Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Untuk Ibu


__ADS_3

Sore hari setelah memakaikan baju Vano, kami berkumpul di ruang keluarga, melepas rindu setelah dua bulan terpisah.


LDM itu berat, berat di rindu he he he.


"Mas, kalau lelah istirahtlah" kataku ketika melihat Mas Arif tidur-tiduran di karpet bersama dengan Vano yang lagi menggambar.


"Enggak Rin, cuma pingin tidur-tiduran di sini sambil melihat kalian" kata Mas Arif.


"Makan di rumah saja ya Mas?" tanyaku ke Mas Arif.


"Lodeh manisa sama tahu tempe, mau Mas?" tanyaku.


"Mau Rin" jawab Mas Arif.


"Vano mau makan apa?" tanyaku ke Vano.


"Telur ceplok Bunda" jawab Vano.


"Vano lanjut bermainnya ya sama Ayah, Bunda mau masak dulu" pamitku.


"Iya Rin" kata Mas Arif.


Aku meninggalkan mereka menuju dapur, mengambil sayur manisa dan beberapa bumbu dapur.


Mulai mengupas kulit masnisa dan aku iris tipis memanjang, kemudian aku kupas bawang merah dan bawang putih dan beberapa bumbu lainnya.


Selesai memasak aku siapkan makanan di atas meja makan.


Adzan maghrib berkumandang, kami segera mengambil wudhu dan sholat berjamaah diimami mas Arif.


Ibu tidak turun ke bawah.


Apa belum membaik sakit ibunya, kata hatiku.


"Mas, Ibu kok tidak turun ya?" tanyaku ke Mas Arif.


"Iya ya Rin, aku naik ke atas melihat kondisi Ibu" kata Mas Arif.


Dan Mas Arif berjalan menaiki tangga naik ke atas ke kamar Ibu.


"Bunda, apa Nenek sakit?" tanya Vano.


"Iya agak kurang enak, tapi semoga baik-baik saja, ayo dirapikan sajadahnya" kataku sambil membuka mukenahku dan aku rapikan kemudian aku taruh di rak musholla.


"Vano, coba Vano Bunda gendong" kataku sambil menggendong Vano menuju ruang keluarga.


"Anak Bunda sudah lumayan berat sekarang" kataku.


"Sebentar lagi pasti Bunda tidak kuat, Vano mau makan banyak" kata Vano bersemangat.


Aku lihat Mas Arif turun dari tangga dan berjalan menuju ke arah kami.


"Mas...bagaimana kondisi Ibu?" tanyaku.


"Katanya badanya gak enak Rin, gak nafsu makan begitu" jawab Mas Arif.


"Terus minta makan apa Ibu?" tanyaku.


"Tadi minta beli lalapan Rin, aku keluar sebentar ya, aku beli lalapan untuk Ibu, jangan khawatir masakanmu pasti aku makan" jawab Mas Arif sambil mencium pipiku dan berlalu meninggalkan kami, pergi keluar membeli makanan yang diminta Ibu.


Setelah Mas Arif meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Vano ayo ke atas melihat Nenek!" ajakku


"Ayo Bunda" kata Vano bersemangat dan berlari menaiki tangga.


"Hati-hati Vano" kataku.


Aku ketuk pintun kamar Ibu, kemudian aku buka, kulihat Ibu berbaring di tempat tidur, aku mendekatinya.


"Bu... bagaimana keadaanya?" tanyaku pelan.


"Gak tau ini Rin, kok lemas sekali badan Ibu, besok Ibu mau periksa ke rumah sakit" kata Ibu.


"Arif sudah berangkat beli makanan yang Ibu mau?" tanya Ibu.


"Sudah Bu, barusan saja Mas Arif berangkat" kataku.


"Ibu, mau teh hangat? atau jus buah? Rinda buatkan" kataku menawarkan diri.


"Rin... tolong buatkan teh hangat ya!" pinta Ibu.


"Vano, Bunda kebawah dulu, Vano di sini apa ikut Bunda?" tanyaku.


"Bunda nanti ke sini?" tanya Vano.


"Iya, cuma sebentar buat teh hangat untuk Nenek" kataku.


Kemudian aku ke bawa memasak air untuk membuat teh untuk Ibu.


Belum masak airnya, Mas Arif sudah datang.


