
Seperti apa yang tadi dikatakan oleh Nichole. Di tengah jalan yang sangat sepi, telah terjadi pertarungan yang begitu sengit. Masing-masing kelompok saling menyerang dan mengalahkan lawan mereka. Di sana terlihat Dimitri yang sedang berusaha untuk memenangkan pertarungan pada malam itu. Di depannya telah ada musuh yang selama ini dikenal dengan nama Hugo.
"Kali ini kau pasti kalah!" ucap Hugo dengan penuh keyakinan.
Secara curang anak buah Hugo muncul di belakang Dimitri dan memukul pria itu dengan balok kayu yang sangat besar. Hingga pada akhirnya Dimitri jatuh terduduk sambil menahan rasa sakit yang begitu luar biasa. Mulutnya mengeluarkan darah akibat dari memar yang ia dapatkan.
Hugo mengangkat senjatanya ke atas. Pria itu sepertinya sudah tidak sabar untuk menembak musuhnya tersebut. "Terima kekalahanmu, Dimitri!" ucap Hugo dengan penuh semangat.
Dimitri mengangkat kepalanya ke atas. dia sama sekali tidak takut dengan ancaman apapun yang diucapkan oleh Hugo. Dimitri yakin kalau anak buahnya pasti bisa menyelamatkannya meskipun sampai detik ini mereka belum juga muncul seluruhnya.
Pistol yang ada di tangan Hugo terpental hingga beberapa meter. Peluru berwarna emas berhasil menghalanginya untuk melakukan aksi penembakan terhadap Dimitri. Joa mengukir senyuman tipis. Tembakan tepat sasaran itu berasal dari pistol Joa. Dia baru saja tiba. Meskipun sempat menyesal karena datang terlambat tapi pada akhirnya pria itu merasa lega melihat Hugo gagal menembak Dimitri.
Sebenarnya kemampuan Dimitri tidak kalah hebatnya dari Hugo. Bahkan ketika bertarung Hugo sering kalah. Tetapi kali ini Hugo benar-benar licik. Dia membuat Dimitri kelelahan dengan memunculkan anak buah yang tidak ada habisnya. Hingga pada saat Dimitri mulai lelah, dia barulah muncul dengan tenaga yang masih penuh.
“Kau mau menembakku? Eh?” ucap Dimitri dengan senyuman menghina. Pria itu mendekati Hugo lalu memukul wajah pria itu berulang kali hingga ia tergeletak di atas permukaan lantai. Darah keluar semakin deras.
Hugo terlihat sangat menyedihkan malam itu. Tatapan matanya juga sudah semakin tidak jelas. Berulang kali ia berusaha menguasai penglihatannya, namun sangat sulit untuk ia lakukan.
Dimitri membersihkan tangannya dengan sebuah sapu tangan berwarna putih. Pria itu melempar sapu tangannya ke arah lain sebelum mengangkat pistol berwarna hitam miliknya. Joa baru saja memberikan senjata api favoritnya.
Kali ini tidak ada lagi yang menghalangi niatnya untuk merenggut nyawa Hugo. Dengan sorot mata yang cukup tajam Dimitri menarik pelatuk pistolnya hingga berulang kali.
DUARR DUARR.
Quinn yang baru saja tiba hanya bisa memejamkan mata saat melihat adegan keji yang ada di depan matanya. Dua peluru menancap di dahi Hugo hingga membuat pria itu melebarkan kedua matanya. Menatap ke arah atas dengan tatapan menyedihkan.
Dimitri memandang wajah anak buah Hugo yang masih hidup. Dimitri terlihat tidak tertarik untuk melawan anak buah Hugo. Terlebih lagi ketika dia melihat Quinn ada di sana. Tubuhnya berputar lalu berjalan pergi menghampiri Joa. “Aku serahkan mereka kepadamu.”
__ADS_1
“Baik, Bos,” ucap Joa.
Dimitri berhenti di hadapan Quinn. "Kenapa kau bisa ada di sini Queen? Bukankah malam ini Xander dan keluarganya datang menemui orang tuamu untuk melamarmu. Lalu Bagaimana hasilnya? Tanggal berapa kalian akan bertunangan?"
Quinn mengepal kuat kedua tangannya. Rasanya ingin sekali dia memukul Dimitri. Quinn benar-benar sedih melihat keadaan Dimitri saat ini. Entah kenapa seluruh tubuhnya terasa seperti kesakitan ketika melihat tubuh pria itu babak belur. Terlebih lagi hatinya dan nafasnya yang kini mulai terasa sesak.
"Bisakah untuk tidak membahas masalah lain? Saat ini kesehatanmu yang lebih utama. Ayo aku antar ke rumah sakit. Dokter akan mengobati semua lukamu!" Quinn memegang tangan Dimitri dan ingin menariknya ke mobil. Namun dengan cepat Dimitri menghempaskannya. Ternyata pria itu marah. Dia sangat cemburu setiap kali mengingat kalau malam ini keluarga Xander datang untuk melamar Quinn.
"Untuk apa kau datang ke sini Quinn!" lagi-lagi Dimitri melontarkan pertanyaan yang sama.
"Aku datang karena aku sangat mengkhawatirkanmu. Tanpa sengaja Nichole melihatmu bertarung di tempat ini!" sahut Quinn apa adanya.
"Apakah kau tidak bisa datang sendirian?" tanya Dimitri.
Quinn mengernyitkan dahinya dengan wajah bingung. Padahal seingat Quinn dia memang datang sendirian ke tempat itu. "Dimitri, apa yang kau katakan? Memangnya aku datang dengan siapa?"
