
Pagi hari aku masak sarapan di dapur membantu Ibu mertuaku yang sudah sehat kembali.
“Bu, kapan hari Vera telp Rinda, Vera mengabarkan sedang hamil bu, maaf baru hari ini mengabarkan ke Ibu” kataku di sela-sela aktifitas di dapur.
“iya gak apa-apa, Alhamdulillah kabar baik, semoga sehat selama mengandung Vera, Ibu rencana ke sana minggu ini Rin” kata Ibu.
“Aamiin, salam untuk Vera ya” kataku.
Setelah selesai urusan dapur, aku masuk ke kamar Vano untuk menyiapkan seragam dan lain sebagainya.
“Vano, ayo bangun” bisikku membangunkan Vano dari tidurnya
Aku goyang-goyangkan tubuhnya dan dia menggeliat.
“Masih mengantuk Bunda” jawabnya.
“Ayo bangun sudah jam enam lebih, belum sarapanmu” kataku.
Kemudian Vano membuka matanya dan duduk di kasur. Aku menciuminya dan
mengangkatnya turun dari kasur.
“Sudah jalan sendiri, sudah besar” kataku.
Vano menuju ke ruang keluarga menyalakan tv, aku menuju ke
dapur mengambil piring nasi dan lauk juga sayur untuk aku berikan pada Vano tak
lupa jus buah aku ambil dari kulkas.
“Vano makan sendiri ya, yang rapi jangan kececeran, Bunda mau mandi dulu” kataku.
Aku masuk ke kamar tidur, kulihat suamiku masih tidur dengan nyenyaknya, ya… semalam dia tidur di kamar bersamaku, aku masih memikirkan perkataannya semalam, sebegitu berartinya kah perempuan itu dalam hidupnya
sampai membuat dia merokok kembali ketika mengingatnya.
Hmmm, laki-laki mungkin dalam otaknya tidak cukup satu wanita, batinku dalam kecemburuan.
Aku biarkan dia tidur, aku ingin berangkat kerja sendiri, masih banyak pergolakan batinku, masih banyak hal yang belum aku ketahui juga belum ada jawabannya, lebih baik aku menenangkan diriku sendiri tidak banyak
berkomunikasi dengan suamiku daripada membuat kami salah paham dan bertengkar kembali.
Aku masuk ke kamar mandi untuk mandi kemudian bergantimpembalut dan keluar kamar berniat untuk berganti baju kerja, suamiku masih tidur dengan pulasnya.
Selesai berganti baju aku keluar kamar tidur pergi menuju ke dapur untuk menghangatkan air untuk mandi Vano sambil menunggu air panas aku sarapan dulu, ya sarapan sendiri di meja makan, beginilah kalau suami istri
lagi tidak enak hati, pasti rumah terasa sepi dan tidak nyaman, aku segera menyelesaikan sarapanku, kemudian menghampiri Vano yang sudah menyelesaikan makannya, melepas bajunya dan mengambil piring dan gelas tempat makan dan minumnya aku taruh di wastafel.
Aku ambi panci berisi air panas dan aku taruh di bak mandi dan aku isi dengan air dingin biar tidak panas airnya.
“Vano ayo mandi” teriakku.
__ADS_1
Vano menghampiriku dan masuk ke dalam bak mandi kemudian aku menyabuni tubuhnya dan membasuh kembali dengan air lalu kulilitkan tubuhnya dengan handuk.
“Ayo jalan” kataku.
Vano berhenti di ruang keluarga sambil melihat tv, aku menuju ke kamarnya mengambil baju gantinya dan minyak telon serta lotion untuk anak-anak.
Segera aku memakaikan minyak telon ke tubuh Vano dan lotion ke kulitnya, kemudian memakaikan baju seragam sekolahnya.
Waktu menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Aku masuk ke kamar tidur untuk berhias dan memakai kerudung, suamiku masih pulas tidurnya.
Selesai semua aku berangkat kerja, aku nyalakan sepedaku dan segera meninggalkan rumah Ibu mertua.
Sampai di tempat penitipan anak.
“Bu, selamat, Vano dapat juara dua se kabupaten lomba gambar kemarin, sebenarnya kemarin ada acara foto bersama dengan bupati, tapi Ibu sudah pulang duluan jadi kami yang mewakili” kata Bu Lia.
Aku tersenyum bangga mendengar kabar tersebut.
“Terima kasih Bu” ucapku.
Ada tropi sama piagamnya Bu” kata Bu Lia.
“Iya terima kasih, nanti waktu pulang saja Bu” jawabku.
“Saya pamit dulu, nitip Vano ya Bu” ucapku
Sebelum aku meninggalkan Vano aku memeluk dan mencium Vano.
