My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 56 Ketegangan


__ADS_3

"Di mana Xander? Sudah waktunya sarapan mengapa dia tidak muncul juga?" Jeremy mulai menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Pria itu sedikit heran karena tidak biasanya Xander melewatkan sarapan paginya. Tetapi beberapa hari ini justru putra tunggalnya itu jarang muncul di meja makan lagi.


Terlihat Viana hanya terus mengaduk nasi goreng yang ada di piringnya. Wanita itu tampak tidak bersemangat. Sesekali Viana menghela napas panjang.


"Apakah kau dan Xander bertengkar? Sepertinya kalian berdua tidak pernah bertengkar selama ini. Maksudku bertengkar hebat. Sampai-sampai salah satu di antara kalian tidak ikut sarapan. Sayang, kau bisa menceritakan semuanya padaku." Jeremy ingin mencari tahu penyebab Viana tidak bersemangat.


Wanita yang selama ini memiliki aura positif itu kali ini terlihat suram. Seolah Viana hampir kehilangan separuh nyawanya. Jeremy menghela napas dan menaruh sendok maupun garpu ke atas meja. Ia menjadi tidak nafsu makan saat melihat istrinya bersedih.


"Aku merasa bersalah pada Xander. Putra kita itu sepertinya kehilangan semangat untuk mendapatkan Quinn. Padahal tadinya aku berpikir kalau hubungan mereka akan sampai di jenjang yang lebih serius. Aku berharap kalau Xander bisa hidup bahagia bersama Quinn. Putri dari sahabatku itu. Aku bisa memastikan bahwa dia memiliki kepribadian yang baik. Tapi mengapa? Kita sepertinya terlambat." Viana mengungkapkan kegelisahannya.


Wanita itu juga menarik nafas dalam-dalam. Jeremy semakin terharu setelah mendengarkan Viana. Pria itu tidak menyangka bahwa Viana memikirkan putranya sampai sejauh itu. Padahal selama ini dirinya yang selalu mendesak putranya untuk mencari kekasih.


Bahkan dengan cara yang terkadang menciptakan emosi. Namun istrinya itu diam-diam memikirkan masa depan putranya. Jeremy mengukir senyuman. Kemudian menggenggam tangan Viana. Melihat sang suami mencoba menenangkannya, akhirnya Viana berusaha menciptakan senyuman di bibirnya. Namun Jeremy tahu jika itu hanyalah senyuman palsu supaya dirinya tidak lagi khawatir.


"Jangan khawatirkan hal itu. Xander sudah dewasa. Aku tahu jika dia akan mengerti kondisi ini. Ini bukan keinginanmu. Sudah bagus kau mencarikan wanita yang menurutmu pantas untuk mendampingi putra kita. Sejujurnya aku juga tertarik dengan pilihan Xander. Hanya saja apa yang bisa kita lakukan jika Quinn tidak memiliki perasaan terhadap Xander?" Pungkas Jeremy.


Viana terdiam setelah mendengarkan nasehat dari suaminya. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Jeremy ada benarnya. Akan tetapi Viana juga tahu kalau saat ini putra sambungnya pasti sedang bersedih. Sontak saja Viana tersentak. Saat Viana mengingat keberadaan Xander.

__ADS_1


"Aku baru sadar kalau Xander tidak ikut sarapan dengan kita. Aku akan mengajaknya berbicara." Viana pun berdiri dari tempat duduknya. Saat Viana akan berlalu pergi Jeremy menahan tangannya. Membuat Viana heran.


"Apa yang sedang kau lakukan, Sayang?" tanya Viana.


"Jangan mengganggu Xander. Siapa tahu dia membutuhkan waktu untuk sendiri. Kita semua tahu kalau dia baru saja mengalami hal buruk. Mungkin kita hanya perlu memberinya sedikit waktu supaya dia berdamai dengan lukanya." Jeremy memainkan kedua tangan Viana. Seolah pria itu sedang memprotes keputusan Viana. Wanita itu terdiam.


"Aku baru saja selesai bicara, Sayang. Tapi kau langsung ingin pergi ke tempat Xander? Tolong hargai rasa sakitnya. Dia pasti merasa tidak tenang setelah penolakan pertamanya ini." Jeremy menarik tangan Viana supaya dia duduk kembali ke tempatnya.


Akan tetapi Viana tidak tertarik untuk sarapan lagi. Wanita itu terus berpikir bagaimana caranya bisa membujuk Xander. Viana tersenyum. Kemudian wanita itu melepaskan tangan suaminya dengan lembut.


