
Kumelangkah ke halaman belakang kulihat bapak duduk di halaman belakang sendiri sambil memisahkan pisang.
"Pak...lagi sibuk?" tanyaku.
"Rinda kemana?" tanya Bapak.
"Di rumahku sama Ibu, kurang enak badan, Pak ada waktu?" tanyaku.
"Iya Rif, ada apa?" tanya Bapak.
"Sebelumnya Arif minta maaf, Pak... apa Rinda pernah mengalami trauma? depresi?" tanyaku.
"Iya Rif lama kejadianya itu, sampai sekarang Bapak tidak tau apa yang sudah terjadi dengan Rinda, waktu itu Rinda tidak pulang sehari semalam, begitu pulang dia diam terus di kamarnya ketakutan tidak mau makan mandi, dia diam terus sambil nangis, akhirnya Bapak bawa ke psikiater di rumah sakit, katanya ada kejadian yang menimpanya sehingga dia mengalami depresi, seminggu baru dia bisa ngomong sama kita, psikiaternya tidak menceritakan apa yang sudah terjadi dengan alasan tidak boleh Rinda menceritakanya pada kami, Bapak tidak begitu peduli ada apa, yang penting Rinda kembali seperti dulu"cerita Bapak.
"Apa Rinda sekarang depresi lagi? tanya Bapak kemudian.
"Iya... sekarang ditangani Ibu, tadi aku ke rumah Rinda seperti ketakutan, aku ajak pulang ke rumah bertemu Ibu" jelasku.
"Makasih ya Rif" kata Bapak.
"Saya yang minta maaf ke Bapak, tidak bisa menjaga Rinda" kataku.
"Saya mau jemput Vano dulu Pak terus pulang ke Ibu" kataku dan berjalan meninggalkan Bapak.
Di ruang keluarga, masih seperti tadi berkumpul disana ada bibi, ibu sama embah dan Vano
"Arif langsung pulang dulu Bu, gak tenang ninggalin Rinda di rumah" kataku.
"Hati-hati ya Rif" kata Ibu
Aku berjabat tangan ke mereka kemudian menggendong Vano menuju mobil.
"Rif...ini tas nya Vano?" kata Ibu.
"terima kasih Bu" kataku.
"Nitip Rinda ya Rif" kata Bapak, aku menganggukkan kepalaku dan meninggalkan rumah mbah melaju menuju rumahku, Vano di kursi tengah bermain sendiri, pikiranku masih tidak tenang memikirkan Rinda.
******
Di rumah mbah
"Pak... kenapa ya dengan Rinda, Arif sepertinya khawatir" tanya Ibu.
"Iya kenapa dengan Rinda" tanya Embah.
"Rinda depresi lagi, Arif menemui Rinda di rumah tadi pagi terus membawanya pulang, sekarang ditangani Ibunya sendiri, Ibunya Arif kan psikiater" kata Bapak.
__ADS_1
"Ya Allah Rinda... ada apa dengan Rinda lagi Pak?" tanya Ibu sambil menangis.
"Sudah Bu gak usah menangis, Arif sama Ibunya pasti bisa mengatasi Rinda" kata Bapak menenangkan Ibu.
"Apa setelah ini kita kesana saja?" kata Ibu.
"Iya gak apa-apa?" kata Bapak.
"Bapak tau rumah Arif?" tanya Ibu.
"Gak tau juga, aku telp hp nya Rinda minta alamatnya Arif" kata bapak, beberapa saat kemudian
Bapak menelpon, tapi tidak terangkat hp nya
"Bu berkali- kali aku telpon tidak ada yang mengangkat" kata bapak
"Apa hp Rinda di rumah?"kata ibu
"Ayo sekarang pulang saja bu?" kata bapak
Arif dan Vano sudah sampai rumah disambut ibu.
"Nenek, bunda mana?" tanya Vano.
"Jangan rame ya Vano, bunda masih tidur" kata ibu.
"Masih tidur Rinda bu?" tanyaku.
aku dan ibu melihat Rinda tidur pulas.
"Bu...ada yang aku ceritakan ke ibu" kataku.
"Di belakang rumah saja Rif" kata ibu, aku mengikuti ibu berjalan ke belakang rumah dan duduk di kursi taman belakang.