"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau mengikutiku?" protes Quinn marah.
"aku sangat mengkhawatirkanmu sampai-sampai pergi begitu saja mengikutimu," jawab Xander. Pria itu berjalan mendekati Dimitri dan juga Queen. "Tapi jika kau merasa tidak nyaman dengan kehadiranku di sini aku akan pulang. Setidaknya aku bisa pulang dengan lega ketika melihat sahabatku dan wanita yang aku cintai baik-baik saja." Pria itu segera memutar tubuhnya karena ingin segera pergi meninggalkan Quinn dan Dimitri di sana.
"Tunggu!" cegah Dimitri. "Kau harus mengantarkan Quinn pulang ke rumah. Aku masih banyak urusan yang harus aku selesaikan!" Dimitri tiba-tiba pergi meninggalkan Quinn begitu saja. Hal itu membuat goresan luka di hatiku ini. Lagi-lagi dia merasa patah hati karena pria. Quinn tidak menyangka kalau Dimitri akan mengabaikannya begitu saja.
"Quinn, Ayo kita pulang. Bukankah dia sudah pergi meninggalkanmu? Lalu kau masih mau di sini untuk menunggunya kembali?" ajak Xander dengan penuh kelembutan.
"Aku bisa pulang sendiri!" ketus Quinn.
Wanita itu segera pergi meninggalkan Xander sendirian di sana. Ternyata Quinn yang tidak benar-benar pulang ke rumah. Wanita itu justru melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengejar mobil Dimitri yang sudah melesat jauh di depan sana.
__ADS_1
Xander membuang tatapannya dengan hati yang dipenuhi kekecewaan. "Apa Dimitri marah padaku karena perkataanku tadi? Tapi aku sama sekali tidak ada niat untuk melukai hatinya. Aku hanya ingin dia berpikir lebih terbuka. Quinn akan aman jika bersama denganku. Tidak dengannya yang selalu dikelilingi oleh para musuh," gumam Xander di dalam hati. Tanpa dia ketahui kalau Quinn sendiri juga berasal dari keluarga mafia.
***
Quinn mendahului mobil Dimitri hingga membuat Dimitri mengerem mobilnya secara mendadak. Sedikit saja ia terlambat menginjak remnya maka Quinn akan celaka. Setelah mobilnya benar-benar berhenti, Dimitri segera turun. Sama halnya dengan Quinn yang kini juga turun dan berjalan menghampiri Dimitri.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Dimitri. Pria itu sendiri juga tidak menyangka kalau Quinn kini menampar wajahnya. Satu tangannya terangkat ke atas dan memegang pipinya dengan tatapan tidak percaya.
"Kau benar-benar brengsek! Aku membencimu! sangat-sangat membencimu!" Meskipun wanita itu bicara dengan nada yang dipenuhi emosi tetapi dari kedua matanya Dimitri bisa tahu kalau sebenarnya wanita di hadapannya itu ingin menangis. Hingga pada akhirnya Dimitri memutuskan untuk melupakan tamparan di wajahnya. Pria itu memilih untuk menarik tubuh Quinn ke dalam pelukannya.
"Kau sendiri tahu kalau aku sangat mencintaimu. Tetapi kau masih mau menemui pria lain. Kau terus-menerus membuatku cemburu. Apakah kau pikir aku tidak sakit hati. Dan malam ini kau justru berpenampilan dengan begitu cantik ketika ingin bertemu dengan mereka. Padahal aku sendiri yakin kalau kau tahu maksud dan tujuan kedatangan mereka itu apa," ucap Dimitri pada akhirnya. Pria itu merasa lega karena bisa menyampaikan isi hatinya yang sejak tadi tidak bisa ia ucapkan.
Quinn memejamkan matanya ketika berada di dalam pelukan Dimitri. Kini wanita itu jadi tahu apa yang sudah menyebabkan Dimitri berubah. Meskipun begitu Quinn tidak mau menyalahkannya.
"Aku hanya menuruti apa yang dikatakan oleh mommy. Kau sendiri tidak pernah jelas! Bagaimana aku bisa membelamu di depan keluargaku!" sahut Quinn masih dengan posisi memeluk tubuh Dimitri.
"Tidak jelas kau bilang?" Dimitri melepas pelukannya lalu menarik dagu Quinn agar menatap wajahnya dengan jelas. "Mereka selalu mengusirku. Aku tidak pernah diberi kesempatan untuk menemuimu. Aku yakin kau tahu akan hal itu." Dimitri berusaha membela diri.
"Lalu apakah kau akan menyerah begitu saja?" tanya Quinn.
"Tadinya ya. Aku ingin menyerah. Tapi setelah detik ini aku berubah pikiran. Quinn, apakah kau juga mencintaiku? Apakah kau merasakan cinta yang selama ini aku rasakan? Kau juga takut kehilanganku? Apa kau juga merasa sakit ketika aku terluka?" Dimitir menatap Quinn penuh harap.
Quinn memegang pipi Dimitri sebelum mengangguk. "Ya, aku mencintaimu."
Dimitri tersenyum bahagia mendengarnya. Pria itu mendaratkan bibirnya di bibir Quinn sebelum mengecupnya dengan begitu lembut. Quinn membalas kecupan itu dengan penuh cinta. Kedua tangannya ia kalungkan di leher Dimitri.
__ADS_1
Dari kejauhan, Xander melihat semuanya dengan penuh cemburu. Pria itu segera pergi dari sana karena tidak mau sakit hati lebih jauh lagi.