
Jadi Bonchap aja ya😅
.
.
.
.
***
"Rafaaaaaaa.........." Teriaknya kini.
Dengan beekacak pinggang dan mata menatap tajam anak laki laki pertamanya itu,ini bukan pertama kalinya ini sudah kesekian kalinya Rafa lakuin.
Alya memijit dahinya,dia benar dibuat kewalahan oleh Rafa,entah nanti akan ada kabar apa lagi setelah ini.
"Mau sampai kapan kamu begitu ?"
"Sampe aku puas Bu" Jawaban Rafa membuat Alya semakin memijit dahinya,bahkan Rafa masih menyengir.
"Sekarang belum puas ?"
"Belum,Bu aku tuh lagi nyari bahan experimen dikolam ikan,tapi nyatanya malah gak dapat" Jawabnya masih dengan sambil menyengir.
Alya memejamkan matanya "Kamu anak siapa sih ?"
"Ya anak Ibu sama Ayah,wah Ibu gak ngakuin aku anak ibu,bilangin Ayah loh"
"Eh,Ayah sama Ibu gak punya anak nakal kaya kamu,selalu bikin onar tiap harinya" kali ini yang bicara Qila dengan senyum mengejek.
"Kamu gak usah ikut ikutan ya,pake main ngadu segala,awas aja nanti" Ancamnya pada Qila.
"Eh,panggil aku kakak,aku kakak kamu tau"
"Ogah,cuma beda beberapa menit aja ngapain harus panggil Kakak,gak ya !!" Jawabnya sarkas.
"Gimana pun juga aku keluar yang pertama,walau beda menit tetap aku kakak kamu,"
"Ogah,sekali Ogah ya Ogah"
Qila geram dia hendak mendekat,tapi terurung kala Alya kembali berteriak.
"Rafaa..." Alya semakin pusing.
"Masuk,cepat mandi ganti pakaian kamu,mulai besok uang jajan kamu Ibu kurangi,Ibu hukum kamu"
Rafa membeliak "Ya,jangan dong Bu..lagiaj cuma kotor kotoran aja kan,aku gak buat ulah lagi kok " Mohonnya memelas,supaya sang Ibu tak menghukum itu.
Alya melotot "Ibu gak tau ya,dengan cara apalagi mendidik kamu,cepat mandi"
__ADS_1
Rafapun menunduk dan pergi kebelakang menuju kamar mandi belakang,sebelumnya dapat ledekan dari Qila.
"Qila,kamu juga masuk..sampe makan malam kalian jangan keluar nanti" Qila pun sama menurut,kalau Alya sudah marah,pasti dia kena imbas juga.
***
Malam tiba masih dikediaman Arsen dan Alya,jam tujuh malam Arsen baru tiba dirumah besarnya,tentu dengan wajah lelah.
Setelah dapat sambutan dari Alya ,dia segera bergegas untuk mandi dan mengganti pakaian,lalu setelahnya dia akan makan malam bersama.
"Ini bajunya" Masih dengan telaten Alya melayani Arsen,mengkancingkan baju yang akan dikenakan suaminya itu.
"Kamu lelah,wajahnya ditekuk gitu" Arsen dapat melihat wajah lesu sang Istri,kalau sudah begini pasti ada sesuatu.
"Rafa buat masalah lagi ?" Inilah bagusnya Arsen,dia sangat peka setiap apa yang terjadi pada istrinya atau dirumah.
"Hum,dia pulang dengan lumpur lagi,alasannya masih sama saja,beruntung hari ini tak ada telepon dari orang orang"
Arsen memeluk pinggang Alya,dan mengelus pipinya dengan lembut "Apa kamu lelah mengurusnya Sayang ?apa kita masukan saja dia ke asrama ?"
"Aku hanya pusing,kalau tiap hari dia begitu,entah bagaimana cara memberi tahu dia,aku bingung Yah"
"Kita bicara dengan dia baik baik,mungkin saja dia bisa mendengar apa kata aku"
"Hum,semoga..ya udah kita turun mereka pasti sudah menunggu kita" Ajak Alya,tapi Arsen masih mengungkung Alya didalam pelukannya.
"Jangan cemberut lagi Ibu dari anak anakku,kalau Shaka dia baik kan ?"
"Makasih ya,kamu hebat Sayang..dan semoga kamu masih mau sabar menghadapi anak anak kita terutama Rafa tentunya,mungkin seiring berjalannya waktu dia tak akan seperti itu lagi"
"Iya semoga Ayah.."
