My Perfect Hero

My Perfect Hero
Bab. 41 Demi Adik


__ADS_3

"Ada apa?" Ekspresi wajah Quinn yang berubah membuat Dimitri penasaran. Pria itu segera beranjak dari tempat duduknya.


"Tidak ada," sahut Quinn sebelum buru-buru pergi. Jelas saja hal itu membuat Dimitri menjadi khawatir. Dia juga segera mengejar Quinn meskipun tanpa sepengetahuan Quinn sendiri.


"Tuan, kita harus rapat," ucap pria di samping Dimitri.


"Batalkan!" sahut Dimitri. Dia memandang supirnya yang kini membukakan pintu. "Kejar mobil itu." Dimitri segera masuk ke dalam mobil.


Supir yang berdiri tadi memandang sekretaris Dimitri sebelum masuk dan mengejar mobil Quinn. Mereka juga tidak mau sampai kehilangan jejak Quinn.


Di dalam mobil, Quinn terus saja menambah laju mobilnya sampai-sampai tidak sadar kalau kini Dimitri mengikutinya dari belakang. Jam yang dipakai oleh Quinn bukan jam biasa. Jam itu sengaja dipesan oleh Quinn agar ia bisa mengetahui keberadaan 2 adiknya. Bahkan di situ sudah ada alarm bahaya yang jika berubah warna menjadi merah, tandanya adik Quinn butuh pertolongan.


"Malvin atau Nichole. Astaga! Kenapa kalian tidak bisa dihubungi!" umpat Quinn kesal.


Pasalnya jam itu hanya bisa memberi tanda. Tetapi Quinn tidak akan tahu adiknya mana yang membutuhkan pertolongan. "Pasti Malvin. Lokasinya dia berada di gedung kosong." Quinn melacak posisi Malvin melalui ponsel pintar miliknya. Semua kemampuan yang ia miliki memudahkannya dalam melakukan segala hal.


Setelah menempuh perjalanan hampir 15 menit, akhirnya Quinn tiba di lokasi. Wanita itu langsung saja berlari menuju ke posisi Malvin berada. Dia tidak mau sampai terlambat.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Dimitri juga tiba dan memberhentikan mobilnya sedikit jauh dari posisi mobil Quinn berada. Karena memang gak mau Quinn tahu keberadaannya, dia turun setelah Quinn benar-benar jauh.


"Apa yang dia lakukan di sini?" Dimitri segera turun. Dia meminta supirnya untuk menyembunyikan mobil mereka. Karena tidak mau kehilangan jejak Quinn yang memang sudah sangat jauh, akhirnya Dimitri berlari kencang.


Quinn berdiri tidak jauh dari posisi Malvin berada dengan napas yang memburu cepat. Betapa kagetnya wanita itu melihat adiknya berpelukan dengan seorang wanita. Itu bukan bahaya. Akan tetapi, kenapa harus ada tanda bahaya?


"Apa Nichole yang membutuhkan bantuan?" batinnya bingung.


Malvin membuka matanya dan kaget melihat Quinn ada di sana. Remaja 15 tahun itu segera mendorong wanita yang memeluknya sebelum menunduk takut.


"Kakak? Kenapa kakak di sini?"


"Malvin, apa kau yang menekannya?" tanya Quinn kesal. Dia harus memastikan kalau bukan Malvin yang menekan tombol bahaya itu.


"Sebenarnya...." Malvin terlihat panik hingga membuat Quinn cuma bisa menghela napas kasar. Perhatian Quinn beralih ke remaja putri yang berdiri di samping adiknya. "Malvin, bukankah ini wanita yang kau bilang suka membullymu? Kenapa kau memeluknya?"


Wanita itu melebarkan kedua matanya dan menatap Malvin marah. Tidak segan-segan dia langsung mencubit perut Malvin meskipun Quinn masih ada di sana. "Swety, kau jahat sekali. Apa kau menceritakan kejelekanku di depan keluargamu?"

__ADS_1


Ekspresi wajah Quinn Lang berubah. "Swety?"


Malvin segera menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kak, maafkan aku. Bukan aku yang menekan tombol bahaya itu. Tapi ...." Malvin memandang wanita di sampingnya.


Quinn akhirnya bisa bernapas lega karena tidak ada bahaya di sana. Tetapi tetap saja dia kesal dengan kelakuan adiknya sendiri. "Malvin, pulang!"


"Kakak jangan galak sama Malvin." Remaja itu merangkul lengan Malvin. "Kami baru saja pacaran. Kenapa kakak mengganggu kami?"


"Hei anak kecil! Usia kalian ini seharusnya ada di rumah untuk belajar. Bukan di gedung kosong. Pacaran lagi! Kalian mau bertemu orang jahat?" Quinn masih menggunakan kesabarannya menghadapi adiknya yang paling kecil.


"Kakak, maafkan Malvin. Jangan marahi Sachy. Tadinya aku ingin menelepon kakak. Tapi ponselku mati. Sekarang aku akan mengantarkan Sachy ke rumahnya setelah itu aku akan pulang." Malvin berjalan lebih dulu. Pemandangan itu benar-benar membuat Quinn muak.


"Dia masih 15 tahun dan sudah pacaran? Sebenarnya sifat mudah jatuh cinta ini turunan dari siapa?" umpat Quinn kesal. Wanita itu berputar ingin pergi. Namun dia mematung melihat Dimitri berdiri tegak di sana.


"Dia adikmu?" tanya Dimitri lebih dulu.


Quinn mengangguk. "Kenapa kau bisa di sini?"

__ADS_1


Dimitri melangkah maju. "Berlianmu ketinggalan. Aku berniat untuk memberikannya."


Quinn memandang pinggiran gedung sebelum menatap wajah Dimitri lagi. "Apa kau takut ketinggian?"


__ADS_2