
Sherly duduk di depan meja riasnya dengan wajah yang begitu cemas. Bagaimana tidak? Malam ini juga dia harus berhasil memberikan Quinn racun dosis tinggi yang sudah dipersiapkan sejak lama. Perbuatan ini memang cukup beresiko.
Tetapi Sherly bukan takut akan resiko yang ia hadapi. Entah kenapa dia mulai ragu dengan misi yang sekarang ia jalani. Sherly berubah pikiran. Sikap baik Quinn yang begitu tulus terhadapnya, membuat Sherly tidak sanggup melihat Quinn tewas. Apa lagi dengan cara licik seperti ini.
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini," gumamnya di dalam hati. Sherly meneguk air putih yang ada di gelas dengan rakus. Wanita itu merasa haus sekali. Dia beranjak dari kursi lalu berjalan ke dapur untuk mengisi gelas itu dengan air yang baru.
Suara dari depan pintu menahan langkah Sherly. Seingatnya malam ini dia tidak janji dengan siapapun. Dengan rasa takut yang tidak karuan, Sherly berjalan ke depan pintu.
"Tuan, kenapa anda ke sini? Bagaimana kalau ada yang melihat kedatangan anda?" Sherly syok bukan main ketika pria yang menjadi atasannya itu muncul di rumahnya. Ini kedua kalinya pria itu duduk di sofa cokelat yang ada di rumah Sherly.
Sebelumnya pria itu datang untuk membicarakan kerja sama di antara mereka. Tepatnya beberapa tahun yang lalu. Rencana besar ini memang tidak berlangsung singkat. Butuh waktu bertahun-tahun agar apa yang mereka lakukan tidak pernah di sadari oleh Quinn dan keluarganya.
"Setelah wanita itu pingsan, bawa dia ke rumah sakit yang sudah aku tentukan. Dokter di sana sudah bekerja sama dengan kita. Tapi jika kita gagal membawanya ke rumah sakit itu, rencana kita akan gagal. Karena dokter yang sesungguhnya pasti akan tahu kalau ada racun di tubuh Quinn," jelas pria itu dengan jelas.
Sherly mengangguk setuju. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu harus bagaimana sekarang. "Tuan, setelah saya berhasil menyelesaikan tugas ini. Apa anda akan membebaskan saya? Apa saya bisa hidup tanpa harus menjalankan tugas dari anda lagi?"
"Ya. Sesuai janji. Hari dimana wanita itu dimakamkan, aku akan memberikan sejumlah uang dan kau bisa pindah ke negara yang kau inginkan. Kau juga akan menggunakan identitas yang baru," jawab pria itu dengan penuh keyakinan.
Padahal yang sebenarnya terjadi, dia tidak sebaik itu. Setelah Quinn tewas justru Sherly yang akan menjadi korban selanjutnya. Dia tidak akan mungkin membiarkan orang yang memegang rahasia ini hidup dan berkeliaran di luar sana.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Sherly sambil menunduk.
Sherly sebenarnya wanita yang baik. Dia terlahir dari keluarga baik-baik juga. Akan tetapi utang kedua orang tuanya sebelum pergi sangat banyak. Sherly tidak sanggup membayarnya. Pria paruh baya di depannya menawarkan pilihan yang begitu menggiurkan.
Hingga pada akhirnya Sherly setuju dan seluruh utang orang tuanya di anggap lunas. Bukan hanya itu saja, Sherly juga dilatih agar jago dalam bela diri. Banyak sekali hal yang ia dapatkan sejak bekerja sama dengan pria paruh baya yang tidak lain adalah musuh Luca di jaman kejayaannya dulu.
Pria yang biasa di sapa Tuan Nio itu mengincar nyawa Quinn sejak dia tahu kalau hidup Luca ada pada wanita cantik itu. Sejak dulu ia selalu gagal mencelakai Quinn. Mengingat penjaga Quinn yang begitu banyak. Ketika dia tahu kalau Sherly dan Quinn akrab, pria itu memanfaatkan kesempatan ini. Kebetulan juga orang tua Sherly berhutang banyak padanya.
...***...
"Ingat, Quinn. Kau harus menjaga kesehatanmu. Belakangan ini kau tampak lelah. Apa sebaiknya kau tidak usah berangkat bekerja saja? Kau di rumah bersama mommy. Toh kau juga tidak pernah membolos, Quinn. Kau sudah bekerja keras. Sepertinya akan menyenangkan jika kita bisa bersenang-senang bersama." Tiffany menyisir rambut panjang Quinn. Wanita itu sangat khawatir pada keadaan Quinn yang kemarin pingsan.