Cup
Arsen mengecup bibir Alya sekilas "Biar gak lesu lagi" selorohnya dan jelas membuat Alya bersemu.
Makan malam berlangsung dengan serius tanpa ada obrolan ataupun candaan dari semua,termasuk Rafa yang biasanya jahil pada Qila namun kini tidak,karena Rafa dapat rasakan aura dingin dari sang Ayah.
"Rafa,setelah ini temui Ayah diruang kerja" Titahnya membuat Rafa menelan salivanya kasar,dan Qila kembali meledek dengan menjulurkan lidahnya
"Awas aja nanti !!" Ancamnya pada Qila,tapi Qila tak takut.
Arsen sudah lebih dulu ke atas setelah menyelesaikan makan malamnya,sedangkan Alya sedang membereskan sisa makan malam mereka.
"Bu,Ibu masih marah sama Rafa ?" karena semenjak tadi sore dia pulang,Alya tak menegurnya ,dan tak mengajaknya bicara sama sekali.
"Ibu hanya kesal,,cepat naik,Ayah kamu mau bicara"
Rafa menunduk,dia langsung bergegas naik dan menemui sang Ayah.Setelahnya Alya menyusul,sedangkan Shaka dijaga oleh Qila.
"Kamu tau salah apa kamu Rafa ?" Pertanyaan Arsen membuat Rafa menciut dan semakin menunduk dalam.
__ADS_1
"Rafa cuma main lumpur Ayah,Rafa mau nangkap ikan lele,terus mau Rafa jadiin experimen Rafa" Jawab sekenanya.
"Kamu tau ini sudah hari ketiga kamu melakukannya ?kamu juga tau empang itu milik siapa ?"
"Tau Ayah,tapi Rafa sudah ijin dulu kok,tanya aja Dimas" Elaknya.
"Meski begitu,kamu tak harus melakukannya ,mungkin kamu gak tau kalau dibelakang Pak Rafli menelepon Ibu kamu dan mengeluhkan kamu yang selalu bermain di empangnya,dan lebih parah kamu membuat ikan ikan mereka mati"
"Uang Ayah kan banyak,ya tinggal beli lagi" Celetuknya dan membuat Alya melotot.
"Gak semuanya harus dibeli dengan uang Rafa,jangan jadikan sesuatu masalah akan selesai dengan uang" Sungut Alya geram,dia tidak mau Rafa akan selalu mengandalkan segalanya dengan uang.
"Ibu kamu benar,jangan mengandalkan sesuatu dengan uang"
Rafa menunduk merasa bersalah.
Arsen mendesah "Bisa kamu tidak melakukannya lagi Rafa ?Experimen apa yang ingin kamu lakukan hem ?"
"Mencari tau isi dalam perut ikan,bedanya apa tiap ikan"
Eh ?
Alya kembali memijit dahinya,jawaban anak satu ini ada ada aja.
"Apa untungnya,kenapa gak beli aja ikannya langsung Rafa,kamu ini ada ada aja"
"Gak seru Yah,,lebih seru sekalian main di empang" Celetuknyanya.
"Rafa.." Tegur Arsen.
"Iya yah,Maaf deh..maaf ya Bu"
"Bisa gak satu hari aja gak buat Ibu kamu pusing dengan segala tingkah laku kamu Rafa ?" Masih Arsen yang mendominasi.
"Gak tau Ayah" Jawab Rafa sekenanya,seakan dia akan melakukan kesalahan yang sama pada esok harinya.
"Kasihan Ibu kamu Fa,dia selalu dapat telepon dan keluhan dari apa yang sudah kamu lakukan"
"Maaf Ibu,Maaf Ayah"
"Sudahlah,masuk ke kamar dan jangan tidur malam malam" Titah Arsen.
Alya mengelus rambut Rafa,segimana pun nakalnya Rafa ,dia tetap tak bisa marah lama lama,dia hanya kesal saja.
"Maafin Ibu juga udah marah marah sama kamu" Ujarnya selanjutnya dan Rafa membalasnya dengan senyuman.
"Kita harus lebih sabar lagi Al," Ujar Arsen pada Alya.
Alya hanya mengangguk,mungkin memang harus seperti itu,toh Rafa masih dalam masa kanak kanaknya,masih banyak hal yang membuatnya penasaran,dari sinilah mereka sebagai orang tua harus lebih bersabar dalam menghadapinya,dan memberi tau dengan semengerti mungkin.
***
__ADS_1
...Bersambung...