
Sampai di rumah aku membuka pintu pagar memasukkan sepeda di garasi kemudian menutup pintu pagar kembali dan masuk ke dalam rumah, Vano asyik bermain di karpet ruang keluarga, sepertinya dia dapat mainan baru, tak terlihat Mas Arif di situ.
Aku membuka pintu kamar tidur bertemu dengan suamiku yang tersenyum menyambutku akupun tersenyum, ya senyum terpaksa bisa di bilang begitu, kemudian aku duduk di kursi membuka kancing jilbabku. Masih belum ada pembicaraan di antara kami.
Aku berdiri dari kursi dan berniat untuk menaruh kerudungku di gantungan, suamiku memelukku dari belakang dan berbisik.
"Rin... jangan marah lagi, suamiku ini kalau kamu buat seperti ini juga tidak enak, sudah berapa lama kamu mendiamkanku, aku rindu senyumanmu?"
Aku hanya diam dan melepaskan pelukannya kemudian duduk di kursi tadi setelah menaruh kerudungku di gantungan.
"Kamu merindukanku apa merindukannya?" jawabku masih jengkel, ya antara jengkel dan cemburu.
"Rin, untuk apa sih kamu mengungkit masa laluku terus?' tanya Mas Arif.
"Karena masa lalumu itu penuh rahasia, penuh lika-liku" kataku dengan jengkel.
"Terus aku ini harus bagaimana?" tanya Mas Arif lagi.
"Ya terserah Mas lah" jawabku dan berlalu meninggalkan suamiku menuju kamar mandi.
Tangan suamiku menarik pergelangan tanganku dan lagi-lagi aku jatuh di pelukannya.
"Jangan menghindari dari masalah" kata Mas Arif.
"Tidak menghindar tapi malas membicarakannya" kataku lagi.
"Kamu mau tau sejauh apa masa laluku, aku siap menceritakannya" kata Mas Arif pelan.
"Tidak perlu, Mas, terus saja mengenang masa lalumu yang indah itu, pantas saja sepuluh tahun kamu melupakanku dan memang selama itu kamu sedang bersenang-senang sama perempuan lain" kataku masih marah.
"Setelah kamu kecewa atau mungkin kamu ditinggalkan perempuan-perempuanmu itu kamu mencariku" kataku lagi.
Mas Arif tidak menjawab perkataanku segera, tapi tetap memeluk tubuhku dalam pangkuannya.
"Sudah lepaskan tanganmu ini, kalau Mas mau kembali dengannya silahkan, aku sudah biasa sendiri, aku sudah biasa kecewa, aku juga sudah biasa disakiti, jangan merayuku" kataku.
__ADS_1
Mas Arif semakin keras memelukku dan menyadarkan kepalanya di pundakku, mencium pipiku, aku diam diperlakukan seperti itu tanpa ada balasan untuknya.
"Rin... aku sudah tidak berhubungan dengan masa laluku, aku sudah meninggalkan semuanya, kenapa kamu mempermasalahkannya?" bisik Mas Arif.
"Apa pernah kamu merasa kehilanganku selama kamu tidak menemukanku sepuluh tahun seperti kamu kehilangan perempuan yang kamu tiduri itu" kataku semakin jengkel.
"Rinda, kamu tidak tau apa yang aku rasakan waktu itu, kamu cintaku, kamu yang sebenarnya kau perjuangkan sampai hari ini" katanya kembali.
"Gak butuh rayuanmu, aku besok mau pulang ke rumah orang tuaku, kalau Mas mau mencari cintamu itu silahkan" kataku lagi.
"Aku tidak mengijinkanmu" jawab Mas Arif dengan tegas.
"Kenapa?" tanyaku.
"Karena kamu istriku dan selamanya kamu istriku" jawab Mas Arif.
"Terus?" tanyaku kembali.
"Aku hanya menginginkamu sekarang dan selamanya" jawabnya.
"Rin... sudah berapa kali aku ceritakan, aku tidak berhubungan lagi dengannya, sudah berapa kali aku cerita? hanya kamu istriku dalam hidupku" jawabnya.
Aku hanya diam saja, hatiku masih sangat marah, dia menikahiku tapi hatinya masih memikirkan perempuan lain.