"Rin, buat apa? Vano mana?" tanya Mas Arif.


"Rin, aku buatkan juga ya" kata Mas Arif.


"Iya Mas, setelah ini" jawabku.


Setelah selesai membuatkan teh untuk Ibu dan Mas Arif, aku buka bungkusan makanan yang di beli Mas Arif.


"Mas, Ibu nasi segini kurang tidak?" tanyaku.


"Cukup Rin" kata Mas Arif sambil meminum teh hangat di meja makan.


"Ayo ke atas Mas!" pintaku sambil membawa piring berisi makanan dan teh hangat.


"Rin, piringnya aku bawa saja ya" pinta Mas Arif.


Kami naik ke atas menemui Ibu.


"Bu ini makanan pesanan Ibu juga teh hangantnya" kataku sambil meletakkan piring makanan di meja kamar tidur.


Ibu bangun dari tidurnya dan duduk di pinggir pembaringan.


"Terima kasih ya" ucap Ibu.


Kemudian aku mengambilkan piring dan memberikan ke Ibu.


Piring belum diterima Ibu.


"Sebentar Rin, aku mau cuci tangan dulu" kata Ibu sambil berdiri dan melangkah ke kamar mandi.


Tak lama kemudian Ibu kembali dan mengambil piring dari tanganku, dan mulai memakanya.

__ADS_1


"Enak Bu?" tanya Mas Arif.


"Iya Rif" jawab Ibu.


"Gak tau ini Rif, badan terasa pegal semua, kepala juga pusing, malas makan" kata Ibu.


"Ya sudah Ibu istirahat saja dulu" kata Mas Arif.


"Kami turun dulu Bu" kataku, sambil membawa piring dan gelas tempat makan dan minum Ibu.


Vano turun dahulu sambil menghitung jumlah tangga.


Nih anak ada saja, tangga dihitung tapi baguslah untuk belajar menghitung, batinku.


Sampai di bawa aku menaruh piring dan gelas di wastafel.


"Mas, ayo makan!" kataku ke Mas Arif.


"Ayo" jawab Mas Arif.


"Vano ayo makan!" ajak Mas Arif.


Kami bertiga makan bersama.


Selesai makan aku bersihkan piring sendok gelas, kemudian aku ke ruang tamu, duduk dekat Mas Arif.


"Mas, apa gak sebaiknya besok kita periksakan Ibu?" tanyaku.


"Iya Rin, mauku juga begitu, semoga Ibu mau" jawab Mas Arif.


"Tadi sih bilang sama Rinda, kalau besok mau periksa begitu" kataku.


"Besok kita antar ya" kata Mas Arif.


"Iya Mas, usia tidak bisa membohongi kesehatan manusia ya Mas, Rinda itu sebenarnya ingin di usia tua masih sehat, kita bisa jalan-jalan kemana gitu, yang pasti kan Mas sudah tidak bekerja" kataku.


"Iya Rin, aku juga ingin tidak bekerja tapi buat usaha apa gitu di sini, rencanaku sepuluh sampai lima belas tahun ke depan aku sudah tidak bekerja di Papua" kata Mas Arif.


"Rin... kamu yang pinter mengelola uang, untuk hari tua kita nanti" kata Mas Arif kemudian.


"Insyaallah Mas" jawabku sambil mencium pipi Mas Arif.


"Loh ya... mulai menggodaku" kata Mas Arif.


"He he he, masak cium suami dibilang menggoda sih" kataku dan tertawa.


"Lah kamu cium adikku tegang begini he he he" kata Mas Arif.


Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum memandang suamiku ini.


"Mas... sebenarnya aku ini agak kepikiran Mas" kataku pelan.


"Apa Rin?" tanya Mas Arif.


"Aku takut Vano diambil mantanku Mas" jawabku.


"Diambil bagaimana maksudmu?" tanya Mas Arif penasaran.


"Kapan hari, Rinda waktu di ayam kentucky bertemu dengan tetangganya mantanku, kata dia, mantanku ini dekat dengan perempuan yang pakaianya dan usianya kayak aku, aku ini takut Mas kalau mantanku menggunakan perempuan itu untuk menarik hati Vano" ceritaku.


"Semoga tidak ada niatan licik dari mantanmu Rin" kata Mas Arif.

__ADS_1


__ADS_2