
Sampailah Rinda di kantor.
"Bagimana kabarmu Rinda?" tanya Nia.
"Sakit apa?" tanya Widya.
"Alhamdulillah sehat begini" kataku.
"Loh kemarin kata orang tuamu, kamu sedang sakit" kata Nia.
"He he he" aku tersenyum dan tertawa melihat mereka.
"Terima kasih ya atas perhatianya, aku mau cuti kerja dulu, mungkin dua mingguan" kataku.
"Mau menikah ya?" tanya widya.
"He he he bentar lagi juga tau" kataku.
"Sudah... ayo kerja" kataku lagi dan aku meneruskan pekerjaan kantor.
Aku membalas pesan ke suamiku memberitahu jumlah karyawan disini untuk memesan jumlah nasi kotak.
Waktu istirahat tinggal sebentar lagi, Mas Arif menelponku.
"Sayang... aku sudah di bawah, kamu turun ya?" katanya
"Oh iya mas, sebentar ya" jawabku, telpon dan segera aku matikan.
"Teman-teman bisa enggak bantu aku ambilkan nasi kotak dan memberikan ke teman-teman di sini" kataku.
"Nasi kotak?" tanya Widya penuh tanda tanya.
"Sudah ayo turun semua ke bawah, nanti juga tau" kataku.
"Teman-teman yang satu divisi denganku mengikutiku turun, mas Arif sudah dibawah, sepertinya tadi ijin sama satpam disana agar bisa masuk ke dalam mobilnya, aku tersenyum melihat mas Arif.
"Rin, ayo bertemu dengan atasanmu" katanya
aku menganggukkan kepala.
"Aku mau ke Pak Farid dulu ya teman, tolong ya nasi kotak sama kuenya dibagi ke teman-teman semua!" pintaku.
Aku melihat expresi mereka masih penuh tanda tanya.
Aku naik ke atas bersama Mas Arif membawa bingkisan makanan untuk pak Farid.
Sampai di kantor Pak Farid aku mengetuk pintu beberapa kali, terdengar suara dari dalam menyuruh untuk masuk, aku buka pintu kantor dan menuju meja Pak Farid, bersama suamiku.
"Silahkan duduk Rinda, ini siapa?" tanya pak Farid penasaran.
"Maaf Pak Farid... tidak mengabarkan sebelumnya, ini suami Rinda" jawabku.
Tidak beda dengan teman-temanku, Pak Farid pun sama terkejutnya.
"Maksud kamu, kamu sudah menikah lagi?" tanyanya.
"Iya pak, karena suamiku sekarang sedang dapat cuti dari kerjanya jadi segera kami menikah kemarin, jadi memang kami tidak siap untuk mengundang dan sebagainya?" jelasku.
"Insyaallah cuti berikutnya akan ada acara Pak, pasti Bapak kami undang" kata Mas Arif.
"Oh iya Pak, ini saya juga mau mengajukan cuti menikah, saya ambil besok, boleh?" kataku.
__ADS_1
"Bisa Rin, kamu ajukan cutimu nanti berkas kamu berikan ke Hrd ya?" kata Pak Farid.
"Iya terima kasih, oh iya Pak ini sedikit dari kami, mohon maaf, saya melanjutkan aktifitas kami" kataku sambil memberi bingkisan makanan dan keluar dari kantor Pak Arif, sampai di tangga turun.
"Sayang... aku pulang dulu ya... nanti aku jemput" katanya.
"Terima kasih Mas semuanya" kataku.
Mas Arif turun dari tangga aku menuju kantorku.
Sampai di kantor
"Kurang ajar kamu Rin menikah gak bilang-bilang sama sini" kata Nia
"Anggap saja surprise ya" jawabku
mereka merangkulku.
"Selamat, selamat ya... semoga sampai kakek nenek" kata mereka.
Aku kembali ke meja menyiapkan berkas dan membuat surat ijin cuti menikah setelah selesai aku menuju ruang Hrd, sampai di ruang Hrd, aku segera masuk ke ruang Hrd menemui Bu Tia sebagai kepala Hrd.
"Maaf bu Tia mengganggu, tadi saya sudah menghadap Pak Farid untuk mengajukan cuti, ini berkasnya" kataku sambil menyerahkan. map berisi berkas pengajuan cutiku.
"Selamat ya Rinda, terima kasih nasi kotaknya" kata Bu Tia sambil membuka-buka map berisi berkasku.
