My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 182 Pernikahan Sherin


__ADS_3

Semua orang terlihat tersenyum bahagia ketika sepasang pengantin sudah mengucapkan janji suci sehidup semati. Joa dan Sherin memasang wajah yang sangat berseri. Namun ada satu orang yang terlihat tidak bersemangat. Dia adalah Xander.


Di saat semua orang beramai-ramai mengucapkan selamat kepada Sherin dan Joa. Xander justru lebih memilih duduk di kursi yang ada di ujung. Menyendiri. Jarinya terus saja mengetuk meja. Beberapa pelayan yang datang untuk menawarkan minum dia tolak. Bahkan ia suruh pergi jauh-jauh. Xander sendiri bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.


Xander memandang ke arah kerumunan para wanita yang kini sedang berkumpul. Mereka semua terlihat bercakap-cakap dengan penuh gembira. Tiba-tiba saja Xander melihat ada wajah Audy di sana. Ketika diperhatikan lebih jelas lagi, ternyata wanita itu bukan Audy.


"Kenapa wanita itu terus mengganggu pikiranku!" umpat Xander. Dia memandang ke arah pelayan wanita yang kini berlalu-lalang mengambil piring kotor. Lagi-lagi Xander melihat wajah Audy di sana. Namun sayangnya itu semua hanya halusinasi Xander semata.


"Tidak mungkin dia ada di sini. Bukankah hari ini adalah hari pertunangannya? Dia pasti sedang bersenang-senang di sana. Untuk apa juga aku memikirkannya. Sudah jelas kalau dia tidak akan mungkin pernah memikirkanku lagi!" ujar Xander kesal.

__ADS_1


"Siapa yang kau bicarakan?"


Xander memandang ke arah samping dan melihat Viana sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan wanita paruh baya itu ada di sampingnya. Yang pasti dia mendengar semua kalimat yang baru saja keluar dari mulut Xander.


"Tidak ada Ma. Kenapa Mama ada di sini? Bukankah seharusnya Mama ada di sana menemani Sherin dan Joa," ucap Xander. Dia memberikan kursi untuk Viana.


"Mama mencarimu sejak tadi. Hari ini adalah pesta pernikahan adikmu. Tetapi kau tidak mau bergabung dengan yang lainnya. Bahkan mengucapkan selamat saja tidak ada. Xander, apakah kau sedang memikirkan sesuatu?" Wajah Viana terlihat serius. Dia bahkan memegang tangan Xander agar putra sambungnya itu mau menjawab jujur.


Viana menghela napas panjang. "Jika kau tidak mau cerita, Mama juga tidak bisa memaksamu untuk cerita. Xander, ayo kita berkumpul dengan yang lainnya. Apa kata orang jika kau tetap di sini sedangkan Sherin dan Joa baru saja menikah. Para tamu undangan akan berpikir kalau hubunganmu dan Sherin sedang tidak baik-baik saja."

__ADS_1


"Ya, Ma. Aku akan ke sana." Xander segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Bersama dengan Viana mereka berjalan menemui Sherin dan Joa yang masih sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan.


"Kak Xander, kenapa kak Xander baru muncul! Apa Kak Xander sudah tidak sayang lagi padaku?" rengek Sherin.


"Maafkan Aku," ucap Xander sambil tersenyum. Pria itu membuka kedua tangannya hingga akhirnya Sherin berhambur ke dalam pelukan Xander. "Selamat ya. Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan. Sekarang kau sudah menjadi seorang istri. Bersikaplah lebih dewasa. Jangan jadi wanita yang ceroboh lagi."


"Aku pasti akan sangat merindukan Kak Xander. Aku sangat menyayangi Kak Xander, mama dan juga Papa. Terima kasih karena sudah merawatku dan menganggapku sebagai bagian dari keluarga ini. Aku merasa sangat beruntung setelah bertemu dengan Tante Viana." Kedua mata Sherin berkaca-kaca. Dia sangat sedih setiap kali mengingat, kalau sebentar lagi akan pergi dari rumah itu.


"Kau memang pantas untuk mendapatkannya. Kau juga wanita yang sangat baik dan mandiri," jawab Xander. Lagi-lagi pria itu memandang seorang wanita yang wajahnya mirip Audy. Xander mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.

__ADS_1


"Kak Xander baik-baik saja?" tanya Sherin khawatir.


Xander memandang ke arah wanita itu lagi. Pria itu mendengus kesal. "Tidak! Aku tidak boleh seperti ini!"


__ADS_2