berkata, “Ayah berangkat dulu, nanti pasti pulang.” Kemudian menurunkan Vano, dan memelukku
menciumi wajahku kemudian perutku.
“Hati-hati Rin selama aku tinggal, kalau ada sesuatu segera hubungi aku ya,” pesan Mas Arif dan berjalan meninggalkan kami menuju ke ojek online, naik di belakang, kemudian menghadap kearah kami dan melambaikan
tangannya, demikian juga dengan kami.
Perlahan sepeda motor meninggalkan rumah mertua, aku dan Vano kemudian masuk ke dalam rumah.
“Vano ayo sarapan,” pintaku.
Aku berjalan ke meja makan mengambil nasi goreng dan telur ceplok dan aku berikan kepada Vano.
Vano sarapan pagi sambil melihat acara televise.
“Vano minumnya apa?” tanyaku.
“Susu kotak saja Bunda, yang dingin,” jawab Vano.
Aku melangkah ke dapur membuka kulkas dan mengambil susu kotaknya Vano kemudian memberikannya kepada Vano.
Aku duduk di kursi sofa, begitu berat sekali berpisah dengan suamiku saat aku sedang mengandung begini, ingin rasanya selalu berada di dekat suamiku, tapi apa daya, keaadaanlah yang mengharuskan kami begini, kami juga butuh uang untuk kehidupan selanjutnya, kata hatiku.
__ADS_1
Semoga selamat sampai di tujuan suamiku, dari jauh aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu, untuk keluarga kita.
Jagalah hatimu dikala jauh dari istrimu.