Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Kantor Urusan Agama


__ADS_3

Pagi hari, Rinda masih di kamar memeluk Arif, Vano masih tidur


"Mas Arif... aku ijin gak masuk kerja hari ini" kataku


"Terus Vano bagaimana?" tanya mas Arif


"Tolong, mas antar ke sekolahnya ya?" kataku


"Terus kamu di rumah sendiri?" tanyanya, aku mengangguk


"Gak.. aku gak mau membiarkanmu sendiri, malah macam-macam, kalau belum siap bekerja, ikut aku ke kantor Agama saja" kataku


aku diam saja menurut maunya mas Arif


Setelah mengantar Vano ke sekolah, kami menuju Kantor urusan agama


"Rin... misal hari ini kita bisa nikah disini kamu siap?" tanyanya, aku hanya


mengangguk saja, dalam pikiranku, aku ingin segera melepas semua traumaku untuk melakukan hubungan suami istri dengannya, aku harus bisa membebaskanku dari trauma itu


"Mas... aku disini saja ya?" pintaku


"Iya sayang, jangan kemana-mana" katanya dan membuka pintu mobil masuk ke dalam kantor urusan agama


Arif Masuk ke dalam Kantor urusan agama, aku menghampiri seorang petugas yang kapan hari aku temui juga di sana


"Assalamualaikum" salam Arif


"Waalaikum salam" jawab petugas


"Pak...ini berkas yang dibutuhkan juga ada dari kelurahan" kata Arif, Bapak itu melihat satu persatu berkas dan menelitinya, lumayan lama ada setengah jam Arif disana, dan ditanya tentang keluarga


"Sudah lengkap berkasnya, kapan menikahnya?" tanya petugas


"Hari ini bisa?" tanya Arif.


"Gak bisa, berkas ini harus dimasukkan dulu untuk didaftarkan secara online" penjelasan petugas


"Pak... calon istri saya mengalami depresi karena perkosaan yang dialami beberapa tahun yang lalu, aku bisa menunjukkan surat dari psikiaternya, saat ini dia berusaha untuk melepas traumanya dengan menikah, ini dia sekarang satu rumah dengan saya, tidak berani tidur di rumahnya dan setiap malam minta tidur di kamarku, saya sebagai laki-laki normal, setiap malam menahan dan itu pasti memusingkan, kalau bisa hari ini menikahnya, pencatatannya minggu depan? bagaimana?" jelas Arif sambil memberikan surat psikiater hasil dari Rinda, yang diberikan Ibu tadi pagi


petugas tersebut membacanya dan meninggalkan Arif.


"Sebentar saya bicarakan dengan kepala" katanya


Beberapa menit kemudian... petugas tersebut datang menemuiku


"Bisa pak hanya akhad saja, belum mendapat surat nikah nya, minggu depan baru terbit surat nikahnya, ini wali dari calon sudah ada?" kata petugas tersebut


"Saya menghubungi sebentar ya?" kata Arif. kemudian keluar dari Kantor urusan agama, sambil berjalan Arif menelpon Ibunya.

__ADS_1


"Bu... hari ini Arif bisa menikah bisa Ibu datang kesini sekarang?" kata Arif


"Bisa Rif, orang tuanya Rinda sudah kamu kabari?" tanya ibu


"Iya setelah ini" kata Arif dan menutup telpon


*****


Arif sudah keluar dari dalam kantor.


"Mas kok lama?" tanyaku


"Iya sayang, sayang telpon bapak ibu untuk menjadi wali nikah kamu, sekarang kita bisa menikah" katanya


"Hah... yang benar mas?" tanyaku terkejut


aku mengambil hp dan menelpon bapak waktu masih menunjukkan jam delapan pagi


"Assalamualaikum, bapak sekarang dimana?" tanyaku


"Waalaikumsalam, Rinda... kamu sudah baikan ini" kata bapak dengan gembira


"Bapak... bisa ke kantor urusan agama daerah mas Arif, Rinda mau menikah sekarang" kataku


"Oh...ya... kebetulan Rin... ini aku sama ibumu mau ke rumah Arif, ini sekitar lima menit sudah sampai sana" kata bapak


