
"Woii Rafa.." Teriak Dimas yang tak lain temannya disekolah.
"Apa ?" Jawab Rafa sealakadarnya.
"Pulang sekolah main kerumah aku"
Ajak Dimas,karena memang hampir tiap hari mereka selalu main bersama,bahkan keduanya begitu kompak dalam melakukan sesuatu.
"Aku mau kerumah Afdan,biasalah"
Afdan adalah anak laki laki yang pernah ibunya dia tolong,walau pada akhirnya sang Ibu meninggal.
"Oh,ya udah aku ikut"
Dimas pun tau siapa Afdan,karena mereka juga hampir sering bermain bersama sama.
Jam keluar sekolah telah tiba,seperti biasa si kembar sudah siap ada yang menjemput,Rafa akan kerumah dulu baru dia segera akan menemui Afdan,sesuai janjian mereka beberapa hari lalu.
"Assalamualaikum ,Ibu kita pulang" Seru keduanya setelah memasuki rumah besar mereka.
"Waalaikum salam," Balas Alya,yang kebetulan sedang diruang keluarga bersama Shaka.
Keduanya bergantian memberi salam pada Alya.
"Ganti baju dulu ,lalu nanti turun lagi ya ,makan siang dulu" Titah Alya.
Setelah makan siang selesai ,Rafa baru akan keluar saat Dimas sudah menghampiri mereka beberapa menit lalu.
"Ibu,Rafa pergi main dulu ya" ijinnya pada sang Ibu.
"Pulangnya jangan sampe magrib Fa,dan ingat jangan macam macam ok"
"Siap Ibu"
"Tante ,pamit dulu ya" Dimas pun sama meminta ijin untuk pergi dan Alya mengiyakan itu.
Dengan sepeda andalannya keduanya keluar dari rumah besar itu menelurusi jalanan komplek sekitar rumah mereka dan tujuannya hanya satu kerumah Afdan.
***
"Raf,,Raf..tunggu dulu,kita kerjaain dua cewe itu yok !!" jiwa jahil seorang anak selalu muncul.
Mereka masih mengayuh sepedanya dan dari jauh terlihat dua anak perempuan berseragam putih biru tua,yang tak lain anak SMP sedang lewat.
__ADS_1
"Ogah,,siapa mereka kita kan gak kenal" Ujar Rafa menolak,meski begitu dia tak mau menjahili orang yang tak dia kenal.
"Isshhhh,itu kakak aku..Salma sama temanya,ayolah seneng aku kalau ganggu dia"
Tetiba raut wajah Rafa berubah,tersenyum jahil "Ayo,siap gaskeunn" Ujarnya kemudian.
Bukan tak apa,dia kenal Salma sebagai kakak dari Dimas sendiri,beberapa kali dia memang suka bermaij kerumah Dimas,dan tau soal Salma..Tapi ada sesuatu yang membuatnya tertarik,yaitu teman dari Salma sendiri,entahlah.
Dimas pun sama dia menyeringai licik,menjahili sang Kakak adalah hobinya,entah didalam ataupun diluar sekalipun.
Dengan mengayuh sepeda mereka,sesaat mereka melihat genangan air bekas hujan disebelah mereka,baru mereka melancarkan aksinya dengan senyum yang lagi lagi licik.
Dan benar saja..
Cretttttt...air itu menyebur ke arah keduanya,sehingga sedikit mengenai rok mereka.
"Arggghhh,woi si alan,bege.." umpat Salma.
"Heh,anak kecil kurang aja,kalian ya" kali ini umpatan Alisha yang tak lain teman Salma.
Rafa dan Dimas berhenti di depan mereka ,lalu menjulurkan lidah mereka,dengan artian meledek.Sedangkan Salam dan Alisha lagi lagi mengumpat,dan keduanya sepakat mengejar kedua anak jahil itu.
Namun karena keduanya naik sepeda maka Salma dan Alisha kesulitan untuk mengejar mereka.
"Aisshhh,dasar ya kamu punya adik jahilnya naudzubillah" keluhnya lagi seraya melihat seragam bawahnya yang kotor.
Dan mereka berdua pun pulang dengan raut wajah yang sangat ditekuk.Sedangkan kedua bocah yang tak merasa salah itu,masih ketawa ketawa.
"Gila,wajah temen kakak kamu itu ,imut banget tau gak kalau lagi marah" Tanpa sadar Rafa mengatakan itu,tapi Dimas tak terlalu menanggapi.
