
"Sayang, ingat. Kau tidak boleh jauh-jauh dariku. Gunakan senjata yang sudah aku persiapkan. Jangan pernah meremehkan lawanmu. Jika kau dalam keadaan terdesak, kau bisa memanggilku. Tapi aku akan menjagamu dengan baik. Aku tidak akan membiarkan satu orangpun menyentuhmu," ucap Dimitri dengan wajah khawatir.
Bahkan mereka masih ada di dalam pesawat menuju ke tempat acara perlelangan dilaksanakan. Akan tetapi Dimitri sudah memberi sejuta nasehat kepada Quinn.
"Ya, sayang," jawab Quinn sambil tersenyum. "Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Kau ini jago bertarung dan menembak." Quinn lagi-lagi membanggakan diri.
"Quinn, tapi apa yang dikatakan Dimitri ada benarnya juga. Kau jangan terlalu sombong!" ketus Sherin yang saat itu duduk di dekat Quinn.
"Ya, aku akan lebih hati-hati. Target utama kita adalah Chen Li. Sedangkan pria itu akan di sedang langsung oleh Dimitri dan Joa. Bukankah itu berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sana?" Quinn memandang ke kursi yang masih kosong. "Dimana Nichole? Dia tidak jadi ikut?"
"Aku di sini kak," sahut Nichole yang ternyata duduk di belakang kursi Quinn. Wanita itu segera beranjak dan memandang adiknya sambil tersenyum. "Nichole, ini adalah misi pertamamu. Jadi kau harus memperlihatkan kualitas dirimu. Nanti Kakak yang akan menilai seberapa hebatnya gaya bertarungmu."
"Kakak tenang saja. Aku akan menjaga kakak dengan baik," jawab Nichole.
Quinn kembali duduk di kursinya. Wanita itu memegang tangan Dimitri lalu mengecupnya mesra. "Aku tidak mau kau sampai terluka."
Dimitri tersenyum mendengarnya. "Aku akan baik-baik saja."
Sherin memalingkan wajahnya ke samping. Dia tidak mau melihat kemesraan Quinn dan Dimitri. Karena memang kebetulan saat itu yang duduk di samping Sherin adalah Joa. Jadi kini Sherin harus memandang wajah Joa yang sedang tidur.
Pria itu memejamkan mata dan menghembuskan napasnya dengan tenang. Dia tidur dengan lelap. Ada handset ditelinganya. Joa sengaja memakai benda mungil itu agar bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus mendengar obrolan semua orang yang ada di pesawat.
"Apa dia benar-benar tidur?" batin Sherin. Wanita itu melihat sebuah pena di atas meja. Tadi Joa sempat mencoret-coret sebuah kertas untuk menentukan posisi anak buahnya berada.
__ADS_1
Melihat sebuah pena di meja membuat Sherin mengukir senyuman penuh arti. Wanita itu mengambil pena tersebut lalu mencoret tangan Joa. Awalnya dia ragu. Sherin takut Joa marah karena dia sudah mengganggu tidurnya. Akan tetapi, kali ini Joa tetap memejamkan mata tanpa peduli dengan apa yang dilakukan oleh Sherin.
"Aku akan menulis namaku di sini. Ini sebagai ikatan kalau hanya aku yang boleh dekat-dekat denganmu," ujar Sherin. Dia mengukir namanya dengan begitu indah. Setelah itu Sherin beranjak dari kursi yang ia duduki karena mau ke toilet.
Joa membuka mata setelah Sherin pergi. Pria itu mengangkat tangannya lalu melihat nama Sherin di sana. "Wanita yang aneh!" gumam Joa di dalam hati. Meskipun begitu, dia sangat senang dan tidak memiliki niat untuk menghilangkan coretan di tangannya itu.
...***...
Zack Lee sudah tiba di London. Ternyata pria itu juga mendapat undangan untuk hadir di acara perlelangan yang akan dihadiri Chen Li dan juga Sherin. Pria itu sudah terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Meskipun masih ada rasa kecewa, tetapi dia sudah bisa berakhir normal seperti biasanya.
"Bos, kita akan menginap di hotel. Acaranya ada di aula hotel. Chen Li juga hadir dalam acara ini," jelas pria itu.
"Bagus! Aku memang ingin menemuinya!" sahut Zack Lee. Dia menekan nomor lift lalu masuk ke dalamnya. Pria itu ingin istirahat sebelum akhirnya dia bertemu dengan Chen Li nantinya.
Zack Lee melihat kontak yang ada di ponsel. Tatapan terhenti pada sebuah nomor yang sangat asing baginya. Namun di situ tertulis jelas nama Peiyu. Dengan penuh rasa penasaran, Zack Lee menekan nomor tersebut. Alisnya saling bertaut ketika nomor itu masih aktif.
"Aigu, akhirnya kau menghubungiku."
Zack Lee mematung mendengarnya. Itu suara Peiyu. Wanita yang sempat dia tembak dan ia pikir sudah tewas. Tetapi kini wanita itu masih bisa berbicara. Wanita itu bahkan sangat bahagia ketika Aigu menghubunginya.
"Peiyu? Kau masih hidup?"
Dalam sekejap panggilan telepon itu terputus. Zack Lee tidak menyerah begitu saja. Dia ingin memastikan kalau apa yang dia dengar memang benar suara Peiyu. Namun kali ini nomor itu tidak bisa dihubungi lagi.
__ADS_1
Zack Lee menjadi dilema. Di yakin sekali kalau wanita di telepon tadi adalah Peiyu. Akan tetapi rasanya sulit untuk dipercaya jika Peiyu masih hidup. Wanita itu tertembak dibagian vital. Dia tidak akan mungkin selamat. Meskipun sampai detik ini jenazahnya belum ditemukan.
Zack Lee segera meninggalkan kamar hotel. Pria itu ingin meminta bantuan anak buahnya untuk melacak keberadaan Peiyu. Dia menggenggam ponsel itu dan berjalan dengan gusar.
"Ada apa, Bos? Anda tidak istirahat?" tanya penjaga di depan.
"Aku ingin kalian mencari keberadaan Peiyu!" perintah Zack Lee. Hal itu membuat semua orang kaget. Mereka semua sendiri menyaksikan saat Peiyu tewas. Rasanya mereka masih tidak menyangka kalau Zack Lee belum bisa melupakan Peiyu sampai detik ini.
"Bos, sebaiknya Anda istirahat saja di dalam," ucap pria itu dengan hati-hati.
"Apa Kau pikir aku gila? Apa Kau pikir aku ini sedang berhalusinasi!" umpat Zack Lee kesal. Nada bicaranya sudah tidak bersahabat. Ekspresi wajahnya juga sudah dipenuhi api amarah.
"Bos, bukan seperti itu maksud saya." Pria itu terlihat kebingungan. Dia segera mengambil ponsel yang tadi sempat diberikan Zack Lee. "Saya akan mencari keberadaan Nona Peiyu. Tetapi setelah kita berhasil mengalahkan Chen Li."
Zack Lee kembali ingat dengan Chen Li. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Kini dia sadar kalau ada urusan yang jauh lebih penting daripada harus mencari keberadaan akan suara Peiyu yang baru saja dia dengar.
"Jam berapa acaranya?"
"Kita masih memiliki waktu dua jam lagi, Bos," jawab pria itu apa adanya.
Zack Lee mengangguk. Dia memandang ke depan dengan wajah yang serius. Baru saja sekelompok orang keluar dari dalam lift. Tatapan Zack Lee terhenti pada sosok yang ada di antara sekelompok orang tersebut.
"Sherin? Kenapa dia bisa ada di sini?"
__ADS_1