Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Untuk Apa?


__ADS_3

Minggu siang setelah dari Alun-alun kota kami di rumah saja, menghabiskan waktu bersama melepaskan rindu kami.


Waktu menunjukkan sudah jam satu siang.


Telpon dari hpku berbunyi, aku lihat dari nomer asing, akhirnya aku angkat.


"Assalamualaikum Mbak Rinda" sapa suara perempuan tersebut.


"Waalaikum salam" jawabku.


"Maaf, ini dengan siapa?" tanyaku.


"Mbak Rinda ini saya Rista, aku dapat nomer hp Mbak dari hpnya Mas Ardi" jawabnya.


"Kamu dikasih nomerku atau cari nomerku dari hpnya?" tanyaku lagi.


"Aku cari nomer Mbak sendiri di hpnya" jawabnya.


"Oh... berarti dia tidak tau kalau kamu menghubungiku? sekarang apa yang kamu mau?" tanyaku.


"Iya Mbak, dia tidak tau aku menghubungimu, Mbak, sebenarnya aku ingin bertemu dengan Mbak, banyak yang aku tanyakan pada Mbak" jawab Rista.


"Mbak, sebelum aku terlanjur berhubungan dengan Mas Ardi, aku ingin tau bagaimana Mbak bersama dia, perkataan Mbak tadi membuatku berfikir banyak" kata Rista kemudian.


"Maksudmu perkataanku yang mana yang membuatmu kepikiran itu?" tanyaku.


"Mbak yang bilang kalau lepas dari Mas Ardi lebih bahagia, terus omongan Mbak sama Mas Ardi kemarin yang seakan ada sesuatu yang terjadi antara Mbak dan Mas Ardi sehingga membuat kalian menikah" jawab Rista.


"Oh itu, seharusnya kamu tanya sendiri sama dia, sudah lama luka itu, luka yang membuatku depresi dan hampir gila, untuk apa diceritakan kembali?" tanyaku.


"Rista, aku adalah salah satu korban pacarmu, aku tidak tau harus menceritakan dari mananya, kamu hati-hati saja, dia laki-laki kurang ajar, kalau kamu tanya seperti apa perasaanku ke dia? aku sangat membencinya, sangat tidak mau melihatnya" kataku.


"Mbak, sepertinya cerita dari Mbak dan dari Mas Ardi beda" kata Rista.


"Terserah Rista kamu percaya dengan siapa? aku juga punya bukti kalau aku pernah depresi dan ditangani oleh psikolog" kataku.


"Rista, sudah dulu, tidak ada habisnya pembicaraan ini" kataku yang ingin segera mengakhiri telpon Rista.


"Iya Mbak, maaf sekali bila pertanyaanku mengingatkan Mbak pada kejadian yang tidak Mbak sukai, aku betul-betul ingin bertemu Mbak, tolong beri waktu aku untuk bertemu dengan Mbak" kata Rista.


"Mbak kita sama-sama perempuan, tolong Mbak mau bertemu denganku, aku ini mau menikah sama Mas Ardi, aku juga ingin tau apa yang terjadi sama rumah tangga Mbak dulu, seandainya itu tidak sesuai dengan cerita Mas Ardi aku akan meninggalkannya" kata Rista lagi.


"Mbak sebenarnya ada sesuatu yang membuat hatiku tidak percaya dengan cerita Mas Ardi tentang Mbak, aku juga disuruh mendekati anak Mbak" kata Rista lagi.


"Maksudmu apa? disuruh mendekati anakku?" tanyaku lagi.


"Kalau Mbak mau, ayo kita bertemu" kata Rista.


Ini perempuan bener-bener pinter bicaranya, batinku.


"Iya, nanti aku kabari lagi, aku mau ijin sama suamiku dulu untuk bertemu denganmu, seandainya mau bertemu aku ingin hanya kamu saja tanpa dia" kataku.


"Iya Mbak, aku tunggu kabar dari Mbak" kata Rista, dan telpon dimatikan.

__ADS_1


"Telpon dari siapa Rin?" tanya Mas Arif ketika masuk ke kamar.


"Rista Mas" jawabku.


"Rista siapa?" tanya Mas Arif penasaran.


"Itu pacarnya mantanku" jawabku.


"Kok tau nomer hpmu? terus untuk apa dia menelponmu?" tanya Mas Arif penuh curiga.


