
Mendidik anak itu memang bukan perkara mudah,terlihat gampang namun ternyata susah.Menegur terlalu keras salah,karena efeknya akan membuat seorang anak yang menjadi pembangkang kelak,di manja dan dibela terus pun salah akan membuat anak juga merasa dia akan terus melakukan hal itu,karena tak pernah dimarahi atau ditegur orang tua,bahkan bisa menjadi dia yang akan selalu seenaknya.
Itu perkara yang sulit,bagi kita sebagai orang tua,dan tentu kita sebagai orang tua juga menginginkan yang terbaik untuk anak anaknya kelak,ingin punya anak yang Sholeh,Sholehah,baik dan yang terbaik pastinya,namun semua tetap berawal dari bagaimana cara kita mendidik mereka sejak dini.
Memberi tau dan memberi mereka pengertian sebijak mungkin dan sebijaksana mungkin.Memberi perhatian pula pada sang Anak,dan terutama kasih sayang yang banyak pada mereka,membiarkan mereka merasai adanya Orang tua.
Dan kini yang Arsen dan Alya rasakan,mendidik ketiga anaknya untuk bisa tumbuh menjadi anak yang baik,walau nyatanya sikap Rafa membuatnya merasakan nano nano.Tentu juga mereka akan selalu banyak belajar terutama dari Arka dan Aluna,selalu bercerita banyak pada keduanya dan mencari tau pendapa mereka.
"Kamu harus lebih banyak sabar,Rafa mungkin hanya sedang mencari dunianya,dia sedang menikmati masa kanak kanaknya,walau mungkin kadang ada salahnya juga,menegur boleh..tapi jangan sampai membuat dia merasa dirinya begitu salah,sampai dimarahi atau dibentak,Bunda harap kalian gak seperti itu..Menegur dengan cara tegas tapi Bijak Sayang"
Tutur Aluna,diusianya yang sudah tak muda itu masih tetap terlihat garis garis cantiknya Aluna,wajahnya masih terlihat segar.
Alya sedang berkunjung ke kediaman Aluna tentu bersama Shaka,sedangkan Yhara dan Rafa mereka sedang bersekolah.
Alya sempat mengeluh pada Aluna,karena sejak kejadian dia main lumpur itu,bukannya Rafa sadar dia malah makin menjadi,dia membuat ulah lagi yang membuat Alya sampai pusing dibuatnya.
"Semoga Alya bisa seperti itu,karena jujur Alya kadang suka emosi melihat kelakuan Rafa itu Bun,entah apalagi yang akan dia perbuat nanti"
Aluna mengelus rambut Alya dengan Sayang "Percayalah,semua tak akan berlangsung lama..seperti yang Bunda bilang tadi,mungkin Rafa sedang mencari jati dirinya,dia sedang menikmati masa kanak kanaknya,yang dia yakini dan sadari kelak dia tidak akan merasakannya.."
Bunda Aluna juga memberi tau Alya,untuk tak banyak menuntut pada sang anak,setiap anak punya kelebihan sendiri sendiri,begitu juga dengan Yhara,Rafa dan Shaka.
Dari sejak dini kelebihan itu selalu ada,maka Aluna meminta jangan paksakan sang anak untuk mengikuti apa yang kita mau,terutama dalam hal impian,meski mereka masih kecil tapi tentu mereka punya sedikit impian.
Biarkan mereka memilih kelak akan menjadi apa,jangan tuntut mereka harus seperti apa yang kita mau,contohnya saja Arsen padahal Arka dan Aluna tak pernah memaksa Arsen untuk menjadi penerus mereka ,mereka juga membuat pilihan pada Arsen untuk memilih apa yang dia sukai.
Tapi nyatanya Arsen sendiri yang mau untuk menjadi seorang pembisnis,dia memilih jalan itu padahal Arka tak pernah memaksa itu,dan kembali pada ketiga anak Arsen dan Alya,supaya mereka memilih jalan mereka sendiri.
Tak harus penting untuk dapat penerus ,jika kelak Arka.dan Arsen sudah tak sanggup,jikalau ketiga anaknya tak mau,Arka dan Arsen jangan memaksakannya.
Biarlah berjalan apa adanya sesuai dengan yang mereka inginkan,kita sebagai orang tua hanya harus mendukungnya penuh,dan memberi tau apa yang benar dan salah saja.
Alya banyak mendengar banyak hal,kepusingannya sedikit memudar kala bercerita dengan Aluna,Aluna sungguh panutan untuknya.Namun ternyata Alya tetap harus dihadapkan dengan tingkah laku anak itu lagi.
.
__ADS_1
.
.
.
***
Benar saja saat pulang kerumah untuk menyiapkan segala kebutuhan ketiga anaknya,dan tau sudah jam pulang sekolah mereka,Alya harus menahan rasa marahnya lagi saat melihat wajah tampan anaknya itu terlihat bonyok dan dengan pakaian yang sudah tak tentu arah.
Belum lagi dapat telepon lagi dari wali kelasnya untuk datang esok hari,karena perkara Rafa itu.
Yhara dan Rafa datang dengan menunduk,Alya berjongkok dihadapan mereka,awalnya dia akan marah melihat Rafa yang mukanya sudah tak beraturan akibat adu jotosnya dengan teman sebayanya tadi luluh,kala melihat raut sendu Yhara dan telihat habis menangis.
Maka yang Alya lakukan membawa mereka duduk di sofa dan mencoba bertanya apa yang terjadi.