"Iya di buku nikah aku istrimu, bukan di hatimu, di hatimu masih ada perempuan lainnya yang selalu ada dalam pikiranmu" kataku lagi setelah menghela nafas panjang.
Aku berdiri dari pangkuan suamiku dan menuju kamar mandi, disana aku terisak menangis, kalau semalam aku tidak bangun tidur dan menemukannya merokok di belakang rumah dan dia tidak bicara tentang perempuan itu mungkin aku tidak tau bagaimana Mas Arif begitu teringat dengan wanita tersebut.
Aku berumah tangga jarak jauh apa aku juga tau seperti apa dia di luar sana, apa aku tau apa dia masih suka menghubungi perempuan tersebut, sedangkan aku sendiri jarang sekali melihat isi hpnya, apa aku ini terlalu bodoh dan terlalu percaya sama suamiku, sehingga aku mudah sekali percaya dengan omongannya, bahkan waktu masih satu sekolahan denganku dia yang sering di kirimi sarapan sama temannya yang sangat menyukainya saja aku tidak tau.
Kran shower aku nyalakan aku menangis sepuasku dalam guyuran air shower, entah sudah berapa lama aku di kamar mandi ini, aku sudah merasa kedinginan tapi aku enggan untuk keluar kamar mandi, aku ambil handuk aku lilitkan ke tubuhku, aku terduduk di kloset duduk yang sudah aku tutup, aku diam di sana terpaku, apa aku terlalu cemburu, batinku.
Pintu kamar mandi di ketuk dari luar, aku tau itu suamiku, aku biarkan saja.
"Rinda... buka pintunya, kamu sudah satu jam di dalam, jangan buat aku khawatir" kata Mas Arif.
__ADS_1
Aku tak menjawabnya.
Sekhawatir apa memangnya kamu denganku, hanya di mulutmu saja, sedangkan di hatimu masih memikirkan perempuan lainnya, batinku.
"Rinda, aku dobrak pintunya ini" kata Mas Arif.
Dari pada ketahuan Vano juga Ibu mertua, lebih baik aku keluar membukakan pintu, batinku.
Aku melangkahkan kakiku dengan balutan handuk karena bajuku sudah basah tadi.
Aku buka grendel pintu kamar mandi, dan memandangi suamiku yang terlihat khawatir di depan pintu, aku tak bicara sekata patapun, aku berjalan menuju almari untuk berganti baju, memang enak di diami istri, batinku, makanya jadi lelaki itu yang bener, mulut suka di sini, hati masih mikirin di sana.
Mas Arif mendekatiku ketika aku memasang bra, kemudian memelukku dari depan.
"Rin, sampai kapan kamu begini sama aku, aku minta maaf sekali, sikapmu seperti ini sungguh sangat menyakitiku" kata Mas Arif pelan.
"Kamu pikir sikapmu seperti itu juga tidak menyakitiku?" jawabku.
Semakin erat suamiku memelukku kemudian menciumi bibirku dengan lembut dan melepaskannya.
"Rin... sudah jangan marah lagi, kamu minta apa aku turuti" katanya lagi.
"Aku minta pulangkan ke rumah orang tuaku sekarang" pintaku dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak akan aku memulangkanmu ke rumah orang tuamu, kamu istriku, aku sangat mencintaimu" jawab Mas Arif.
"Cinta yang kamu paksakan" kataku lagi.
"Rin, aku harus bagaimana lagi biar kamu percaya sama aku?" tanya Mas Arif.
"Tinggalkan aku, dan kembalilah sama perempuan yang sudah kamu perawani itu, kasihan hidupnya, kehormatannya sudah hilang karenamu, pasti kalian pernah sangat mencintai sampai itu terjadi, aku tau kamu masih memikirkan dia" jawabku kemudian aku lepaskan pelukan suamiku dan memakai baju.
Setelah memakai baju aku keluar kamar tidur menuju ke taman belakang rumah duduk di sana sambil melihat dedaunan yang di sinari cahaya lampu temaram taman.
Cukup lama aku di sana, suamiku tidak menghampiriku, rumah memang terasa sepi, aku tak tau sudah berapa lama aku di sini, perasaan adzan isya sudah lama, Vano juga tidak mencariku, biarkanlah.
__ADS_1
Aku hanya ingin menenangkan hatiku di sini sampai larut malam.