"Sama-sama Bu" kataku.
"Kamu ambil besok ya cutinya?" tanya Bu Tia.
"Iya Bu" kataku.
"Sampai dua minggu ke depan ya" jelas Bu Tia.
"Iya Bu" kataku
"Iya Bu, Rinda pamit dulu Bu, mau melanjutkan aktifitas" kataku juga dengan tersenyum
"Silahkan Rinda" jawab bu Tia
Kemudian aku keluar dari ruangan Bu Tia.
Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul tiga lebih seperempat, sebentar lagi pulang batinku.
Sampai di ruang kerjaku.
"Kamu jadi mengajukan cuti Rin?" tanya Nia.
"Iya Nia, besok aku mulai cuti sampai dua minggu ke depan, jangan merindukanku ya he he he?" kataku kemudian tertawa.
"Yeee sapa pula yang merindumu" jawabnya.
"Bagaimana kamu sama Aldi Nia, kapan?" tanyaku.
"Gak taulah Rin, Mas Aldi kayaknya belum siap menikah" katanya.
"Lah terus, hubungan kalian bagaimana?" tanyaku.
"Ya begini-begini saja tanpa ending putus atau terus dan menikah" katanya.
"Sholat istikharoh Nia, sapa tau dapat petunjuk" nasehatku.
__ADS_1
"Iya Rin" jawabnya.
"Oh iya, ayo pulang, suamiku sudah nunggu di bawah" kataku.
"Oh iya ayo bareng Rin" kata Nia sambil mengambil tasnya dan menaruh di pundaknya.
Kami berjalan beriringan sampai di parkir sepeda motor, Nia menuju sepeda motornya aku berjalan keluar ke arah parkir mobil, kulihat dari jauh ada mobil mas Arif, segera menuju mobil mas Arif dengan berlari kecil.
Sampai di mobil mas Arif, loh di dalam kok tidak ada siapa-siapa batinku.
"Bunda.... " teriak Vano dari samping mobil.
"Mengagetkan bunda saja kamu, sengaja ya? Ayah kemana?" tanyaku.
"Itu.... di belakang Bunda" kata Vano sambil menunjukkan telunjuk jarinya, aku menoleh ke belakang.
"Mas Arif..." kataku.
Dia tersenyum melihatku dan memelukku.
"Ayo pulang sayang" katanya
Aku tersenyum melihatnya, dia melepas pelukanya, membuka pintu mobil untukku dan Vano, kemudian menungguku dan Vano masuk mobil setelah itu menutupnya kembali.
Sampai di rumah, aku menuju kamar tidur.
"Mas Arif.... "panggilku.
"Kapan beli bunga ini?" tanyaku karena di kamar ada beberapa bunga mawar putih harumnya membuat tenang jiwa.
"Tadi sayang" katanya sambil mengecup keningku.
"Masih bau sayang, aku mandi dulu ya?" kataku.
"Vano mana?" tanyaku sambil melepas jilbabku.
"Vano biasa punya jadwal lihat acara tv" katanya.
"Bentar ya sayang, aku mau mandi dulu" pamitku.
Keluar dari kamar mandi yang ada di kamar, aku masih memakai handuk dan berniat berganti baju, tiba-tiba kamar di buka.
"Mas... ma..af.." kataku terbata-bata sambil menutup kembali tubuhku dengan handuk, mas Arif mendekatiku, memelukku dengan lembut.
"Gak usah minta maaf sayang, tidak dosa aku melihatnya" katanya dengan lembut.
Membuat hatiku menjadi tenang kembali, dia melepaskan handukku menggendongku masuk ke kamar mandi dan menguncinya.
"Sayang... kamu takut?" tanyanya dan aku menggelengkan kepala.
"Tapi aku malu mas" jawabku.
"Sama suami masak malu sayang" katanya dengan terus mencium seluruh tubuhku, aku menikmati setiap sentuhanya.
"Mas..." kataku.
"Kenapa sayang? kamu menikmati?" tanyanya.
Aku menganggukkan kepala, memegang rambutnya, aku belai rambutnya setiap kali menikmati sentuhanya, dia berdiri mencium bibirku dengan lembut.
"Sayang benar-benar tidak takut?" tanyanya.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala, merasa hatiku nyaman, bayangan itu lenyap dari kepalaku.
"Sayang... aku menikmatinya, lakukanlah" kataku.