Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Long Distance Marriage Itu Menyakitkan


__ADS_3

Aku menemani Vano melihat acara tv, kulihat Ibu turun dari tangga menghampiri kami.


"Rin... ayo makan, Vano juga diajak" ajak ibu, kemudian kami menuju meja makan


"Vano makan sendiri ya" kataku dan mengambilkan piring nasi lauk untuk Vano, Vano susah makan sayur, tiba-tiba aku merasa mual dan meninggalkan meja makan menuju kamar mandi, setelah badanku merasa nyaman, aku kembali ke meja makan


"Masih mual terus Rin?" tanya ibu, aku menganggukkan kepala, dan mengambil makanan sedikit sekali karena khawatir akan muntah lagi


"Rin kok sedikit sekali gak nafsu makan?" tanya ibu


"Rinda takut muntah lagi Bu, jadi sedikit-sedikit dulu" jawabku, kemudian aku makan sedikit demi sedikit sampai habis makanan di piringku


"Enak bu, mau nambah lagi Rinda" kataku


Kemudian mengambil sayur dan memakanya, kulihat ibu dan Vano sudah selesai makanya, aku membantu ibu membersihkan piring dan gelas


"Rin... temani Vano, biar ibu yang melanjutkan" kata ibu, aku menuju ke sofa disana Vano asyik melihat acara tv


"Vano... ambil kertas, bunda ajari menggambar dan menulis!" pintaku, ya... lumayan lama tidak mengajari Vano, sebulan ini Vano lebih sering diajari sama mas Arif


Vano masuk ke kamar membawa tasnya, aku buka tasnya dan aku ambil bukunya Vano


"Vano... coba ini ditebali ya!" kataku menyuruh Vano


"Ayo.. bunda bantu" kataku kemudian, aku mengajari Vano sampai Vano merasa mengantuk


"Vano... kalau tidur disini tidak ada yang memindahkanmu, ayo tidur di kamar sama bunda" kataku kemudian menuntun Vano masuk ke kamar, menidurkan Vano, beberapa menit kemudian Vano sudah tertidur dengan pulas, aku pandangi wajahnya aku usap rambutnya, aku cium Vano


"Jadi anak sholeh ya sayang" bisikku


Sebulan serasa sebentar, mas Arif... apa sudah sampai di sana? hpnya masih belum aktif, ku ambil bajunya, kuciumi serasa dia disini menemaniku, aku usap perutku, nak... baik-baik saja ya... batinku, air mataku jatuh, mas Arif... aku rindu semua denganmu.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, aku belum juga tidur, hp ku berbunyi, semoga mas Arif, oh bener mas Arif, aku usap air mataku dan aku angkat video call nya mas Arif


"Mas... " kataku, kulihat mas Arif di Bandara


"Belum tidur kamu Rin?" tanya mas Arif


"Belum bisa tidur mas" jawabku

__ADS_1


"Loh... bajuku kenapa kamu peluk begitu hehehe?" tanya mas Arif dan tertawa


"He hebhe biar bisa merasakanmu disini" jawabku


"Rinda... sehari ini bagaimana, gak rewel kan anak kita?" tanya mas Arif


"Enggak begitu mas, mungkin tau Ayahnya tidak disini, jadi gak rewel" jawabku


"Vano bagaimana?" tanya mas Arif


"Vano baik-baik saja mas, pinter kok hari ini" jawabku


"Mas..." kataku


"Apa sayang?" tanya mas Arif


"Aku rindu" jawabku


"Sabar ya Rin, kurang 60 hari aku pulang" kata mas Arif, tak terasa air mataku menetes


"Sayang, bidadariku... jangan menangis, jangan buat aku bersedih" kata mas Arif


"Sabar dulu ya" katanya kemudian, mendengar ucapanya aku semakin menangis hanya memandang wajah mas Arif dari aplikasi whats up


"Rin... sudah jangan begitu, apa aku balik lagi?" tanya mas Arif


"Jangan mas, Rinda gak apa-apa mungkin belum terbiasa kamu tinggalkan setelah kita menikah" kataku dengan terisak-isak


