
Minggu sore ketika aku rebahan di kamar, hpku berbunyi, beranjak dari tempat tiduk mengambil hp dan aku angkat telpon dari Mas Arif.
“Assalamualaikum Mas, bagaimana kabarnya disana?” tanyaku.
“Waalaikum salam, Alhamdulillah baik,” jawab Mas Arif.
“Kamu baik-baik saja Rin di sana, bagaimana dengan kehamilanmu? Apa masih mual?” tanya Mas Arif.
“Alhamdulillah Rinda baik-baik saja Mas, anakmu juga pinter gak begitu menyusahkanku, mungkin tau Ayahnya tidak di sini,” jawabku.
“Rin, aku pulang agak lama lagi.” Arif mulai bercerita.
“Loh kenapa Mas?” tanyaku penasaran.
“Keputusan sini Rin, karyawan yang kemarin dapat cuti tambahan itu maka mengembalikan lama cutinya untuk bekerja, jadi aku 5 lima minggu lagi baru pulang, kamu gak apa-apa, kan?” tanya Mas Arif.
“Lama sekali sih Mas,” kataku kecewa.
“Lah bagaimana lagi Rin, sudah menjadi aturan,” kata Mas Arif.
“Terus nanti cutinya hanya 2 minggu saja?” tanyaku.
“Iya,” jawab Mas Arif.
“Ah… gak asyik,” kataku.
“Tapi setidaknya kita bisa bertemu, aku bisa melihat langsung perutmu yang buncit itu,” kata Mas Arif.
“Apa menariknya perut buncit, gendut begini.” Aku merajuk.
“Ya menarik Rin, di dalamnya ada anak kita,” kata Mas Arif.
Aku tersenyum mendengarnya.
“Kamu sudah makan?” tanya Mas Arif.
“Sudah Mas, Ibu yang memasak tadi, Mas Arif sendiri sudah makan?” tanyaku.
“Sudah Rin, aku tadi keluar sama teman-teman ke Timika.” Cerita Mas Arif.
“Rin, temanmu kantor, sapa itu yang dulu pernah kerumah namanya siapa?” tanya Mas Arif.
“Nia namanya, kenapa memangnya?” tanyaku penasaran. Dalam hati tumben suamiku bertanya tentang teman-temanku.
“Dia masih lajang? Punya calon apa tidak?” tanya Mas Arif.
“Loh kok tumben tanya itu, ada apa?” tanyaku penasaran.
“Ini ada dua temanku Deni sama Yusuf mau cari istri, barangkali berjodoh sama temanmu.” Mas Arif mengungkapkan keinginannya,.
“Coba besok aku tanyakan pada Nia sama Widya tentang ini ya,” kataku.
“Aku kok tidak bertanya sama Nia ya, kapan hari kan cerita mau ada cowok yang mau bertemu keluarganya, kelanjutanya bagaimana Rinda tidak bertanya,” kataku kemudian.
“Coba besok di tanyakan ya Rin,” kata Mas Arif mengingatkan.
__ADS_1
“Insyaallah Mas,” kataku.
“Sudah dulu Rin, jaga diri baik-baik ya.” Pesan Mas Arif.
“Iya Mas, love you,” kataku.
“Love you too,” jawab Mas Arif kemudian telpon dimatikan.
Aku menaruh hp di meja kemudian keluar kamar. Kulihat Vano sedang asyik bermain dan Ibu sedang memasak di dapur, aku duduk di sofa dan kembali merebahkan tubuhku di sofa.
“Rin, kamu kenapa kok lemas begitu, ini sudah matang, kamu makan dulu,” kata Ibu.
“Gak tau Bu, kepalaku sering pusing sekali,” kataku.
“Kamu istirahat saja Rin.” Pinta Ibu.
Vano menghampiriku dan menciumiku kemudian mencium perutku.
“Bunda, adik kenapa di dalam, apa main-main juga?” tanya Vano dengan polosnya.
“He he he, adikmu sedang berenang di dalam,” jawabku.
“Bisa renang ya Bunda, Vano kok belum bisa renang?” tanya Vano.
“Iya di dalam kan ada cairan jadi bisa berenang demikian juga saat Vano di dalam juga berenang, kadang gerakan Vano dulu Bunda rasakan loh.” Ceritaku.
“Oh…” kata Vano, kemudian kembali bermain lagi.
Ibu menghampiriku dan duduk di sampingku yang sedang berbaring.
“Lima minggu lagi Bu, gak jadi dua minggu lagi, karena harus mengganti tambahan cutinya kemarin,” jawabku.
“Disana sudah aman, kan?” tanya Ibu.