Hari ini sangat berbeda sekali dengan hari biasanya, pertengkaranku kemarin karena pms juga pengakuan Mas Arif tentang perempuan di masa lalunya, juga Rista yang mengganggu pikiranku.
Aku nyalakan komputer di meja kerjaku, aku buka you tube, aku putar lagu-lagu santai dari sana berharap semoga suasana hatiku menjadi tenang.
“Rinda, sepertinya kamu ada masalah, dari tadi pagi kamu diam saja, biasanya banyak cerita” kata Nia.
“Gak kenapa-napa Nia, beberapa hari ini aku mikiran pacarnya mantanku itu” kataku.
“Kenapa lagi?” tanya Nia.
“Dia punya misi untuk mendekati Vano itupun suruhan dari mantanku” jawabku.
“Wadew gawat dong” kata Nia.
“Terus dia sudah bertemu Vano?’ tanya Nia penasaran.
“Sudah kemarin, saat lomba di Alun-alun itu” jawabku.
“Terus?” tanya Nia.
“Vano mulai tertarik dengannya, sudah Nia pusing aku ini, semoga Vano tidak bertemu lagi dengannya” jawabku.
__ADS_1
Waktu Istirahat tiba.
“Nia, ayo makan siang, aku sudah lapar ini” ajakku ke Nia.
“Tumben kamu lapar, apa kamu tidak sarapan di rumah?” tanya Nia.
“Sarapan sih, tapi sedikit” kataku.
Hp aku tinggal di meja kerjaku, aku berjalan keluar menuruni tangga menuju ke kantinya Mbak Yah, untuk makan siang, setelah memesan makanan aku duduk berhadapan dengan Nia di depan meja tersedia beberapa gorengan, aku makan satu gorengan sambil menunggu makanan yang kami pesan datang.
Tak lama kemudian Mbak Yah datang membawa pesanan kami.
“Terima kasih Mbak Yah” ucapku.
“Sama-sama” jawab Mbak Yah kemudian meninggalkan kami berdua.
Aku menikmati makanan tersebut setelah selesai aku membayarnya.
“Rin sekarang aku yang membayarnya” kata Nia.
“Dapat uang banyak ya?’ ledekku.
“Iya, kemarin aku dapat arisan” kata Nia.
“Sering-sering saja dapat arisan biar kamu nraktir aku tiap hari” kataku bercanda.
“He he he” Nia tertawa.
“Ayo sholat Rin!” ajak Nia.
“Aku lagi libur Nia, aku ke atas dulu ya” kataku.
Kemudian aku menaiki tangga naik ke kantorku, setelah sampai aku masuk ke dalam ruangan dan duduk di kurisku.
Aku ambi hp di atas meja, aku buka ada telpon berkali-berkali dari Mas Arif dan pesan masuk darinya.
“Rin, kenapa tadi pagi tidak membangunkanku, aku ingin mengantarkanmu, apa kamu masih marah denganku?, nanti malam kita bicarakan, aku tidak mau masalah terus berlarut-larut, Vano aku jemput” bunyi pesannya.
“iya” jawabku singkat dan hp aku matikan, aku masih malas berbicara dengan suamiku.
Aku meneruskan pekerjaanku, tak terasa waktu pulang sudah tiba, aku turun dari tangga dan berjalan menuju ke tempat parker sepeda, aku ambil sepedaku, aku masih malas pulang, lebih baik aku ke rumah ice saja,
batinku.
Aku mengendarai sepeda motor menuju rumah ice, disana tersedia berbagai macam rasa ice cream juga topingnya.
Aku duduk sendiri di sana setelah memesan ice cream.
Tak lama kemudian pelayan menghampiriku membawa ice cream yang aku pesan, aku mengambil ice cream dengan sendok kecil dan memasukkan ke dalam mulutku, mataku melihat lalu lalang kendaraan di depanku. Aku diam sendiri di sana, tapi tidak dengan pikiranku.
Cukup lama aku di situ,ice cream di depanku sudah hampir mencair karena hanya aku pandani dan aku aduk-aduk saja, aku hanya sedikit memakannya, sudah tidak nafsu makan.
__ADS_1
Kalau tidak ada Vano dengan Mas Arif mungkin hari ini aku langsung pulang ke rumah orang tuaku, tapi Vano ada di sana, apa yang akan dia katakan nanti malam tentang wanita masa lalunya itu?, antara penasaran dan cemburu menggelayut dalam benakku.
Akhirnya aku berdiri dari tempat dudukku menuju ke kasir dan membayarnya kemudian aku menyalakan sepedaku dan menuju ke rumah mertua.