Menikah Dengan Kakak Ipar

Menikah Dengan Kakak Ipar
Bonchap 05


__ADS_3

"Ayah.." Qila berhambur kepelukan Arsen ,Ayah yang dia banggakan selama ini,tiada Ayah yang terbaik selain Ayahnya ,bahkan Arsen dimata Qila selalu banyak berkorban untuknya,selalu menyelipkan waktu untuknya.


Dan disaat saat seperti ini pun sang Ayah sangat berjasa membelanya mati matian,memfokuskan dirinya adalah prioritas untuknya.


Arsen membalas pelukan anak perempuan satu satunya itu,ya akan menjadi satu satunya,karena sekuat apa pun Qila meminta adik lagi,nyatanya Alya dan Arsen tak bisa memberi itu,karena setelah lahirnya Shaka,Alya sudah disteril dan tidak bisa hamil atau melahirkan lagi.


Perjuangan Alya melahirkan Shaka sangat berat,efek kejadian masa lalu yang membuatnya seperti itu,hingga mereka memutuskan seperti itu.


Qila anak yang sangat Arsen manjakan,meski masih berusaha diatas wajar tak terlalu berlebih,dia akan utamakan apapun juga untuk anaknya bukan hanya Qila,tapi juga Rafa dan Shaka.


"Sudah membaik sayang,sudah tidak apa apa" Ujarnya memberi ketenangan pada sang putri.


Mereka masih di dalam ruangan guru disekolah mereka,Bu Ina dan Ibu kepala Sekolah yang tak lama datang memohon maaf atas kejadian ini,mereka mungkin lalai dalam hal ini.


Qila masih bergelung dipelukan Arsen,dan masih menangis sesegukan kala itu.


"Kamu mau pindah ?kalau mau pindah,Ayah akan urus semuanya Sayang"


Qila menggeleng "Tidak Ayah,Qila masih mau disini,Qila baik baik saja kok" Ujarnya berusaha terlihat baik baik saja.


"Serius ?" Tanya Arsen lagi.


Qila mengangguk "Makasih Ayah,makasih Ibu" Cicitnya kemudian.


"Untuk kamu" Jawab Arsen ,dia pun tak urung memeluk anak lakinya Rafa,yang sudah membela saudara kembarnya itu


Dan setelah dari sana mereka memutuskan untuk pulang,sekolah member ijin pada keduanya untuk beristirahat sejenak.Mereka memutuskan untuk pulang,sedangkan Arsen kembali ke kantor.


"Kalian istirahat ya,Ayah harus kembali ke kantor" Ujar Arsen saat mobil sudah masuk ke pekarangan rumah mereka.


"Ayah tidak akan pulang malam kan ?" Tanya Qila.


"Tidak,Ayah pulang dijam biasa,kita akan makan malam bersama"


"Hem,baiklah.." Keduanya turun lebih dulu,setelah menyalimi tangan Arsen.


"Makasih,kamu sudah luangin waktu untuk anak kita,sangat sangat berterima kasih,kamu Ayah yang begitu hebat" Alya berhambur kepelukan Arsen dan dia sangat terharu.


"Apapun untuk kalian,kamu dan anak kita..kalian butuh aku,dan aku akan berusaha ada disaat itu" Arsen membalas pelukan istri tercintanya itu,yang sudah melahirkan tiga orang anak untuknya.


Wanitanya yang akan selalu dicintai,sampai maut memisahkan mereka nantinya.


Alya sedikit merengangkan pelukannya,dan kedua tangannya mengapit kedua pipi Arsen,lalu dikecupnya seluruh wajah suaminya itu,Suami yang selalu membuatnya begitu sempurna dalam setiap perlakuannya.

__ADS_1


Arsen tak tinggal diam,dia merasa tersanjung kala Alya memberi banyak kecupan diwajahnya,mereka masih di dalam mobil,sang supir yang mengantar mereka turun sejenak mengerti situasi yang terjadi.


Arsen dengan gembiranya mengecup bibir ranum Alya,yang selalu dan selalu menjadi candu baginya,bibir yang hanya dia miliki selamanya.


Memanggutnya dengan lembut,menyecapnya dengan cinta,di dalam ciuman itu memberi tau kalau mereka sangat sangat saling mencintai.


Panggutan itu terlepas,kala mereka sama sama mencari oksigen,dan lalu mereka tertawa bersama.


"I Love u" Ucap Alya


"I Love u Too" Balas Arsen sambil mengecup singkat bibirnya lagi.


"Berangkatlah,jangan pulang malam ok,aku akan masakin masakan yang istimewa untu kita"


Arsen tersenyum "Setelahnya aku yang akan memberi hal istimewa lainnya Sayang" Alya bersemu,dia tau dan mengerti apa yang Arsen maksud.


Arsenpun pergi dengam setuja rasa bahagianya,senyumnya tak luput dari sudut bibirnya,mendapatkan amunisi dipagi hari itu sangat menyenangkan baginya,walau hanya sebuah ciuman.