"Rinda di Kantor agama sekarang pak, itu tante sudah datang" kataku


"Mas... bapak sebentar lagi kesini" kataku


"Iya kita tunggu" katanya


"Mas..Rinda seperti ini, gak dandan gak pakai baju pengantin" kataku


"Yang penting kita menikah, kamu mau melepas traumamu kan?" katanya, aku mengangguk


Tidak lama kemudian bapak ibu datang, sebelum bapak ibu menemui kami, bapak ibu bertemu dengan tante seperti ada yang dibicarakan sama tante ke orang tuaku


"Ayo kita masuk" ajak tante


aku menggandeng tangan mas Arif kuat ada perasaan takut, bayangan masa lalu itu terus menghantuiku


"Sayang jangan takut" bisik mas Arif, seperti menguatkan jiwaku


"Bapak... ini saya sudah siap wali" kataku


"Mari kita ke ruang sebelah" kata petugas dan kami mengikutinya


Sampai di ruang tersebut sudah menunggu penghulu

__ADS_1


"Bapak... putri bapak nikahkan sendiri apa melalui kami?" tanya penghulu kepada bapak


"Saya serahkan ke penghulu" kata bapak


"Kita mulai ya" kata penghulu sambil menjabat tangan mas Arif


"Saya nikahkan Arinda widya arini dengan Arif rahman dengan mas kawin sepuluh gram mas murni" kata penghulu


"Saya terima kawin dan nikahnya Arinda widya arini dengan mas kawin sepuluh gram mas murni" jawab mas Arif dengan lantang


"Bagaimana saksi...?" kata penghulu


"Syah" bapak langsung menjawab dengan spontan


akhirnya aku menjadi istrinya mas Arif batinku


Keluar dari kantor kami semua menuju rumah Tante Rinda, tidak ada yang mengabadikan pernikahan kami tadi, biarlah menjadi kenangan di hati kami masing-masing


Sampai di rumah kami ngobrol-ngobrol santai, waktu menunjukkan pukul satu bapak dan ibu pamit pulang, tante Rinda juga tergesa-gesa keluar katanya ada client yang akan bunuh diri, tinggal kami berdua, mas Arif menutup pagar rumah menujuku dan menggendongku masuk ke kamarnya


Di dalam kamar Mas Arif membaringkan aku di ranjang mendekatiku menciumku.


"Kamu sudah jadi istriku sekarang, boleh aku meminta hak ku sekarang?" katanya pelan


"Aku mengangguk, pikiranku melayang kemana-mana peristiwa itu datang lagi


"Mas... aku takut" kataku


"Aku tidak akan menakutimu, aku akan memberimu kebahagiaan sayang" katanya menenangkanku sambil mencium leherku melepas jilbabku, membuka kancing bajuku, air mataku terus mengalir, aku bingung... pusing... ingatan itu terus datang menghampiriku


"Sayang.... sudah siap?" katanya terus merangsangku, bukanya aku menikmati tapi bayangan itu terus datang semakin jelas di pikiranku


"Mas... aku takut" kataku


"Bidadariku...kamu belum siap?" katanya


Aku memeluknya lebih erat, bajuku sudah sebagian terbuka, aku menangis memeluk suamiku dengan erat, menangis terus, kembali mas Arif mencium bibirku, ini yang aku suka, bayangan ketika pertama kali aku berciuman di pantai itu dengan mas Arif, tapi kenapa aku tidak bisa melepas bayangan itu ketika suamiku melakukan lebih jauh, ada rasa ketakutanku yang susah aku kalahkan


"Kalau belum siap nanti kita lakukan lagi ya?" kata mas Arif memelukku dengan mesra


"Maafkan aku ya mas" kataku


"Iya sayang aku akan sabar" kata mas Arif


"Ayo jemput Vano" kata mas Arif


"Mas jemput sendiri ya" kataku


"Kamu baik-baik saja disini?" tanyanya

__ADS_1


"Iya mas" jawabku


Mas Arif meninggalkan rumah menjemput Vano ke sekolahnya, aku tertidur di kamar, entah sudah berapa lama aku tertidur, waktu bangun Vano dan mas Arif belum juga pulang, demikian juga dengan tante Linda, aku beranjak dari tempat tidurku melangkah keluar kamar, kulihat sudah jam empat sore, kemana mereka? pikirku, sambil menunggu mereka aku membersihkan rumah


__ADS_2