"Qila,kenapa kamu menangis" Usapnya lembut pada rambut Yhara/Qila..Qila masih menunduk.
Atensi Alya beralih pada Rafa,melihat wajah Rafa dia mendesah keras dan menyuruh asisten untuk membawakan kotak P3K padanya.
"Rafa pukul Deris Bu,,karena dia salah,emang Rafa salah membela Kakak Rafa sendiri" Ujanya masih menatap Alya namun dengan wajah sendu dan takut Alyanya marah.
Namun Expresi Alya dia kaget membela Qila ?lalu atensinya beralih lagi pada Qila,anak perempuan satu satunya itu.
"Apa yang terjadi Sayang,bicara sama Ibu" Masih dengan nada lembut dia bertanya.
"Deris gangguan Qila Bu,dia ledek ledek Qila dan mukul Qila lalu mendorong Qila jatuh kelantai" Jelasnya dengan sedikit terisak.
Alya mendesah lagi,dapat dia simpulkan disini,Qila yang dapat perlakuan tak enak dari temannya,dan Rafa yang membela dan menolong sang Kakak,walau tetap salah.
"Ya,Rafa hanya membela dan menolong Qila,kalau gak ada Rafa ,mungkin saja Deris sudah pukul Qila lagi"
Alya sebagai Orang tua mencoba tenang,mungkin dia bisa mengiyakan perlakuan Rafa itu benar,membalas dengan cara memukul lagi,dan dia akan menegur Deris yang sudah mengganggu anak perempuannya,tapi tidak itu pemiķiran yang salah.
Alya tetap tak membenarkan perlakuan Rafa,namun dia juga tak membenarkan perlakukan Deris,dia akan membahas ini nanti.
__ADS_1
"Rafa Sayang,Ibu tau niat kamu baik,Ibu tau itu..tapi membalas orang dengan memukul lagi itu salah,apa bedanya kita sama dia" Jelas Alya lembut.
"Tapi dia sudah mendorong Qila,bahkan sempat mukul juga,masa Rafa diam aja Qila diperlakukan kaya gitu,masa Ibu mau tega sama Qila sih" Sungutnya kesal.
Bukan,bukan itu maksud Alya hanya saja dia tak mau pemukulan harus dibayar juga pemukulan,bukan bukan dia juga tak tega pada Qila diperlakukan seperti itu,jelas dia juga sedih dan dia marah tentu saja,ingin menemui Deris juga dan memarahi dia.
Tapi Alya kembali berpikir,dia tak mau anak satunya lagi bersikap tanpa tau akibatnya,dia tak mau anaknya itu mengambil keputusan harus dengan cara yang sama.
"Sayang,dengar Ibu..Bukan Ibu tega dengan Qila,ibu sedih juga marah Qila digituin,tapi yang Ibu mau kamu jangan membalas dia dengan gitu juga,ada Guru dan bisa kan kamu bawa dia keGuru kamu,bicarakan dengan apa yang kamu lihat..
Sayang gak semua masalah selesai dengan cara kekerasan,gimana kalau dia membalas dendam sama kamu,bakalan berabe lagi nantinya,soal Qila biar nanti Ibu yang urus.Ibu harap kamu gak gini lagi,menyelesaikan masalah dengan tenaga,ada cara lainnya Rafa"
"Terus Rafa harus diam aja Bu"
"Bukan berarti diam Rafa,berikan nasihat baik padanya dan bawa ke Guru kalian kalau dia sudah kelewat batas,coba lakukan dengan hati dan pikiran kamu,kalau lisan bisa berkata kenapa harus tangan yang bergerak"
Alya tetap berusaha untuk memberi nasehat pada Rafa,supaya dia mengerti tak semua masalah akan selesai dengan melayangnya tangan.
"Sekarang kamu masuk,dan ganti baju,lalu makan siang..setelahnya kamu istirahat" Titahnya pada Rafa dan dapat anggukan darinya.
Sedangkan Qila masih dibawah,Alya membawa Qila dalam pelukannya "Sayang,kamu jangan merasa Ibu tak membela kamu dan tega sama kamu,Ibu sedih,ibu juga marah Sayang,tapi Ibu berusaha untuk mengendalikan emosi,cara Rafa tetap salah dalam hal itu,ada cara lainnya Sayang"
Qila mengangguk "Sayang,dia memukul kamu dengan keras ?" Tanyanya lagi.
Qila menggeleng "Dia hanya memukul lengan Qila aja,tapi gak keras,tapi saat dia mendorong Qila,itu baru keras sakit pantat Qila Bu" Keluhnya dan berurai air mata lagi.
Alya kembali memeluk Qila "Besok akan Ibu bicarakan dengan orang tuanya,ayo Ibu Obati luka dipantat kamu,Ibu harap gak menjadikan sebuah dendam dihati kamu untuknya ya Sayang,dia pasti dapat hukumannya kok"
"Iya Ibu,Qila mengerti.."
Mereka berjalan untuk menuju kamar Qila yang bersebelahan dengan kamar Rafa.Memang itulah ungkapan sayangnya Rafa pada sang kakak kembarnya,meski kadang jahil namun bila ada yang melukainya,dia akan turun tangga seperti tadi.
***
...Bersambung...
__ADS_1
Semoga ngefeel ya🥰,,Kalau ada salah mohon koreksi,karena akupun belum merasa punya anak segede gitu,jadi masih awam dalam hal mendidik,mohon koreksi ya kalau aku salah😄