.


.


.


.


.


Hari itu Qila dan Rafa habiskan waktu dirumah bermain bersama Shaka sang adik,tak luput Alya pun ikut setra disana menemani ketiga anaknya ditaman belakang.


"Masih sakit Fa ?" Alya memegang luka lebam diwajah Rafa bekas kemarin.


"Sedikit Bu,," jawabnya.


Alya membelai surai Rafa dengan lembut "Fa,diusia kamu yang segini,apa kamu sesuatu semisal sebuah impian untuk nanti ?"


Rafa memang pribadi agak sedikit tertutup tidak seterbuka Qila,dia akan mau cerita sesuatu kalau Alya mendesaknya secara langsung,berbeda dengan Qila.Ini waktu yang tepat untuk Alya bisa mengobrol banyak dengan Rafa.


"Impian ?Hem..Rafa belum tau mau apa,tapi ada sedikit keinginan Rafa untuk bisa menjadi dokter,bisa menolong orang orang yang tak berdaya,bahkan mungkin Rafa bisa merawat Ayah dan Ibu kelak"


Tuturnya,ya keinginan itu muncul kala dia bertemu dengan seorang yang dia anggap sebagai sahabat,membuat dia berkeinginan menjadi seorang dokter,katanya seorang dokter itu seorang yang sangat berjasa,sangat dibutuhkan oleh semua orang dikala mereka sakit.


Kala itu

__ADS_1


"Tolong,tolong.." Teriak seseorang anak laki laki yang sekiranya seusia Rafa,dia sedang meminta bantuan orang sekitar.


Namun tak ada yang mendengarnya,atau mereka pura pura tak mendengar mungkin !!.


Saat itu Rafa sedang berjalan kaki sepulang dari rumah temannya sekolahnya bernama Dimas,dia melewati rumah anak laki itu,dan karena mendengar teriakan itu,Rafa pun menghampiri anak laki itu.


" Ada apa ?" Tanyanya penuh khawatir ,kala melihat raut wajah ketakutan anak laki itu.


"Tolong,tolongin Ibu saya,dia terjatuh diatas kasur" lirihnya masih dengan sambil berurai air mata.


Rafa dengan tergesa mengikuti anak laki itu,dan melihat keadaan sang ibu sudah terkapar diatas lantai dengan mulut keluar darah.Dengan tergesa Rafa ibu itu bersama anak itu ketempat tidur,dan tanpa banyak bicara dia segera berlari kerumahnya lalu meminta supir untuk mengantarkannya kerumah sakit.


sesampai disana,mereka tak langsung ditanggapi oleh pihak Rumah sakit,apalagi melihat penampilan anak laki yang sedikit lusuh.


Hingga berjam jam lamanya menunggu,baru ditangani itu juga karena Rafa yang memaksa,sang Ibu harus segera dioperasi ,namun sang anak tak mempunyai uang sama sekali,dengan berat hati dia harus merelakan sang ibu.


Rafa mengiris kala melihat kejadian itu,sang dokter yang melayani ibu itu tak bisa berbuat banyak,dia hanya pekerja disana ,yang layak memberi keputusan tetap petinggi rumah sakit.


Yang Rafa sesali,apakah tidak bisa membiarkan ibu itu dioperasi dahulu ,soal biaya mungkin akan ditangani nanti,yang terpenting keselamatan seseorang dulu.


Tapi apadalah daya rata rata prosedur rumah sakit seperti itu,biaya dulu yang utama,mungkin memang seperti itu.


*


"Rafa ingin menjadi Dokter bukan hanya seorang dokter ,tapi Rafa juga ingin mendirikan Rumah sakit sendiri,"


Cita citanya sederhana,ingin menolong orang yang kerterbatasan soal ekonomi,itu saja.


Alya tersenyum,dibalik nakalnya Rafa terselip rasa kemanusian yang tinggi pada Rafa.


"Ibu setuju,apa pun yang kamu mau wujudkanlah,Insya Allah jannah,niat kamu baik,semoga terkabul"


"Ibu mendukung,apa yang Rafa mau ?" Ujarnya dengan mata berbinar,mungkin impian itu masih kecil,tapi akan semakin besar kalau kita meyakininya dan berusaha keras untuk memujudkannya.


"Tentu,seperti yang pernah Ayah dan Ibu bilang,kita tak akan memaksa akan pilihan kalian,apa pun yang membuat kalian nyaman,senyaman mungkin"


"Makasih Ibu,Rafa sayang Ibu" Rafa memeluk sang Ibu penuh sayang,dia akan berusaha memujudkan keinginannya itu.


"Iya sayang,tapi janji jangan macam macam lagi setelah ini"


"Itu gak janji Ibu" Ujarnya dengan menyengir dan Alya mencubit hidung Rafa gemas.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2