"Tau dari hpnya mantanku, dia telpon aku ingin bertemu denganku" jawabku.


"Ingin bertemu? untuk apa?" tanya Mas Arif lagi.


"Ya untuk bertanya padaku tentang kehidupanku saat menikah dengan dia" jawabku.


"Terus kamu rencana akan menemuinya kapan?" tanya Mas Arif.


"Gak tau Mas, apa Mas juga mengijinkan?" tanyaku.


"Gak apa-apa Rin kamu temui, semoga saja tidak ada korban mantanmu lagi" kata Mas Arif.


"Kalau Mas ijinkan Rinda bertemu dengan Rista, besok atau lusa Rinda akan nemui dia disaat Rinda istirahat kerja" kataku.


"Iya Rin, hati-hati saja, kamu kabari aku kalau mau menemui dia, aku khawatir ada mantanmu juga" kata Mas Arif menghawatirkan aku.


"Iya Mas" kataku sambil merebahkan tubuhku di pembaringan ingin istirahat siang.


Vano sudah tertidur di karpet di depan tv.


"Rinda..." panggil Mas Arif pelan.


"Iya Mas" jawabku sambil memeluk Mas Arif dan mencium pipinya.


"Mas, aku kangen" bisikku.


"Aku juga sayang" kata Mas Arif sambil menciumku, mencium bagian tubuhku yang sensitif.


"Mas... mau lagi?" tanyaku pelan.


"He he he, dekat denganmu ingin bercinta saja" jawab Mas Arif dengan menatapku dan tangannya mulai bergerilya membuka satu persatu bajuku.


"Rin, bidadariku love you" bisiknya sambil terus menciumi tubuhku.


"Ah.. Mas, love you too" bisikku sambil menahan sensasi dari setiap sentuhannya.


Siang ini, kami saling menikmati percintaan ini, sampai puas.


Mas Arif tersenyum memandangku.


"Rin... masih tegang lagi" bisik Mas Arif.


"Lagi?" tanyaku pasrah.

__ADS_1


"He em" jawabnya.


"Mas.." panggilku lirih.


"Iya sayang" jawab Mas Arif.


"love you sayang" bisikku dan mencium suamiku.


"Nanti malam saja Mas" bisikku.


"He he he, iya istriku" kata Mas Arif.


Kemudian aku mengambil baju yang dilepas Mas Arif tadi dan memakainya.


Kami tidur siang saling peluk setelah lelah menikmati kenikmatan dunia.


Seorang anak masuk ke dalam kamar, naik ke pembaringan dan tidur disana bersama Ayah dan Bundanya.


Sore hari aku membuka mata, terasa ada tangan kecil merangkulku, sejak kapan Vano berada disini, batinku.


Aku lihat suamikupun masih tertidur di sampingku, dua lelaki yang sangat aku rindukan.


Aku bangun dari tidur dan turun dari pembaringan masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi setelah itu aku melaksanakan sholat ashar.


Mas Arif dan Vano masih tidur lelap di kamar.


Aku menaiki tangga berniat melihat ibu di kamarnya.


Pintu aku ketuk.


Tok tok tok suara pintu aku ketuk, kemudian aku buka pintu, Ibu sedang membaca buku, melihatku datang Ibu meletakkan buku di meja.


"Bu, bagaimana sekarang badanya?" tanyaku sambil duduk di pinggir tempat tidur.


"Sudah lumayan enak Rin, tapi masih sedikit pusing" kata Ibu.


"Bu, apa gak sebaiknya di lab?" tanyaku.


"Gak usah Rin, nanti Ibu malah kepikiran sakit Ibu" jawab Ibu.


"Bu, setidaknya nanti tau sakitnya jadi tau penyembuhannya, Ibu sudah tiga hari sakit" kataku.


"Besok juga enakan Rin, jangan khawatir" kata Ibu.


"Ibu mau makan apa?" tanyaku.


"Enggak pingin apa-apa Rin, tadi masih kenyang makan empek-empek" jawab Ibu.


"Arif sama Vano kemana?" tanya Ibu.


"Masih tidur Bu di kamar" jawabku.


"Rinda ke bawah dulu Bu, segera sehat Bu" kataku.

__ADS_1


Pintu kamar Ibu aku tutup dan aku berjalan menuruni tangga, Mas Arif dan Vano masih tidur.


Akhirnya aku menuju ke teras berniat untuk menyiram bunga.


__ADS_2