Dari pantulan cermin, Quinn bisa melihat bahwa Tiffany sangat gelisah. Ingin sekali Quinn bertanya pada Tiffany perihal kekhawatirannya itu. Namun, Quinn urung. Itu hanya akan membuat Tiffany dilanda amarah dan bisa jadi malah terus mendesak supaya Quinn tidak bekerja.
"Sudah, Mom. Aku harus bekerja. Nanti Sherly mengamuk kalau aku terlambat." Quinn berdiri dari tempat duduknya. Wanita itu berpamitan pada Tiffany.
Tiffany tadi mengantarkan sarapan pagi untuk Quinn. Sebab, Tiffany tidak ingin bila Quinn semakin kelelahan. Untuk itulah Tiffany membawakan sarapan ke kamar Quinn. Sebenarnya Tiffany juga tidak rela bila Quinn pergi bekerja. Kata dokter kemarin, Quinn terlalu memforsir pekerjaannya.
"Mom! Quinn berangkat bekerja ya! Sampai jumpa!" Quinn mencium pipi Tiffany. Sebelum akhirnya wanita itu pergi meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
Quinn terus berjalan menuju ke perusahaannya. Ia sudah sampai sejak 5 menit yang lalu. Wanita itu saat ini sudah berada di area parkir perusahaannya. Quinn bernapas lega karena ia tidak terlambat masuk ke kantor. Jika saja Quinn terlambat maka Sherly pasti akan mengomel panjang kali lebar.
"Quinn!" Benar saja. Sherly sudah berada di meja tempatnya bekerja. Senyuman lebar tersemat di bibirnya. Quinn pun langsung menjatuhkan bokongnya tepat di depan meja Sherly.
"Tidak sopan! Kenapa kau datang-datang langsung duduk begini? Aku belum mempersilahkan duduk!" Sherly mengomel lagi saat Quinn langsung duduk tanpa menyapanya terlebih dahulu.
Sebenarnya Quinn tahu tentang hal itu. Namun Quinn terlalu malas untuk berhadapan dengan omelan Sherly di pagi buta ini. Itu hanya akan menambah telinganya terasa panas.
"Jika kau terus mengomel seperti itu bisa saja aku sesak nafas sebelum aku mati. Sherly, kemarin malam aku pingsan. Aku menyesalinya. Sebab tadi malam adalah malam yang penting untukku. Dimitri ada di sana untuk melamarku dan kami akan membicarakan tentang pertunangan. Sayangnya aku malah tidak sadarkan diri." Quinn bercerita sambil menundukkan kepalanya.
Ekspresinya berubah total daripada sebelumnya. Mendengar kata-kata Quinn membuat jantung Sherly berdebar tak karuan. Itu artinya semakin lama racun yang sudah lama Ia berikan untuk Quinn nyatanya semakin menyebar. Sherly meneguk ludahnya sendiri.
"Lalu, mengapa kau bekerja? Seharusnya kau istirahat saja di rumahmu. Nanti kalau kau pingsan lagi siapa yang akan menggendongmu? Tahu-tahu kalau aku akan meninggalkanmu apabila mengetahui saat dirimu pingsan." Sherly berbicara dengan nada yang ketus. Meski begitu Quinn tahu apabila Sherly sedang bercanda ataupun menyesalkan perbuatannya.
"Aku tidak bisa membolos di saat pekerjaanku sangat banyak Sherly. Apa kau ingin mendapatkan limpahan banyak pekerjaan dariku?" Quinn mengingatkan kembali bahwa bisa saja Quinn tidak bekerja dan memilih untuk berlibur di rumah tanpa. Sehingga membuat pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Quinn itu tersebar kepada orang lain.
"Sudah ya, aku kerja dulu." Quinn pergi meninggalkan Sherly. Tanpa Quinn sadar jika mimik wajah Sherly berubah.
"Maaf. Tapi, sepertinya sebentar lagi kau akan lebih sering pingsan. Aku tidak akan membantu. Karena nyawaku sendiri juga terancam. Aku tidak bisa memilih. Antara nyawamu atau nyawaku, Quinn."
__ADS_1