
Di kamar mes terlihat Arif tidak tenang berkali-kali menelpon seseorang, kenapa telponku tidak diangkat oleh Rinda, ada apa denganya? apa terjadi sesuatu denganya, kata ibu, Rinda pulang ke rumah orang tuanya, apa Andi mengganggunya? pikiran Arif tidak tenang
Setelah meninggalkan ruang tamu Rinda menuju ke kamarnya meraih hp nya,
"Ya Allah... mas Arif telpon sampai sepuluh kali, pasti dia khawatir denganku" batinku
"Assalamualaikum mas Arif, maaf ya..." kataku
"Waalaikumsalam Rin kamu ada apa? kamu gak kenapa-napa kan?" tanyanya dengan nada khawatir
"Aku gak kenapa-napa mas.. tadi ada mas Andi kesini, aku menemuinya juga orang tuaku" kataku
"Apa...? dia kesana? kamu ajak dia pulang denganmu? kata mas Arif dengan nada marah
"Mas pikir aku ini apa? aku janda mas tapi aku punya harga diri, mas belum tau ceritanya bilang begitu?" kataku sambil terisak
"Dia kan gak tau rumahmu, kok bisa ketempat kamu kalau bukan kamu yang mengajaknya, apalagi sekarang posisimu pulang ke rumah" katanya dengan nada marah
"Mas... itu pikiranmu, aku tidak tau dia mengikutiku sampai rumah" kataku dengan terisak karena menangis
"Kamu nangis Rin?" tanyanya
"Kamu pikir aku tertawa apa? mas terlalu berfikir negatif ke aku, padahal aku tidak begitu" kataku tak kalah dengan nada jengkel
"Rin...oke sekarang kamu ceritakan ke aku semuanya, aku mendengarkan kamu" kata mas Arif dengan nada lembut
"Mas... tadi pulang kerja Vano itu minta makan ayam goreng, akhirnya aku ke warung lalapan dan makan disitu" mulai aku bercerita
"Terus Andi disitu?" mas Arif memotong ceritaku
"Enggak mas, aku selesai makan mau pulang, sepeda sudah aku hidupkan tiba-tiba dia sudah berdiri disampingku, ya begitulah, kayak mas gak tau saja bagaimana temanmu itu, aku tidak memperdulikan dia ngomong apa saja, aku langsung pulang mas, sampai dirumah baru saja aku menaruh Vano di tempat tidur, bapak memanggilku katanya ada tamu begitu" ceritaku
"Terus..kamu nemui?" tanyanya dengan nada curiga
"Ya iyalah mas, aku kan tidak tau kalau dia" jawabku
"Terus...?" tanyanya lagi masih penasaran
"Bapak ibuk juga nemui" kataku
"Mereka nerima keinginan Andi untuk memilikimu?" tanyanya
"Iya memang mas Andi ngomong mau nikahi aku mas, tapi langsung ditolak dan di usir sama bapak" jelasku lagi
"Hah... bapak mengusirnya, kenapa?" tanyanya
"Karena bapak tidak suka" kataku
"Terus saat bapak mengusirnya, bagaimana reaksinya?" tanyanya lagi
"Ya dia pergi begitu saja" jawabku
__ADS_1
"Rin... makasih ya... telah menjaga hatimu untukku" katanya
"Maafkan aku ya, sudah curiga dan tidak percaya sama kamu, I love you bidadariku" katanya
"Makasih ya mas, love you too calon imamku" kataku
"Mas..Vano bangun, sudah dulu ya?" kataku
"Rin... aku mau ngomong sama Vano" pintanya
"Vano, om Arif mau ngomong" kataku ke Vano sambil memberikan hp
"Om Arif... pulang kapan?" tanya Vano
"Hehehe baru seminggu setengah Vano, kurang dua bulan setengah om pulang, Vano minta dibawakan apa? tanya mas Arif
"Mainan pesawat om, om belikan ya, om sudah dulu ya, Vano mau main" katanya sambil menutup telpon dan menyerahkannya ke aku
