
Seminggu kemudian acara Faris lamaran. Pak Dirman pagi sekali membawa mobil menjemput Bapakku, Embah, Bibi dan Paman di dampingi Faris, sedangkan Ibu menyiapkan semua yang harus di bawa saat lamaran nanti, semalam Ibu di antar Pak Dirman belanja kue untuk di bawa acara lamaran.
Beberapa menit kemudian mobil yang di sopiri Pak Dirman kembali.
Embah, Bibi, Paman, Bapak, Faris turun bergantian dari mobil menuju ke dalam rumah, aku menyalami semuanya dan mempersilahkan duduk.
“Ibu mertuamu kemana?” tanya Bi Asih.
“Di Jogja Bi, sedang merawat anaknya,” jawabku.
“Sedang sakit?” tanya Bi Asih.
“Sedang hamil juga Bi, tapi adik iparku ini sering keguguran, kabar terakhir ngeflek lagi,” jaawabku.
“Kasihan ya Rin, semoga tidak apa-apa, kamu sudah berapa bulan ini?” tanya Bi Asih sambil mengusap perutku.
“Tiga bulan Bi,” Jawabku.
“Asih, jangan ngobrol saja, ini di bantu memasukkan ke mobil!” kata Ibu.
“Bentar ya Rin,” kata Bi Asih dan membantu memasukkan kue juga seserahan ke dalam mobil.
Pagi ini terlihat sangat sibuk di rumah mertua, silih berganti memasukkan ke dalam mobil dan pada akhirnya selesai, waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
“Loh Vano mau kemana?” tanyaku ketika masuk ke dalam mobil.
“Vano mau ikut,” jawabnya.
“Kok gak bilang dari tadi sih Vano, Bunda kan bisa menyiapkannya,” kataku.
“Pak Dirman sebentar ya, mau ambil perlengkapannya Vano.” Pesanku ke Pak Dirman.
“Gak apa-apa Mbak,” jawab Pak Dirman.
Aku masuk ke dalam kamarnya Vano membawa baju gantinya, susu dan beberapa kue untuk Vano dan aku masukkan ke dalam tas kecil.
Keluar rumah menuju ke mobil yang sudah berada di depan pintu pagar.
Memanggil Vano untuk keluar mobil dan berkata, “Vano, ayo turun sebentar.”
“Enggak mau, Vano mau ikut.” Rengeknya.
“Iya ikut, tapi masak pakai baju sandal begitu, ini Bunda mau gantikan.” Rayuku.
“Gak mau turun,” kata Vano.
“Sudah Rin, jangan bertengkar sama anak, mana bajunya nanti aku gantikan di jalan,” Kata Ibu menengahi kami.
“Iya Bu.” Jawabku sambil memberikan tas kecil dan baju gantinya Vano kemudian di terima oleh Ibu.
“Ayo salim dulu sama Bunda!” Pintaku ke Vano.
Dengan senyum puas Vano memandangku dan mengulurkan tangan mungilnya kepadaku untuk bersalaman dan mencium punggung tanganku.
Kemudian tubuhku masuk ke dalam mobil mendekatkan diri pada Vano memeluk dan menciuminya.
“Hati-hati anak Bunda, jangan nakal dan rewel!” Pesanku kemudian pintu mobil aku tutup aku melambaikan tangan kepada keluargaku.
Dari luar pagar mataku memandang kepergian keluargaku untuk acara lamarannya Faris, sampai mobil tidak terlihat baru aku masuk ke dalam rumah dan menutup pintu pagar.
__ADS_1
Rumah terlihat kotor sekali, akhirnya aku mulai menyapu rumah dan mengepel lantainya.
Waktu menunjukkan pukul 10 siang, santai-santai saja sambil lihat tv, batinku.
Aku duduk dan merebahkan diriku sambil melihat acara tv, dan mulai terpejam mataku.
Beberapa saat kemudian.