"Bu..tadi bapaknya Rinda cerita ke Arif, dulu Rinda pernah tidak pulang ke rumah sehari semalam, pulang mengurung diri tidak mau ngapa-ngapain dan ketakutan akhirnya di bawa ke rumah sakit ternyata depresi, ada kejadian yang menimpa Rinda, yang tidak pernah diketahui oleh keluarganya karena Rinda tidak pernah boleh pihak rumah sakit untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Kira-kira kapan ya Rif kejadianya?" tanya ibu.
"Mungkin kejadianya waktu Rinda diberi obat itu, atau bisa jadi tidak diberi obat bu?" tanyaku.
"Apa sekitar empat tahun yang lalu ya?" kata ibu seperti mengingat sesuatu.
"Dulu... pernah ada seorang teman yang menceritakan clientnya padaku, ada clientnya di kunci di ruangan kecil dan di perkosa disana, selama sehari semalam tidak boleh keluar, tapi clientnya itu begitu cepat bisa melewati depresinya, apa itu Rinda? oh iya.. teman ibu juga bercerita kalau clienya itu mendatanginya lagi beberapa tahun kemudian kalau dia tidak bisa melakukan hubungan badan dengan suaminya yang ternyata orang yang memperkosanya" cerita ibu.
"Sepertinya itu Rinda Bu, begitu banyak rahasia hidupnya yang tidak aku ketahui, dia cerita sesuatu ke aku untuk menutupi lukanya" kataku.
"Rif... kamu ceritakan Ibu apa kamu tadi seperti memperkosa Rinda?" tanya Ibu
__ADS_1
aku menganggukkan kepala.
"Rif...Arif... banyak puasa biar nafsumu terkendali" kata Ibu.
"Kamu lihat Rinda di kamar, kamu sekarang memperlakukan Rinda jangan kasar, lebih halus Rif, usahakan dia nyaman" kata Ibu
Aku melangkah menuju kamar Rinda, Vano mengikutiku, Vano mencium pipi bundanya dan naik ke atas kamar, aku duduk di kursi yang aku geser mendekati Rinda, aku pegang tanganya, aku ciumi.
"Mas...Vano mana?" tanyanya dengan mata sedikit terbuka.
"Itu di sebelahmu Vano" kataku.
"Anak bunda sini peluk Bunda!" katanya.
Vano mendekati Bundanya dan memeluknya.
"Bunda kenapa?" tanya Vano.
"Bunda gak kenapa-napa sayang, bunda cuma capek" kata Rinda kemudian menciumi Vano.
"Vano main sendiri ya...Bunda ada perlu sama Ayah" katanya, kemudian Vano turun dari tempat tidur berlari keluar kamar.
Berdua di dalam kamar, aku tetap duduk di kursi memandang Rinda.
"Mas Arif..." katanya.
"Iya sayang ada apa?" tanyaku.
"Mas aku tidur sini saja ya...aku takut pulang" katanya.
"Iya... kamu di sini saja, apa aku temani kamu tidur juga" kataku sedikit menggoda.
"Iya mas, sama Vano juga" katanya.
"Kalau disini ya sempit, kalau di kamarku baru gak sempit" kataku.
Dia tersenyum memandangku, entahlah apa yang ada dalam pikiranya kemarin menolak sekarang minta tidur sekamar.
"Sebentar ya Rin aku mau menemui ibu, boleh ya?" tanyaku, dia menganggukkan kepala duduk dan menciumku, tumben juga dia mau mencium duluan, bener-bener aneh.
Aku meninggalkan Rinda di kamar, menemui Ibu di kamarnya, Vano masih melihat tv
aku ketuk pintu kamar Ibu, dan dibuka dari dalam, kulihat Ibu sedang bicara sama temanya di telpon, aku menunggunya selesai telpon, setelah selesai telpon Ibu duduk disampingku.
"Arif... barusan Ibu telpon teman Ibu yang tadi Ibu ceritakan ke Arif, ternyata benar Rif itu Rinda, bener-bener kurang ajar ayahnya Vano ini Rif" kata Ibu.
"Bu... Arif malah melihat aneh Rinda, tiba-tiba dia memciumku, dan ingin tidur bertiga di kamar menemaninya, dia tidak mau pulang, takut katanya" kataku.
__ADS_1
"Arif... berarti Rinda ingin kamu melindunginya, Rif... kamu harus sabar.
Kalaupun akan melakukan hubungan suami istri kamu harus melihat kondisi Rinda, dia benar-benar siap atau tidak, tiba-tiba aku teringat malam kemarin, setiap aku ingin, dia bilang takut.