Pagi hari cuaca begitu cerah, ini adalah hari libur hariku menikmati waktu, hari ini aku ingin memanjakan diri batinku, di rumah tidur-tiduran atau ke salon ya? pikirku, ke salon saja, terus Vano gimana ya? apa aku titipkan ibu saja, ibu repot enggak hari ini? batinku kuhampiri ibu di depan yang sedang menyirami tanaman
"Bu hari ini repot?" tanyaku
"Mau ke nenekmu Rin, Vano aku ajak ya?" kata ibu
"Iya bu gak apa-apa kebetulan Rinda mau ke salon" kataku
"Kamu siapkan keperluannya Vano dulu Rin" kata ibu
"Ibu lama enggak di rumah mbah?" tanyaku dari dalam
"Gak tau Rin, mungkin sore baru pulang" kata ibu
"Nanti kalau Rinda selesai, Rinda langsung ke mbah saja ya bu" kataku
"Terserah kamu Rin" sahut ibu dari luar
"Vano... nanti ikut mbah uti ke mbah Uyut ya" kataku
"Asyiikk pasti dapat telur bebek pulangnya" katanya
"Bunda ikut?" tanyanya
"Bunda ada urusan, nanti kalau Vano masih disana, bunda jemput disana" kataku
Setelah menyiapkan keperluan Vano dan sudah siap berangkat semua
"Vano jangan rewel ya... " pintaku
Vano mengangguk, kucium pipinya dan Vano berjabat tangan mencium tanganku, kuperiksa gendongannya Vano yang melekat di tubuh ibu, memastikan aman, bapak dan ibu berangkat ke rumah mbah, setelah itu akupun meninggalkan rumah setelah aku kunci pintunya menuju salon langgananku
Sampai di salon masih sepi mungkin masih pagi
__ADS_1
"Hai... lama tidak kesini kemana aja?" tanya pemilik salon dengan centilnya
"Di rumah saja mbak" jawabku
"Mau diapakan ini?" tanyanya
"Facial aja ya mbak?" jawabku
Aku menuju ruangan kecil untuk melepas jilbabku dan merebahkan tubuhku di tempat tidur kecil di ruangan itu, aku lihat karyawan salon ini sedang menyiapkan perlengkapan untuk facialku, kuambil hp mulai menelpon
"Assalamualaikum" sapaku
"Waalaikumsalam" jawabnya
"Tumben telpon pagi jam segini? belum mandi ya? katanya
"Eh... mas Arif itu yang belum mandi, sudah mandi aku, ini di salon mau facial" kataku
"Tumben Rin" katanya
"Pumpung libur mas, Vano ikut ibu ke embah, jadi mau menikmati waktuku begini" kataku
"Pasti tambah cantik kamu ya Rin, pingin segera pulang memelukmu" katanya
"Mas... aku juga kangen" kataku manja
"Rin... pingin pulang saja aku ini, dua setengah bulan kok lama banget ya" katanya
"Mas... nanti disambung ya.. ini mau facial aku" kataku sambil menutup telpon
"Maaf mbak ya" kataku
"Gak apa-apa" kata mbak nya
"Bisa dilanjut mbak" kataku
Satu jam lebih di salon ini, akhirnya selesai facialnya, merasa ringan wajah ini juga segar, aku pakai kerudung dan membayar kemudian meninggalkan salon tersebut.
Menuju rumah mbah, ya rumah mbah di desa di tepian bengawan solo, mbah tinggal bersama adiknya ibu yang kecil pohon-pohon masih banyak di sepanjang jalan menuju rumah mbah terlihat sejuk di pandang mata, sawah- sawah yang mulai ditanami padi, jalan masuk ke rumah mbah terlihat pelangi di sebelah timur, baru hujan sepertinya di sini tapi matahari masih bersinar
Sampailah di rumah mbah kulihat Vano berlari-lari menghampiriku
"Bunda...lihat Vano bawa apa?" katanya sambil menunjukkan sesuatu
"Loh... anak kelinci, lepaskanlah Vano kasihan nanti kalau mati bagaimana? tanyaku
"Di bawah pulang ya?" kata Vano
"Terus yang mencarikan rumput siapa? di rumah mbah uti jarang ada rumput" kataku
"Di rumah nenek, di belakang rumah bunda banyak rumput" katanya
__ADS_1
"Itu rumput hias Vano, bukan rumput untuk di makan kelinci" kataku