Aku terbangun dari tidurku, kulihat jam masih jam 11 siang, berarti hampir satu jam aku tidur, perutku merasa lapar, aku melangkah menuju ke meja makan mengambil beberapa makanan untuk aku makan, sejak hamil ini aku doyan nyemil.
Aku berdiri dari kursi di meja makan kemudian membuka kulkas, siomay dan nugetnya sudah habis, pesan online saja setelah ini, pikirku.
Di rumah hanya aku sendiri, sangat sepi sekali, terbayang seperti apa Ibu mertuaku dulu sebelum aku tinggal di sini.
Masuk ke dalam kamar mengambil hp berniat untuk memesan makanan secara online, setelah selesai aku mengambil sejumlah uang dan membawa hp kemudian berjalan menuju ke teras rumah dan duduk di sana.
Memandang kendaraan yang melintas di depan rumah dan anggrek bulan yang sedang berbunga membuat hatiku tenang, hampir tiga bulan tidak bertemu suamiku, semoga di sana dia selalu menjaga hatinya hanya untukku.
Sedang apa Mas Arif di sana? Batinku, lebih baik aku video call saja.
Tak berapa lama telpon diangkat, terlihat Mas Arif sedang makan bersama dengan Mas Deni.
Aku tersenyum memandang suamiku, ingin rasanya segera bertemu.
“Makan apa Mas?” tanyaku.
“ini makan spaghetti,” jawab Mas Arif.
“Enak enggak?” tanyaku.
“Enak sih, di sana gak ada ya yang jualan begini ya?” tanya Mas Arif sambil menunjukkan spaghetti.
“Ah Mas Arif gak asyik tau hanya memperlihatkan gambar saja,” kataku agak jengkel.
Aku menganggukkan kepalaku.
“Nanti buat sendiri, kan banyak itu di mini market yang jualan tinggal masak saja,” jawab Mas Arif.
“Aku buat juga bisa Mas, tanpa menunggu Mas pulang,” kataku dengan raut muka sedih.
“Rin, kenapa sih lihat makanan ini jadi bersedih begitu?” tanya Mas Arif.
“Anakmu minta spaghetti,” jawabku.
Mas Arif tersenyum dan tertawa
“He he he mana ada anak belum lahir minta spaghetti, itu yang mau ya Ibunya.” Ledek Mas Arif.
“Coba mas saja yang mengandung biar tau rasanya kalau sedang pingin sesuatu itu menyiksa banget,” jawabku.
“Sudahlah jangan ngambek begitu, keluargamu sudah berangkat ke Ponorogo? Terus Vano di mana?” tanya Mas Arif.
“Iya tadi pagi jam delapan berangkat, mungkin nanti malam sampai di sini, Vano tadi ikut ke Ponorogo juga Mas,” jawabku.
Melihat suamiku dari layar hp sambil memakan spaghetti di depanku, hmmm rasanya air liurku ini sudah mau keluar, ih suamiku hanya pamer saja sih, batinku.
“Kamu nanti jadi ke klinik?” tanya Mas Arif.
“Iya Mas, nanti jam 3 an gitu berangkat, naik sepeda motor saja,” jawabku .
__ADS_1
“Mas sudah dulu ya, lama-lama air liurku tumpah ini lihat Mas makan spaghetti,” kataku.
Mas Arif menggelengkan kepalanya, tersenyum dan melambaikan tangannya seraya mau mengakhiri telponnya.
Masih duduk di teras rumah, beberapa saat kemudian kurir datang membawa pesananku tadi aku berjalan menghampirinya yang sedang berdiri di luar pintu pagar dan menyerahkan pesananku kemudian aku menyerahkan sejumlah uang kepadanya.
Masuk ke dalam rumah untuk memasukkan makanan yang aku pesan tadi ke dalam freezer.
Sore hari jam tiga sore aku meninggalkan rumah Ibu mertua menuju ke klinik dokter Lisa dengan mengendarai sepeda motor dengan hati-hati.
