
"Kakak harus sehat,kakak harus temani Afdan disini,Afdan kesepian Kak"
"Iya Dan,kakak pasti sembuh"
Mereka bertiga masih berada disana,Afdan masih menuntaskan rasa rindunya pada sang Kakak.Hidupnya terasa sangat menyedihkan,diusianga yang masih kecil harusnya bisa bersenang senang layaknya anak kecil lainnya.
"Kak.." Rafa menoleh kebelakang,kala bajunya terasa tertarik dan terlihat gadis kecil mungkin usianya sekitar 5thnan menang Rafa dengan mata beningnya.
"Apa ?" jawab Rafa,diapun berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.
Gadis kecil itu nampak sangat cantik,dengan rambut tergerai indah,dan punya mata yang begitu bening.Bahkan Rafa tak berkedip kala melihat mata indah itu.
"Olong Ambiyin itu" Tunjuknya pada sebuah pohon dibelakang Rafa,Rafa pun menoleh tapi tak mengerti apa yang gadis itu maksud.
"Apa ,ambil apa ?"
"Itu.." Tunjuknya lagi,tapi karena Rafa masih tak mengerti gadis kecil itu pun membawa Rafa sampai dekat pohon,dan menunjuk sebuah kertas origami yang terselip diatas pohon itu.
"Oh itu" tunjuk Rafa dan gadis kecil itu mengangguk,dengan sigap Rafa mengambilkan itu,pohon itu pohon kecil jadi Rafa tak kesulitan.
"Ini"
"Maasih" jawab gadis kecil itu dengan riang,lalu dia berlari menjauhi Rafa,sedangkan Rafa masih tertegun melihatnya.
Apa mungkin gadis kecil cantik itu punya penyakit yang sama seperti yang lainnya,betapa malangnya kalau itu benar,pikir Rafa.
"Namanya Sachikirana,sering dipanggil Sachi,dia masih terlalu kecil harus menanggung sakit itu,dia disini baru 1 bulan ini"
Seorang perawat mendekati Rafa,kala Rafa terus memperhatikan gadis kecil itu yang bernama Sachi,dia menoleh kala perawat itu menjelaskan secara rinci akan Sachi.
"Kanker Limfoma,atau kanker kelenjar getah bening,itu yang dia punya.Kalau itu kambuh dia akan merasakan demam,gatal gatal pada tubuh,bahkan sampai sesak nafas"
"Mungkin masih belum terlalu parah,dia anak yang kuat,bisa sembuh kalau dia rutin mengkonsumsi obat dan theraphy,selama satu bulan disini hanya baru satu kali dia merasakan gejala di atas."
"Bisa dengan cara apa kalau dia mau sembuh total kak ?" Tanya Rafa,entah dia tertarik akan Sachi.
"Bisa dengan dilakukan operasi sumsum tulang belakang,tapi itu pun tak langsung bisa berhasil,kemungkinan hanya 70%saja,asalkan dia tetap mau mengkonsumsi obat dan theraphy,ataupun ada keajaiban dari Allah"
"Kenapa dia bisa disini kak ?orang tuanya ?"
Perawat itu sedikit menghela nafas " Semua yang ada disini orang yang tak mampu ,kami mendirikan rumah singgah ini untuk menanggung mereka yang tak punya biaya pengobatan,semua disini ditanggung pemerintah adapun penyumbang dari berbagai sumber,itupun yang terjadi pada Sachi"
"Apakah aku juga bisa membantu ?"
__ADS_1
Perawat itu menoleh pada Rafa "Mungkin,membantu mereka tertawa kamu bisa membantu mereka,setidaknya mereka butuh itu"
"Apa penyakit mereka bisa disembuhkan ?"
"Ya seperti yang tadi saya jelaskan,tapi tak semua,tak banyak juga beberapa pasien meninggal,karena mereka tak bisa bertahan,kanker terbilang sangat sulit saat menemukan obatnya,terkecuali keajaiban dari Allah"
Perawat itu meninggalkan Rafa,dan Rafa merasa ingin semakin belajar tentang ilmu kedokteran ,dia ingin mengetahui banyak hal.
Dia pun berlari dan mendekati Sachi yang sedang bermain dengan origaminya.Rafa menawarkan diri untuk menemaninya bermain,dengan riang Sachi menganggukkan kepalanya.
