Lika-Liku Single Parent

Lika-Liku Single Parent
Mengenang Masa Lalu


__ADS_3

Suatu malam di malam sabtu seminggu setelah mas Arif pulang dari Papua


"Mas...." bisikku ke telinga mas Arif


"Iya...ada apa sayangku, bidadariku? kata mas Arif sambil menciumiku


"Hehehe" aku tertawa


"Kok malah tertawa?" tanya mas Arif heran


"Ingat masa Sma kita dulu mas" kataku


"Emang ada yang lucu denganku?" tanya mas Arif penasaran, aku masih tertawa


"Hehehe"


"Mas... ingat tidak saat mas masuk ke kelasku dulu itu, terus ikut pelajaran matematika kayaknya" kataku mulai bercerita


"Oh itu hehehe, tau lah itu demi cintaku sama kamu, aku masuk ke kelasmu duduk di pojokan berharap ingin melihatmu terus, eh ketahuan, malah aku dihukum di suruh hormat kepada bendera merah putih di lapangan upacara selama waktu istirahat" kata mas Arif


"Mas gak ditertawakan teman-teman?" tanyaku


"Jelas ditertawakan, termasuk Anton itu, masak tau aku dihukum malah menjulurkan lidah mengejekku di depanku" kata mas Arif


"Hahaha syukurin, siapa suruh masuk ke kelasku" kataku


"Kan aku ingin melihat bidadariku" kata mas Arif dengan senyum menggodanya


"Konyol ya aku waktu itu?" katanya lagi


"Kamu tau gak Rin, dimana pak Tulus sekarang tinggalnya?" tanya mas Arif


"Gak tau Rinda mas, coba sih tanya-tanya ke teman-teman" jawabku


"Kenapa memangnya mas, kok tanya rumah pak Tulus?" tanyaku


"Ya... ingin mengajakmu mengunjungi pak Tulus, sekarang pasti beliau sudah pensiun ya?" tanya mas Arif


"Sepertinya sudah mas" jawabku


"Rin... ada yang selalu aku ingat kenangan waktu itu" kata mas Arif kemudian diam seperti mengenang masa lalu


"Yang mana mas?" tanyaku penasaran


"Kamu ingat waktu kita pulang sekolah kehujanan?" tanya mas Arif


"Yang mana ya mas? apa kehujanan terus sepeda motormu mogok itu, kita jalan lumayan jauh mencari bengkel, eh uang gak cukup untuk biaya servis akhirnya sepeda motormu mas tinggal di bengkel terus kita jalan kaki pulang, ya... pulang ke rumahmu" kataku sambil mengingat kejadian itu


"Iya Rin... melihatmu sudah kedinginan basah kuyup jalan kaki, rasanya hatiku gak tega tapi bagaimana lagi, kita sudah gak punya uang sama sekali untuk naik angkot, kan sisa uang jajanmu dan uang jajanku kita kasih ke yang punya bengkel" kata mas Arif


"Iya ya... masa yang sulit mas waktu itu" kataku dan menghela nafas


"Ketika sepuluh tahun aku meninggalkanmu Rin, aku sering mengingat kejadian itu, aku merasa kamu benar-benar tulus denganku, mau hidup susah denganku" kata mas Arif sembari menciumku


"Mungkin ya... waktu itu kalau wanita lain pasti sudah meninggalkanku memilih untuk pulang dengan teman lainya, waktu itu kenapa kamu mau jalan kaki begitu jauh denganku?" tanya mas Arif

__ADS_1


"Mas... mas... mana tega aku meninggalkanmu susah sendiri, waktu itu kan mas mau antar Rinda pulang dulu, eh malah belum jauh dari sekolah sepeda mogok hujan lagi" kataku


"Dampai rumah sudah maghrib ya Rin" kata mas Arif


"Iya mas, Vera waktu itu masih Smp kayaknya, aku tidur dengan Vera kan?" tanyaku mengingatkan mas Arif


"Iya, kamu tau gak... semalam aku gak bisa tidur, aku ngintipi kamu tidur sama Vera hehehe" kata mas Arif tertawa


"Oh.... emang dari dulu otakmu mesum ya mas?" tanyaku


"Normal lah Rin, aku melihat rok mu tersingkap waktu itu, hatiku gak karu-karuan beberapa hari terbayang-bayang kejadian itu hehehe" kata mas Arif tersenyum-senyum


