My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 188 Disembunyikan


__ADS_3

Audy benar-benar kaget mendengar jawaban Xander. Namun bukan Audy namanya jika ia tidak memiliki ide untuk membebaskan Xander dari sana.


Audy tiba-tiba tertawa geli hingga membuat Aldo memandang ke arahnya. Tidak lagi menatap tajam ke arah Xander. "Aldo, apakah kau percaya dengan apa yang dikatakan oleh Xander?" Dia segera berjalan mendekati Aldo dan merangkul lengan pria itu dengan mesra. "Xander memang suka membuat sebuah lelucon. Kali ini ia membuat lelucon agar aku tertawa."


Aldo tertegun mendengar jawaban Audy. "Apa kau masih memikirkan masalah yang semalam?"


Audy mengangguk. "Sulit untuk dilupakan," jawabnya dengan nada yang lemah.


Xander mendengus kesal melihat Audy merangkul Aldo dengan mesra. "Aku-"


"Xander, maafkan aku karena harus mengatakan ini." Potong Audy cepat. Audy memasang ekspresi yang sangat tenang agar Aldo tidak curiga. "Tapi sepertinya aku dan Aldo harus pergi dari sini. Aku akan pesankan taksi untuk menjemputmu dan mengantarkanmu ke bandara."


"Kalian ke sini naik taksi?" tebak Aldo.

__ADS_1


"Ya," jawab Audy dengan senyuman terpaksa. "Aku pikir tempat ini bisa membuatku tenang. Kami tidak sengaja bertemu jadi aku mengajaknya ke sini juga. Maafkan aku. Kau jangan marah Aldo," rengek Audy dengan manja.


Xander semakin panas melihatnya. Dia sama sekali tidak menyangka bisa merasa cemburu lagi setelah beberapa bulan berhasil menghilangkannya.


"Tuan Xander, anda mau kemana? Saya akan meminta anak buah saya untuk mengantarkan anda ke alamat tujuan anda," tawar Aldo. Dilihat dari ekspresi Aldo yang sekarang. Sepertinya tidak ada masalah lagi di sana.


"Saya sedang menunggu teman saya. Tapi sepertinya dia sudah menipu saya. Sampai detik ini dia tidak bisa dihubungi. Sepertinya malam ini saya akan menginap di tempat ini saja. Saya juga tidak memiliki uang untuk memesan tiket pesawat. Semua barang saya ada pada teman saya," dusta Xander.


"Tuan Aldo, jika anda tidak keberatan. Bolehkah malam ini saya menginap di kediaman anda?" tanya Xander.


"TIDAK!" tolak Audy cepat.


Xander dan Aldo sama-sama memandang Audy. Wanita itu berdehem pelan. "Maksudku. Jangan suka merepotkan orang lain Xander. Aku dan Aldo belum menikah. Aku merasa tidak enak jika kau meminta hal seperti ini."

__ADS_1


"Audy sayang, tidak masalah. Mansionku besar." Aldo tersenyum ramah. Nyatanya dia memang pria yang sangat ramah. Hanya saja dalam kondisi tertentu dia bisa berubah menjadi pria yang sangat menakutkan. "Tuan Xander, anda boleh tinggal di mansion saya berapa lamapun yang anda inginkan. Bila perlu sampai pertunangan kami berlangsung."


"Berlangsung? Bukankah kalian sudah tunangan?" tanya Xander kaget.


"Pertunangan kami gagal. Tapi kami akan segera mencari waktu yang tepat untuk membuat acara pertunangan lagi. Bukankah begitu sayang?" tanya Aldo kepada Audy.


Audy melirik Xander sejenak sebelum mengangguk. "Dalam sekejap kebohonganku terbongkar. Bukan hanya itu saja. Tetapi sekarang aku harus memikirkan cara untuk membawa Xander keluar hidup-hidup dari Roma. Kenapa sih dia ini keras kepala sekali. Untuk apa juga tinggal di mansion Aldo. Kalau begini bagaimana caranya aku kabur? Bawa diri sendiri saja susah apa lagi berdua!" umpat Audy di dalam hati.


Aldo menarik pinggang Audy secara tiba-tiba dan mengusap pipi wanita itu dengan mesra. "Sayang, kau tidak perlu sedih lagi. Sekarang ayo kita pulang."


Audy hanya menjawab dengan anggukan saja. Wanita itu segera berjalan ketika Aldo membawanya ke mobil.


Xander masih berdiri di tempatnya. "Melihat kekhawatiran diwajahmu membuatku semakin yakin. Kalau kau masih mencintaiku Audy."

__ADS_1


__ADS_2