“iya Alhamdulillah aman Bu, ini tadi barusan telpon Rinda mengabarkan kalau cutinya ditunda yang harusnya dua minggu lagi di ganti menjadi lima minggu lagi.
“Sabar Rin, Arif sendiri gak ada keinginan untuk menetap di sini, pernikahan jarak jauh banyak resikonya,” kata Ibu.
“Ya itu bagaimana kita menyikapinya saja Bu, kalau yang menjalani tidak menghargai pernikahannya ya bisa jadi di sana main perempuan demikian juga yang perempuan akan selingkuh juga,” kataku.
“Iya Rin, semoga keluargamu baik-baik saja sampai maut memisahkan.” Doa Ibu.
“Aamiin,” jawabku.
“Ayahnya Vano bagaimana? Apa masih menghubungimu?” tanya Ibu.
“Ada tiga mingguan ini gak menghubungiku juga menemui Vano di sekolahnya,” jawabku.
“Semoga dia tidak mengganggumu Rin, tidak mengganggu rumah tanggamu,” Ibu berharap.
“Aamiin,” jawabku.
Kami terus ngobrol-ngobrol banyak hal dengan Ibu, tak terasa sudah mau maghrib, Vano sudah harum bau tubuhnya karena sudah mandi.
Adzan maghrib berkumandang kami segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah diimami oleh Ibu.
__ADS_1
Selesai sholat kami kembali ke ruang keluarga.
“Rin, kamu gak makan lagi?” tanya Ibu.
“Iya Bu, sudah mulai lapar ini, he he he,” kataku dan tertawa.
“Vano ayo makan, Ibu ayo bareng makan.” Ajakku ke Vano dan Ibuku.
Kami berjalan ke meja makan dan makan masakanya Ibu, selesai makan kami kembali ke ruang keluarga untuk mengobrol.
“Ibu mertuamu lama ya di Jogja,” kata Ibu.
“Kenapa? Ibu kangen ya sama Bapak?” godaku.
“Mikirin Bapakmu disana makannya bagaimana,” jawab Ibu.
“Warung banyak yang buka Bu, Bapak pasti makan di warung, bilang saja kalau kangen.” Godaku kembali.
“Kamu ini Rin, bisa saja,” jawab Ibu tersipu malu.
“Vano kamu sudah mengantuk?” tanyaku.
“Iya Bunda,” jawab Vano.
“Ayo ke kamar.” Pintaku.
Vano membereskan mainanya di masukkan ke dalam keranjang setelah bersih dia berjalan menuju ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya aku menunggunya sampai dia tidur.
Setelah Vano tidur aku mengunci pintu pagar dan pintu rumah kemudian kembali menemui Ibu yang sedang melihat acara tv.
“Vano sudah tidur Rin?” tanya Ibu.
“Iya Bu, sudah malam, Ibu tidak tidur?” tanyaku.
“Belum mengantuk Rin, kalau kamu sudah mengantuk kamu tidur duluan,” kata Ibu.
“Iya Bu, Rinda sholat Isya dulu kemudian tidur.” Pamitku.
Aku mengambil wudhu dan menjalankan ibadah sholat isya, setelah itu aku masuk ke dalam kamar berniat untuk tidur, sebenarnya mataku sudah mengantuk tapi kok susah tidur, aku usap-usap perutku, “Sedang apa kamu
di sana nak, Ayahmu pulang lima minggu lagi, kamu pasti senang bertemu dengan ayahmu.” Gumamku.
Aku lihat jam di dinding kamar sudah jam 9 malam, mau menelpon Mas Arif tapi di sana sudah jam 11 malam, pasti Mas Arif sudah tidur, besok saja telpon, pikirku.
Aku mulai memejamkan mataku tapi tidak juga bisa tidur, akhirnya aku keluar kamar tidur, kulihat Ibu masih melihat acara tv sambil rebahan di sofa, aku mengambil buku di perpustakaan rumah tersebut. Ketika ibu
melihatku dan bertanya, “Belum tidur Rin?”
“Belum bisa tidur Bu, gak tau kenapa kok susah tidur,” jawabku.
“Jangan banyak pikiran Rin, sudah kamu tidur, besok kan kamu bekerja,” kata Ibu.
“Iya kerja Rinda Bu, makanya Rinda ambil buku ini untuk di baca biar bisa tidur, Rinda masuk dulu Bu.” Pamitku.
“Iya Rin, aku juga mau tidur,” kata Ibu sambil mematikan tv dan berjalan menuju kamar Vano, aku masuk ke dalam kamar tidur, merebahkan tubuhku, membaca buku dan rasa kantuk mulai menyerangku kemudian aku tertidur.
__ADS_1