"Rin... jangan menangis lagi ya sayang" kat mas Arif menghiburku


"Iya mas, maaf Rinda begini" kataku sambil mengusap air mataku


"Sudah dulu ya, kamu istirahat, aku mau meneruskan perjalanan" kata mas Arif


"Assalamualaikum sayang" ucap mas Arif


"Waalaikum salam suamiku, jaga hatimu, jaga dirimu ya" kataku dan tersenyum dan hp aku matikan


Aku taruh hp di meja kamar, kemudian membaringkan tubuhku memeluk mencium mas Arif, dan memejamkan mataku

__ADS_1


Pagi hari aku membuka mataku turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian sholat subuh, setelah sholat subuh aku merebahkan diri di tempat tidurku, kepalaku masih terasa pusing sekali, aku ambil hp untuk menelpon mas Arif, beberapa kali menelpon tidak juga diangkat, ada apa dengan mas Arif disana, Rinda buang pikiran negatif nanti mempengaruhi kehamilanmu batinku, kenapa pikiranku tidak enak begini, aku berusaha membuang pikiran jelek tentang suamiku, disana memang ada mantan pacarnya yang dulu pernah aku berbicara melalui telpon dengan perempuan itu, gak mungkin suamiku jatuh ke pelukan perempuan itu, aahhh pusing aku, kenapa aku tidak ikut suamiku saja, tapi gak mungkin aku ikut, aku sedang hamil, Risa... nama perempuan itu mengganggu pikiranku, mas Arif kenapa hp nya tidak diangkat.


Aku lihat Vano masih tidur dengan pulasnya, Vano kamulah semangat hidupku, bersamamu aku melewati segala kesedihan juga bahagia, tiba-tiba hp ku berdering, Alhamdulillah video call dari suamiku semoga ada kabar baik, segera aku angkat hp aku tersenyum memandang suamiku yang masih tidur-tiduran,


"Mas... tadi Rinda telpon gak diangkat?" tanyaku dengan wajah cemberut


"Aku baru bangun sayang, semalam nunggu kendaraan yang ke sini tidak ada, jam sepuluh baru ada, mogok pula, aku sampai mes jam tiga pagi" cerita mas Arif


"Mas... Risa gak menghubungimu" kataku dengan nada curiga


"Rinda...kenapa kamu jadi begini, sudah aku blokir nomer Risa, sejak dia telpon kamu angkat dulu" kata mas Arif menjelaskan


"Dia gak datang menemuimu?" tanyaku curiga


"Rinda... yang ada di hidupku cuma kamu istrimu, kamu jangan curiga begitu, nanti setelah melahirkan kamu ikut aku ke sini, biar tau seperti apa kerjaku" kata mas Arif marah, aku terdiam meneteskan air mataku, kenapa mas Arif sekarang mudah marah begitu, apa karena cemburu dan curigaku ini


"Rinda... sayang... maafkan aku, sudah berkata kasar sama kamu, kamu fokus dengan kehamilanmu" kata mas Arif


"Rin... apa yang menjadikanmu seperti ini? aku kenal kamu lama, kamu tidak seperti ini" kata mas Arif lagi


"Apa kehamilanmu merubah sikapmu?" tanya mas Arif lagi, aku diam saja sambil menangis, aku gak tau kenapa perasaanku seperti ini aku takut ditinggalkan mas Arif


"Rin... bicaralah...!" kata mas Arif dengan wajah sedihnya


"Mas..." kataku masih terisak


"Menangis tidak memberi jalan penyelesaian" kata mas Arif lagi


"Mas... aku takut mas tinggalkan, aku takut mas pergi menjauh" kataku dengan terisak


"Ya Allah... Rinda...sudah buang pikiran itu, kasihan anak kita jadi sedih, aku cinta, aku sayang kamu bidadariku" kata mas Arif


"Beneran ya... gak cari perempuan lain?" tanyaku


"Rin... aku janji perempuan dalam hidupku yang jadi istriku hanya kamu" kata mas Arif sedikit membuatku tenang


"Kalau aku meninggal saat melahirkan bagaimana?" tanyaku


"Sudah buang pikiran negatif Rin, aku ingin kamu dan anak kita selamat" kata mas Arif

__ADS_1


__ADS_2