"Sayang, dengarkan aku. Tunggu sebentar saja. Aku ingin menasehati putra kita. Lagi pula Quinn dan pria itu tidak menjalin hubungan serius. Putra kita sudah mengatakan yang sebenarnya kalau pria yang sedang berdekatan dengan Quin itu merupakan temannya. Setidaknya masih ada sedikit harapan untuk meyakinkan Quinn tentang perasaannya. Aku tidak akan memaksa keputusan Xander nantinya. Aku hanya ingin menghibur Xander. Sebentar saja! Izinkan aku pergi sebentar saja. Aku akan kembali!" Viana pergi menuju ke kamar Xander.


"Mami? Mami mau manggil Xander untuk sarapan? Tadi Xander baru saja selesai ganti pakaian. Ayo, kita sarapan, Mam!" Xander bersikap biasa saja.


Pria itu bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun padanya. Hal itu membuat Viana semakin meradang. Walaupun Xander tidak pernah pengungkit lagi tentang perasaannya terhadap Quinn, tapi Viana paham apabila Xander saat ini sedang patah hati. Apalagi terlihat di wajahnya jika Xander sangat tertekan.


"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" tanya Viana.


Tidak menutup kemungkinan pertanyaan Viana membuat hatinya merasa tersenyum. Bagaimana bisa Xander bersikap seolah tidak terjadi apapun padanya. Pria itu bahkan masih bisa tersenyum di saat seperti ini.

__ADS_1


"Maafkan mami. Karena Mami tidak bisa meyakinkan sahabat Mami supaya terus melanjutkan acara lamaran. Kau pasti kesal pada mami kan?" Kedua mata Viana berubah menjadi sendu. Xander tidak ingin membuat Viana bersedih.


"Jangan membahas hal ini, Mam. Kalau jodoh aku dan dia pasti akan bersama lagi. Mami, aku percaya padamu. Jadi, jangan khawatir!" Xander pun berlalu meninggalkan Viana yang mematung di tempatnya.


Sikap Xander sedikit berbeda dari biasanya. Tapi, Viana sadar kalau Xander sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Viana menggelengkan kepala pelan. Wanita itu hanya bisa berharap dalam hati jika berjodoh dengan Quinn.


Berbeda dengan keadaan Xander yang saat ini sedang bimbang karena penolakan dari Quinn. Dimitri saat ini berada di sebuah ruang keluarga yang ada Quinn dan kedua orang tuanya. Dimitri meneguk ludahnya sendiri karena pria itu tidak pernah berhadapan dengan orang tua wanita manapun. Satu tangan Dimitri terangkat. Jika sebelumnya ia duduk di kursi itu sebagai seorang penolong. Sekarang dia duduk sebagai kekasih Quinn. Pria itu hanya bisa tersenyum kaku dan berniat untuk menyapa Luca maupun Tiffany. Namun, Dimitri urung melakukannya.


"Tuan Dimitri. Seharusnya Anda tidak melanggar batasan yang memang sudah kami tentukan dan disepakati oleh Quinn. Mengapa tiba-tiba di depan mata saya Anda malah justru berniat mendekati putri saya?" Tiffany tidak ingin berbicara basa-basi.


Wanita itu langsung berbicara kepada intinya. Sehingga membuat semua orang terkejut bukan main. Dimitri tidak bisa berkata-kata.


"Maafkan saya Tuan dan Nyonya. Tapi saya tidak bermaksud demikian. Hanya saja entah bagaimana kami berdua…. Anu, abaikan saja tentang hal itu. Kedatangan saya ke sini untuk melamar Putri Anda menjadi tunangan saya. Apakah Anda berdua akan memberikan izin kepada saya?" Dimitri berbicara dengan gugup. Pria itu kesulitan bernapas. Seolah kedua orang tua Quinn sedang mencekik lehernya.


"Apa? Kau ingin melamar putriku?" teriak Tiffany.


"Sayang! Duduklah. Biarkan dia berbicara. Kita harus mendengarkannya. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak bertengkar karena masalah ini?"


Perlahan, suasana tegang itu mulai sedikit mencair. Saat Tiffany tak lagi berkacak pinggang seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Katakan dengan jelas maksud kedatanganmu itu!" Tiffany membentak. Membuat semua orang kembali tegang. Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Dimitri?


__ADS_2