"Siapa suruh intip-intip orang tidur" kataku dengan nada kesal


"Kan ingin melihat bagaimana kekasihku tidur hehehe" kata mas Arif


"Selain ngintipi aku tidur, selama aku tidur di rumahmu waktu itu mas ngintipi aku waktu apa lagi?" tanyaku


"Gak ada Rin, cuma waktu kamu tidur saja, beneran serius ini" jawab mas Arif


"Emang tidak bisa berubah tukang intipmu dari dulu sampai sekarang ya kan mas?, dulu waktu awal aku tidur di rumah ini, paling awalnya mas ngintipi aku juga kan?" tanyaku lagi


"Hehehe iya" jawabnya cengengesan


"Dan sengaja kunci pintunya aku sembunyikan hehehe" katanya lagi dengan tertawa puas


"Ih... mas... gitu bilangnya gak tau" kataku sambil mencubit lengannya


"Adu, sakit Rin, sudah maaf ya" kata mas Arif menahan rasa sakit karena aku cubit


"Sekarang mana kuncinya?" tanyaku


"Masak kamu tidak mau tidur denganku?" tanyanya lagi dengan senyum menggoda, aku menggelengkan kepalaku


"Sudah ah mas, ayo tidur" kataku


"Rin..." bisik mas Arif di telingaku


"Apa...?" tanyaku


"Aku pingin" bisiknya


"Dikeluarin di luar" bisiknya lagi sambil memelukku dari belakang


"Kalau sakit gak diteruskan ya" pintaku


"Kenapa memangnya?" tanya mas Arif penasaran


"Bingung lah Rinda menjelaskanya, mas cari di youtube saja" kataku, mas Arif tidak menjawab pertanyaanku tapi memelukku


lebih erat,


"Rin... kalau belum siap, jangan dipaksa menurutiku, aku masih kuat menahannya, ayo tidur sayang, sini aku peluk" kata mas Arif dan aku membalikkan tubuhku masuk ke dalam pelukanya, mendengar detak jantungnya hatiku terasa nyaman


"Rin... besok ke rumah orang tuamu ya? lama aku gak ke sana" kata mas Arif

__ADS_1


"Ayo mas, apa nginap di sana?" tanyaku


"Iya gak apa-apa tidur disana" kata mas Arif


Waktu menunjukkan pukul sebelas malam kami masih berbincang-bincang santai


"Rin... kamu belum mengantuk?" tanya mas Arif


"Belum suamiku sayang" jawabku


"Rin... " bisik suamiku


"apa mas?" tanyaku


"sudah tak tahan ya?" tanyaku lagi


"Hehehe kamu tau saja" jawab mas Arif


"Lah ini kerasa begitu" kataku


"Mas... pingin ya?" tanyaku, tanpa menjawab pertanyaanku mas Arif sudah mendaratkan bibirnya ke bibirku dengan mesra, dan terus merangsangku


"Mas... pelan ya" pintaku ragu


"Iya" bisiknya pelan


"Aw... sakit mas" kataku sedikit menjerit


"Kenapa?" tanya mas Arif kaget


"Sakit rasanya perih mas, kayak ada luka yang belum kering" kataku, kemudian mas Arif menghentikannya, dan menciumku


"Maaf ya" bisiknya


"Sakit sekali sayang?" tanyanya kembali


"Iya mas" kataku sambil menahan perih


"Mas... maafkan Rinda ya" kataku dengan mata berkaca-kaca


"Hust... jangan menangis sayang, apa terlalu sakit tadi?" tanya mas Arif, aku menganggukkan kepalaku


"Sekarang masih sakit?" tanya mas Arif


"Perih sekali mas" kataku


"Terus bagaimana? minum obat pereda nyeri?" tanya mas Arif, aku menganggukkan kepalaku


"Rin... kamu taruh di mana obatmu?" tanya mas Arif sambil turun dari pembaringan


"Di laci situ mas" kataku, kemudian mas Arif membuka laci dan menemukan obat pereda nyeri dan diambilnya


"Sebentar ya... aku ambilkan air" kata mas Arif


Kemudian keluar dari kamar, tak lama kemudian mas Arif kembali membawa segelas Air minum, ditaruh di meja dan membuka bungkus obat kemudian aku bangun duduk di tepi tempat tidur dan mas Arif menghampiriku untuk memberikan air dan obat kemudian aku meminumnya

__ADS_1


"Makasih mas" ucapku


"Maafkan aku Rin, ayo kita tidur" kata mas Arif


__ADS_2