
Pria berpakaian pelayan itu tidak luput dari perhatian Sherin. Wanita itu terus saja memperhatikannya. Apapun gerakan yang dia lakukan sekarang dalam pengawasan Sherin. Berbeda dengan penyusup itu sendiri. Dia sama sekali tidak sadar kalau kini ada yang mengawasinya.
"Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan? Sejak tadi terus saja memandang ke arah Quinn!" protes Sherin mulai bosan karena sosok itu tidak melakukan tindakan apapun yang membuat Sherin harus menyerangnya.
Di sisi yang lain, Joa juga sudah menyadari keberadaan penyusup itu. Sambil menikmati sebotol anggur, kini pria itu mengamati penyusup tersebut. Dia menunggu waktu yang tepat untuk memberi pelajaran kepada penyusup tersebut.
"Oke, sekarang saatnya. Dia pergi ke dapur. Tempat yang cocok untuk menangkap penyusup kecil!" ujar Sherin sebelum berlari mengejar. Begitupun dengan Joa yang juga ikut mengejar penyusup tersebut.
Dapur itu kosong karena semua orang sibuk di lokasi pesta. Tidak seorangpun muncul di sana selain penyusup tersebut. Dia mengeluarkan sebuah bom lalu ingin meletakkannya di bawah meja. Belum juga dia berhasil menempelkan bom itu, Joa sudah memegang tangannya dan merebut paksa bom tersebut.
"Kau!" Penyusup itu kaget bukan main melihat Joa ada di sana.
Sherin baru saja muncul. Tadi ada yang menghalangi jalannya hingga dia muncul terlambat. Melihat Joa memegang Bom membuatnya jadi curiga. Dia berpikir kalau pelayan tersebut adalah orang bayaran Joa.
"Dasar orang jahat!" teriak Sherin sebelum memberi tendangan di tubuh Joa. Pria tangguh itu langsung terjatuh. Bersamaan dengan penyusup yang sempat dia tangkap. Ternyata meskipun seorang wanita, tapi kekuatan yang dimiliki Sherin tidak bisa disepelekan. Wanita itu memiliki kemampuan yang hebat.
"Siapa kau!" umpat Joa kesal.
"Nona, orang ini yang membayar saya. Tolong bebaskan saya." Ternyata si penyusup orang yang cukup cerdas. Dia bisa memanfaatkan situasi agar bisa lolos dari sana.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Jika dilihat lagi kau memang seperti orang tidak berbakat. Sekarang aku sudah menangkap lawan yang seimbang denganku!" ujar Sherin dengan penuh keangkuhan. Joa mendengus kesal mendengarnya.
"Nona, anda sudah menangkap orang yang salah. Dia itu musuh sedangkan saya-"
"Berhenti bicara omong kosong!" Sherin melayangkan kakinya untuk memberi tendangan favoritnya di wajah Joa.
Namun dengan mudahnya Joa menangkap kaki wanita itu dan memberikan perlawanan. Karena Joa tahu kalau Sherin wanita yang tadi bertemu dengan Robin, pria itu juga tidak mau memukul Sherin dengan keras.
Penyusup itu segera kabur. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu yang singkat itu. Meskipun dia harus meninggalkan semua barang bawaannya, tetapi setidaknya nyawa dia aman.
Perlawanan yang dilakukan Joa justru membuat Sherin semakin yakin kalau Joa memang bersekongkol dengan pria tadi. Kali ini wanita itu melangkah mundur dan siap bertarung. Tidak banyak yang harus dipersiapkan Sherin karena dia terbiasa bertarung dengan menggunakan high heels. Di tambah lagi rambutnya yang pendek membuatnya bergerak dengan bebas.
__ADS_1
"Nona, anda sudah salah paham!" Lagi-lagi Joa berusaha untuk menjelaskan. Namun sayangnya percuma. Karena kini Sherin lagi-lagi memukul Joa. Bahkan kali ini wanita itu berniat untuk menendang perut Joa dan melumpuhkannya.
BRUKKK
Joa lagi-lagi terjatuh di lantai. Ada darah di sudut bibirnya. Bukan karena dia gak mampu melawan Sherin. Tetapi pria itu tidak mau melawannya. Namun melihat Sherin yang tidak ada berhentinya menyiksanya. Joa segera bangkit ingin membalas perbuatan wanita itu.
"Baiklah, jika memang ini yang anda inginkan!"
