Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Ceritaku


__ADS_3

Sepulang dari kafe menemui Rista aku langsung kembali ke kantorku dan aku kembalikan kunci kontak sepeda motor ke Nia.


"Rinda, bagaimana ceritanya?" tanya Nia penasaran.


"Kamu penasaran sekali ya?" tanyaku.


"Pasti" jawab Nia.


Ceritanya itu panjang Nia, kemarin itu waktu aku ke alun-alun sama anak dan suamiku, aku beli kue leker sendirian, sedangkan Mas Arif dan Vano membeli empek-empek palembang, nah di sana itu aku ketemu mantanku dan pacarnya, sorenya pacarnya mantanku menghubungiku ingin bertemu.


"Kok tau nomer hpmu Rin?" tanya Nia.


"Nah itu lah yang bikin aku penasaran, dia bilang sih nyolong dari hpnya mantanku, tapi gak tau benar apa tidak" jawabku.


"Terus?" tanya Nia penasaran.


"Dia bilang disuruh mantanku untuk mendekatiku dan mendekati Vano agar mantanku mau menikahinya" jawabku.


"Hah" kata Nia terkejut.


"Ya begitulah Nia, ternyata perempuan itu banyak dibohongi oleh mantanku tentang aku" kataku.


"Terus dia masih mau sama mantanmu?" tanya Nia lagi.


"Ya gak tau aku Nia, bilangnya sih mau melepas mantanku, lah dia itu loh dekat sama mantanku sebelum aku putusan pengadilan" kataku.


"Walah" kata Nia.


"Ya begitulah Nia, si mantan ini, lihat saja beberapa hari ini dia pasti menghubungiku dan marah-marah sama aku, aku tunggu saja" kataku.


"Jelas dia tidak terima atas ceritamu yang sebenarnya ya" kata Nia.


"Pasti itu Nia, eh Nia ayo kita lanjut kerja, ngobrol saja" kataku.


Kemudian aku kembali fokus pada pekerjaanku.


Waktu pulang kerja tiba, aku segera merapikan meja kerjaku, mengambil tasku dan berjalan turun menuju ke parkiran mobil, pasti suamiku sudah menungguku.


"Rinda tunggu" panggil Nia.


Aku berhenti menunggu Nia.


"Ada apa Nia?" tanyaku.


"Ayo bareng, aku bonceng sampai ke parkiran mobil" ajak Nia.


"Oke, terima kasih sekali.


Aku naik ke boncengan sepeda motor, menuju ke parkiran mobil.


"Nia aku turun di sini saja" kataku.


Sepeda motor Nia berhenti dan aku turun dari boncengan sepeda motor Nia.


"Terima kasih ya" ucapku dan aku melambaikan tangan ke arah Nia.


Aku lihat mobil Mas Arif sudah berada di parkiran mobil, aku berjalan menuju ke mobil Mas Arif dan masuk ke dalam mobil, Vano duduk di kursi tengah.

__ADS_1


"Ayo pulang Mas" pintaku.


"Iya Rin, tadi aku sudah beli makanan kok, jadi langsung pulang saja" kata Mas Arif.


"Terima kasih sekali my hubby, my love" kataku dan tersenyum memandang suamiku ini.


"Ibu bagaimana Mas kondisinya?" tanyaku.


"Ibu sudah membaik Rin, sepertinya hanya kecapekan Ibu ini" jawab Mas Arif


Mobil berjalan meninggalkan parkiran tempat kerjaku menuju ke rumah ibu mertua.


Dalam perjalanan.


"Rin tadi jadi menemui Rista?" tanya Mas Arif.


"Jadi Mas" jawabku.


"Terus bagaimana?" tanya Mas Arif lagi.


"Intinya Rista ini dibohongi mentah-mentah sama mantanku Mas" jawabku.


"Dibohongi bagaimana?" tanya Mas Arif


"Ya itu, bilang kalau sengaja menikahiku karena aku hamil dengan laki-laki lain, apa gak kurang ajar sekali dia, terus nyuruh Rista mendekatiku dan Vano itu syarat yang dia ajukan pada Rista agar dia mau menikahi Rista" jawabku.


"Licik sekali ya laki-laki itu" kata Mas Arif.


"Sangat licik Mas, kan sudah dari dulu begitu wataknya" kataku.


"Terus Rista bagaimana?" tanya Mas Arif.


