My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 178 Dasar Wanita


__ADS_3

Sherin membanting pintu mobil hingga membuat Leonzio menaikan satu alisnya. Pria itu memandang ke arah Joa dan Xander yang juga baru saja keluar dari mobil.


"Aku tidak peduli dengan masalah yang terjadi di antara kalian. Jika kau ingin Joa tetap di sini maka aku juga akan tetap ada di sini!" ketus Sherin. Wanita itu tidak mau berpisah dengan Joa.


Dia tahu kalau pekerjaan Joa selalu saja berbahaya. Sherin hanya mau hidup dan mati bersama dengan Joa. Percuma dia pulang dengan selamat, jika nanti di hari pernikahan mereka Joa belum kembali.


bersamaan dengan itu pasukan White Snake telah tiba. Kali ini Leonzio tidak bisa memandang remeh lagi. Dia justru mengumpat kesal karena berpikir kalau sejak tadi Joa sengaja mengulur waktu. Pria itu terlihat marah.


"Seharusnya aku tidak mengizinkanmu bicara sejak awal!" teriak Leonzio.


Joa segera menarik tangan Sherin dan menyembunyikan wanita itu di belakang tubuhnya. Kali ini Joa tidak bisa marah pada kekasihnya itu. Dia tahu apa alasan Sherin berbuat seperti ini.

__ADS_1


Xander berdiri di samping Joa. "Apa dia yang memintamu untuk bertahan di sini? Bagaimana kalau aku saja?" bisik Xander.


"Bos, pria itu yang mengaku-ngaku kalau dia adalah pemimpin White Snake. Jangan pernah percaya dengan apa yang mereka katakan. Mereka semua adalah pembohong!" bisik anak buah Leonzio yang saat itu pernah berhadapan langsung dengan Joa dan Xander.


"Saya di sini tidak ingin cari musuh," ucap Joa. Dia masih berusaha untuk mengajak Leonzio berdamai.


"Kau takut? Joa, kau bisa tahu lihat sendiri kalau anak buahku jauh lebih banyak daripada pasukanmu yang tidak seberapa itu. Ini juga wilayah kekuasaanku. Karena kau sudah tahu kalau pada akhirnya akan kalah, jadi kau berusaha mengajakku untuk berdamai. Tapi kali ini aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi. Serahkan Audy jika kau ingin bebas dari sini." Leonzio melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. "Kalian semua tidak akan pernah bisa meninggalkan kota Roma sebelum Audy berdiri di hadapanku!"


"Aku yang sudah menyebabkan masalah ini. Kau tidak perlu menyalahkan Joa," sahut Xander. Dia tidak mau Sherin dan Joa bertengkar.


"Bukankah tadi kita sudah sepakat untuk menghabisi musuh? Lalu kenapa sekarang harus kita yang bertengkar?" Joa melirik satu persatu anak buah Leonzio. Dia mulai mencari kelemahan mereka.

__ADS_1


"Itu karena aku terlalu naif! Orang sepertimu memang tidak perlu dikasih ampun!" Leonzio dan anak buahnya mengangkat senjata api dan mengarahkannya ke Joa dan juga Xander.


Begitupun dengan White Snake yang kini sudah mengangkat senjata api mereka ke arah Leonzio dan anak buahnya. Pertengkaran sudah tidak bisa dihindari lagi karena kini Leonzio sudah sangat emosi.


Joa merapikan penampilannya. "Baiklah jika memang ini yang kau inginkan. Mari Kita buktikan siapa yang paling hebat di antara kita!" tantang Joa pada akhirnya. Meskipun jumlah pasukan yang ia miliki sangat sedikit jika dibandingkan dengan Leonzio. Akan tetapi Joa sangat percaya diri kalau dia pasti akan menang kali ini.


Xander memberikan Sherin senjata api. Dia juga tidak bisa diam saja. Pria itu sendiri menggenggam senjata api dan menembak pasukan Leonzio yang ingin menyerang mereka.


Joa dan Leonzio ada di tengah kerumunan. Mereka bertarung. Saling memukul satu sama lain. Tanpa menggunakan senjata apapun. Joa sendiri juga tidak pernah mau menggunakan senjata jika lawannya hanya tangan kosong.


"Joa, aku tahu sikapku telah menyusahkanmu. Tapi ini jauh lebih baik daripada kau bertarung sendirian," batin Sherin di dalam hati. Wanita itu terus menembak satu persatu musuh yang muncul sambil sesekali memandang ke Joa untuk melindunginya. "Inilah cinta. Susah senang bersama."

__ADS_1


__ADS_2