Sampai di klinik aku daftar dulu dan mendapatkan nomer antrian kemudian aku duduk menunggu.
Hp ku berbunyi dari dalam tasku.
“Assalamualaikum Mas” salamku untuk Mas Arif.
“Waalaikum salam Rin, kamu sekarang di mana?” tanyanya.
“Sudah di klinik dokter Lisa Mas, ini dapat antrian nomer sepuluh,” kataku.
“Iya Rin hati-hati, nanti kabari hasilnya ya, semoga baik-baik saja.” Harap Mas Arif.
“Iya Mas, insyaallah nanti setelah sampai rumah aku kabari,” kataku.
“iya Rin, sudah dulu ya, nanti di sambung lagi, love my wife, miss you.” Ucap Mas Arif.
“Aku juga rindu Mas, tiga minggu lagi Mas pulang serasa tiga tahun ya.” Tak terasa Air mataku mulai berkaca-kaca, hamil tak di damping suami rasanya tidak enak sekali.
“Sabar ya Rin, sudah jangan bersedih, aku pasti pulang. Sudah dulu ya, Assalamualaikum,” kata Mas Arif.
“Waalaikum salam,” jawabku dan telpon kumatikan.
Satu setengah jam berlalu, namaku di panggil dan aku masuk ke dalam, duduk di hadapan dokter Lisa yang bagiku sangat sabar mendengar keluh kesah pasiennya. Karena tidak ada keluhan berarti, berat badanku juga sudah naik kemudian tensiku juga normal 120/75. Aku naik ke bed pasien untuk usg melihat seperti apa anakku di dalam rahimku.
Melihat layar di depanku, subbhanallah kuasa-Mu ya Allah Engaku menciptakan manusia begitu indahnya, tak terasa mataku mulai berkaca-kaca.
“Bu, kondisi anaknya baik-baik saja, dan perkembangannya sangat bagus,” kata dokter Lisa membuatku semakin bahagia.
Keluar dari klinik dokter Lisa kemudian menuju kasir dan apotik, sambil menunggu obat aku wa suamiku mengabarkan kalau anaknya baik-baik saja, namaku dipanggil dari apotik, menuju ke sana mengambil obat dan aku meninggalkan klinik, tapi aku mampir ke minimarket untuk membeli spaghetti kemudian pulang.
Sampai di rumah sudah hampir jam 6 sore aku segera melaksanakan sholat maghrib, kemudian berdoa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan kepada keluarga kami.
Duduk di ruang keluarga sambil makan spaghetti yang barusan aku masak, aku nyalakan tv melihat acara tv, beberapa jam kemudian terdengar mobil berhenti di depan rumah, sepertinya keluargaku pulang dari Ponorogo.
Aku keluar rumah, Ibu dan Vano turun dari mobil sedangkan lainnya langsung pulang ke rumah masing-masing diantar oleh Pak Dirman.
Vano terlihat sangat mengantuk, aku mengajak ke kamar mandi untuk cuci tangan kaki, basuh mukanya kemudian mengganti bajunya dan segera tidur.
“Ibu lelah?” tanyaku.
“iya Rin, jauh sekali,” jawab Ibu sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Waktu sudah hampir jam 10 malam, beberapa saat kemudian terdengar mobil berhenti, aku keluar ternyata Pak Dirman yang datang, kubuka pintu pagar dan berkata, “Pak langsung masuk saja.”
Mobil masuk ke dalam garasi, Pak Dirman keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke arahku.
“Pak ini,” kataku sambil memberikan amplop berisi sejumlah uang.
Pak Dirman membuka dan menghitungnya di hadapanku dan bertanya, “Mbak kok banyak?”
__ADS_1
“Iya gak apa-apa,” jawabku,
“Terima kasih Mbak.” Ucap Pak Dirman sambil memberikan kontak mobil kemudian menaiki sepeda motornya dan meninggalkan rumah mertua, aku menutup pintu pagar dan masuk ke dalam rumah mengunci pintu dan mematikan beberapa lampu.