"Iya Rin" kata Mas Arif.


Kami sampai di rumah Ibu mertua. Terlihat Ibu duduk di teras depan rumah, aku tersenyum menghampiri Ibu Mertua dan menyalaminya.


"Sudah lebih baik bu?" tanyaku.


"Iya Rin, dua hari lagi sepertinya sudah sehat, sudah bisa beraktifitas kembali" kata Ibu.


"Iya Bu, Rinda masuk dulu ya" pamitku, sambil berlalu meninggalkan Ibu masuk ke dalam kamarku.


Aku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur, beberapa hari nanti pasti mantanku akan menghubungiku dan marah-marah, aku harus siap menghadapinya, aku tidak boleh takut seperti dulu, batinku.


Aku bangun dari tempat tidur melepaskan kerudungku dan bajuku kemudian melilitkan handuk di tubuhku berniat untuk mandi.


Mas Arif masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidur.


"Rin, mungkin saja mantanmu dalam beberapa hari akan menghubungimu, pasti dia akan marah, kamu siap menghadapinya?" tanya Mas Arif.


"Itu yang barusan aku pikirkan Mas, aku siap Mas menghadapinya, apalagi dia fitnah aku seperti itu" jawabku.


"Vano kemana Mas?" tanyaku.


"Kayak gak tau saja kegiatan Vano sepulang kerja, ya lihat acara kesayangannya upin ipin" jawab Mas Arif.


"He he he" aku tertawa.

__ADS_1


"Mas aku mandi dulu" pamitku.


"Rin" panggil Mas Arif.


Aku berhenti, Mas Arif memelukku dari belakang dan meremas bagian tubuh sensitifku, aku memegangi handuk yang melilit di tubuhku.


"Pingin?" bisikku.


"Iya" jawab Mas Arif.


"Sekarang?" tanyaku.


"Iya sayang" jawab Mas Arif.


Aku membalikkan tubuhku menghadap Mas Arif.


"Sudah mas kunci pintunya?" tanyaku.


"Sudah sayang" jawab Mas Arif sambil menciumku.


Mas Arif melepas handuk yang melilit tubuhku, menciumi bagian tubuhku dari atas sampai bawa, aku masih berdiri menikmati segala sensasi kenikmatan yang diciptakan Mas Arif, aku menahan suaraku, aku mengusap rambutnya.


Akhirnya aku duduk di pinggir pembaringan, Mas Arif terus menciumi bagian sensitifku, aku rebahkan tubuhku, aku tutupi mukaku dengan bantal kuwatir suara kenikmatan dari bibirku terdengar dari luar, aku menggeliat, tapi Mas Arif tetap tidak melepaskan ciumanya, sampai aku sudah tidak tahan lagi.


"Mas...ayo" rengekku.


Mas Arif tersenyum puas melihatku, kemudian kami bercinta di sore hari ini sampai puas.


Aku bangun dari pembaringan dan menuju kamar mandi, Mas Arif mengikutiku.


Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku.


Mas Arif membuka kran shower, kami mandi bersama dibawah guyuran air shower.


"Rin, aku suka ini" kata Mas Arif sambil terus menciumi bagian tubuhku.


"Mas... sudah, nanti malam lagi" kataku.


Mas Arif memandangku dan mencium bibirku dengan lembut.


Kemudian tersenyum dan kami menyudahi acara mandi bersama.


Selesai berganti baju aku mengeringkan rambutku dengan handuk, setelah agak kering aku menyisirnya dan keluar dari kamar tidur, Mas Arif sudah duduk di kursi shofa dengan senyum kepuasan.


Pandanganku ke teras depan, Ibu sudah tidak ada disitu, mungkin sudah naik ke atas.


Aku menghampiri Mas Arif dan duduk di sebelahnya.


"Puas ya membuatku tak berdaya" bisikku pelan.


"He he he" Mas Arif tersenyum dan tertawa.


"Nanti malam lagi" kata Mas Arif sambil tersenyum.


"Gak capek Mas setiap hari bercinta" bisikku.


"Ya enggak, aku menahannya saja dua bulan, melepas kerinduan cuma dua minggu" kata Mas Arif.

__ADS_1


Kami ngobrol-ngobrol berdua sambil menemani Vano bermain, kemudian sholat maghrib berjamaah dan makan malam bersama.


__ADS_2