Beberapa origami sudah mereka buat,dan tawa Sachi begitu serasa menyentuh untuk Rafa.Rafa merasa iba anak sekecil ini harus menanggung sebuah kesakitan.Begitupun saat melihat kakaknya Afdan yang katanya kankernya sudah stadium akhir.
***
.
.
.
.
***
"Assalamualaikum" Sapa Rafa sesaat dia baru saja pulang dari tempat singgah itu setelah sebelumnya mengantar Afdan bersama Dimas.
"Gak bikin ulah lagi kan ?"
"Dih,ibu jangan main tuduh aja deh,," sarkasnya,merasa tak senang.
"Kamu kan selalu begitu"
"Gak,bu..enggak..Eh,Bu aku mau bicara,tapi aku mau mandi dulu" Ujar Rafa,tapi sambil berlari kearah kamarnya dilantai atas.
Alya hanya menggeleng gelengkan kepalanya,dan dia kembali bermain dengan Shaka.
Setelah beberapa menit Rafa turun,dan kembali menghampiri Alya.
"Bu,Shaka dititipin dulu Bibi deh,Rafa mau bicara serius sama Ibu"
Alya mengerutkan dahinya "Emang apaan ?beneran serius ?"
"Iya Bu,aku pengen fokus bicara sama Ibu"
__ADS_1
Alya merasa aneh sih,tapi dia pun menitipkan Shaka pada Asisten rumah tangganya
"Ada apa hem ?"
"Bu,kalau aku minta sesuatu sama Ibu boleh ?" ujarnya agak ragu,dia ingin membicarakan soal Afdan dan soal rumah singgah itu,dia ingin bisa membantu keduanya.
"Iya apa Sayang ?kalau ibu mampu,insya Allah ibu kabulkan ,tapi selama itu buat kebaikan ya"
Rafa pun menceritakan soal Afdan dahulu,dari semenjak pertempuannya pertama,sampai dia bisa kenal dengan rumah singgah itu.
Alya mendengarkan dengan seksama,tak ayal dia meringis dan merasa iba pada cerita Rafa.
"Kasihan Afdan,coba kamu bawa dia kesini,disini ada kamar kosong kan,bawa dia tinggal disini saja Fa" ujar Alya,tak terbayang anak seusia Rafa harus tinggal sendiri.
"Serius Bu,Ibu setuju untuk membantu Afdan ?" tampak Rafa begitu antusias.
"Iya sayang,ibu akan biayain dia sampai dia besar dan lulus sama dengan kamu,dan soal Rumah singgah.Dengan senang hati Ibu akan jadi donatur disana,Ibu senang dan bangga sama kamu Fa"
Alya memeluka Rafa,dia terharu kala sang anak dia anggap nakal punya kepeduliaan luar biasa pada sesama.Rafa pun membalas pelukan sang Ibu.
"Tapi Bu,bagaimana dengan Ayah ?apa beliau akan setuju ?" Rafa mengurai pelukannya,dan raut wajahnya berubah kala belum ada persetujuan dari Arsen.
"Ayah pasti setuju kok,kamu tenang aja ya..besok kamu bawa Afdan kesini ya,Ibu ingin bertemu" Ujar Alya lagi,dan Rafa mengangguk riang.
"Dih,kalian peluk pelukan tanpa aku" bibir kecil itu mengerucut lucu,itu adalah Qila yang baru turun dari lantai atas kamarnya.
"Dih,kamunya aja yang syirikan" Rafa mencebik.
"Sini sayang" Alya melambaikan tangannya menyuruh Qila untuk mendekat,dan memeluk kedua anaknya.
"Kalian kesayangan Ibu,kalian harus sehat sehat ya"ujarnya sambil mengecup kepala mereka.
"Ada apa sih Bu ?kalian bicarain apa ?"
"Idih,kamu kepo.."
"Biarin,kalian mau main rahasia rahasian apa ?"
"Gak,sayang.."Dan Alya menceritakan balik semua pada Qila,Qila pun merasa iba pada apa yang Alya ceritakan.
Tak salahnya kita membantu mereka yang tak punya,harta kita tak akan habis untuk itu.Insya Allah malah akan terganti lebih.
***
__ADS_1
...Bersambung...
Maafkan aku lama ya❤🤭😄😄