
Sherly masih bertahan di rumah sakit karena dia tidak memiliki alasan yang kuat untuk kabur dari sana. Ditambah lagi Dimitri seolah-olah percaya kalau Sherly adalah sahabat terbaik yang dimiliki Quinn. Karena memang beberapa kali pertemuan Dimitri melihat Quinn dan Sherly terlihat bersenang-senang.
Berbeda dengan Xander yang mulai curiga. Banyak sedikitnya Xander lebih pintar menguasai ekspresi wajah seseorang. Dia bisa tahu dari kegelisahan yang berusaha disembunyikan Sherly sejak tadi.
Sore itu Quinn sudah dipindahkan ke ruangan VVIP. Dia masih belum sadar hingga semua orang belum bisa bernapas dengan lega. Sambil menunggu Quinn sadar, mereka juga sedang menanti hasil pemeriksaan yang katanya akan keluar secepatnya.
Luca dan Tiffany sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Begitupun dengan Malvin dan Nichole. Setelah mendapat kabar Kalau Quinn pingsan dan dibawa ke rumah sakit, mereka segera menuju ke rumah sakit. Bahkan seragam sekolah juga masih melekat di tubuh mereka.
Di dalam ruangan terlihat jelas kalau kini Dimitri sedang duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangan Quinn. sedangkan Xander dan Sherly duduk di sofa dengan posisi saling berhadapan. Xander terlihat tenang karena memang sejak tadi ia tertarik untuk mengawasi sikap Sherly yang mencurigakan. Berbeda dengan Dimitri yang terlalu mengkhawatirkan kesehatan Quinn sampai-sampai tidak peduli lagi dengan apapun.
Pintu terbuka lebar, Dokter Fei masuk dan berdiri di sana. Dia memandang ke arah Xander dan Sherly sejenak sebelum berjalan menghampiri Dimitri.
"Hasil pemeriksaannya sudah keluar. Mulai sekarang Nona Quinn akan menjadi pasienku," ucap Dokter Fei.
"Apa racun yang ada di dalam tubuh Quinn sangat berbahaya? Fei, tolong selamatkan Quinn!" sahut Xander.
__ADS_1
Dimitri sendiri belum sempat berbicara karena Xander lebih dulu mengeluarkan kata. "Fei, aku percaya padamu. Kau pasti bisa menyelamatkan Quinn. Bukankah sejak dulu kau selalu bisa diandalkan?"
"Tapi jenis racun yang ada di dalam tubuh Nona Quinn sangat langka. Bahkan dilihat dari hasil pemeriksaan racun ini sudah merusak organ-organ penting dalam tubuh Quinn termasuk jantung dan ginjal. Racun ini sudah bertahun-tahun ia konsumsi."
"Bertahun-tahun kau bilang? Siapa yang berani meracuni kekasihku! Aku pasti akan memenggal kepalanya detik ini juga!" ucap Dimitri penuh emosi.
"Tadi dokter di bawah sempat bicara soal kopi. Apa benar kalau racun itu aktif jika dicampur dengan kopi?" tanya Xander penasaran.
"Benar. Racun ini akan aktif jika korbannya meminumnya bersama dengan kopi. Aku tidak tahu kita bisa berhasil untuk membersihkan racun ini seluruhnya atau tidak. Tapi untuk sekarang kami masih bisa mengupayakan beberapa tindakan agar kondisi Nona Quinn selamat. Tetapi satu hal yang harus kalian ketahui. Jika racun itu tidak bisa bersih dari tubuh Quinn, maka selamanya Quinn akan menjadi wanita yang mudah sakit. Dan dia harus menjalani terapi khusus."
Sama halnya dengan Dimitri. Kini Xander juga terlihat sedih. Meskipun belum lama kenal tetapi Quinn cukup berarti di dalam hatinya. Pria itu juga tidak mau terjadi sesuatu terhadap Quinn.
Suara pintu terbuka dengan kasar. Luca dan Tiffany baru saja tiba. Dengan wajah yang sedih Tiffany segera menuju ke tempat tidur untuk melihat keadaan putrinya. Sedangkan Luca lebih memilih untuk menghampiri dokter Fei dan juga Dimitri.
"Quinn Sayang ... Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau pingsan lagi nak?" lirih Tiffany dengan derai air mata yang semakin deras. Ibu mana yang sanggup melihat anaknya tertidur dengan tubuh yang sangat pucat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada Quinn? Kenapa dia bisa pingsan?" tanya Luca kepada dokter Fei.
"Nona Quinn keracunan," sahut Dokter Fei. Meskipun dia bosan untuk menjelaskan kalimat yang sama tetapi dia harus mengatakannya lagi agar Luca tahu.
"Apa keracunan makanan maksud anda, Dok?" tanya Luca lagi.
"Bukan, Tuan. Tetapi seseorang dengan sengaja memasukkan racun ke dalam minuman yang dikonsumsi oleh Nona Quinn selama ini. Racun itu aktif di dalam larutan kopi," sahut Fei.
"Kopi? Tapi di rumah Quinn tidak pernah minum kopi," sangkal Tiffany. Dia selalu tahu apa yang selama ini di minum dan di makan putrinya saat ada di rumah.
"Kopi?" Luca membeo. Pria itu langsung kaget mengetahui putrinya sakit. "Tadi anda bilang seseorang memberinya racun dan memasukkannya ke dalam kopi?"
"Benar, Tuan," jawab Dokter Fei lagi.
Xander memandang ke arah Sherly yang menunduk ketakutan. Pria itu berjalan menghampiri Sherly lalu mencengkram kuat tangan wanita itu. "Apa kau tahu sesuatu?"
__ADS_1