***
Pesta dansa itu berlangsung dengan meriah. Di detik-detik akhir sebelum selesai, semua tamu undangan menyingkir hingga hanya tersisa Quinn dan Dimitri di sana. Mereka berdansa dengan gerakan yang sangat romantis. Ketika Quinn mengalungkan kedua tangannya di leher Dimitri dan menatap pria itu dengan penuh cinta. Di saat itu juga semua tamu undangan merasa sangat bahagia.
"I love you," ucap Dimitri dengan penuh cinta.
"I love you to," jawab Quinn masih dengan ekspresi malu-malu meskipun sebentar lagi mereka akan menikah. "Kenapa tadi lama sekali? Kau kemana saja?" protesnya.
"Jangan bahas masalah tidak penting seperti itu. Quinn, aku ingin segera menikah denganmu. Aku ingin selalu kau ada di sisiku. Seperti ini." Dimitri menarik pinggang Quinn hingga wajah mereka sangat dekat.
"Jangan sekarang. Ada Daddy di sini," ucap Quinn dengan senyuman penuh arti. Dia takut jika Dimitri menciumnya di depan umum. Terutama di depan Luca.
PRANGGG
Suara pecahan kaca yang berasal dari dapur menyita perhatian semua orang. Robin yang ada di sana, segera berlari untuk memeriksa. Begitupun dengan pengawal Luca yang bertugas untuk berjaga-jaga.
"Ada apa?" tanya Quinn bingung.
"Biar aku periksa," jawab Dimitri. Ketika pria itu ingin berlari, tiba-tiba Quinn mencegahnya.
"Aku ikut!" pinta wanita itu. Dimitri hanya menjawab dengan anggukan saja sebelum menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.
Di dapur, kini Joa dan Sherin masih asyik bertarung. Ternyata kemampuan mereka imbang berat. Belum ada tanda-tanda kekalahan di sana.
__ADS_1
Tanpa sengaja Sherin menarik lemari yang menjadi tempat penyimpanan gelas. Wanita itu melebarkan kedua matanya ketika lemari itu jatuh ke tempatnya berdiri. Dengan cepat Joa menarik tangan Sherin.
Karena keseimbangan Joa tidak ada. Akhirnya pria itu terjatuh. Posisi Sherin ada di bawah. Tanpa sengaja bibir Joa mendarat sempurna di bibir Sherin. Mereka berdua sama-sama kaget karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua.
Robin yang baru saja tiba mematung melihat pemandangan itu. Begitupun dengan pengawal milik Luca. Dimitri dan Quinn yang baru saja tiba hanya bisa berdiri mematung seperti yang lainnya. Mereka semua masih tidak menyangka dengan pemandangan yang mereka lihat.
"BRENG*SEK!" umpat Sherin. Dia segera menyingkirkan tubuh Joa yang menindih tubuhnya. Ketika ingin memukul Joa, dia menahan gerakannya melihat semua orang sudah berkumpul di sana.
Joa berdiri dan menunduk hormat di depan Dimitri. Sedangkan Sherin justru ingin menusukkan belatih ke perut Joa karena terlalu emosi.
"Nona!" teriak Robin.
"Sherin!" teriak Quinn.
Joa segera memegang belatih yang dipegang Sherin. Meskipun tangan pria itu harus berdarah, tetapi dia tidak peduli. Yang penting belatih itu tidak mendarat di perutnya.
"Sherin, berhenti!" Quinn segera menarik Sherin agar tidak sampai mencelakai Joa. "Apa yang kau lakukan?"
"Dia ini penyusup!" sahut Sherin. "Lihatlah bom itu. Dia mau meledakkan rumah ini!"
Dimitri dan Robin sama-sama melirik ke arah bom yang ditunjuk Joa. Namun mereka tidak seperti Sherin yang langsung saja menuduh Joa tanpa ada bukti yang jelas.
"Saya sudah bilang sejak awal. Bukan saja," ucap Joa membela diri.
"Kau tidak bisa berbohong lagi. Bukti sudah ada di sini?" sahut Sherin tidak mah kalah.
"Sherin, dia itu orang kepercayaan Dimitri. Pria yang akan aku nikahi. Mana mungkin dia mencelakai kita semua!" bela Quinn hingga membuat Sherin terdiam.
"Quinn, apa kau tidak salah?" tanyanya dengan wajah sedikit bersalah.
Quinn menggeleng pelan. "Sepertinya kau sudah salah paham, Sherin."
__ADS_1
"Benar, Nona. Dia ini Joa!" Robin merangkul pundak Joa. "Dia saudara saya. Tidak mungkin kami mencelakai semua orang yang ada di sini. Kami ada di sini untuk melindungi Nona Quinn dan Bos Dimitri."
Sherin melepaskan belatih yang sempat dia pegang. "Itu tidak mungkin."