"Heh,justru aku seneng lihat wajah kakak aku,hahah.."
Dan keduanya melanjutkan perjalanan mereka untuk kerumah Afdan,dengan masih wajah yang puas karena berhasil menjahili Salma dan Alisha.
***
Afdan Firdaus kini hidupnya sebatang kara,setelah sang Ibu meninggalkannya beberapa waktu yang lalu,kedua Orang tuanya hanya menyisakan rumah itu untuk Afdan,dia yang seharusnya masih sekolah harus putus karena tak ada biaya,untuk makan pun dia harus mencari barang bekas,layaknya pengemis.
"Afdan.." Teriak Rafa dibalik pagar rumah Afdan,dengan membawa beberapa kantung keresek.
Afdan yang mendengar adanya mereka pun tersenyum,lalu menyuruhnya masuk.
"Nih..kamu makan dulu" Ujar Rafa memberikan bungkusan keresek tadi yang berisi nasi pada Afdan.
__ADS_1
"Aku udah makan"Jawab Afdan menolak pemberian Rafa.
"Simpan aja,nanti sore atau malam pasti kamu lapar lagi kan"
Setiap mereka bertemu itu yang Rafa lakukan,rasa iba mengelitik hatinya,dia ingin banyak membantu Afdan,apalagi dia masih seusia dengannya,dia ingin kalau Afdan bisa bersekolah lagi,apa Ayah dan Ibunya bisa membantu untuk membiayai sekolah Afdan ?.
Afdan tersenyum ,lalu mengucapkan rasa terima kasihnya pada Rafa dan Dimas,nyatanya bukan hanya nasi ada beberapa camilan ringan juga disana.
"Jadi kesana ?"
"Jadi,maaf merepotkan kalian lagi"
"Tak apa,tak usah dipikirkan,yuk berangkat"
Sesuai janjian mereka beberapa waktu lalu ,ketiganya berlalu pergi dari sana untuk kesuatu tempat,yang tiap bulan akan Afdan kunjungi untuk menemuinya.Dengan Afdan yang dibonceng dari belakang,mereka mengayuhkan lagi sepedanya.
Sampailah mereka di depan sebuah rumah yang dari luar terlihat luas dan besar,mereka memarkirkan sepedanya dan masuk ke dalam rumah itu,yang luas halamannya saja benar benar luas.
"Assalamualaikum" Sapa ketiga dan disambut oleh seorang Ibu paruh baya.
"Waalaikum salam,Eh..kalian datang lagi,yuk masuk Rani sedang dibelakang" ujar Ibu itu.
Setelah bergantian menyalami Ibu itu ketiganya mengikuti kemana Ibu itu membawa mereka,sampailah dihalaman belakang rumah itu yang sama luasnya seperti didepan,semua penghuni nampaknya sedang asyik satu sama lain ditaman itu.yang banyak ditemui berbagai bunga dan pohon.
"Itu dia disana" Tunjuk ibu itu pada Rani.
Dan ketiganya mengangguk lalu kembali berjalan menemui tujuan mereka.
"Kak.." Sapa Afdan,dengan sambil berjongkok dia menyapa kakaknya.
"Afdan,kamu datang lagi sayang" Rani sang kakak memeluk Afdan dengan penuh rasa sayang.
"Hem,Afdan akan meluangkan waktu untuk kakak" air mata Afdan tak kuasa untuk tak jatuh melihat raut wajah Rani sang kakak yang pucat.
Rani tinggal kakak satu satunya dan sisa keluarganya itu,tapi mereka harus terpisah karena suatu keadaan,dan membuat Rani juga harus tinggal ditempat itu,Rumah Singgah Kanker.
Rumah yang menampung orang tak mampu yang mempunyai pemyakit kanker seperti Rani,Rani sudah divonis itu sejak satu tahun lalu,maka disitulah dia tinggal karena tak mampu.
Rasa keyakinan Rafa untuk menjadi dokter semakin besar,apalagi melihat keadaan ini.Dia ingin menolong temannya itu,sungguh dia ingin bisa menolongnya.
Namun apalah daya,dia masih sangat kecil,tapi dia akan berusaha untuk mengapai itu,keinginannya semakin kuat,dan tekadnya semakin yakin.
Namun saat ini Rafa dan Dimas hanya bisa memberi ketenangan pada Afdan supaya tak terlalu sedih menghadapi hal itu.
__ADS_1
***
...Bersambung...